Rabu, Mei 16th, 2007


Tentang dari mana asal nama Silungkang dan sejak kapan nagari ini memakai nama Silungkang hingga kini masih dipertanyakan. Belum ada yang secara pasti dapat menjawabnya. Karena memang belum pernah dilakukan penelitian.

 

Yang terang di Silungkang memang ada lurah yang bernama Lungkang. Lurah itu airnya mengalir melalui Surau Bingkuang dan bertemu dengan Batang Lasi sebelum Lubuak Nan Godang. Ada yang memperkirakan dari nama lurah Lungkang inilah nama Silungkang.

 

Tetapi ada pula yang memperkirakan bahwa nama Silungkang itu berasal dari Sawah Lungkang. Nampaknya perkiraan ini agak jauh dari kemungkinan. Sebab di sekitar mengalirnya air lurah Lungkang sampai bertemu dengan Batang Lasi tak ada tanda-tanda bahwa di masa lalu tempat itu adalah persawahan. Yang terkenal (dekat pertemuan lurah Lungkang dengan Batang Lasi) ialah Polak Pisang (Ladang Pisang). Sedang di mudieknya ialah Polak Kopi. Tak kelihatan bekas-bekasnya bahwa Polak Piang dan Polak Kopi itu dulunya sawah.

 

Lain pula halnya dengan buku Mambangkik Tareh Tarandam. Nama Lungkang itu dikaitkannya dengan legenda Adu Kerbau1). “Lungkang” itulah nasehat yang diberikan pemimpin-pemimpin (3 bersaudara : Nan Tuo, Nan Tongah dan Nan Ketek) Talang Tului Batu Badegui, tatkala utusan Kerajaan Bukit Batu Patah datang mencari ikhtiar guna melawan Kerbau besar dari orang Jawa.

 

Tatkala utusan Kerajaan Bukit Batu Patah menanyakan apakah yang dimaksud Lungkang, oleh Nan Tuo dikatakan yang dimaksud dengan Lungkang ialah “Lawan yang besar ialah yang kecil, lawan yang panjang ialah yang singkat, lawan jantan ialah betina”.

 

Keterangan Nan Tuo itu diperkuat oleh Nan Tongah dengan kata-kata : “Itu sebenarnya. Sebab di alam ini terjadi segala dua. Cobalah berguru ke alam Lungkang”. Kemudian Nan Ketek memperkuat pula keterangan Nan Tuo dan Nan Tongah.

 

Utusan pun kembali ke Bukit Batu Patah, setelah ada kepastian dari pemimpin-pemimpin Talang Tului Batu Badegui itu bahwa nasehatnya dapat dipertanggung jawabkan. Nampaknya nasehat “Lungkang” itu dapat diterima Bukit Batu Patah. Dan kemudian terjadilah pertarungan kerbau besar dari Jawa dengan anak kerbau yang pakai taji dan pertarungan ini dimenangkan Anak Kerbau.

 

Dan dari nasehat Lungkang inilah asal nama Silungkang.

 

Bila kita lihat Kamus Umum Bahasa Indonesia Poerwadarminta maka Lungkang itu artinya ialah “selokan” atau “pelimbahan”. Bisa saja dalam selokan atau pelimbahan itu terdapat benda atau materi yang besar berlawanan dengan yang kecil, yang panjang berlawanan dengan yang singkat, yang jantan berlawanan dengan betina. Tetapi yang pasti Lungkang bukan berarti besar lawan kecil, panjang lawan singkat, jantan lawan betina.

 

Di samping itu ada pula yang mengatakan bahwa nama Silungkang ini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Lowongan batu yang tinggi”. Nama Silungkang ini mulai diletakkan pada abad ke VI Sebelum Masehi. Sebelum bernama Silungkang namanya Talang Tului Batu Badegui.

 

Ada dua curaian mengenai penukaran nama itu. Pertama penukaran nama ini adalah untuk menyesuaikan nama dengan keadaan alamnya. Silungkang adalah nagari yang tandus2), punya hanya sedikit dataran yang kiri kanannya diapit oleh bukit yang tinggi dan memang seperti lowongan batu. Kedua penukaran nama ini adalah hadiah dari Kerajaan di Periangan Padang Panjang.

 

Dari mana sumber keterangan di atas tak ada penjelasan. Karena itu belum bisa dipastikan kebenarannya.

