Bisnis


Jakarta – Sawahlunto Kreatif kali ini menggelar Pameran Songket Silungkang sebagai Warisan Budaya Kota Tua Sawahlunto yang diselenggarakan di Museum Tekstil Jakarta Jl. K.S Tubun No. 2-4 Jakarta Pusat. Dalam pembukaan pameran, Rabu (17/4) hadir Walikota Sawahlunto, Ketua DPRD Sawahlunto, Ibu Vita Gamawan Fauzi, Ibu Oke Rajasa, serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Ibu Dr. Vinia Budiarti, mewakili Gubernur DKI Jokowi yang berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, Walikota Sawahlunto Amran Nur mengingatkan bagaimana di Sawahlunto pada tahun 1997 – 2008 hanya terdapat 377 orang pengrajin kain tenun songket Silungkang. Sampai tahun 2012, pengrajin bukannya berkurang namun bertambah menjadi 678 orang. Ini menandakan bagaimana kecintaan kepada kain songket Silungkang bisa membangkitkan generasi penerusnya. Harus diakui bahwa saat ini pendapatan dari penjualan kain songket Silungkang bisa mencapai 54 ribu helai per tahun, yang artinya kain tenun songket Silungkang ini bisa menjadi penopang perekonomian masyarakat.

Sementara itu Dr. Vinia Budiarti menyambut baik atas terselenggaranya pameran ini, mengingat Jakarta sebagai ibukota negara wajib untuk mempromosikan warisan budaya Indonesia dari daerah mana pun. Karena itu dengan diadakannya pameran songket Silungkang sebagai warisan budaya kota tua Sawahlunto, bisa menjadi acuan untuk daerah lainnya yang ingin mempromosikan warisan budaya daerahnya hingga ke manca negara.

20130419_Songket_Silungkang_Sawahlunto_4

Sebelum membuka secara simbolis Pameran Songket Silungkang sebagai Warisan Budaya Kota Tua Sawahlunto, Ibu Oke Rajasa mengingatkan bahwa tahun 2013 sebagai tahun pusaka, merupakan momen yang tepat untuk kita membangkitkan kembali warisan-warisan budaya yang selama ini mungkin belum dikenal secara luas. Dengan diadakannya pameran seperti ini, masyarakat akan kembali mengenal dan mungkin bisa berkreasi lebih bagus lagi untuk dimodifikasi dengan desain modern. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para pengrajin kain songket, supaya produk yang dihasilkan tidak hanya berupa kain, namun bisa dijadikan alternatif lainnya, dengan kombinasi bahan dan benang yang bisa dimodifikasi.

Pameran yang akan berlangsung sampai tanggal 26 April akan diisi bincang wastra dengan tema Pameran Tenun Silungkang pada hari Minggu 21 April pukul 14.00 – 15.00 WIB, yang menghadirkan narasumber Walikota Sawahlunto Amran Nur, Ibu Judy Achadi, dan Dra. Wati Sudariyati, M.Pd. Pada pameran ini juga ditampilkan seorang penenun songket Silungkang yang mendemonstrasikan bagi para pengunjung bagaimana cara membuat kain songket Silungkang.

Foto: Ifan F. Harijanto | Editor: Intan Larasati
Read more at http://indonesiakreatif.net/news/liputan-event/songket-silungkang-warisan-budaya-kota-tua-sawahlunto/#yWy8H65myHlTqRYQ.99

Iklan

Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya. Berawal dari situ mulai orang Silungkang mencoba berwarung-warung minuman dan makanan dilingkungannya, dari berdagang minuman dan makanan setapak demi setapak mereka maju, dan mulailah berdagang barang-barang lain dari satu desa ke desa lainnya dari satu nagari ke nagari lainnya dari satu daerah ke daerat lainnya, ternyata berdagang cocok untuk orang Silungkang sehingga sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera dan sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam (Thailand) sekarang. Di negeri Siam inilah perantau Silungkang dapat belajar bertenun dan setelah mereka pandai dan mengerti cara bertenun sewaktu mereka kembali ke Silungkang, ilmu bertenun ini mereka ajarkan kepada kaum ibu di Silungkang dan semenjak itu mulailah beberapa orang wanita Silungkang bertenun songket, pada awalnya bertenun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, kemudian mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari.

(lebih…)

Hadirilah …….
Semua warga negara Indonesia dan Mancanegara

PAMERAN dan FASHION SHOW SONGKET SILUNGKANG di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini Jakarta Pusat

30 – 31 Oktober 2012Los Lambung (Stand Makanan) diisi ALE-ALE ANGEK (panas), COKI, LUPI (lupis), SOP DAN SOTO WARGA SILUNGKANG JAKARTA, dll.Undangan yang akan hadir Duta Besar Negara Sahabat, Menteri, Pejabat Negara, Bisnismen, Investor dan lain-lain.Setiap hari dihadiri kurang lebih 1500 orang (Insya Allah)

Musik : Talempong, Randai, Gamad, Badiki dan KIM

KIM mulai jam 20.00 WIB

Pameran dibuka jam 14.00 WIB

Makan Bajamba diutamakan masyarakat LUAR KOTA SAWAHLUNTO sebanyak 50 Jambai = 250 orang. Pada tanggal 31 Oktober 2012. Jam 18.30 WIB

