Sabtu, Mei 12th, 2007


Diperkirakan pada akhir abad ke XVII atau awal abad ke XVIII orang Silungkang telah ada pula yang naik haji ke tanah suci. Untuk ke Jeddah melalui Ulakan. Dari Silungkang ke Ulakan berjalan kaki. Jalannya masih kecil. Belum ada kendaraan seperti sekarang. Di Ulakan mereka tunggu perahu layar yang akan membawa ke Jedah. Menunggunya bisa sebulan, dua bulan atau lebih. Selama di Ulakan tentu perdalam juga ilmu agamanya.

Setelah ada perahu yang akan membawanya, berangkatlah ke tanah suci. Di lautan bisa berbulan-bulan tergantung dari hembusan angin. Sebab itu perbekalan sampai 6 bulan. Tentu saja pada waktu-waktu tertentu dipanasi dengan api, agar rasanya jangan apak. Pendeknya untuk bisa menunaikan haji ke tanah suci benar-benar diperlukan secara fisik dan materiil.

Mungkin karena situasi perjalanan yang begitu berat maka pada umumnya orang awak yang ke tanah suci tentu bermukim disana. Bermukimnya bisa setahun, dua tahun atau lebih. Selama di tanah suci mereka pertinggi pengetahuan agamanya. Setelah mereka pulang ke Silungkang, mereka sampaikan atau kembangkan apa yang telah mereka ketahui orang awak melalui pengajian-pengajian. Berdirilah surau-surau.

Letaknya surau-surau umumnya didataran. Kecuali Surau Tenggi, yang memang agak tinggi dibandingkan dengan Surau Baru, Surau Sepan, Surau Jambak dan sebagainya.

Menurut catatan Abu Asar (melalui tulisannya “Peranan Surau Tempo Dulu Dalam Pembentukan Watak Pribadi”, yang dimuat dalam FORMES April 1989) hingga dengan Konferensi Silungkang (1939) jumlah Surau di Silungkang lebih 40 buah.

Diantara orang awak yang pulang dari tanah suci pada pertengahan abad ke XIX ialah Syekh Barau (Mohd. Saleh bin Abdullah). Beliaulah yang paling terkemuka di Silungkang menyebarkan agama.

Menurut catatan M. Salim Dt. Sinaro Chatib1) bahwa yang membuat Surau Godang Silungkang (selesai pada tahun 1870) adalah Syekh Barau ini, dengan pertolongan tonggak dan pekayuannya sebagian besar dari Pianggu dan Toruang-toruang. Dari Indudu juga ada bantuan sedikit. Sedang tukang-tukang yang mengerjakannya sepenuhnya dari Kubang 13 sampai dari bagian Alahan Panjang.

Bantuan tonggak serta pekayuan dan tenaga kerja guna dapat berdirinya Surau Godang tersebut sebagian besar berasal dari bekas-bekas murid Syekh Barau serta Syekh-Syekh lain murid Syekh Barau. Bantuan itu sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga dari mereka kepada guru-guru yang telah mendidiknya.

Dibawah asuhan Syekh Barau ini perjalanan Islam di Silungkang sangat pesat. Disetiap Surau di Silungkang tentu ada seorang Syekhnya yang mengajarnya. Diantara Syekh-Syekh yang ada itu, 9 orang diantaranya murid Syekh Barau. 5 orang putra Silungkang sendiri, sedang yang 4 orang itu dari luar :

  • Syekh Mohd. Thaib Ongku Surau Lurah (Tanah Sirah)
  • Syekh Akmad Ongku Surau Tanjung (Dalimo Tapanggang)
  • Syekh Abdurrahman Ongku Surau Bulek (Dalimo Jao)
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Godang (Tanah Sirah)
  • Syekh Abubakar Ongku Surau Palo (P. Rumah Nan Panjang)

Yang 4 orang itu adalah :

