Sabtu, Mei 19th, 2007


Seorang anak sedang disuruh oleh Guru Bahasa Indonesia untuk membacakan puisi karangannya sendiri, di depan kelas :

Guru :

“Sekarang, ayo mulai !!”

Anak :

“Di mana-mana ada air

Di sungai … di danau … dan di laut

Pasti ada air

Semua orang pasti perlu air …

Permisi …. aku mau buang air

Murid-murid :

“Ha … ha … ha … !!”

By M. Hidayatullah

Diambil dari Bulletin Silungkang, edisi 3, Nomor 003/BSM/MARET/1999

Iklan

Bentus adalah anak sulung si Pentus. Dia anak bodoh, tetapi selalu patuh pada perintah ibunya.

Pada suatu hari ibunya menyuruhnya untuk menjual anak ayam yang baru menetas.

Ibu :

“Nanti kalau ada orang menanyakan namanya, bilang namanya adalah si Bentus anak sulung si Pentus. Lalu, kalau ada orang yang menanyakan apa yang kamu bawa, bilang yang kamu bawa ini membeli anak-anak ayam ini, dan mengasihkan uang kepadamu, minta tambah lagi, dikasih lagi minta lagi, lalu kalau sudah ditambah ucapkan terima kasih kepada orang itu”.

(Ditengah-tengah perjalanan Bentus, selalu mengingat kata-kata ibunya itu. Tapi dasar ia bodoh, yang ingat hanya jawabannya saja).

(Setibanya di pasar …)

Pembeli : “Apa yang kamu bawa itu, nak ?”

Bentus : “Si Bentus anak sulung si Pentus.”

Pembeli : “Kamu anggap apa aku ini, ha ?”

Bentus : “Anak ayam yang baru menetas.”

Pembeli : “Apa kamu bilang ?” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Masih kurang, pak.”

Pembeli : “Masih kurang ? Ini sekali lagi” (sambil menampar si Bentus).

Bentus : “Tambah lagi, pak.”

Pembeli : “Lagi ?!!” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Terima kasih, pak.”

(Akhirnya si Bentus pulang dengan muka yang bengkak dan benjol-benjol kena tampar).

Karya : M. Hidayatullah

Diambil dari Edisi Ketiga Bulletin Silungkang, Nomor 003/BSM/MARET/1999

SILOENGKANG DI ZAMAN DAHOELOE

SOMPIK LALOE LOENGGAI BATAKOK

 

 

Sedjak dahoeloe disegani orang, Gadjah Tongga Koto Piliang, diseboet dalam Tambo Minang.

 

 

Iktibar bagi lingkoengan, kampoengnja dikelilingi boekit, djalan, soengai jang berlikoe-kelok, loengkang dalam bahasa.

 

 

Loear biasa keberaniannja melawan pendjadjah Belanda. Poeloehan Perintis Kemerdekaan jang tertoelis dalam sedjarah perdjoeangan.

 

 

Oengoel dalam beroesaha, bidjak dalam menyelesaikan masalah masjarakat dan teladan bagi orang.

 

 

Ekonominja mendjadi bilangan, seboetan di Minangkabau.

 

Nama kampoengnja diseboet, orang pertjaja mendjadi djaminan, dihormati diloer kampoengnja sendiri.

 

 

Gaoeng tenunannya bergema di Noesantara, sampai ke Keradjaan Kintjir Angin, menjatoe dengan nama kampoengnja.

 

 

Kalang penjangga bagi kehidoepan kampoeng. Bermotto, anak didoekoeng kemenakan dibimbing.

 

 

Anak mendjelang dewasa disoeroeh merantau tanda kelaki-lakian, diamanatkan, sembahjang dan kedjoedjoeran jangan diabaikan. Itoelah pesan orang toea bersama mamak.

 

 

Norma dipakai, masjarakat dan kampoeng kelahiran dipertenggangkan.

 

 

Godanglah, tjopeklah godang waang boejoeang, poelanglah ke kampoeng. Kok kan lai ka panggonti niniak mamak nan lah gaek-gaek.

 

 

 

SILUNGKANG DI ZAMAN MODERN DENGAN SERIBU SARJANA

 

 

Semenjak tahun lima puluhan, keadaan silih berganti, apakah diperhatikan wahai orang-orang yang arif ?

 

 

Islam memudar, guru Agama dan panutan langka, pengajian, ceramah agama bak dilanda perang. Tak ada lagi yang disegani dan ditakuti.

 

 

Lomba-berlomba mengumpulkan picisan kertas yang nilainya berangka-rangka. Kadang lupa sanak, lupa kerabat dan bahkan mereka terlanda.

 

 

Undian pernah mewabah tetapi tidak ditakuti. Main kertas bergambar sudah bergenerasi, minuman keras ada, tak ada lagi yang tersembunyi.

 

 

Nah, individu membudaya, kepedulian menghilang, malu pun menyusut, pertanda ke zaliman sedang muncul, akibatnya ?

 

 

Gagah berani membela kebenaran, nasehat-menasehati dengan bijaksana sirna sudah. Kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab terbenam.

 

 

Komunikasi langka, walaupun telepon ada, silahturahmi jauh, mobil, motor pun punya, masing-masing hidup sudah sendiri-sendiri.

 

 

Adat manakah yang engkau anut, wahai orang-orang yang hidupnya bermotto : sempit lalu, longgar dipalu ???.

 

 

Ninik mamak yang engkau berada, apakah engkau sebagai saksi dizaman modern ini ? Seharusnya engkau kan menjadi suluh penerang dalam keadaan seperti ini ? Ilmuwan dan hartawan, kelompok inilah yang mulai berbilang, lupa atau belum sempat berkumpul memadu pendapat ?

 

 

Gerangan apakah obatnya wahai orang-orang yang arif ? Anda-anda sedang ditunggu-tunggu masyarakat Silungkang. Hati-hati, kampung kita, warga kita hampir berada dipinggir jurang …. mesjid besar tetapi belum berfungsi. Semoga.

 

 

 

 

 

By Rimfan – Jakarta Selatan

Diambil dari Bulletin Silungkang, Edisi Ketiga, 003/BSM/MARET/1999