AGENDA ACARA

Selasa, 30 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

18.00 – Selesai

  • Kesenian rakyat
  • Talempong
  • Randai
  • Saluang
  • Rabab
  • Kim

Rabu, 31 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

19.00 – Selesai

  • Makan Bajamba

20.00 – Selesai

  • Malam puncak Sawahlunto Kreatif
    • Sambutan Walikota Sawahlunto
    • Launching Buku Sahabat Sawahlunto dan Ragam Hias Songket Silungkang
    • Sambutan Gubernur Sumatera Barat
    • Orasi menteri Parawisata dan Ekonomi Kreatif tentang “Ekonomi Kreatif” Sekaligus membuka acara.
    • Pertunjukan Sendra tari karya Hartati dengan tema “ Restorasi Songket Silungkang”
    • Fashion Show oleh Ria Miranda dengan tema “Minang Heritage”

Agenda acara diatas dikutip dari Undangan yang telah dan akan diedarkan. Sekapur sirih atau sambutan Walikota Sawahlunto dalam undangan tersebut semuanya mengangkat songket Silungkang. Berikut sedikit cuplikannya:

Aktifitas tenun Silungkang yang bernilai ekonomi itu tidak diragukan lagi eksistensinya. Perjalanan tenun Silungkang dengan berbagai produk songket telah mengalami berbagai dinamika dan pasang surut. Tenun songket Silungkang dimasa silam telah menorehkan prestasi hingga ke pentas dunia. Sejarah mencatat dimasa pemerintahan Hindia Belada, pengrajin tenun Silungkang telah ikut serta dalam Pekan Raya Ekonomi Eropa, tepatnya di Brussel Ibukota Belgia ditahun 1920.

FYI: Warga perantau asal Sawahlunto diharapkan meramaikan acara hari pertama dan hari kedua dengan datang berbondong-bondong ke TIM. Acara makan bajamba dan malam puncak di dalam gedung diutamakan untuk undangan karena sifatnya untuk promosi parawisata sawahlunto dan songket Silungkang

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Membaca tabloid Koba Silungkang edisi April 2003 dalam tulisan “Seputar Kota Kita” mengkritisi sikap PKS Jakarta soal “Balon” Wako dan Wawako saat itu, Who Wants To Be The Mayor Part 2.

Kami teringat pengalaman Alm. Sdr. Syafar Habib yang diceritakannya pada kami 3 bulan sebelum dia meninggal dunia. Sebelum dia menceritakan pengalamannya itu, dia minta kepada kami agar kami berfikir secara filosofis, sebagai berikut :

Dalam pertemuan ‘acara Minang’ dia duduk; di sebelah kanannya Bapak Emil Salim dan di sebelah kirinya Bapak Menteri Abdul Latif. Bapak Emil Salim berkata kepada Sdr. Syafar Habib : Engku Syafar, saya bangga dengan perantau Silungkang, di mana-mana orang Silungkang jarang yang menjadi pegawai negeri, kebanyakan menjadi pedagang. Tetapi setelah saya menjadi menteri saya perhatikan tidak ada orang Silungkang menjadi pengusaha menengah ke atas.

Mendengar ucapan kedua tokoh Minang itu Sdr. Syafar Habib hanya terdiam, tetapi dalam hatinya berkata : apakah baju putih yang sedang saya pakai ini sama warna putihnya dengan pakaian dalam ?

Mendengar pengalaman Sdr. Syafar Habib ini kami juga merenung dan terpikir bagaimanakah orang Silungkang di abad 21 ini.

Menjelang Sdr. Zuhairi Muhammad Panai Empat Rumah meninggal dunia, kami sekali dalam tiga bulan sengaja datang ke rumahnya di Komplek Perindustrian di Jalan Perdatam Pancoran, rasanya kalau kita berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan mamaknya Alm. Pakiah Akuk. Dia mengatakan pendapatnya kepada kami, bahwa orang Silungkang bukan orang aktif tetapi reaktif. Semula kami tidak sependapat dengannya, tetapi setelah kami renungi kami sependapat pula dengannya.

Tahun 80-an kami pernah membaca buku karangan Mr. Muhammad Rasyid berjudul ‘Sejarah Perjuangan Minangkabau’ sebelum peristiwa PRRI beliau menjadi duta besar RI di Perancis merangkap di Italia, di halaman 45 kami membaca waktu pemberontakan rakyat Silungkang tahun 1927. Penjajah Belanda sangat kejam, tentara Belanda memperkosa gadis-gadis Silungkang.

Begitu tersinggungnya kami, buku itu tidak tamat dibaca tetapi diserahkan kepada PKS di Bendungan Hilir, karena waktu itu PKS masih menumpang di kantor Koperasi Kemauan bersama di Bendungan Hilir (Bendhill). Kenapa buku itu diserahkan karena menurut Mr. Muhammad Rasyid kalau isi buku ini tidak sesuai dengan kenyataannya (buku ini jilid pertama) bisa diralat pada jilid kedua nanti.

Akhirnya buku itu dikembalikan kepada kami setelah buku tersebut berubah warna, mungkin waktu itu tidak ada reaksi dari PKS, entahlah !