  • Syekh Abdul Rahman Ongku Talowi
  • Syekh Abdullah Ongku Lunto
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Ambacang Koto Anau
  • Syekh Muhammad Ongku Kotobaru Palangki

Pada masa Syekh Barau dan murid-murid beliau mengajar tak sedikit murid-murid beliau yang datang dari luar. Ketika itu aliran Tarqat cukup kuat. Ini sesuai dengan keterangan Hamka bahwa dalam masa tahun 1840 – 1900 ada kecenderungan di Minangkabau kepada Thasawuf. Di beberapa nagari guru-guru Tariqat mendirikan tempat-tempat bersuluk. Tariqat yang berkembang ialah Naqsyabandi-Khalidiyah didarat dan Shatariyah di Pariaman, Batuhampar (Payakumbuh), Kumango, Maninjau, Pariangan, Ulakan, Malalo.

Dalam mengerjakan Suluk ini lebih dulu orang melakukan Tawajjuh (menghadap wajah kepada Allah) dengan memakai Rabbitah (penghubung atau perantara), yaitu Syekh atau Khalifahnya. Setelah melalui pintu Tawajjuh atau Rabbitah itu, orang akan sampai pada fana. Dari fana kelaknya menuju kepada Baqa, sampai kepada La anna Illahhu (tidak ada saya melainkan Dia). Disinilah keluar kata-kata : “Al ibiddu wal ma’budu wahidin”.

Tempat Suluk bagi anak-anak di Silungkang ialah di Surau Lokuak dan Surah Lurah. Sedang bagi pria, terutama setelah Surau Godang berdiri, tempatnya di Surau Godang. Umumnya ibu-ibu yang turut Suluk telah “baki” (suci, tidak haid lagi).

Pada masa itu Silungkang merupakan salah satu tempat pemusatan pengajian di Minangkabau. Yang datang mengaji di Silungkang di antaranya dari Kotobaru Palangki, Talowi, Toruang-toruang, Indudu, Kota Anau, Pianggu, Lunto dan sebagainya. Mereka yang mengaji di luar inilah yang memberikan julukan “Silungkang Serambi Mekah”.

Syekh Barau sendiri meninggal dunia tanggal 29 Zulhijjah. Sayang tidak ada keterangan kapan beliau dilahirkan.

30 tahun sesudah berdirinya Surau Godang, maka telah tegak pula mesjid Silungkang. Ruang dalam 22 x 22 m. Jika berandanya dihitung berarti 24 x 24 m. Tipe mesjid Silungkang ini sama dengan mesjid Ganting di Padang. Sebab tukang yang mengerjakan itu juga. Masjid Ganting di Padang lebih dahulu, kemudian Sulit Air, baru Silungkang.

Dengan berdirinya Mesjid Raya Silungkang itu dua bangunan besar telah dibangun orang Silungkang. Bila berdirinya Surau Godang antara lain berkat bantuan dari bekas-bekas murid Syekh Barau, maka berdirinya Masjid Raya Silungkang belum ada catatannya, misalnya dari mana dananya. Mungkin saja ada yang mencatatnya, namun hingga kini belum diketahui.

Mengingat dana untuk dapat berdirinya Mesjid Silungkang cukup besar, sedang kekayaan orang awak ketika itu jauh di bawah kekayaan orang Silungkang sekarang, maka bisa diperkirakan betapa tingginya semangat beragama dikalangan orang awak ketika itu. Dananya tentu mereka kumpulkan dari sedekah, infak, zakat, wakaf dan sebagainya. Hanya saja bagaimana cara mereka mengumpulkan dana, tak ada keterangan. Masih merupakan rahasia yang harus digali. Itulah salah satu kekurangan orang awak di masa lalu, tidak ada menuliskan pengalamannya bagi cucu dikemudian hari. Padahal yang dikerjakan itu bukan proyek kecil, tetapi proyek besar, minimal menurut ukuran Silungkang.

