Sabtu, Mei 26th, 2007


boluik, belut. bontuak ~, licin – lihai – pandai berkelit, susah dipegang

buah piciak, kancing jepret

buah nona, tigarasa

buah daro, klengkeng

bubu samba, lontong sayur

cikkubin, jakun (binatang : bunglon)

dukua, kalung

duyian, durian – duren. ~ lawuik, sikzak – nangka belanda. ~ untuah, alamak … pasti berebut

gadubang, parang – golok

ikan sibuntai, ikan helikopter

kalalawai, kelelawar

kalaluang, kalong

kapinding, kutu busuk – bangsat

ketangin, sepeda

koncek, kodok

koro, monyet – kera. anak ~, cigak

kiayi, pipis – sisi

kukuran, parutan kelapa

kula, bak mandi (kullah – arab)

kupia, peci

lae, kayu reng – lebih kecil ukurannya dari kayu kaso

luluak, lumpur

moncik, tikus – mencit

motorpit, sepeda motor

oban, kandang ayam

obuang, rebung – anaknya bambu. ma ~ ~, perut kembung – masuk angin – wind on stomack

none, nanas – pineapple

paek, pahat

pangolan, galah

patukai, kates – pepaya. ~ godang, pepaya bangkok. godang ~, ehm … ehm

patuluk, pensil

salemo, salesma, ingus

sarowa, celana. ~ kotok, men’s underwear – kangcut – celana dalam

samba kiambi, urap

simauang, pucung – kluwak

simbuang, labi-labi (kura-kura)

siposan, kelabang – scorpio

sobuak, kopi

sonduak, sendok yang besar. ~ nasi, centong

sopik binguang, catut – alat pencabut paku

sulai lidi, kangkung

suluk, sandal

talontuang, kejedut

tagalayak, nampak – kelihatan – terbuka aib

tagalincik, tersemburat

tagonjuik, tersangkut

takojuik, kaget

takancai, terperanjat – amat kaget

tasumbu, nongol – muncul

tasintak, mendusin – terjaga dari tidur sebelum waktunya

tagajai, tanggal – copot

tagijau, telat – ketinggalan

tajilongak, terpana

talompok, tidak kelihatan

taimpik, tertindih

talimpik, masuk ke dalam lipatan

tatawuang, kesandung

tasimauang, malu

takili, keseleo, ~ utak, gila

tangkelek, bakiak

tikuluak, selendang

gulangpantiang, alat pemintal benang

kaghok, alat pengurai benang tenun. Indak bakaliangan ~, indak obe dek inyo do …. – jalan buntu

palet, alat pemintal benang – tughiang

sanggu, sanggul

sangku, panci

tingkok, jendela

timbo, gayung – ciduk

togak, berdiri. ~ soghang, mandiri. bonang ~, benang tenun pada bun

tughak, alat untuk bertenun songket

tungkek, tongkat

uduik, rokok

ughak, buka – pecah

ughai, urai

ungkai, ingkar

unto, binatang khas Arab – Onta

usok, sarapan

utiah, putih – putih kulitnya ; ande ~ – kak ~ – Pak ~ – Tuak ~ – Mak ~. dan lain-lain

uwok, uap. ma ~ an towuang, memasak terong dengan cara mengukus.

 

 

 

 

Sumber : bulletin Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002 tahun ke 2, anniversary edition

Iklan

Lomak adalah enak. Diawak adalah pada kita. Katuju adalah enak pula. Diugrang adalah bagi orang lain.

Jadi lomak diawak katuju di ugrang adalah sama-sama senang – tak ada kalah atau menang.

Win Win Solutions.

Sumber : bulletin Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002 tahun ke 2, anniversary edition

Anak adalah anak kandung. Dipangku adalah diurus dengan prioritas utama. Kamanakan adalah anak dari adik atau kakak perempuan. Dibimbiang diurus dengan prioritas kedua.

Sungguh mengenaskan nasib lelaki Minangkabau.

Tanggung jawab yang diembannya bukan hanya sebatas anak dan istrinya namun lebih dari itu termasuk adik dan kakak perempuannya yang tentu sudah dengan notabene sang ipar atau sumondo beserta anak-anaknya (akan lebih khusus lagi bila anak-anaknya tersebut adalah semua perempuan).