Waktu kami mendapat musibah, kami mendatangi Buya Duski Samad , untuk minta nasihat, kepada beliau kami curahkan musibah yang kami terima, jawab beliau singkat: tetapi kita harus berfikir, kata beliau : jika sekarang saya mempunyai uang 100 juta rupiah, uang itu akan habis dalam seminggu, kami bertanya : kenapa begitu Buya ? jawab beliau, saya bukan pedagang. Kami renungkan jawaban beliau itu, kemudian kami menjawab sendiri; “Kerjakanlah apa yang ada ilmunya pada kita”, betul kata beliau. Kemudian beliau bertanya murid-murid beliau dulu yang berasal dari Silungkang, a.l., Yakub Sulaiman (Pakiah Akuk) dan Abdullah Usman (Guru Dullah Sw. Jawai) beliau bangga dengan murid-murid beliau itu.

Lelah bersaing menjadikan takut bersaing
Di zaman Gajah Tongga Koto Piliang Dulu, kemungkinan besar orang Silungkang pintar dan cerdas, tetapi sayang kenapa orang Silungkang mendiami lungkang sempit, hampir tidak ada tanah yang subur untuk ditanami padi, tidak seperti belahan kita di Padang Sibusuk dan Allah mentakdirkan kita orang Silungkang menjadi pedagang.

Pedagang itu sarat dengan persaingan, bisa terjadi persaingan itu antara saudara sesuku, sekampung, sepupu, bahkan antara saudara sendiri clan yang paling riskan terjadi antara Pembayan dengan Pembayan yang sama-sama mendiami rumah panjang (rumah adat).

Coba kita pikirkan Silungkang itu seperti kotak korek api dibandingkan Indonesia yang luas ini.

Menurut perkiraan kami sebelum Jepang menjajah Indonesia, 50% perempuan Silungkang yang sudah bersuami dimadu suaminya, mungkin juga lebih.
Kenapa bisa seperti itu ? Mana mungkin perempuan Silungkang bisa menikah dengan orang luar Silungkang, karena adat melarangnya, terpaksa atau tidak perempuan-perempuan Silungkang harus bersedia menjadi isteri kedua atau menikah dengan duda yang jauh lebih tua umurnya.

Madu itu obat, tetapi bagi perempuan yang di’madu’ menyakitkan hati, bersaing memperebutkan kasih sayang sang suami, anak-anak yang . ibunya dimadu, pun merasa dimadu pula dengan ibu-tiri, saudara tirinya. Persaingan itu menimbulkan kecemburuan, kecemasan, dengki, irihati clan was-was, penyakit itu bisa,, berketurunan.

Menurut Prof. Zakiah Deradjat dalam buku “Menghadapi Liku-Liku Hidup”, beliau menulis dari segi kejiwaan, perkembangan dan pertumbuhan anak, anak dalam kandungan telah menerima pengaruh-pengaruh yang berarti baginya. Suasana emosi dan tolak pikir ibu yang sedang mengandung mempunyai kesan tersendiri bagi janin dalam kandungan.

Jadi orang Silungkang mendiami lungkang yang sempit, persaingan hidup yang tidak sehat, sangat mempengaruhi cara berfikirnya. Jadi apa yang dikatakan Bapak Emil Salim di atas, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Silungkang, jika dilihat dari luar semuanya baik. Coba kita perhatikan semenjak dahulu organisasi apapun yang dibentuk, dan bangunan apapun yang didirikan hampir semua meninggalkan kesan-kesan yang kurang baik.

Kemudian apa yang dikatakan Bapak Menteri Abdul Latif di atas, mungkin juga akibat “Lima Penyakit Di atas”. Seterusnya pendapat Sdr. Zuhairi Muhammad (Alm), kita orang Silungkang bukan aktif tetapi reaktif, kemungkinan ini juga diakibatkan oleh orang kita (SLN) tidak bisa bersaing khususnya dengan orang di luar Silungkang, bisanya hanya bersaing dengan orang sekampung sendiri.

Yang menang membusungkan dada dan yang kalah bak perempuan tua memakan sirih, daun sirih habis, tinggal tembakaunya yang masih dikunyah-kunyah.

Orang-orang Silungkang Diabad 21
(Silungkang People Must Be Brave To Up Side Hand Down)

Mengkritisi PKS., maaf … tentu maksudnya ketua PKS, kalau kita perhatikan latar belakang ketua PKS ini, lahir di Silungkang, kecil dibawa merantau oleh orang tuanya ke Medan, SD, SMP dan SMU di Medan, kuliah di Jakarta. Bekerja dan berusaha, bukan dalam lingkungan Silungkang. Bidang usahapun berlainan dengan kebiasaan orang-orang Silungkang, bergaul selama sekolah di Medan dengan komunitas “Batak” tapi tidak kelihatan pengharuh “Batak”-nya, dia supel, demokrat dan moderat. Menurut kami PKS belum pernah mempunyai ketua yang seperti ini.

Banyaknya balon (lebih dari satu) Wako – Wawako, orang belum tentu menilai kita tidak bersatu, bukan Bapak Emil Salim saja yang menilai kita bersatu, banyak yang lain.

Kita bisa belajar dari cara pemerintahan kita di zaman Soeharto, yang memproteksi pengusha-pengusaha nasional, waktu datang krisis karena globalisasi, pengusaha-pengusaha nasional tidak bisa bersaing, oknum pemerintah korup dan pengusaha menyuap, akhirnya semuanya berantakan, jangan hendaknya Silungkang ini seperti Indonesia kita sekarang.

Jangan pula kita hanya terkesan dengan kata-kata keputusasaan Eva Peron dalam sebuah lagu “Don’t Cry For My Argentina”.