Sekiranya orang-orang tua kita tempo dulu itu menuliskan dana untuk pembangunan mesjid itu, tentu kita akan dapat banyak menarik pelajaran daripadanya. Dengan tidak dituliskan, maka kita tidak mengetahui apakah pengumpulan dananya dilakukan secara terbuka atau tertutup. Apakah ketika itu juga telah muncul pemeo “sompiek lalu lungga batotok” (sempit lalu longgar diketok) dalam rangka mencari data, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika hendak mengumpulkan dana bagi rencana pembangunan Gedung PKS di Jakarta.

Sekiranya dulu telah terjadi juga, itu berarti generasi (orang awak) abad ke XX masih seperti generasi abad ke XIX saja, tidak maju-maju. Sebaliknya jika pengumpulan dana itu berjalan lancar dan tidak mengenal sompiek lalu lungga batotok, berarti generasi sekarang mundur dibandingkan dengan generasi abad ke XIX.

Catatan kaki :
1. Disalin dari salinan oleh Bujang St. Sinaro, 9 Mei 1963.

Sumber :
Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :
Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Iklan

Tentang tak mudahnya mengetahui kapan sesungguhnya agama Islam masuk di Silungkang dapat pula diikuti keterangan Alim Ulama Silungkang yang disampaikan dalam Konferensi Antar PKS ke II di Silungkang pada bulan Juli 1984. Keterangan Islam di Silungkang antara 1970 – 1984. Sebagai alasan mengapa mereka hanya mampu menguraikan dalam periode itu saja, dikatakan; “sampai pada tahun tersebut kesanggupan jangkauan kami kebelakangnya”1)

Mengapa jangkauan Alim Ulama Silungkang hanya sampai tahun itu, tidak ada keterangan. Apakah telah dicoba menggalinya melalui penelitian (minimal baca buku atau catatan dan sebagainya). Maka sampai kesimpulan demikian, juga tak ada ceritanya. Rasanya jika telah dicoba menggalinya tentunya hasilnya akan lebih baik daripada yang telah dikemukakan dalam makalah tersebut.

Bila berpegang kepada hasil “Seminar Sejarah Masuknya Islam di Minangkabau”2) yang berlangsung di Kota Padang 23-27 Juli 1969, maka agama Islam telah masuk di Minangkabau pada abad pertama Hijriyah atau abad ke 7-8 M.

Menurut seminar diatas berat dugaan bahwa agama Islam masuk ke Minangkabau melalui bagian Timur. Pembawanya adalah para pedagang (yang sekaligus berperan sebagai mubaligh sukarela). Dari bagian Timur inilah agama Islam merayap dengan perlahan-lahan menyusupi masyarakat Minangkabau. Kemudian berkembang pula ke luar Minangkabau seperti ke Malaya, Serawak, Brunai, Sabah, Philipina, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan bagian Timur lainnya.

Kemudian pada abad ke XVI agama Islam berkembang pula dari pantai Barat Sumatera. Sejalan dengan makin ramainya lalu lintas perdagangan, maka lalu lintas penuntutan ilmu pengetahuan agama Islam juga meningkat antara Minangkabau – Aceh – Mekah dan pusat-pusat agama Islam lainnya.

Dari sini pulalah tumbuhnya pusat ilmu pengetahuan agama Islam di Ulakan (Pariaman), dengan Syekhnya yang terkenal Burhanuddin. Beliau seorang Guru dan Mubaligh. Syekh Burhanuddin sering disebut sebagai pembawa Islam yang pertama ke Minangkabau.

Murid-murid Syekh Burhanuddin berdatangan dari segenap penjuru Minangkabau. Sepulangnya dari berguru, umumnya para murid beliau mendirikan pula pusat pendidikan agama di kampung masing-masing. Keadaan ini membawa perkembangan Islam yang pesat di Minangkabau. Syekh Burhanuddin meninggal tahun 1603 M.