 

Apalagi bila diingat yang memakai nama Silungkang bukan hanya nagari Silungkang yang dulunya bernama Talang Tului Batu Badegui, tetapi juga terdapat nama kampung Silungkang di Sulit Air dan Palembayan. Apakah letak kampung Silungkang di sana juga diapit oleh bukit-bukit yang tinggi dan apakah juga hadiah dari Kerajaan di Periangan Padang Pajang ?

 

Jadi hingga kini dari mana asal nama Silungkang dan sejak kapan nama Silungkang menggantikan Talang Tului Batu Badegui masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Tugas generasi mudalah untuk menggali sejarahnya.

 

Lepas dari persoalan dari mana asal nama Silungkang, maka kini Silungkang termasuk dalam Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung (tahun 1988). Di sebelah Barat berbatas dengan nagari Kubang dan Lunto. Di sebelah Timur berbatas dengan nagari Batu Manjulur dan Tarung-Tarung. Di sebelah Utara berbatas dengan nagari Pianggu dan di sebelah Selatan berbatas dengan nagari Padang Sibusuk.

 

Menurut sensus terakhir (sumber tulisan ini dibuat tahun 1988) penduduk Silungkang yang menetap di kampungnya berjumlah 8400 orang. Sedang yang tinggal di perantuan kurang lebih 10.000 orang. Secara administratif Negari Silungkang dibagi dalam 7 Jorong : Silungkang Khusus (4300 orang); Muaro Kalaban (3360 orang); Taratak Boncah (440 orang); Bukit Kociek atau Talang Tulus (210 orang); Sungai Cocang (150 orang); Rumbio (120 orang); Bukit Kuning (110) orang.

 

Dengan dikeluarnya Perda (Peraturan Daerah Sumatera Barat No. 13/1983) maka Jorong-jorong itu ditetapkan menjadi Desa. Kini Jorong Silungkang Khusus telah menjadi Desa Silungkang Khusus.

 

Catatan Kaki :

1) AA Navis : Alam Terkembang Jadi Guru

Pada suatu masa datanglah Balatentara yang dipimpin Anggang dari Laut yang hendak menaklukan mereka. Melihat kekuatan pasukan itu, mufakatlah Datuk yang berdua (Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang) beserta Cati Bilang Pandai untuk mencari akal bagaimana menangkis kedatangan musuh.

Akhirnya didapat kata sepakat bahwa untuk melawan pasukan yang kuat itu haruslah dengan tipu muslihat. Muslihat yang dipilih ialah mengadu kerbau. Kerbau siapa yang menang, itulah yang memenangkan pertempuran. Usul diterima oleh Panglima Pasukan yang datang. Lalu Panglima Armada mengirim kurir ke negeri asalnya untuk menjemput kerbau yang paling besar. Jarak kedua jung tanduknya empat depa. Untuk menandinginya tidak ada kerbau yang sepadan. Cati Bilang Pandai mengajukan saran agar kerbau besar itu dilawan dengan anak kerbau yang lagi sarat menyusu. Sebelum dilepas di gelanggang, anak kerbau itu beberapa hari tidak dibiarkan menyusu pada induknya. Pada hidungnya diikatkan sepotong besi yang runcing. Besi itu disebut Minang” (hlmn. 51-52).

 

2) Rusli Amran dalam bukunya “Sumatera Barat Plakat Panjang”, yang diterbitkan Sinar Harapan Jakarta tahun 1981, pada halaman 292 antara lain mengemukakan bahwa Verkerck Pistorius, seorang kontrolir Belanda di Bovenlanden pernah mengunjungi Padang Sibusuk dan Silungkang (Kolonial Verslag 1876, lamp O 1877 lamp). Dalam laporannya antara lain mengatakan : “Jika kita di Padang Sibusuk memasuki jalan setapak yang mendaki-menurun sepanjang Batang Lasi yang banyak mengandung emas, hingga ke Silungkang dengan jarak 7 1/2 km. Kita melihat semacam pintu gerbang di gua batu. Di kiri kanan menjulang tinggi lereng gunung yang terjal dan gelap, dan sungai tadi dengan gemuruhnya memaksakan diri melalui tempat sempit di gua batu itu. Kalau kita melewati semacam pintu gerbang tadi, kita sampai di dataran yang sangat elok. Di sini berdiri beratus-ratus rumah mereka di tengah persawahan atau di sela-sela lereng gunung. Mereka kepunyaan orang-orang yang tinggal di Silungkang dan mereka mengerjakan sawah-sawah itu diperbatasan nagari, atau berladang di atas bukit-bukit atau bekerja di tambang emas milik rakyat”.

