Pasar


Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya. Berawal dari situ mulai orang Silungkang mencoba berwarung-warung minuman dan makanan dilingkungannya, dari berdagang minuman dan makanan setapak demi setapak mereka maju, dan mulailah berdagang barang-barang lain dari satu desa ke desa lainnya dari satu nagari ke nagari lainnya dari satu daerah ke daerat lainnya, ternyata berdagang cocok untuk orang Silungkang sehingga sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera dan sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam (Thailand) sekarang. Di negeri Siam inilah perantau Silungkang dapat belajar bertenun dan setelah mereka pandai dan mengerti cara bertenun sewaktu mereka kembali ke Silungkang, ilmu bertenun ini mereka ajarkan kepada kaum ibu di Silungkang dan semenjak itu mulailah beberapa orang wanita Silungkang bertenun songket, pada awalnya bertenun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, kemudian mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari.

(lebih…)

1. Pengajian
Jauh sebelum ada sekolah umum, tingkat pendidikan di Silungkang hanyalah pendidikan surau. Sama seperti di negeri-negeri lainnya di Minangkabau, suraulah yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun, telah disuruh tidur di surau. Kalau masih tidur di rumah orang tua akan ditertawakan dan akan digelari dengan “Kongkong Induk Ayam”.

Di surau ini dapat dipelajari/diajarkan :

  1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam.
  2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga).
  3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, adalah didikan bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri.
  4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, ditempat untuk tidak penakut dan berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat).
  5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau.
  6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Pada waktu itu, jumlah surau yang ada di Silungkang 25 buah, suatu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Surau terbesar adalah surau Godang, (tempatnya di sekolah Muhammadiyah sekarang), surau ini didirikan pada tahun 1870 M / 1287 H dengan tujuan sebagai induk surau-surau yang sudah ada.

Yang mempelopori dan memimpin berdirinya adalah Syekh Barau (nama aslinya M. Saleh bin Abdullah). Syekh Barau ini adalah seorang ulama besar, punya murid dan pengikut yang banyak. Beliau pernah bermukim di Makkah untuk mempelajari seluk-beluk agama Islam. Beliau sangat disegani masyarakat Silungkang setara negeri-negeri sekitarnya. Di Batang Air Silungkang ada ikan bernama ikan Barau, untuk menghormati beliau dan ada yang berpendapat supaya jangan kualat, oleh masyarakat nama ikan itu ditukar dengan ikan tobang, yang sampai sekarang masih bernama ikan tobang. Beliau meninggal hari Sabtu, 29 Zulhijjah 1288 H.

Surau Godang ini ada hubungannya dengan Ulakan Pariaman, dan Syekh Barau sebagai wakil Khalifah dari Khalifah yang ada di Ulakan. Antara tahun 1920 – 1926, yang mengaji di Silungkang tidak terbatas pada warga Silungkang saja, tapi banyak pula yang berdatangan dari negeri lain, seperti dari Garabak Data, Simiso, Aie Luo, Batu Manjulur, Kobun, Koto Baru, Padang Sibusuk dan lain-lain.

Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

2. Sekolah Umum
Sekolah dasar (Volkschool) yang pertama untuk bumi putra Minangkabau didirikan di Bukit Tinggi pada tahun 1940. Sekolah ini didirikan dengan tujuan utama untuk mempersiapkan rakyat Minangkabau untuk menjadi pegawai Belanda. Di Silungkang kapan berdirinya Volkschool tidak diperdapat keterangan yang pasti, yang jelas sebelum tahun 1921 sudah ada Volkschool dan Vervolgschool (sekolah desa 3 tahun dan sekolah gubernaman 5 tahun). Besar kemungkinan adanya Volkschool itu sebelum tahun 1900, sebab setelah tahun1900 Silungkang telah banyak yang pandai tulis baca, pergi merantau ke Jawa, Singapura, Kelang (julukan untuk Malaysia waktu itu) bahkan ada yang telah bermukim dan berdagang di Makkah.

Pada tahun 1915 telah ada beberapa orang Silungkang yang berhubungan dagang ke negeri Belanda dan Belgia dengan korespondensi dengan berbahasa Belanda, diantaranya Sulaiman Lapai dan Zoon, Datuk Sati & Co., Muchtar & Co., Fa. Baburai dan lain-lainnya.

Pada tahun 1920 Sulaiman Labai resmi mendapat izin untuk menjadi pengacara di Pengadilan Sawahlunto dan pada tahun itu juga M. Lilah Rajo Nan Sati ditunjuk oleh General Manager Ford sebagai Dealer Ford untuk order Afdeling Sawahlunto dan sekitarnya.