Bila benar apa yang disebut orang bahwa Syekh Burhanuddin pembawa Islam pertama ke Minangkabau, berarti Islam baru masuk di Minangkabau pada abad XVI dan bukan pada abad 7 – 8 M, atau abad pertama Hijriyah, seperti yang disampaikan Seminar Sejarah Masuknya Islam di Minangkabau di Kota Padang diatas.

Sementara penulis 3) (mungkin karena berpegangan kepada kesimpulan Seminar di kota Padang itu) mengemukakan bahwa waktu Raja Aditiawarman sampai di Minangkabau (abad ke XVI) terus dinikahkan. Tidak diterangkan apakah Aditiawarman dinikahkan secara Islam atau lain. Hanya disambung dengan kata-kata bahwa dalam Pemerintahan Bunda Kandung telah ada Kadhi di Padang Ganting, Makhudum di Sumanik. Tentu belum akan ada Kadhi di suatu Negara kalau negara itu belum pemerintahan Islam atau sekurang-kurangnya belum banyak penganut Islam.

Alasan penulis diatas (yang meragukan Syekh Burhanuddin sebagai pembawa Islam yang pertama ke Minangkabau) sangat lemah. Karena ia tidak bisa menunjukkan apakah ketika Aditiawarman menikah itu di Pagaruyung yang berkuasa Pemerintahan Bunda Kandung adalah pemerintah dalam Tambo.

Selanjutnya pada tahun 1803 pulang dari tanah suci 3 orang Haji, yang kemudian menjadi pelopor gerakan Paderi. Ketiga Haji tersebut : H. Miskin (Pandai Sikat), H. Abdul Rahman (Piobang) dan H. Mohd. Arif (Lintau).

Seratus tahun kemudian turun pula dari tanah suci bekas murid Syekh Amad Chatib bin Abdul Latif al Minangkabau (Ulama besar bangsa Indonesia di Mekah) 4). Mereka itulah yang membawa gerakan-gerakan baru di Minangkabau. 4 orang diantara murid Syekh Ahmad Chatib tersebut ialah :

  1. Syekh Muhammad Jamil Jembek. Beliaulah yang pertama-tama menyebarkan ilmu falak dan hidab di Minangkabau.
  2. Syekh Muhammad Tyayib dari Tanjung Sungayan. Beliau memberikan pelajaran/pendidikan agama yang berbeda dengan cara-cara lama.
  3. Syekh Abdullah Ahmad yang menerbitkan majalah Almunir di Padang (1911) dan mendirikan Sekolah Um Adabiyah (1912). Beliau ini pulalah yang berdasarkan petunjuk gurunya membatalkan merabittahkan guru ketika permulaan Suluk.
  4. Syekh Abdul Karim Amarullah. Pada tahun 1912 membantu Almunir di Padang. Melalui Almunir beliau menulis yang banyak menggegerkan orang tentang masalah Usholli, talqin mayat, berdiri ketika Maulid Nabi sampai membaca marhaban.

Keempat Syekh ini dalam Terinqat berpegang kepada Syekh Ahmad Chatib5). Meskipun Syekh Ahmad Chatib bermazhab Syafei dan semula dididik dalam alam pikiran Naqsyabandi di daerah asalnya, tetapi setelah memperdalam pengetahuan agamanya dan hukum Islam di Mekah ia sangat mengecam dan menentang praktek tariqat Naqsyabandi itu. Menurut Syekh Ahmad Chatib ke dalam tariqat Naqsyabandi telah masuk dan tidak pernah diamalkan oleh mazhab yang empat, seperti menghadirkan gambar/rupa guru dalam ingatan ketika akan memulai Suluk sebagai perantara dalam doa kepada Tuhan. Beliau mengatakan bahwa perbuatan serupa itu sama saja dengan menyembah berhala yang dilakukan oleh orang musyrik.

Karena rupa guru yang dihadirkan dan berhala-hala yang dibuat oleh manusia sama-sama tak memberikan manfaat dan mudarat kepada manusia.