 

 

Sumber :

Buku Silungkang dan Adat Istiadat Oleh Hasan St. Maharajo, Edisi 1, Mei 1988

Iklan

Sebelum Nagari Silungkang bernama Silungkang yang ada baru Taratak Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo. Sejak kapan Nenek moyang orang Silungkang mendiami Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo, hingga kini belum pernah orang awak melakukan penelitian.

Menurut curaian Syamsuddin Datuk Simarajo1) bahwa Nagari Silungkang telah didiami semenjak abad ke VI sebelum Masehi. Dari mana sumber Syamsuddin Datuk Simarajo menyimpulkan demikian, tidak jelas. Penelusuran masih diperlukan untuk membuktikan kebenarannya. Sekira benar apa yang dikatakan Syamsuddin tersebut, maka berarti Silungkang telah berusia kurang lebih 2500 tahun.

Menurut keterangan itu juga bahwa tempat pertama yang didiami nenek moyang orang Silungkang ialah Taratak Boncah. Dari Taratak Boncah ini nenek-nenek kita berbagi badan. Sebagian turun ke Silungkang dan yang sebagian pergi ke Padang Aka Bulu, yang kemudian bertukar nama menjadi Padang Bulu Kasok dan di dalam perkembangan seterusnya berganti nama jadi Padang Sibusuk.

Dari situlah nampaknya maka Silungkang dan Padang Sibusuk dikatakan bersaudara. Terdiri dari 11 Niniek. Niniek yang 5 orang turun di Silungkang, sedang yang 6 orang turun di Padang Sibusuk. Ada yang mengatakan bahwa yang turun ke Silungkang yang tua, sedang yang ke Padang Sibusuk yang kecil. Tetapi tidak ada keterangan apakah semua yang turun di Silungkang itu urutan usianya lebih tua daripada yang turun ke Padang Sibusuk, atau ada pula terselip yang kecil dari yang tua itu.

Terhadap curaian di atas ada yang mempertanyakan : apakah yang ke 5 orang Niniek yang turun di Silungkang itu semuanya wanita atau pria ? Jika semuanya wanita atau pria dengan siapa mereka kemudian berumah tangga ? Apakah dengan pria atau wanita yang telah lebih dulu mendiami Silungkang ? Atau datangnya memang telah berpasangan (suami isteri) ? Jika telah berpasangan yang bersaudara wanitanya atau prianya ? Hingga kini pertanyaan itu masih tetap dipertanyakan.

Dalam rangka meyakinkan pembacanya bahwa Silungkang dan Padang Sibusuk bersaudara, maka Chaidir Taher Samposo Mudo dan Rusli Taher Sampono Gagah2) mengemukakan Kepala rombongan yang turun ke Silungkang dan Padang Sibusuk itu ialah Datuk Sangguno. Sebelum Niniek yang berlima turun ke Silungkang beliau bertanya kepada Datuk Sangguno. “Jikok kami nan manaruko Taratak, apo tuahnya dek Nagari?” (Jika kami hendak menggarap Taratak, apa tuahnya oleh Nagari).

Menanggapi pertanyaan tersebut, maka Datuk Sangguno menjawab : “Jikok kalian nak manaruko Taratak nan jadi tuah dek nagari ada tigo perkaro : 1. Batang aie di tangah koto. 2. Nan balubuak di ikue/kapalo koto. 3. Nan batalago di bawah bukik” (Jika kalian hendak menggarap Taratak yang jadi tuah oleh nagari ada tiga hal : 1. Batang air di tengah kota. 2. Yang berlubuk di ekor/kepala kota. 3. Yang bertelaga di bawah bukit).

Ketiga ciri yang dikemukakan sebagai tuah oleh nagari itu terdapat di Silungkang. Batang air Lasi memang mengalir di tengah nagari. Lubuk di ekor nagari ialah Lubuak Nan Godang, sedang Lubuak di kepala nagari ialah Lubuak Kubang. Sedang telaga di bawah bukit ialah Danau di bawah Ngalau Basurek, di Sawah Darek, Desa Sungai Cocang.