3. Sekolah Diniyah
Pada tahun 1923, didirikan di Silungkang sekolah Diniyah, cabang dari sekolah Diniyah Padang Panjang. Yang mempelopori berdirinya yang masih diketahui adalah :
a. H. Jalaludin
b. Joli Ustaz
c. Sulaiman Labai

Guru-gurunya dikirim dari Padang Panjang yaitu :
a. Guru Syariat dari Bukit Tinggi
b. Guru Murad dari Bukit Tinggi
c. Guru Adam dari Batipuh Padang Panjang
d. Guru Bagindo Syaraf dari Kampuang Dalam Pariaman

Putra Silungkang yang pernah menjadi gurunya antara lain :
a. Guru Ibrahim Jambek
b. Guru Ya’kub Sulaiman
c. Guru Syamsuddin
d. Guru Abdul Jalil Mahmud
e. Guru Abdoellah Desman
f. Guru Abdoellah Mahmoed
g. Guru A. Bakar

4. Kursus-kursus
Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau yang tidak kolot, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik.

Kaum pergerakan itu tidak sedikit andilnya dalam mencerdaskan dan membukakan mata rakyat, bukan rakyat Silungkang saja, tapi jangkauannya mencakup distrik Sawahlunto, distrik Sijunjung, distrik Solok, bahkan sampai ke daerah Riau dan Jambi.

Jauh sebelum tahun 1927, di Silungkang telah ada Bibliotik yang dikelola oleh Salim Sinaro Khatib. Beberapa surat kabar seperti Pemandangan Islam, jago-jago dan Silungkanglah dibagi-bagikan untuk daerah sekitarnya.

5. Tempaan Alam
Didesak oleh alamnya yang sempit, tidak punya sawah yang memadai, apalagi karena tanahnya tidak subur, rakyat Silungkang terpaksa memilih usaha dibidang perdagangan dan pertenunan (perindustrian). Perdagangan dan pertenunan sudah pasti menghendaki kecerdasan, setidak-tidaknya sekedar untuk bisa memperhitungkan pokok, laba rugi, atau prosentase untuk mengaduk celup.

Sebelum tahun 1937, pada umumnya rakyat Silungkang laki-laki, walaupun tidak pernah duduk dibangku sekolah, akan berusaha belajar sendiri walaupun hanya sekedar pandai tulis baca. Disamping itu perdagangan dan pertenunan ini memaksa rakyat Silungkang untuk merantau. Bertebaranlah rakyat Silungkang di seluruh pelosok tanah air, ke Singapura dan Malaysia.

Keuntungan utama dari merantau ini adalah terbukanya mata melihat kemajuan-kemajuan di negeri orang. Kemajuan-kemajuan ini mana yang cocok dibawa pulang ke kampung.

Beberapa contoh :

  • Menurut uraian yang kita terima, tenunan kampung Silungkang ini dipelajari dan dibawa dari petani (Siam) oleh perantau-perantau Silungkang pada abad ke 15.
  • Tenunan ATBM, ilmu dan modalnya didapat dari Pamekasan Madura, yang digabungkan dengan ilmu dan model ATBM buatan Bandung.
  • Pada tahun 1925, yang dipelopori oleh Ongku Kadhi Gaek (Tankadi gelar Pokiah Kayo), khotbah Jum’at di Silungkang telah mulai menggunakan bahasa Indonesia, padahal waktu itu, kecuali di kota-kota, pada umumnya khotbah Jum’at masih memakai bahasa Arab.
  • Sebelum Perang Dunia Kedua, kenduri-kenduri di rumah kematian seperti kenduri 3, 7, 14 atau 40 hari sudah tidak ada lagi, jangan harap akan ada orang yang datang kalau dipanggil untuk kenduri tersebut.

Hubungan lalu lintas seperti Auto dan kereta api yang melalui Silungkang juga ikut memberi kemajuan bagi Silungkang.

Demikian kira-kira gambaran pendidikan di Silungkang sebelum tahun 1927.

Sumber : Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Silungkang – Seri Menanti

 

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang
Bekerja Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

 

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu M
Bahasa Indonesia, Silungkang, Malaysia

 

Oleh Djasril Abdullah

BAGIAN KEDUA

Sebagaimana biasa saya tetap menjalankan tugas-tugas sebagai Kepala Desa, saya kembali mempertegas pendirian dan bertekad untuk menang dalam Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) Periode 1998 – 2006, segala sesuatu untuk itu saya persiapkan, isteri dan anak-anak pun juga menyadari akan hal itu bahwa “Poi ka Malaysia tu ndak jadi do” (pergi ke Malaysia tidak jadi), karena 4 bulan menanti kabar dari Malaysia tidak kunjung ada.