Penolakan Syekh Ahmad Chatib terhadap praktek Naqsyabandi di Minangkabau diungkapkan dalam buku yang berjudul “Izhhar Zhugal Al-Kadzibin” (menjelaskan kekeliruan para pendusta). Buku tersebut ditulis oleh Ahmad Chatib untuk menjawab pertanyaan muridnya (H. Abdullah Ahmad). Buku tersebut telah sampai di Minangkabau pada tahun 1906.

Catatan Kaki :

  1. Alim Ulama Silungkang : “Perkembangan Islam di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi Ke II antar PKS, Juli 1984 di Silungkang).
  2. Moh. Noerman : “Sejarah Kebudayaan Islam”, penerbit Pustaka Sa’adiyah, Bukittinggi, 1971, h. 138.
  3. Idem, h. 129.
  4. Ayah Syekh Akhmad Khatib ialah Abdulatif, berasal dari Koto Padang, bergelar Khatib Nagari. Sedang ibundanya bernama Ilmbak Urai, berasal dari Koto Tuo, Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Camdung Bukittinggi.
  5. Drs. Akhis Nazwar : “Syekh Ahmad Jhatib, Ilmuan Islam dipermulaan abad ini”, penerbit Pustaka Panjimas, Jakarta 1983, h. 21.

Sumber :

Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Sejak kapan sesungguhnya agama Islam menjadi agama orang Silungkang hingga kini tak ada yang dapat secara pasti menjawabnya. Apakah orang Silungkang telah memeluk Silungkang sejak dari tempat asal, atau baru masuk Islam setelah berdiam beberapa masa di Silungkang tak dapat diberikan jawaban yang pasti, karena tak ada peninggalan tertulis yang dapat dijadikan sandaran.

Dari buku-buku yang ditelaah dapat diketahui bahwa sebelum orang Silungkang memeluk Islam ajaran Hindu cukup berpengaruh. Menurut Ensiklopedia Nusantara1). Pengaruh Hindu berjalan hampir 15 abad di Sumatera Barat. Sisa-sisa dari ajaran Hindu tersebut pada awal abad XX masih dapat disaksikan di Silungkang. Misalnya ketika penyakit campak (cacar) menyerang Silungkang. Orang Silungkang segera menyelenggarakan upacara “tolak bola” (tolak bencana) ke Losuang (Lesung) Tuanku, yang terletak antara Silungkang dengan Pianggu. Ke Losuang Tuanku itu dengan membawa “atau-atau” (sesajen), yang diiringi dengan bunyi-bunyian.

Losuang Tuanku itu sendiri kini tak bersua lagi. Mungkin dulunya telah dibuang pekerja BOW (dpu-nya Hindia Belanda). Di bekas tempat Losuang Tuanku itu kini terpampang tanda batas Silungkang dengan Pianggu.

Malah pada tahun 1930-an, ketika penyakit campak kembali menyerang Silungkang, upacara “tolak bola” dilangsungkan di Lubuak Mato Ale (Lubuk Mata Air) yang terletak antara Lubuak Cokuang dengan Ale Manyerai (Air Berserak). Di Lubuak Mato Ale di bantai seekor kambing sebagai sesaji.

Ketika itu bukanlah satu hal yang aneh bila kita menemukan sebuah Selayan dekat tepian mandi, yang selayanya berisikan sesaji, seperti nasi putih, nasi merah, nasi kuning, malah kadangkala ada juga gambirnya. Semuanya itu adalah untuk “tolak bola”.

Dewasa ini sisa-sisa peninggalan Hindu seperti yang dikemukakan di atas tidak ditemui lagi. Malah membakar kemenyan sewaktu membaca doa pun tidak dilakukan lagi, meskipun secara formal dalam pidato masih dikatakan, “kami panggang, kamonyan lai” (kami bakar kemenyan lagi). Kemenyannya sudah tidak ada sama sekali.