Sampai sekarang lagu itu masih dipopulerkan Madonna, kita tak pernah kenal dengan siapa Eva Peron dan Madonna itu ? Coba kita berpedoman kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana nama beliau kita sebut-sebut setidak-tidaknya 29 x sehari dalam shalat 5 waktu dan lagi beliau itu ada tertulis dalam AI-Qur’an. Mengapa beliau sampai menangis waktu akan meninggal dunia dan berkata : ummati, ummati, ummati, begitu perhatian Nabi Muhammad SAW pada umatnya. Putus asa apa hukumnya ? Haram.

Buletin Silungkang jangan hanya terbit untuk kepentingan sesaat tetapi berlanjut untuk kepentingan orang Silungkang yang dirantau dan yang di kampung dengan harga yang bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, semoga …

Sekarang ilmuan Silungkang sudah banyak di Jakarta dan di kota-kota lainnya, bahkan di mancanegara. Dalam berbagai disiplin ilmu, mintalah kepada mereka sumbangan pikiran untuk ditulis dalam buletin Silungkang. Tentu, dengan tulisan dan kata-kata yang menyejukan dan juga artikel-artikel (rubrik) yang dibutuhkan oleh pelajar, mahasiswa Silungkang dan ditulis pula pengalaman-pengalaman orang Silungkang yang bisa menjadi pelajaran bagi pembacanya.

Apalagi ada ruangan agama terutama di bidang zakat, penulisannya itu ‘bak azan bilal’ sahabat Nabi Muhammad, yang suaranya itu menghimbau orang segera sholat.

Bisa jadi buletin Silungkang itu kelak bak harian Republika yang mempunyai dompet dhuafa untuk orang Silungkang yang berkekurangan dan mengajak orang Silungkang untuk berdoa dan menangis serta berbut, beramal untuk kemaslahatan kampung kita, jauh dari berkorban karena ada sesuatu di belakangnya. Amin ya robbal ‘alamin.

Billahitaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

“Mucho Gracias Amigo – Arigato Gozaimatsu Tomodachi”

Esemmes

Tembusan dikirim kepada Yth.
1. Tabloid KOBA
2. Koordinator LAZ / PKS
3. PT. Estetika (Percetakan)
4. Sdr. Fadil Abidin (Pengajian PKS)

1. Pengajian
Jauh sebelum ada sekolah umum, tingkat pendidikan di Silungkang hanyalah pendidikan surau. Sama seperti di negeri-negeri lainnya di Minangkabau, suraulah yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun, telah disuruh tidur di surau. Kalau masih tidur di rumah orang tua akan ditertawakan dan akan digelari dengan “Kongkong Induk Ayam”.

Di surau ini dapat dipelajari/diajarkan :

  1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam.
  2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga).
  3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, adalah didikan bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri.
  4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, ditempat untuk tidak penakut dan berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat).
  5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau.
  6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Pada waktu itu, jumlah surau yang ada di Silungkang 25 buah, suatu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Surau terbesar adalah surau Godang, (tempatnya di sekolah Muhammadiyah sekarang), surau ini didirikan pada tahun 1870 M / 1287 H dengan tujuan sebagai induk surau-surau yang sudah ada.

Yang mempelopori dan memimpin berdirinya adalah Syekh Barau (nama aslinya M. Saleh bin Abdullah). Syekh Barau ini adalah seorang ulama besar, punya murid dan pengikut yang banyak. Beliau pernah bermukim di Makkah untuk mempelajari seluk-beluk agama Islam. Beliau sangat disegani masyarakat Silungkang setara negeri-negeri sekitarnya. Di Batang Air Silungkang ada ikan bernama ikan Barau, untuk menghormati beliau dan ada yang berpendapat supaya jangan kualat, oleh masyarakat nama ikan itu ditukar dengan ikan tobang, yang sampai sekarang masih bernama ikan tobang. Beliau meninggal hari Sabtu, 29 Zulhijjah 1288 H.

Surau Godang ini ada hubungannya dengan Ulakan Pariaman, dan Syekh Barau sebagai wakil Khalifah dari Khalifah yang ada di Ulakan. Antara tahun 1920 – 1926, yang mengaji di Silungkang tidak terbatas pada warga Silungkang saja, tapi banyak pula yang berdatangan dari negeri lain, seperti dari Garabak Data, Simiso, Aie Luo, Batu Manjulur, Kobun, Koto Baru, Padang Sibusuk dan lain-lain.

Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

2. Sekolah Umum
Sekolah dasar (Volkschool) yang pertama untuk bumi putra Minangkabau didirikan di Bukit Tinggi pada tahun 1940. Sekolah ini didirikan dengan tujuan utama untuk mempersiapkan rakyat Minangkabau untuk menjadi pegawai Belanda. Di Silungkang kapan berdirinya Volkschool tidak diperdapat keterangan yang pasti, yang jelas sebelum tahun 1921 sudah ada Volkschool dan Vervolgschool (sekolah desa 3 tahun dan sekolah gubernaman 5 tahun). Besar kemungkinan adanya Volkschool itu sebelum tahun 1900, sebab setelah tahun1900 Silungkang telah banyak yang pandai tulis baca, pergi merantau ke Jawa, Singapura, Kelang (julukan untuk Malaysia waktu itu) bahkan ada yang telah bermukim dan berdagang di Makkah.