Saya sibuk mempersiapkan dan mengkoordinir Panitia Pemilihan Kepala Desa yang diketuai oleh Sdr. Syahruddin Syarif, dan saya pun yakin sebagian masyarakat masih ada yang simpati dan mengharapkan saya terpilih kembali, dan saya pun yakin bahwa saya sanggup bersaing dengan kandidat lainnya. Sebagai Pejabat Sementara, saya bertanggung jawab suksesnya pelaksanaan Pilkades. “Pak … ! Ado telepon untuak Bapak,” (Pak … ! Ada telepon untuk Bapak) kata salah seorang staf desa kepada saya. “Daghi mano ?” (dari mana ?) jawab saya tanpa melihat kepada staf itu karena sibuk. “Katonyo daghi Malaysia Pak” (Katanya dari Malaysia Pak) jawabnya. Siiir….,“Tasighok dagha” (tersirat darah) saya mendengar jawaban staf Desa itu, saya tinggalkan kesibukan saya, langsung saja saya menuju gagang telepon yang masih tergeletak diatas meja, saya angkat, “Hallo ….. Assalamu’alaikum, saya Djasril Abdullah, siapa disana ? Kata saya. “Waalaikumussalam, saya Muhammad Darus dari pada Negeri Sembilan Malaysia, saya nak bagi tahu Pak Djasril bahwa saya dan Tan Sri Samad Idris besok akan ke Padang, kami akan sampai di Silungkang pada 3 hari bulan Oktober, kami mohon Bapak sedia menunggu kami”. Kata suara telepon.” Baiklah, kami tunggu kedatangannya dengan senang hati” kata saya.

Hm ……, sebuah nada keluhan tanpa disadari lepas landas dari mulut dan hidung saya, saya terhenyak duduk di kursi tamu. “Pangona lah ba beliang-beliang” (berputar-putar) dunia panggung sandiwara, kita sebagai lakonnya, ikuti saja apa yang telah ditentukan oleh scenario itu, tapi “ndak samugha mambaliak-an talapak tangan do” (tidak semudah membalikkan telapak tangan). Sekarang tanggal 29 September 1998, Tan Sri dan Encik Mad Darus akan sampai di Silungkang tanggal 3 Oktober 1998, jadi ada 5 hari lagi termasuk hari ini. Maksud kedatangan Tan Sri dan Encik Mad Darus belum bisa diduga, tapi saya menyangka ada dua hal yang akan disampaikan kepada saya, yaitu pertama keberangkatan ke Malaysia gagal dikarena hal-hal yang tak dapat dielakkan, kedua kepastian berangkat ke Malaysia.

Ada lebih kurang setengah jam saya terhenyak di kursi tamu hanyut oleh “Pangona ba beliang-beliang tu”, kemudian saya langsung menemui isteri saya yang sedang asyik bertenun songket, memang tempat tinggal saya bersebelahan dengan Kantor Desa, dan langsung saya sampaikan isi percakapan telepon tadi, tapi tidak ada jawaban, menolak tidak, menyetujui pun tidak, “takatuang-katuang” (terkatung-katung)

Hasil percakapan telepon itu juga saya sampaikan kepada Ketua Pilkades Syahruddin Syarif, nampaknya dia kecewa, kalau sekiranya saya mundur dari pencalonan tentu akan dicari satu orang kandidat lagi untuk pengganti saya. Diwaktu itu kira-kira pukul 10.00 pagi, Sabtu, 3 Oktober 1998, saya ditelpon oleh Bapak Kepala Desa Silungkang Tigo, Drs. Dasril Munir, “Pak Desa, kabalai lah, ughang Malaysia tu lah tibo, kami nanti di Rumah Makan Memok, copek di,” katanya (Pak Desa, ke pasarlah, orang Malaysia telah tiba, kami nanti di Rumah Makan Memok, cepat ya). “Jadi, ambo barangkek kini” (Jadi, saya berangkat kini), jawab saya.