Catatan kaki :

  1. Editor Widjiono Wasis : “Ensiklopedia Nusantara”, Penerbiat Mawar Gempita, Jakarta, 1989, h. 176.

Diambil dari buku :
Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang
Oleh Munir Taher & Hasan St. Maharajo

PENGANTAR KALAM

Bismillahhirohmanir rohiim

Sembari mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT serta salawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kami persembahkan tulisan karyanya “Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang” kehariban pembaca yang arif bijaksana dan budiman. Dengan harapan semoga sumbangan tulisan ini ada faedahnya bagi kemajuan Islam di Silungkang khususnya, di Indonesia umumnya.

Kami menyadari sepenuhnya akan keterbatasan pengetahuan kami mengenai masalah yang kami ketengahkan. Menyadari keterbatasan itulah yang mendorong kami untuk belajar dan membaca sebanyak-banyaknya tentang masalah yang dibahas baik melalui buku-buku, makalah-makalah, catatan-catatan, maupun dari kenyataan-kenyataan yang hidup. Sebagai buah dari belajar dan membaca itulah, maka tulisan ini dapat kami ketengahkan seperti yang sekarang.

Kami mengisyafi ada saja kemungkinan kami keliru dalam menarik kesimpulan dari hasil belajar atau membaca itu. Dan jika hal itu terjadi, sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami. Untuk menghindari, atau paling sedikit guna mengurangi kemungkinan kekeliruan tersebut, maka sebelum tulisan ini masuk kepercetakan kami meminta pertimbangan kepada beberapa saudara, diantaranya Sdr-Sdr Ifkar Latif, Dra. Rusfa, H. Aziz Burhan.

Terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan kepada saudara-saudara Ifkar Latif, Dra. Rusfa dan H. Azis Burhan yang telah bersedia membaca manuskrip yang akan kami serahkan untuk dicetak. Ketiga saudara tersebut telah mengemukakan saran-saran yang berharga, yang lebih memperlengkapi isi Risalah yang kami susun ini.

Sdr. Ifkar antara lain mengemukkan beberapa hadis dan ayat Al Qur’an untuk lebih memperkuat isi risalah.

Sedang Dra. Risfa disamping mengemukkan dapat menerima pandangan-pandangan yang kami kemukakan tentang masalah mundurnya pengamalan Islam di Silungkang dan sebab-sebab mundurnya serta usaha yang ditempuh untuk menanggulangi kemunduran itu juga dapat menerima tentang perlunya meneliti sejarah keislaman di Silungkang dan membangkitkan keislamanan itu kembali sehingga memakai dunia untuk kehidupan yang lebih baik di akhirat kelak.

Dra. Rusfa menyarankan antara lain sebagai berikut :

  1. Menghidupkan kembali surau-surau di Silungkang dengan cara setiap surau dipimpin oleh seorang guru tetap yang akan mengajar agama kepada anak-anak, pemuda dan orang dewasa.
  2. Setiap anak-anak orang Silungkang baik yang tinggal di kampung maupun di rantau supaya pandai membaca Al Qur’an dengan fasih.
  3. Setiap orang Silungkang supaya pandai mengurus jenazah, mulai dari memandikannya, mengapani, menshalatkannya sampai menguburinya. Juga mengerti cara-cara serta doanya. Ini merupakan satu kurikulum diseluruh surau-surau yang ada di Silungkang. (Ada baiknya jika cara dan doa-doanya dicetak dan disebarkan kepada setiap keluarga untuk dipelajari dan dihafal serta dilatihkan disurau).
  4. Menyesuaikan adat Silungkang dengan ajaran Islam. Mana-mana yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus ditinggalkan agar kita hidup kita diberkati Allah. Misalnya dalam hal berpakaian. Agar setiap remaja putri dan orang dewasa berpakaian muslimat dimanapun ia berada. Hal ini harus dipimpin oleh kaum bapak kepada keluarganya masing-masing dan dikuatkan oleh keputusan Ninik Mamak dari KAN (Kerapatan Adat Nagari) dalam pelaksanaannya. Setiap remaja putri dan ibu-ibu harus memakai busana muslim dan mencerminkan seorang Islam yang baik.
  5. Pada akhir Dra. Rusfa mengucapkan terima kasih kepada penulis yang telah mengemukakan buah pikirannya berbentuk risalah “Pelajaran dari Perjalanan Islam di Silungkang”. Mudah-mudahan risalah ini akan menggugah para ulama, cerdik pandai, ninik mamak serta seluruh warga Silungkang.