Pada tahun 1915 telah ada beberapa orang Silungkang yang berhubungan dagang ke negeri Belanda dan Belgia dengan korespondensi dengan berbahasa Belanda, diantaranya Sulaiman Lapai dan Zoon, Datuk Sati & Co., Muchtar & Co., Fa. Baburai dan lain-lainnya.

Pada tahun 1920 Sulaiman Labai resmi mendapat izin untuk menjadi pengacara di Pengadilan Sawahlunto dan pada tahun itu juga M. Lilah Rajo Nan Sati ditunjuk oleh General Manager Ford sebagai Dealer Ford untuk order Afdeling Sawahlunto dan sekitarnya.

3. Sekolah Diniyah
Pada tahun 1923, didirikan di Silungkang sekolah Diniyah, cabang dari sekolah Diniyah Padang Panjang. Yang mempelopori berdirinya yang masih diketahui adalah :
a. H. Jalaludin
b. Joli Ustaz
c. Sulaiman Labai

Guru-gurunya dikirim dari Padang Panjang yaitu :
a. Guru Syariat dari Bukit Tinggi
b. Guru Murad dari Bukit Tinggi
c. Guru Adam dari Batipuh Padang Panjang
d. Guru Bagindo Syaraf dari Kampuang Dalam Pariaman

Putra Silungkang yang pernah menjadi gurunya antara lain :
a. Guru Ibrahim Jambek
b. Guru Ya’kub Sulaiman
c. Guru Syamsuddin
d. Guru Abdul Jalil Mahmud
e. Guru Abdoellah Desman
f. Guru Abdoellah Mahmoed
g. Guru A. Bakar

4. Kursus-kursus
Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau yang tidak kolot, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik.

Kaum pergerakan itu tidak sedikit andilnya dalam mencerdaskan dan membukakan mata rakyat, bukan rakyat Silungkang saja, tapi jangkauannya mencakup distrik Sawahlunto, distrik Sijunjung, distrik Solok, bahkan sampai ke daerah Riau dan Jambi.

Jauh sebelum tahun 1927, di Silungkang telah ada Bibliotik yang dikelola oleh Salim Sinaro Khatib. Beberapa surat kabar seperti Pemandangan Islam, jago-jago dan Silungkanglah dibagi-bagikan untuk daerah sekitarnya.

5. Tempaan Alam
Didesak oleh alamnya yang sempit, tidak punya sawah yang memadai, apalagi karena tanahnya tidak subur, rakyat Silungkang terpaksa memilih usaha dibidang perdagangan dan pertenunan (perindustrian). Perdagangan dan pertenunan sudah pasti menghendaki kecerdasan, setidak-tidaknya sekedar untuk bisa memperhitungkan pokok, laba rugi, atau prosentase untuk mengaduk celup.

Sebelum tahun 1937, pada umumnya rakyat Silungkang laki-laki, walaupun tidak pernah duduk dibangku sekolah, akan berusaha belajar sendiri walaupun hanya sekedar pandai tulis baca. Disamping itu perdagangan dan pertenunan ini memaksa rakyat Silungkang untuk merantau. Bertebaranlah rakyat Silungkang di seluruh pelosok tanah air, ke Singapura dan Malaysia.

Keuntungan utama dari merantau ini adalah terbukanya mata melihat kemajuan-kemajuan di negeri orang. Kemajuan-kemajuan ini mana yang cocok dibawa pulang ke kampung.

Beberapa contoh :

  • Menurut uraian yang kita terima, tenunan kampung Silungkang ini dipelajari dan dibawa dari petani (Siam) oleh perantau-perantau Silungkang pada abad ke 15.
  • Tenunan ATBM, ilmu dan modalnya didapat dari Pamekasan Madura, yang digabungkan dengan ilmu dan model ATBM buatan Bandung.
  • Pada tahun 1925, yang dipelopori oleh Ongku Kadhi Gaek (Tankadi gelar Pokiah Kayo), khotbah Jum’at di Silungkang telah mulai menggunakan bahasa Indonesia, padahal waktu itu, kecuali di kota-kota, pada umumnya khotbah Jum’at masih memakai bahasa Arab.
  • Sebelum Perang Dunia Kedua, kenduri-kenduri di rumah kematian seperti kenduri 3, 7, 14 atau 40 hari sudah tidak ada lagi, jangan harap akan ada orang yang datang kalau dipanggil untuk kenduri tersebut.

Hubungan lalu lintas seperti Auto dan kereta api yang melalui Silungkang juga ikut memberi kemajuan bagi Silungkang.

Demikian kira-kira gambaran pendidikan di Silungkang sebelum tahun 1927.

Sumber : Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Atas jasa Sdr. Musahar Malintang (orang Silungkang) maka H. Bustamam (pemilik Rumah Makan SEDERHANA) mengurungkan niatnya untuk pulang ke Lintau, kampung halamannya.

Sdr. Musahar M. menyarankan untuk memulai mendirikan rumah makan dengan merek “Sederhana” di Bendungan Hilir (Jakarta Pusat) yang sekarang bangunannya masih menempel di dinding pagar BRI dan dari sanalah rumah makan Sederhana berangkat merambah Jakarta dan sampai ke Malaysia dengan sistem waralaba.

Sedangkan manfaatnya masih diperoleh anak Musahar (Drs. Endi, MM) meneruskan pelayanan catering untuk kenduri berkas kerjasama dengan rumah makan Sederhana.