Di rumah makan Memok, sudah ada disana Tan Sri Samad Idris, Encik Muhammad Darus, Bapak Drs. Dasril Munir, Bapak Ir. Aswan Basri dan seorang pegawai dari Kantor Gubernur Sumbar, saya dapati mereka sedang menikmati makanan spesifik Silungkang berupa ale-ale, “Assalamu’alaikum” kata saya yang baru saja muncul dihadapan mereka. “Waalaikummussalam”, jawab mereka serentak. Saya menyalami satu persatu dan duduk serta minum bersama mereka. Setelah selesai minum barulah Tan Sri Samad Idris memulai pembicaraannya. “Pak Djasril ! Kami minta maaf karena sudah terlambat datang ke sini, bukan apa-apa, kami harus bermusyawarah ke segala pihak sehingga memerlukan waktu yang lama, barulah hari ini saya sampai di Silungkang. Begini Pak Djasril, kami sudah mempersiapkan ruangan kosong untuk peragaan tenun, di Muzium Diraja Seri Menanti, dan kami juga telah menyediakan 2 buah rumah untuk Bapak dan anggota Bapak, untuk pertama kali, Bapak berangkat satu orang dulu, untuk memasang alat tenun, menata ruang, mempersiapkan segala sesuatu di rumah tempat tinggal, karena rumah tersebut kosong, tanpa perabot. Kami sudah sediakan satu tiket pesawat untuk Bapak berangkat tanggal 6 Oktober 1998 jam 12.55 siang”. Kata Tan Sri menerangkan secara pelan-pelan karena harus menyesuaikan penyampaian menurut bahasa dan logat Indonesia. “Terima kasih Pak” kata saya, “Tapi saya ada usul ni Pak, karena memasang alat tenun itu susah dikerjakan satu orang, saya mengusulkan untuk pertama kali diberangkatkan 2 orang” kata saya memohon. “Baiklah, saya setuju” kata Tan Sri Samad Idris sambil memberi tahu Encik Muhammad Darus supaya membeli satu tiket lagi. “Atas nama siapa ?” tanya Encik Muhammad Darus. “Atas nama Yusben” kata saya. Kami rasa percakapan sudah selesai dan maksud kedatangan Tan Sri dan Encik Mad sudah bisa dipahami. “Kini apo acara lai” (Kini apa acara lain) kata Drs. Dasril Munir kepada saya, “Katompek si Au Wak makan nasi soto”, lanjutnya (Ketempat si Au Wak makan nasi soto). “Jadi” jawab saya. Maka berangkatlah kami seluruhnya ke Air Dingin Muarokalaban. Saya duduk berhadap-hadapan dengan Encik Mad Darus, sambil akan nasi soto, Encik Mad Darus berkata, “Apa nama yang kita makan ni, sedapnya”. “Ini namanya nasi soto” jawab saya. “Saya heran”, kata Encik Mad Darus, “Alam disini sama sangat dengan alam di Negeri Sembilan, berbukit bakau, sungai yang berbatu, orang punya cakap pun hampir sama”, tambahnya. Saya hanya diam saja sambil tersenyum mendengar ucapan Encik Mad Darus itu. Selesai makan kami kembali naik mobil, saya dan Bapak Dasril Munir beserta Ir. Aswan Basri satu mobil dan Tan Sri bersama Encik Mad Darus beserta seorang pegawai Kantor Gubernur Sumbar dengan mobil Pemda Tk. I Sumbar, karena mereka langsung saja menuju Padang.

Di rumah, segala percakapan saya dengan Tan Sri dibeberkan kepada isteri saya, nampaknya isteri saya menyetujui “Poi ka Malaysia, mundur jadi calon Kepala Desa” (pergi ke Malaysia, mundur jadi calon Kepala Desa), terbukti isteri saya mempersiapkan segala sesuatu keperluan saya dalam rangka keberangkatan saya 4 hari lagi.

Malamnya, mata saya susah untuk tidur, saya mempersiapkan mental menghadapi keberangkatan dan menjiwai pekerjaan yang akan dilaksanakan. Memang tidak mudah menukar persiapan mental dari “Siap jadi Kepala Desa” kepada “Siap bekerja di Malaysia” dalam jangka waktu pendek.

Yang tak kalah menganggu pikiran saya adalah “naik pesawat, seumur hidup saya belum pernah naik pesawat, saya hanya pernah naik kendaraan darat dan laut, seperti pedati, bendi, sepeda, motor, mobil, kereta api dan kapal laut. Disatu sisi saya ingin mencoba naik pesawat karena belum pernah, disisi lain saya ngeri, “sadang mamanjek batang patukai jo ngori tughun, basah tapak kaki dek nyo” (sedang memanjat batang pepaya saja ngeri turun, basah tapak kaki karenanya), apalagi naik pesawat yang melayang-layang tinggi diudara ”ndak tontu kamano ka malompek” (tidak tentu kemana akan melompat).

Segala persiapan pribadi diselenggarakan oleh isteri saya, dan segala persiapan barang-barang peralatan tenun yang akan dibawa diselenggarakan oleh Bapak Drs. Dasril Munir dan Ir. Aswan Basri, sedangkan saya mengurus segala surat-surat serta pamit kepada Bapak Camat, Bapak Kabag Tapem, Bapak Walikota dan rekan-rekan Kepala Desa.

Hari Selasa, 6 Oktober 1998, jam 9,00 pagi saya berangkat dari Silungkang dengan mobil pribadi Ir. Aswan Basri yang sebelumnya telah dimuat dengan barang-barang alat tenun, sampai di Bandara Tabing pukul 11.00 siang sedangkan pesawat berangkat pukul 12.55 siang, sebelum berangkat saya, Sdr. Yusben dan Encik Mad Darus sempat makan siang terlebih dahulu di Kompleks Bandara Tabing. Dan tak lama kemudian tibalah saatnya menuju pesawat yang akan menerbangkan kami ke Malaysia, saya berjalan antri menuju tangga pesawat dengan “Jantuang badobak-dobak” (jantung berdebar-debar), setibanya diatas pesawat langsung duduk dikursi dan “ndak lupo mamasang tali pangobek badan” (tidak lupa memasang tali pengikat badan).