Pertanyaan yang senada kepada Datuk Sangguno juga diajukan oleh Niniek yang berenam. Menjawab pertanyaan Niniek yang berenam Datuk Sangguno mengatakan : “Kok kalian nak manaruko taratak pai la arah ka hilie, nan ka jadi tuahnya dek negari ada limo : 1. Ula lidi malingka koto. 2. Buayo mandukuang anak. 3. Aie tiri ma adok mudiek. 4. Aie manobuak batu. 5. Talago ma adok mudiek” (Jika kalian hendak menggarap Taratak pergilah ke arah hilir, yang akan menjadi tuahnya oleh nagari ada 5 : 1. Ular lidi melingkar kota. 2. Buaya mendukung anak. 3. Air tiris menghadap mudik. 4. Air menembus batu. 5. Telaga menghadap mudik).

Kelima ciri tersebut memang terdapat di Padang Sibusuk. Yang dimaksud Ular lidi melingkar kota ialah Batang Piruko melingkar nagari Padang Sibusuk; Buaya mendukung anak ialah Tanjung Barisi dalam nagari Padang Sibusuk; Air tiris menghadap mudik ialah di daerah Simancuang; Air menembus batu tempatnya di pintu angin Lobang Kolam Kupitan; telaga menghadap mudik tempatnya di daerah pabrik genteng Batu Putih.

Kemudian oleh penulis di atas ditambahkan pula bahwa kepada Niniek yang berlima diberi tuah oleh Datuk Sangguno berupa benang dengan balero, lengkap dengan alat peraganya. Bertenunlah yang akan menjadi mata pencahariannya. Sedang kepada Niniek yang berenam oleh Datuk Sangguno diberi kapak dengan beliung, alat pertanian. Itu yang akan menjadi mata pencahariannya.

Tetapi siapakah yang sesungguhnya Datuk Sangguno itu, tidak ada keterangan ! Apakah beliau termasuk salah seorang dari yang 11 Niniek, ataukah diluar ? Jika termasuk yang 5 Niniek atau yang 6 Niniek ? Jika diluar, kemana beliau pergi sesudah 11 Niniek telah turun semuanya ke Silungkang dan Padang Sibusuk ? Dengan tidak jelasnya siapa sesungguhnya Datuk Sangguno maka rangkaian cerita dalam hubungan dengan Datuk Sangguno menjadi tidak jelas pula.

Pertanyaan yang belum terjawab di atas masih ada tambahan lagi. Bila benar bahwa asal orang Silungkang yang sekarang dari yang 5 Niniek, mengapa di Silungkang sekarang yang terkenal 13 Niniek (10 Niniek : Patopang dan Melayu – 3 Niniek Supanjang, Dalimo dan Payabadar)? Apakah 13 Niniek itu keturunan dari 5 Niniek ? Jika yang 13 Niniek itu keturunan dari yang 5 Niniek bagaimana pula perinciannya ?

Pertanyaan di atas hingga kini belum ada jawaban yang meyakinkan. Sejalan dengan itu ada keterangan bahwa Nenek moyang orang Silungkang datang di Silungkang beberapa gelombang. Ada yang datangnya langsung dari Batusangkar, ada yang melalui Sulit Air dan ada pula yang datang kemudian dari Tikalak dan sebagainya. Tentu saja pendapat yang mengatakan Nenek-Moyang orang Silungkang datang bergelombang tidak sejalan dengan keterangan bahwa orang Silungkang dan Padang Sibusuk terdiri dari 11 Niniek. Bila 11 Niniek, itu berarti Niniek orang Silungkang datangnya satu gelombang.

Memang sementara orang Silungkang hingga kini masih ada belahannya di Padang Sibusuk. Bila sementara yang ada belahan, itu tidak berarti seluruhnya punya belahan.

Perbedaan pendapat ini nampaknya masih akan berlanjut sampai diketemukannya data-data yang mendekati kebenaran tentang bagaimana yang sesungguhnya.

Catatan Kaki :

  1. Curaian Syamsuddin Datuk Simarajo, eks Wali Negari Pagaruyung, yang disampaikan kepada rombongan H. Kamaruzzaman antara 6 November – 24 Desember 1984 di Pagaruyung.
  2. Chaidir Taher Sampono Mudo, Rusli Taher Sampono Gagah : “Mambangkik Tareh Tarandam” (belum diterbitkan).