Sumber :

Masri Ayat Siri Dirajo

Suara Silungkang – Edisi Keenam Desember 2007

(SUATU KISAH YANG BELUM PERNAH TERUNGKAP)

Pengantar
Dengan naskah sederhana ini saya ingin bercerita kepada kawan-kawan sekampung-sehalaman, sesekolah-sepermainan, bahwa selama ini mungkin tidak banyak diantara kita yang memikirkan mengapa sekarang kita telah menetap di Jakarta dan mengapa pula orang Silungkang lainnya ada yang pergi merantau bahkan kemudian bertempat tinggal di Kotobaru, Muara Tebo, Jambi, Medan, Solo, Semarang, Surabaya bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Australia, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan lain-lain. Menurut hemat saya salah satu penyebb tersebarnya orang Silungkang tersebut dimana-mana, pada awalnya tidak lain dan tidak bukan, karena dorongan kaum ibunya.

Permulaan Merantau
Dari berbagai cerita yang saya terima mengenai nagari Silungkang dan penduduknya, cerita-cerita yang menyangkut penghidupan anak negeri Silungkang sangat menarik perhatian saya dan bebrapa diantaranya melekat dalam ingatan saya hingga kini. Hal ini mungkin disebabkan kisah-kisah tersebut saya terima pada waktku saya masih remaja, ketika daya ingat masih kuat, dan cara menuturkannya oleh orang tua-tua kita dapat menarik perhatian yang mendengarnya.

Tanpa mengurangi arti penting dan rasa hormat saya kepada nara sumber lainnya, di bawah ini saya sebutkan beberapa orang yang masih saya ingat, yaitu :
Haji Chatab, Kampung Dalimo Tapanggang
Haji Mohamad Samin, Kampung Batu Mananggau
Ongku Ociak, Kampung Dalimo Tapanggang (Ongku saudara Alm. Jalius Jalil)
Haji Yunus, Kampung Dalimo Kosiak (Ayah Saudara H. Hussein Yunus)
Bapak Samin, Kampung Batu Bagantung (Bapak Ir. Rivai Samin)
Bapak Usman Karim, Kampung Dalimo Godang
dan lain-lain.

Menurut penuturan orang tua-tua kita tersebut, orang Silungkang terutama kaum ibunya sejak dari negeri asal mereka telah memiliki kepandaian bertenun kain gedokan. Namun setelah sampai di negeri yang baru, yaitu Silungkang, yang pertama-tama mereka kerjakan adalah bertani dengan membuka ladang dan sawah. Pada waktu itu luas tanah yang mereka dapati untuk digarap menjadi perladangan dan persawahan, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bagi penduduk yang jumlahnya masih sedikit.

Tentu saja ladang dan sawah itu digarap dengan cara dan alat yang sangat sederhana. Sebagai contoh di waktu kecil saya masih lihat bekas-bekas ladang dan sawah tersebut, termasuk parak (kebun) kopi yang mungkin kawan-kawan sudah tidak ingat lagi. Agaknya parak kopi ini merupakan bagian dari peninggalan Sistim Tanaman Paksa (Cultuur Stelsel) penjajah Belanda dahulu.

Setelah penghidupan di negeri yang baru ini berjalan lancar, dan didorong oleh pertambahannya kebutuhan hidup sehari-hari, maka teringatlah oleh kaum ibu kita untuk menggarap tenunannya kembali, karena pada waktu itu masih banyak tersisa bahan baku, terutama benang, yang dibawa dari negeri asal. Mengapa dikatakan menggarap tenunannya kembali, ialah karena kegiatan bertenun kain tersebut telah menjadi terbengkalai selama proses pindah dari negeri asal ke negeri yang baru ini.

Pada waktu itu dalam suatu keluarga telah terdapat pembagian kerja yang baik antara anak perempuan dan anak laki-laki. Anak-anak perempuan disamping bertugas membantu ibunya di rumah juga diajar bertenun kain gedokan. Bahkan bagi anak perempuan kepandaian bertenun kain merupakan kepandaian wajib. Diceritakan bahwa bila seorang anak perempuan telah menginjak dewasa, harus dibuatkan baginya sebuah pelantai (alat tenun gedokan). Sebagai bukti, dapat kita lihat dahulu ditiap-tiap rumah godang (rumah adat Minangkabau) terdapat lima sampai sepuluh buah pelantai untuk dikerjakan oleh kaum ibu Silungkang (dewasa dan anak-anak perempuan) yang bertempat tinggal dalam rumah tersebut. Yang dihasilkan pada masa itu adalah kain lopor, kain balopak, kain songket, kain baju (batabu), kain pintu, kain sarung, kain selendang dan jenis kain lainnya yang biasa dipakai dalam rumah tangga.

Adapun tugas utama yang diberikan kepada anak laki-laki dewasa adalah bagian dari pekerjaan bertenun kain yang lebih berat seperti maani dan mangarok, dan pergi menjual hasil kain tenunan tersebut ke balai (pasar) dan ke pekan-pekan. Maka bertambahlah satu lagi mata pencaharian orang Silungkang yaitu berdagang.

Setelah persediaan bahan baku untuk bertenun (terutama benang tenun) makin menipis, maka timbullah pikiran pada kaum ibu kita untuk menyuruh anak laki-laki mereka yang telah dewasa pergi ke kota-kota untuk menjual hasil tenunan mereka dan membeli benang untuk ditenun kembali.

