Sejak kapan sesungguhnya agama Islam menjadi agama orang Silungkang hingga kini tak ada yang dapat secara pasti menjawabnya. Apakah orang Silungkang telah memeluk Silungkang sejak dari tempat asal, atau baru masuk Islam setelah berdiam beberapa masa di Silungkang tak dapat diberikan jawaban yang pasti, karena tak ada peninggalan tertulis yang dapat dijadikan sandaran.

Dari buku-buku yang ditelaah dapat diketahui bahwa sebelum orang Silungkang memeluk Islam ajaran Hindu cukup berpengaruh. Menurut Ensiklopedia Nusantara1). Pengaruh Hindu berjalan hampir 15 abad di Sumatera Barat. Sisa-sisa dari ajaran Hindu tersebut pada awal abad XX masih dapat disaksikan di Silungkang. Misalnya ketika penyakit campak (cacar) menyerang Silungkang. Orang Silungkang segera menyelenggarakan upacara “tolak bola” (tolak bencana) ke Losuang (Lesung) Tuanku, yang terletak antara Silungkang dengan Pianggu. Ke Losuang Tuanku itu dengan membawa “atau-atau” (sesajen), yang diiringi dengan bunyi-bunyian.

Losuang Tuanku itu sendiri kini tak bersua lagi. Mungkin dulunya telah dibuang pekerja BOW (dpu-nya Hindia Belanda). Di bekas tempat Losuang Tuanku itu kini terpampang tanda batas Silungkang dengan Pianggu.

Malah pada tahun 1930-an, ketika penyakit campak kembali menyerang Silungkang, upacara “tolak bola” dilangsungkan di Lubuak Mato Ale (Lubuk Mata Air) yang terletak antara Lubuak Cokuang dengan Ale Manyerai (Air Berserak). Di Lubuak Mato Ale di bantai seekor kambing sebagai sesaji.

Ketika itu bukanlah satu hal yang aneh bila kita menemukan sebuah Selayan dekat tepian mandi, yang selayanya berisikan sesaji, seperti nasi putih, nasi merah, nasi kuning, malah kadangkala ada juga gambirnya. Semuanya itu adalah untuk “tolak bola”.

Dewasa ini sisa-sisa peninggalan Hindu seperti yang dikemukakan di atas tidak ditemui lagi. Malah membakar kemenyan sewaktu membaca doa pun tidak dilakukan lagi, meskipun secara formal dalam pidato masih dikatakan, “kami panggang, kamonyan lai” (kami bakar kemenyan lagi). Kemenyannya sudah tidak ada sama sekali.

Catatan kaki :

  1. Editor Widjiono Wasis : “Ensiklopedia Nusantara”, Penerbiat Mawar Gempita, Jakarta, 1989, h. 176.

Diambil dari buku :
Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang
Oleh Munir Taher & Hasan St. Maharajo