Dra. Rusfa juga mengharapkan agar PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) dapat membiayai pendidikan agama (misalnya biaya pada Pondok Pesantren) bagi anak Silungkang yang berbakat jadi ulama.
Bila Dra. Rusfa mengemukakan saran-sarannya agar terperinci, maka H. Azis Burhan berpendapat : untuk dapat mengembalikan citra Silungkang dibidang agama yang telah menurun itu, perlu didirikan lembaga pendidikan agama (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan lain-lain) di Silungkang.

Mendirikan lembaga pendidikan agama ini tidak mudah. Ia memerlukan dana, sarana/perlengkapan, tenaga, administrasi, pengajar/pendidik (guru) dan lain-lain. Menurut H. Azis Burhan rasanya di zaman sekarang ini tidak sanggup diadakan oleh masyarakat saja. Karena itu perlu ada usaha memohon kepada Departemen Agama (bagian pendidikan) di Kabupaten / Propinsi / Pusat untuk membantunya. keberhasilan usaha tersebut banyak tergantung dari cara pengurusannya oleh kita.

Bila sekolah Agama negeri di Silungkang bisa didirikan, tentu sama bebannya (termasuk biaya) menjadi tanggungan pemerintah. Paling-paling prasarannya saja yang kita sediakan, yaitu ruangan-ruangan belajarnya. Ruangan-ruangan yang telah ada sekarang dapat dipergunakan.

H. Azis Burhan juga mengimbau agar warga Silungkang yang mengaku muslim / mukmin hendaknya senantiasa memantapkan iman/islam, karena iman didada kita itu tidak tetap, tidak stabil, selalu berubah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad : “Wah huwa yazidir way an zushi” (iman itu kadang-kadang naik, kadang-kadang menurun, kadang-kadang menebal, tempo-tempo menipis). Nabi menganjurkan kepada kita : “Jaddidu imanikum” (Baharui, baharui iman kamu itu !).

Untuk membaharui, menguatkan iman itu, dimana ada kesempatan/waktu yagn terulang baca Al Quran / Hadist Rasul, dengari/hadiri pengajian-pengajian agama dan jangan sekali-sekali dibuang percuma waktu senggang, isi dengan amal/iman, jauhi tempat-tempat maksiat.

Nabi bersabda : barang siapa yang hari ini imannya/amalnya sama saja dengan hari kemari, terkutuk hidupnya ; barang siapa yang hari ini imannya/amalannya sama saja dengan hari kemarin, tertipu hidupnya ; barang siapa yang hari imannya/amalannya lebih baik dari hari kemarin, berbahagialah hidupnya dunia dan akhirat.

Mari kita renungkan sabda Nabi/Rasulullah tersebut di atas. Demikian H. Azis Burhan. Selain daripada itu kami (penulis) risalah juga sangat mengharapkan tegur dan sapa dari pembaca yang budiman atas risalah kami yang sederhana ini, yang dimana mungkin terdapat kekeliruan/kesalahan yang tidak kami sengaja, mungkin susunan tata bahasanya yang kurang tepat, kata-kata yang janggal, yang kurang berkenan dihati. Semuanya ini karena keterbatasan kami. Semoga Allah SWT senantiasa menambah ilmu kami.

Dengan tegur dan sapa dari pembaca yang budiman, semoga dimasa mendatang dapat kami memberikan sumbangan pikiran yang lebih baik lagi bagi kemajuan Islam di negeri kita.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah koleksi kebudayaan tertulis yang telah kita mulai dan guna membantu menimbulkan sikap positif dari generasi Silungkang mendatang dan menempatkan diri dalam wawasan yang lebih luas.