Adapun negeri-negeri yang pertama kali menjadi tujuan adalah negeri-negeri yang pada waktu itu pekannya sudah ramai, seperti Bayang, Muara Labuh, Padang, bahkan Air Molek (Riau) dan Kuala Tungkal (Jambi). Negeri-negeri yang terletak di pinggir laut seperti Bayang (Pesisir Selatan) pada waktu itu telah disinggahi oleh kapal-kapal dagang. Jalan pikiran kaum ibu kita waktu itu sangat masuk akal, yakni di kota-kota pelabuhan akan ada kapal yang merapat dan disana tentu akan ada orang yang mau membeli hasil tenunan untuk mereka jual lagi dan sekaligus di sana bisa diperoleh informasi mengenai benang tenun yang bisa dibeli.

Setelah sampai di negeri yang dituju, ternyata nenek moyang kita tidak langsung mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun kain yang mereka bawa telah terjual. Maka terpaksalah mereka bertempat tinggal di negeri tersebut buat sementara dan dengan bentuk mata pencaharian yang lain, seperti berdagang dan bentuk usaha yang lain. Dengan begitu terjadilah perantauan pertama orang Silungkang di dalam kerangka mencari penghidupannya.

Untuk merantau ini anak-anak muda Silungkang zaman dahulu dari kampung telah dibekali dengan berbagai kepandaian antara lain berdagang, menjahit, memasak dan untuk menjaga dirinya bila sewaktu-waktu diperlukan, dibekali juga dengan kepandaian bersifat.

Setelah bermukim bertahun-tahun di rantau orang dan karena sulitnya hubungan ke kampung waktu itu, ada diantara orang Silungkang yang merantau itu kawin di rantau orang dengan wanita setempat. Berita perkawinan ini lambat laun sampai juga ke telinga kaum ibu kita yang ada di kampung, tetapi apalah hendak dikata meskipun hati tidak mengizinkan, keadaan ini pada akhirnya dapat juga diterima oleh kaum ibu di kampung sambil berpasrah diri kepada Allah.

Sesuai dengan bertambah pesatnya kegiatan pertenunan di kampung, maka perantauan orang Silungkang makin lama makin jauh, hingga sampai menyeberangi lautan menuju tanah Jawa, yang diperkirakan terjadi kira-kira mulai tahun 1902. sebagaimana di rantau orang yang lain, di tanah Jawa pun banyak orang Silungkang yang kawin dengan wanita setempat.

Pembukaan Tambang Batu Bara Ombilin (TBBO) – Sawahlunto
Kira-kira pada tahun 1876 sewaktu Dja’far Sutan Pamuncak orang Dalimo Godang menjadi Laras, Belanda ingin membuka tambang batu bara di daerah kita. Perundingan antara pemerintah Belanda dengan Laras berlangsung selama kurang lebih 12 (dua belas) tahun.

Berkat kegigihan beliau dalam memperjuangkan nasib anak negeri pada perundingan-perundingan tersebut, setelah tambang bara Ombilin dibuka, banyak orang Silungkang mendapat kesempatan berusaha yang terkait dengan kegiatan pertambangan ini. Kesempatan tersebut antara lain menjadi pemborong (aannemer), pemasok bahan, pegawai, dan lain-lain.

Pembangunan jalan kereta api jalur Sawahlunto – Padang adalah semata-mata karena adanya Tambang Batu Bara Ombilin (TBBO) tersebut. Batubara diangkut dari Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur Padang untuk dikapalkan dengan gerbong-gerbong kereta api ini. Sebagian dari batubara tersebut dari Stasiun Bukit Putus diangkut dengan lori-lori gantung ke pabrik semen Indarung (yang berdiri dari kurang lebih tahun 1911) untuk digunakan sebagai bahan bakar pada proses pembuatan semen.

Zaman “keemasan” bagi orang Silungkang atas keberadaan TBBO ini berlangsung sampai tentara Jepang masuk ke Indonesia. Terbukanya TBBO ini boleh dikatakan sebagai perintis bagi terbukanya tambang-tambang dan perkebunan-perkebunan lainnya di Sumatera Barat karena tambang-tambang dan perkebunan dibuka setelah adanay TBBO-Sawahlunto.

Permulaan Membangun Negeri
Kemajuan yang dialami negeri Silungkang sebagai hasil dari berbagai usaha anak negerinya (bertenun, berdagang, pemborong, dan lain-lain) tercermin dari pembangunan-pembangunan yang dilakukan anak negeri pada waktu itu.

Sebagai contoh, pada tahun1904 los-pasar (passer loos) yang pertama dibangun di Pasar Silungkang dan sebelas tahun kemudian 91915) disusul dengan pembangunan los-pasar yang kedua ditempat yang sama dan setelah itu dibangun los besi (los besi yang berhasil dibangun pada tahun 1938, merupakan los besi terbesar di Sumatera Barat ketika itu).

Kemudian pada tahun 1918 di Silungkang didirikan Kantor Pos Pembantu dan dibangun pula jembatan penyeberangan yang menghubungkan pasar dengan stasiun kereta api. Jembatan tersebut masih bertahan hingga kini.

Kejadian penting diantara tahun-tahun tersebut yang menyangkut pertenunan antara lain adalah pada tahun1910, orang Silungkang dibawa oleh Pemerintah Belanda ke Pekan Raya Internasional di Belgia untuk memperagakan cara bertenun kain di sana (mungkin Belanda ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa sebagai penjajah mereka berlaku baik kepada anak jajahannya hingga bisa memiliki kepandaian bertenun kain yang artistik, padahal seperti telah disebutkan di atas, kepandaian bertenun ini telah dimiliki nenek moyang kita sejak dahulu kala.).