Buku “Silungkang dan Adat Istiadat” oleh Hasan St. Maharajo
Edisi 1, Jakarta, Mei 1988

A. PENGHULU PUCUAK

  • Suku Supanjang : Datuk Bosa
  • Suku Payobadar : Datuk Mangguang Jumpo
  • Suku Dalimo : Datuk Penghulu Sati
  • Suku Melayu : Datuk Rajo Nan Godang
  • Suku Patopang : Datuk Rangkayo Nan Godang

B. MONTI

  • Suku Supanjang : Monti Muhammad
  • Suku Payobadar : Rajo Dipadang
  • Suku Dalimo : Monti Sutan
  • Suku Melayu : Monti Penghulu
  • Suku Patopang : Monti Marajo

C. MALIN

  • Suku Supanjang : Malin Muntjak
  • Suku Payobadar : Sampono Malin
  • Suku Dalimo : Khatib Majo Kayo
  • Suku Melayu : Malano Khatib
  • Suku Patopang : Malin Batuah

D. HULUBALANG

  • Suku Supanjang : Dubalang Sati
  • Suku Payobadar : Bagindo Sutan
  • Suku Dalimo : Lenggang Sati
  • Suku Melayu : Lenggang Sipado
  • Suku Patopang : Mantari Alam

PANDITO ADAT (PANITO)

I. SUKU SUPANJANG

  • Kampung Dalimo Jao Atas : Pokiah Maani
  • Kampung Dalimo Jao Bawah : Pokiah Batuah

II. SUKU PAYOBADAR

  • Kampung Melawas Hilir : Pokiah Tajudin
  • Kampung Melawas Mudik : Pandito Suleman

III. SUKU DALIMO

  • Kampung Tanah Sirah/Paliang Dalimo : Malin Malano
  • Kampung Dalimo Kosiak/Guguk Ciporan/Dalimo Singkek : Khatib Sampono
  • Kampung Dalimo Tapanggang/Dalimo Coca : Bandaro Khatib
  • Kampung Dalimo Godang : Pokiah Bandaro

IV. SUKU MELAYU

  • Kampung Melayu : Pokiah Malano
  • Kampung Panai Tigo Tingkah : Pokiah Bagindo
  • Kampung Pania IV Rumah : Malin Sutan
  • Kampung Sungkiang/Batu Bagantuang : Pokiah Majo Lelo
  • Kampung Rumah Tabuh/Lubuk/Panai Koto Baru : Pokiah Majo Bongsu

V. SUKU PATOPANG

  • Kampung Sawah Juai : Malin Omeh
  • Kampung Kuti Anyir : Malin Karojan
  • Kampung Palakoto/Talak Buai : Pito Morah
  • Kampung Paliang/Batu Mananggau : Pandito Sulaiman
  • Kampung Guguk/Koto Marapak : Malin Penghulu

Keterangan :

Seluruh nama-nama gelar baik untuk orang nan IV Jini atau orang Bajini tersebut tetap/tidak berubah, yang berubah hanya nama-nama orang yang sedang memegang jabatan tersebut.

Panggilan untuk orang yang memegang jabatan adat di Silungkang dikenal dengan : Penghulu Pucuak Nan Balimo, Monti Nan Balimo, Malin Nan Balimo, Dubalang Nan Balimo, Datuak Kampuang nan Delapan Belas, Pandito Adat nan Delapan Belas.

Pengurus mesjid Di Silungkang dipegang oleh tiga suku :

  • Imam, dari suku Melayu, yang gelarnya : Pokiah Sampono
  • Khatib, dari suku Patopang, dengan gelar : Malin Bungsu
  • Bilal, dari suku Supanjang, dengan gelar : Khatib Batuah

Pengurus mesjid tersebut adalah anggota kerapatan adat nagari Silungkang dan P3N juga termasuk anggota KAN.

Kerapatan Adat Nagari (KAN) adalah wadah/tempat perkumpulan orang-orang yang memangku adat dalam kenagarian.