Jakarta, Medan Juli 1989

 

Kami (Penulis)

 

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

PELAJARAN
DARI PERJALANAN ISLAM
DI SILUNGKANG

Khusus Untuk Warga Silungkang

Edisi 1, Jakarta, September 1989
Penulis : Munir Taher dan Hasan St. Maharajo
Penerbit : Malowe Sapakat Jakarta
Percetakan :

Terima kasih yang terhingga kepada semua yang telah memberi bantuan sehingga karya “Pelajaran dari Perjalanan Islam di Silungkang” ini dapat diselesaikan dan dapat terbit seperti yang berada di tangan sanak saudara. Semoga amal semua sanak saudara itu akan mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Allah, Ya Robbalalamin.

SEPATAH KATA DARI PENERBIT

Tidak secara kebetulan bila para pemuka agama Islam di Silungkang sejak tahun 1984 telah melancarkan kritik dan otokritik secara terbuka berkenaan dengan kemunduran agama Islam di Silungkang. Kritik dan otokritik itu tertuang melalui makalah alim ulama Silungkang, serta makalah KAN dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta pada bulan April 1986. kemudian pada tahun 1987 Sharief Sulaiman (Alm) menyampaikan laporan tentang masyarakat Silungkang di kampung dan laporan pertanggung jawaban Pengurus PKS Jakarta yang disampaikan dalam Rapat Anggota PKS tanggal 26 Juli 1987.

Kritik dan otokritik mengenai kehidupan agama di Silungkang ini adalah semacam pengalaman Mamangan orang tua kita, yaitu “Upek maiduiki, puji mambunuah” (kecaman menghidupi, puji membunuh). Tak dapat disangkal sementara orang awak tentu ada yang keberatan atau tidak dapat menerima kritikan apalagi melakukan otokritik. Pendirian sementara orang awal demikian nantinya tentu akan berubah juga, sesuai dengan panggilan zaman.

Kita dapat belajar dari perkembangan NU, yang selama ini kultur kyai juga tak dapat menerima kritik apalagi melakukan otokritik. Ternyata melalui halaqah (semacam sarasehan) selama 3 hari di bulan Juli 1989 para kyai mengakui pemahaman kitab dikalangannya hanya bersifat tekstual. Kurang mampu mengaitkan dengan persoalan nyata yang terjadi di masyarakat. Konsep mengenai ibadah mash terpaku pada qasirah (manfaat dirasakan sendiri), belum mutaaddi (manfaat untuk orang banyak (Kompas, 21 Juli 1989).

Dengan tujuan untuk dapat membangkitkan kembali kehidupan beragama di Silungkang maka Munir Taher dan Hasan St. Maharajo menuangkan kritik dan otokritik pemuka agama Silungkang itu dalam sebuah karyanya “Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang”. Semoga dengan orang awak mengenai kritik dan otokritik tersebut akan tergugah untuk secara aktif berpartisipasi memajukan agama Islam di Silungkang.

Amin !
Jakarta, Awal Agustus 1989

Malowe Sepakat Jakarta

1.

Guruah potui panumbo limbek

Pandan tajamuah diate karang

Tujuah ratuih carikan ubek

Badan batamu makonjo sanang

 

2.

Sawah lunto bapaga bukik

Bukik bapaga si kayu jati

Sayang induak tidak sadikit

Dari mulut sampai ke hati

 

3.

Ba kilek-kilek cahayo intan

Intan terletak didalam mundan

Biar Ananda di sebrang lautan

Cinta Bunda ta’kan Padam

 

4.

Permata jatuh ke rumput

Jatuh ke rumput bilang-bilang

Hilang dimata tidak luput

Didalam hati tidak hilang

 

5.

Sungguh jauh urat melata

Tidak padi menjadi lalang

Sungguh jauh anak dimata

Didalam hati tidak hilang