Kejadian penting berikutnya yang membawa pengaruh besar terhadap kemajuan anak Nagari Silungkang adalah pemberontakan orang Silungkang melawan Penjajahan Belanda pada tahun 1926 – 1927. Seperti akan kita lihat nanti dalam tulisan saya berikutnya, Insya Allah, kepandaian bertenun kain dan membuat Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimiliki orang Silungkang sekarang bermula dari keterampilan yang dibawa oleh salah seorang dari orang tua-tua kita (Karim Gagok) dari tanah Jawa, setelah beliau kembali dari menjalani hukuman. Dengan demikian keaneka ragaman pertenunan kain Silungkang telah bertambah dengan alat ATBM, yang dapat dijadikan permulaan untuk membangun industri pertenunan yang padat karya dan padat modal untuk sebelum masa kemerdekaan.

Konferensi Anak Silungkang Yang Pertama
Antara tanggal 18 hingga 23 Desember 1939 di Silungkang dilaksanakan Konferensi Anak Silungkang yang pertama. Konferensi ini bertujuan untuk mempersatukan pandangan dan kekuatan orang Silungkang yang berada di kampung dan di rantau.

Selain dari pada itu satu hal mengenai Konferensi Anak Silungkang Yang Pertama ini yang belum terungkap sebelumnya adalah bahwa konferensi itu diadakan karena Pemerintah Belanda (Ratu Wilhemina) akan menghadiahkan Bintang Jasa/Medali kepada YUSUF DATUK SATI, Kepala Nagari Silungkang pada waktu itu. Yang memiliki Ratu Belanda mengantarkan Medali itu adalah Gubernur Jenderal (GG) Belanda pada waktu itu (kalau sekarang GG itu sama dengan Presiden).

Jadi inilah pekerjaan luar biasa yang pernah dihasilkan oleh orang tua-tua kita dahulu yang mungkin belum tertandingi oleh generasi sekarang, meskipun besarnya kekayaan generasi Silungkang sekarang melebihi kekayaan orang tua-tua dahulu.

Konferensi ini melahirkan banyak hal, antaranya berdirinya di Silungkang Sekolah Dagang Islam (SDI) yang setingkat dengan Sekolah MULO. Pada waktu itu di Sumatera Tengah Sekolah MULO merupakan jenjang pendidikan yang tertinggi, yang baru terdapat di dua tempat, yaitu di Padang dan di Bukit tinggi.

Disamping menghasilkan berdirinya sekolah SDI di Silungkang, konferensi tersebut juga melahirkan keinginan-keinginan untuk :

  • Memasukkan listrik ke Silungkang
  • Membangun Sistim Air Ledeng dan Sistim Pemadam Kebakaran

Seperti kita ketahui aliran listrik ke Silungkang masuk pada tahun1947, yang mungkin merupakan Listrik Masuk Desa yang pertama yang ada di Indonesia. Pembangunan jaringan dan masuknya aliran listrik ke Silungkang ini adalah atas permintaan orang tua-tua kita yang dibuang (diinternir) Belanda ke Digul bersama dengan almarhum Bapak Drs. Moh. Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, yang pada tahun 1947 tersebut berkunjung ke negeri Silungkang.

Dalam konferensi itu juga terungkap suatu ratapan yang berjudul : “Kaum Ibu Silungkang” yang memberitahukan kepada kita bahwa segala kemajuan yang dicapai anak Silungkang adalah karena dorongan kaum ibunya.

Bunyi pantun tersebut adalah sebagai berikut :
Kaum Ibu Silungkang
Silungkang kekurangan sawah
Beras dibeli setiap pekan
Anak Silungkang sampai ke Jawa
Palantai induak nan mamajukan


Induak batanun kain jo baju
Dijua kain dibalikan ka bareh
Anak Silungkang manjadi maju
Turak jo sikek nan bakarajo kareh

Dan dengarlah pula sebuah pantun yang lain sebagai berikut :
Konferensi Silungkang Pertama
Rantau dan Kampung Satu Tenaga

Silungkang bapagaa bukik
Bukik hilalang nan banyak batu
Apo karajo indak basakik
Asal puteranyo tetap basatu


Silungkang bapaga bukik
Bukik bapaga si batu baro
Kok di Silungkang hiduik basakik
Mari marantau kito basamo


Badarak badiran-diran
Samalam di Koto Tuo
Kok dikona maso nan silam
Namun di hati batambah laruik juo


Badarak badiran-diran
Samalam di Koto Tuo
Guno dikoan maso nan silam
Kapaluciak nan mudo-mudo

Khotimah

Begitulah sekilas gambaran yang didapat dari orang tua-tua kita dahulu mengenai asal muasal kita pergi merantau. Untuk melengkapi riwayat ini saya harapkan sekali dari saudara-saudara sekalian, terutama dari kita-kita ini yang sudah berusia “senja”, hingga sebelum “mata hari tenggelam di ufuk barat”, ada kisah yang akan kita bacakan kepada anak, cucu, cicit kita untuk memacu semangat mereka berbuat yang terbaik bagi negeri leluhurnya.

Walluhu a’lam bissawaab.

Wassalam,

H. Munir Taher
Jakarta, akhir Juni 1999

Laman Berikutnya »