Sumber : Bulletin Silungkang, Nomor : 003/BSM/MARET/1999

PENGHULU ANDIKO (DATUAK KAMPUANG)

I. SUKU SUPANJANG

  • Kampung Dalimo Jao Atas : Datuk Bagindo Ratu
  • Kampung Dalimo Jao Bawah : Datuk Rangkayo Batuah

II. SUKU PAYOBADAR

  • Kampung Melawas Hilir : Datuk Lelo Sutan
  • Kampung Melawas Mudik : Datuk Rajo Malenggang

III. SUKU DALIMO

  • Kampung Dalimo Kosiak/Guguk Ciporan/Dalimo Singkek : Datuk Podo Khatib
  • Kampung Dalimo Coca/Dalimo Tapanggang : Datuk Bagindo Tan Pokiah
  • Kampung Tanah Sirah : Datuk Dunie Kayo
  • Kampung Dalimo Godang : Datuk Sampono Batuah

IV. SUKU MELAYU

  • Kampung Melayu : Datuk Paduko Kayo
  • Kampung Panai Tigo Tingkah : Datuk Bagindo Malano
  • Kampung Panai IV Rumah : Datuk Khatib Ibrahim
  • Kampung Sungkiang/Batu Bagantuang : Datuk Rajo Bandang
  • Kampung Rumah Tabuh/Lubuk/Panai Koto Baru : Datuk Rajo Intan

V. SUKU PATOPANG

  • Kampung Sawah Juai : Datuk Rajo Patopang
  • Kampung Kuti Anyir : Datuk Bandaro Kayo
  • Kampung Palakoto/Talak Buai : Datuk Bandaro Rajo
  • Kampung Paliang Atas/Batu Mananggau : Datuk Bandaro Khotib
  • Kampung Guguk/Koto Marapak : Datuk Mangkuto Sati

I. Rajo Nan Tigo Selo

  1. Rajo Alam : Berkedudukan di Balai Gudam Pagaruyung. Balaiurangnya di Pagaruyung.
  2. Rajo Adat : Berkedudukan di Balai Janggo Pagaruyung. Balaiurangnya di Buo.
  3. Rajo Ibadat : Berkedudukan di Balai Bungo Kampung Tangah Pagaruyung. Balaiurangnya di Sumpur Kudus.

Tepatan Rajo III Selo :

  1. Datuk Bandaro Panjang di Biaro Balai Gurah (Agam)
  2. Datuk Nan di Ranah 50 Koto

II. Basa IV Balai (Dewan Menteri dalam Kerajaan Pagaruyung)

  1. Panitahan di Sungai Tarab
  2. Machudum di Sumanik
  3. Andomo di Saruaso
  4. Kadhi di Padang Ganting

III. Langgam Nan Tujuh

Harimau Compo Koto Piliang : Tuan Gadang di Batipuh (Datuk Pamuncak Alam Sati)

Pasak Kungkung Koto Piliang : Pucuk Negari Sungai Jambu jo Labuatan (Ali Basa jo Datuk Batuah)

Perdamaian Koto Piliang : Pucuk Negari Simawang jo Bukit Kandung (Datuk Maharajo Basa jo Datuk Rajo Nan Putih)

Cemeti Koto Piliang : Pucuk Negari Sulit Air jo Tanjung Balik (Sutan Batuah jo Datuk Rajo Endah)

Cermin Tarui Koto Piliang : Pucuk Negari Singkarak jo Sanimbakar (Datuk Pamuncak jo Datuk Nan Garang)

Gajah Tongga Koto Piliang : Pucuk Negari Silungkang jo Padang Sibusuk (Datuk Pahlawan Gagah jo Malintang Lobieh Kasatian)

Tampuak Tangkai Alam Minangkabau : Pariangan jo Padang Panjang (Datuk Bandaharo Kayo jo Datuk Maharajo Basa)

Penjelasan :

  1. Harimau Compo Koto Piliang : Ketentaraan
  2. Pasak Kungkung Koto Piliang : Kebudayaan dan Pendidikan
  3. Perdamaian Koto Piliang : Kehakiman
  4. Cemeti Koto Piliang : Kepolisian
  5. Cermin Tarui Koto Piliang : Siasat Luar dan Dalam
  6. Gajah Tongga Koto Piliang : Orang Gadang bermandat penuh. Aspri Rajo. Dewan Pertimbangan. Penasehat, diminta atau tidak diminta harus memberikan pendapat pada Rajo dan sesama langgam yang tujuh.
  7. Tampuak Tangkai Alam Minangkabau : Bintara Kiri dan Bintara Kanan

Disalin dari buku Datuk Simarajo

Sewaktu menerima curaian dari beliau pada tanggal 24 Desember 1984

Yang Menyalin,

(H. Kamaruzzaman)

Catatan :

jo artinya serta