Mula-mula memang apa yang saya kuatirkan terjadi, ngeri, tapi tidak berlangsung lama, perasaan saya berangsur-angsur normal kembali hanya 1 jam 20 menit, pesawat mendarat di Lapangan Terbang Sultan Ismail, Johor Bahru Malaysia, kami turun dari pesawat, disana kami telah ditunggu oleh seorang petugas Lapangan Terbang yang nampaknya sudah tahu akan kedatangan kami, kami diberi masing-masing 1 tiket lagi atas nama kami dan terus naik ke pesawat yang sama menuju Kualalumpur.

Lama saya berpikir, kenapa di Johor Bahru kami diberi lagi tiket pesawat, sedangkan pesawatnya itu juga, kenapa tidak langsung saja tiket Padang – Kualalumpur, kenapa diberi lagi tiket Johor Bahru – Kualalumpur.

Kemudian barulah saya tahu adanya perjanjian SIJORI (Singapura – Johor – Riau) mengenai bebas fiscal. Kalau dibeli tiket Padang – Kualalumpur dikenakan fiscal (menurut peraturan di waktu itu, Pen).

Lebih kurang 50 menit, pesawat mendarat di Lapangan Terbang Sultan Abdul Aziz Shah, Subang. Disana kami sudah ditunggu oleh 3 orang dengan sebuah mobil yang ditugaskan khusus menjemput kami, dengan sangat ramahnya kami disalami dan dipersilahkan naik ke atas mobil dan terus kami diberangkatan menuju Bandar (kota) Seremban, Negeri Sembilan.

Di dalam perjalanan tidak banyak kami bercakap-cakap, hanya sekali-sekali ada juga yang perlu ditanyakan, kalau tidak kami yang bertanya dia yang bertanya.

Saya asyik memandang kiri kanan jalan, disebabkan kami lewat jalan tol, jarang kelihatan daerah pemukiman, yang ada hanya hamparan kebun kelapa sawit, ditengah perjalanan kami singgah di kawasan Jamu Selera untuk mengisi perut yang mulai lapar, golang golang (usus) saya mulai mencicipi masakan Malaysia.

Bandar (kota) Seremban mulai kami masuki pukul 20.00 malam, mobil berhenti sejenak, salah seorang dari orang menjemput kami itu turun dan menuju sebuah Plaza, tak lama dia kembali dan menyerahkan kepada kami masing-masing 1 tas plastik yang isinya baju kaus dan selimut, “Terima kasih ncik” kata saya singkat, “Terima kasih kembali, tak pe, tu semua untuk awak (anda)”, jawabnya.

Selanjutnya mobil terus melaju menuju Seri Menanti, lebih kurang 33 km dari Bandar Seremban, Seri Menanti adalah suatu kawasan dimana terletak Istana Besar Raja Negeri Sembilan. Kami telah disediakan sebuah kamar di Hotel Seri Menanti Resort yang terletak diantara Istana Besar Raja Negeri Sembilan dengan Istana Lama Muzium Diraja Seri Menanti.

Pagi-pagi kami sudah bangun, setelah mandi dan shalat subuh, snack untuk sarapan pagi sudah tersedia berupa nasi lemak dan roti canai, ini juga adalah pengalaman pertama untuk golang golang (usus) saya menerima sarapan seperti itu.

Pukul 10.00 pagi kami dijemput oleh seorang pegawai Muzium untuk pergi ke Seremban menemui Kurator (Kepala) Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan. Sesampainya kami di Seremban kami dibawa ke sebuah bangunan bergonjong persis seperti rumah bergonjong di Minangkabau dan langsung ke ruang kerja Kurator, di pintu ruang kerja itu tertulis nama Kurator Muzium tersebut : Drs. Shamsudin bin Ahmad. Kami diterima dengan ramah dan gembira, saya melihat wajahnya yang berseri, menandakan suatu kebahagiaan tersendiri menerima kedatangan kami. Kami dipersilahkan duduk di kursi tamu dan kami bercakap-cakap, tukar pikiran, berbagi pengalaman. Ternyata Drs. Shamsudin bin Ahmad sangat bisa berbahasa Indonesia, katanya dia dulu sekolah di Bali sampai mendapat gelar sarjana. Kemudian kami diberi wejangan atau arahan-arahan mengenai pekerjaan serta tata cara hidup di Malaysia, “Bapak sangat beruntung sekali” kata Encik Din (nama akrab Drs. Shamsudin bin Ahmad), “Karena baru pertama kali Kerajaan Malaysia mengambil pekerja asing dengan biaya Kerajaan (pemerintah) semua diuruskan oleh Kerajaan. Bapak dipersamakan (hak dan kewajiban) dengan Kaki Tangan Kerajaan (pegawai negeri) lainnya, disamping gaji pokok Bapak juga akan menerima bonus lainnya seperti gaji lebih masa (lembur), biaya perumahan, perubatan (Askes), pakaian seragam kerja, studi banding dan lain-lainnya. Bapak akan menerima gaji setiap bulannya melalui Bank Simpanan Nasional. Jawatan (jabatan) Bapak sangat spesial, karena sebelumnya jawatan ini belum ada, pekerjaan yang akan Bapak kerjakan disini langsung Bapak bawa dari Indonesia dan menguntungkan bagi menarik pelancong-pelancong di Malaysia ini. Untuk satu bulan ini minum makan Bapak ditanggung oleh Kerajaan, karena biasanya gaji boleh diambil paling cepat 28 hari bulan (tanggal 28) tiap bulannya. Mulai Bapak menjejakkan kaki di Malaysia ini, gaji Bapak sudah dihitung. Untuk satu minggu pertama ini Bapak tak usah kerja dulu karena Bapak akan kami bawa jalan-jalan melihat lingkungan. Mengenai peraturan-peraturan kerja nanti akan kami beri secara tertulis, disini semua peraturan berlaku (dijalankan) dengan kesadaran sendiri tanpa dikontrol langsung …

Setelah kami diberi arahan panjang lebar, kami diperkenalkan dengan pegawai lainnya, mereka menyalami kami dengan ramah, kami sudah dianggap oleh mereka teman sekerja.

BERSAMBUNG ……

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Kedua, Agustus 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah

Di Silungkang, Balope (melepas mempelai pria) pada umumnya dilakukan setelah pernikahan, atau setelah ada kepastian hari pernikahan. Hari Balopenya, biasanya hari Rabu. Jarang hari lain. Karena Barolek umumnya hari Jum’at.

Olek Balope pada hari itu dua kali . Paginya Olek untuk wanita dan sesudah Zuhur untuk pria. Bila Balope hari Rabu, maka petang Selasa (malam Rabu) mulai memasak. Di samping tukang masak yang harus memasak, Ninik-mamak juga bekerja keras. Sedang sumando di atas rumah, orang sumando kampung ikut meramaikan (melihat-lihat). Anak buah dan tetangga dekat, ikut menolong.

Jam 8.00 pagi (hari Rabu) Sipangka (penyelenggara Balope) harus telah siap untuk menerima Olek wanita. Biasanya jam 8.30 pagi tamunya telah mulai ada yang datang. Dewasa ini pada umumnya tamu wanita membawa beras dalam Sangku, ditambah dengan kado. Sedangkan dahulu, tamu biasanya hanya membawa beras. Yang dekat hubungan kekerabatannya membawa beras dan piring. Yang dekat benar, membawa beras dan ayam besar.

Sangku tamu yang datang membawa berbagai pembawaan itu, akan diisi dengna nasi dan lauk pauk untuk dibawanya pulang. Sekitar jam 11.00 dijemputlah nasi dukung ke rumah anak daro. Pada jam 11.00 itu rumah telah mulai dibersihkan untuk menyusun hidangan bagi olek pria. Bila masih ada juga olek wanita, maka mereka akan dipindahkan ke ruangan lain.

Kadar nasi dukung ini mempunyai proses perkembangan tersendiri. Dulu benar, kadarnya sesuai dengan namanya, yaitu sekedar yang bisa didukung. Umumnya memakai Kampi (sumpit mini). Kadar itu kemudian mengalami perubahan menjadi : nasi (2 gantang beras), seekor ayam gulai, 2 kg daging (kalio), 1 baskom kecil dadieh, 1 botol manisan. Dekat perang dunia ke II berubah pula menjadi : nasi 10 liter beras, satu setengah ekor ayam gulai (ayam yang besar), 2 kg daging (kalio besar), 1 kg maco besar digoreng balado, 10 butir telur dibelah pakai lado, 3 liter ketan. Pada waktu Indonesia diduduki Jepang fasis hingga tahun 1950 kadarnya sekedarnya saja. Asal ada, baroleknya waktu itu hanya memakai bubur.

Sedang dari tahun 1951 hingga 1980 hampir sama dengan tahap ketiga, yaitu dekat perang dunia ke II. Dewasa ini bagi yang tidak pedunie (sederhana) meneruskan tradisi 1951 – 1980. Sedang bagi yang padunie : nasi 25 liter beras, 3 setengah kg kalio besar, ayam gulai 2 ekor (besar), 1 setengah kg maco besar digoreng balado, 5 liter ketan. Belakangan ini telur balado sudah ada yang menggantinya dengan gulai otak. Sedang bagi yang mempunyai pikiran maju, mereka berkerelaan saja. Tanpa nasi dukung.

Alat-alat pembawa nasi dukung itu nantinya dikembalikan ketika anak daro menjelang dusun.

Menjelang sembahyang Zuhur, ninik-mamak yang akan menjemput olek pria telah berangsur ke balai (pasar). Umumnya olek pria menunggu jemputan itu disekitar balai. Sesudah sembahyang Zuhur olek diiringkan ke rumah. Setelah cukup semua yang perlu dihadirkan, maka balopepun dimulai. Bila yang akan balope hendak memakai gelar, maka gelarnya sekaligus akan diumumkan ketika itu.

Mengenai balope di Jakarta pada umumnya ketentuan harinya tidaklah seperti di Silungkang. Bisa terjadi hari apa saja. Sedang makanan yang dihidangkan kebanyakan dipesan dari warung tertentu. Karena itu acara memasak tidak seperti di Silungkang. Satu dua ada juga yang memasak di rumah. Umumnya yang memasak hanya wanita. Begitu pula oleknya tidak dua kali (pagi dan sesudah Zuhur) melainkan sekali saja : Pria dan Wanita.

Di Jakarta malah ada pihak keluarga mempelai pria tidak menyelenggarakan upacara balope bagi anak kemenakannya yang akan berumah tangga. Mungkin karena saudara yang akan menyelenggarakan tidak ada, atau mungkin karena faktor lain. Bagaimanapun juga ini merupakan satu kekurangan.

Balope adalah satu upacara kebulatan sanak keluarga dan ninik-mamak melepas anak kemenakannya yang akan berumah tangga. Menunjukkan hati yang suci muka yang jernih.

Sumber : Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo

Oleh-oleh Dari Negeri Belanda
Pertenunan Di Silungkang
Catatan : DR. L. Margadant
Alih Bahasa : Ir. Irland Y.M., MM

Keberadaan pertenunan di Silungkang dapat dinyatakan oleh beberapa faktor yang berbeda. Tentu saja lebih utama kita menganggap suatu nilai atau pembawaan yang artistik.

Lagipula pemilikan sawah di daerah pegunungan ini sangat sedikit. Ini menimbulkan dua akibat yaitu penduduk harus mencari tambahan selain sawah dan ladang. Mereka lalu berusaha melalui pertenunan. Akibat yang kedua yaitu adanya kemungkinan mendapatkan keuntungan dari pertenunan yang terorganisir. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan tentang dasar pertenunan dimana diharapkan penduduk tidak terganggu dengan adanya problem pada persawahan dan perladangan.

Faktor yang terpenting letaknya yang dekat dengan Sawahlunto yang pada tahun 1893 telah dihubungkan dengan jalan kereta api.

Sampai pada awal abad ini pertenunan Silungkang hanya diproyeksikan untuk kebutuhkan lokal Silungkang sendiri. Lebih-lebih dalam pembuatan untuk pakaian adat, kebanyakan mereka memakai benang tenun dan bahan pewarna sendiri. Tonun ikek. Di sekitar tahun tersebut Sawahlunto jadi sangat terkenal dengan berdirinya Tambang Batubara Ombilin. Juga dengan banyaknya orang Eropa bermukim disana dan punya perhatian yang sangat besar terhadap pertenunan di Silungkang terutama dari kaum wanitanya. Wanita-wanita Eropa inilah yang gigih memasarkan hasil pertenunan Silungkang pada pameran-pameran di dalam negeri dan di Eropa khususnya, hingga pada akhirnya mendapat penghargaan dari suatu pameran di Brussel, Belgia.

Letak Silungkang yang strategis dan menghubungkan kota Sawahlunto, Solok dan Sijunjung sangat berpengaruh dalam mencapai kemudahan dan kemurahan dalam pengangkutan hasil produk dan bahan-bahan dasar.

Last but not least. Orang-orang Silungkang selain baik dalam bertenunan juga baik dalam perdagangan. Hasil tenun Silungkang dapat dibeli di Kualalumpur dan daerah penjualan di Ambon.

Pertenunan Silungkang menggunakan berbagai alat baik yang tradisional maupun yang modern yang disebut dengan ATBM.

Dalam bulan Juli 1941, bekerjasama dengan Penghulu Suku dibawah bimbingan biro pertenunan di Fort De Kock, diadakan suatu penyelidikan dengan melihat berkembangnya pertenunan di Silungkang dan daerah sekitarnya. Dari hasil penyelidikan ini, didapat data sebagai berikut :

ATBM, 104 buah
Alat tenun tradisional, 382 buah
Alat tenun songket, 1.399 buah

Alat tenun tradisional baik yang lama atau yang telah diperbaharui, ditangani oleh kaum wanita sementara ATBM oleh pria. Keikutsertaan kaum pria dalam pertenunan dapat dikatakan sangat minim. Dalam pengoperasian alat tenun tradisional (untuk songket) tidak memerlukan tenaga yang besar namun memerlukan waktu yang lama. Oleh sebab itu banyak kaum prianya lebih baik mengerjakan pekerjaan lain yang lebih menguntungkan. Kebanyakan sebagai perantau dan pedagang babelok yang dalam kurun waktu tertentu baru kembali ke kampung halamannya.

Sedang untuk ATBM (pembuat sarung) memerlukan tenaga yang besar dan hasilnya pun 6 – 7 kali lebih besar. Minat untuk pemakaian ATBM semakin meningkat. Sebagai perbandingan : pada tahun 1939 jumlah ATBM hanya 12 buah. ATBM ini made in Silungkang Asli harganya 25 gulden per unit.

Dengan adanya perubahan pola pemakaian dari alat tradisional ke ATBM berdampak serius terhadap produksi “Kain Bacuki, handuk, serbet dan bahan baju” yang hanya dapat diproduksi oleh alat tenun tradisional, yang pada akhirnya jenis kain ini jadi sangat langka dan menghilang.

Masa keemasan pertenunan Silungkang ini sempat mengalami kendala dan hampir bangkrut karena ulah spekulan benang dan pedagang perantaunya yang melanggar kaidah-kaidah yang berlaku dengan menaikan harga jual benang sampai 80%, sementara harga jual tetap.

Kesulitan yang dialami mengajarkan kemandirian kepada orang Silungkang. Di tiap-tiap rumah orang Silungkang paling tidak terdapat 2 – 3 unit alat tenun pada malam hari suaranya bertalu-talu – pekerja wanita yang sekaligus pemilik mencapai 700 orang, semua bebas membeli bahan sendiri dan menjual sendiri. Orang Silungkang memang terkenal akan kebebasan dan kemandiriannya. Menurut penelitian pada tahun 1940, nilai jual produk Tenun Silungkang cukup fantastik mencapai f 6.000 tiap bulannya sementara kebutuhan benang per bulannya adalah 12,5 ball, dengan klasifikasi pekerjaan sebagai berikut :

tabel-tenun.jpg

Ada sekitar 300 – 400 orang pekerja wanita yang bekerja menurut pembagian hasil pemakaian benang (gaji borongan lepas).

Di Silungkang terdapat 9 units usaha “Scheermolens” (tukang turiang?). Tukang turiang ini mendapat gaji berdasarkan turiangannya. Tukang turiang tidak menjual opgeboombe (turiangannya?) tidak mengenal pembayaran kredit.

Pertenunan di Silungkang sudah berkembang pesat sejak tahun 1926. Revolusi industri baik ATBM dan ATM (alat tenun bermesin) sangat memukul pertenunan Silungkang. Banyak upaya dilakukan oleh pemerintah, diantaranya memberi pinjaman hibah pada tahun 1936 sebesar f 1.500. Jumlah ini seluruhnya diberikan kepada pengrajin wanita. Rangsangan dari pemerintah Belanda ini dirasa aneh oleh penduduk Silungkang karena saat itu banyak pemuka Silungkang yang ditangkap Belanda sehubungan dengan pemberontakan Silungkang tahun 1927. Pertenunan Silungkang dipelajari dari Ambarawa – Jawa Tengah. Banyak sudah usaha dari penduduk Silungkang sendiri untuk mendirikan koperasi. Akhirnya berdirilah Silungkangsche Handel Matschaapij pada tahun 1929 namun tak berhasil baik, walau maksud semula yang sangat baik, yaitu ingin memutus jalur kaum pedagang benang perantara/calo yang saat itu bisa mengambil keuntungan sebesar 190% diatas harga import (harga di kota Padang f 2,625 per kg, sedangkan di Silungkang bisa mencapai f 8).

Selang berapa bulan, koperasi itu bangkrut, karena ada 2 orang pemegang andil koperasi tersebut yang menjual benangnya kepada pihak lain dan koperasi tetap dengan benang lama yang tak diminati dan mahal.

Kegagalan Silungkangsche Handel Matschaapij tak terlepas dari sikap orang Minangkabau yang secara keseluruhan yang sangat individualistik. Jadi pilihan kerjasama dalam bentuk koperasi adalah pilihan yang kurang bijaksana. Kerja sama individual antara pengusaha dan pekerja justru lebih berhasil disini dan tak perlu serikat pekerja.

Sumber : Koba PKS, edisi Adiak Nan Jolong Tobik, Desember 2001

Pasar di sekitar Silungkang hanya ramai kalau pada hari pokan. Di Silungkang hari Pokan jatuh pada hari Jum’at dan Minggu. Pada hari itu berdatanglah (secara tradisi turun temurun) berdatangan masyarakat di sekitar Silungkang seperti Desa Kubang, Lunto Barat dan Timur, Limindai, Taratak Boncah dan warga Silungkang sendiri. Bahkan di kotamadya Sawahlunto sendiri yang hari pokannya jatuh pada hari Sabtu akan ramai dikunjungi, padahal hari Minggu merupakan hari libur tetap sepi saja. Dan penjualnya juga sebagian besar dari luar daerah inilah yang disebut Pedagang Babelok Pokan, kaum pedagangnya tiap hari jualannya akan berpindah-pindah ke pasar satu pindah ke pasar lainnya menurut hari pokannya. Barang dagangannya pun sebagian besar kebutuhan sehari-hari jadi warganya kalau berbelanja kebutuhan sehari/satu minggu sekali. Pasar Silungkang merupakan sentral perdagangan bagi warga sekitar.

By Perantau Surabaya

Dari Bulletin Silungkang, Nomor 003/BSM/MARET/1999