Namun, itulah adat Minangkabau yang bersendikan sysra’ dan syara’ yang bersendikan Kitabullah.

Bukankah agama Islam menganjurkan kepada kita bahwa pemberian hadiah, infaq dan shadaqoh diutamakan pada karib kerabat dan tetangga ?

Dus, tak ada yang bertentangan bukan ?

Jadi, tak perlu dipermasalahkan !

Bahkan bagi yang lebih mendarah daging pepatah ini masih ditambah dengan kata : ughang kampuang dipatenggakan, jagho nagori jan binaso artinya selain mengurus anak dan istri serta kemenakan Anda masih dibebani dengan sebuah tugas yang amat mulia “memikirkan nasib orang sekampung dan menjaga keutuhan teritorial dan eksistensi nagari agar tidak binasa”.

Sumber : bulletin Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002 tahun ke 2, anniversary edition

Tonang adalah tenang dan ma anyuik an adalah menghanyutkan.

Jadi kalau di Indonesia akan terdengar bunyi “Tenang-tenang menghanyutkan”, Diam-diam Sambuk.

Mustahil, begitulah kalau anda berpikir secara logika – masak air yang tenang bisa menghanyutkan – kalau air yang deras mungkin saja !

Tapi itulah kenyataan alam dan sifat umum manusia adalah takut dan sangat berhati-hati pada air yang deras dan sangat meremehkan air yang tenang.

Pada air yang tenang bukan hanya buaya yang bersarang dan mengancam tapi masih banyak bahaya lainnya, seperti air yang dalam dan lumpur.

Pada sikap manusia istilah ini mungkin dapat diberikan kepada orang yang berilmu tapi selalu bersikap rendah hati dan tak sombong serta tak congkak dengan ilmu yang dimilikinya, sehingga kita menjadi kesulitan mengukur kemampuan orang seperti ini.

Berbeda sekali dengan sikap orang yang congkak yang selalu merasa lebih dari orang lain serta selalu menyombongkan diri.

Bukankah air beriak tanda tak dalam ?

Tong kosong nyaring bunyinya ?

Ingat, diatas langit masih ada langit dan dibawah kerak bumi masih ada kerak bumi.

Sumber : bulletin Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002 tahun ke 2, anniversary edition

“Titi Stasiun Keta” adalah sebutan yang populer pada khalayak Silungkang bagi jembatan yang menghubungkan dua sisi Silungkang yang dipisahkan oleh Batang Lasi yang membelah “persatuan dan kesatuan” kenagarian Silungkang.

Jembatan ini dibangun oleh pemerintah Kota Sawahlunto pada tahun 1918 (tentu pada waktu itu dibawah pemerintah Hindia Belanda nan baiduang luncuang).

Jembatan ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda atas permintaan Norwegia yang memiliki teknologi membangun jembatan tanpa tiang penyangga (tak didapat catatan, apakah ini sebagai hadiah atau sebagai ladang ujicoba – mungkin saja dua-duanya, ntu ngkali juga !)

Jembatan ini adalah duplikat atau kembaran dari jembatan yang dibangun pemerintah Norwegia di ibukotanya nun jauh di daratan Eropa sana.

Jadi, jembatan tanpa tiang penyangga ini hanya ada dua buah di seantero jagad raya ini.

Bila Anda ingin melihat langsung yang aslinya, ya … Silahkan saja raun-raun ke Norwegia tapi janga lupa ngajak saya 😉

oleh : Damra

Sumber : bulletin Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002/tahun ke 2 – anniversary edition.

Catatan :

Keta = kereta

raun-raun = jalan-jalan

Malewa Pangulu Pucuak Nan Balimo, semula dikategorikan sebagai sesuatu yang “tak mungkin”, mengingat kompleknya permasalahan yang akan dihadapi panitia dan saratnya acara yang harus dibuat – ini sebuah perhelatan akbar – kolosal – serta sempitnya waktu yang tersedia dalam rentang Agustus sampai dengan Desember 2002.Semua itu seolah mustahil !

Didasari hal ini maka kami yang bergulat dalam kancah kobamangobaan, hanya menempatkan berita besar sebagai KOBA DAGHI KAMPUANG dalam kolom yang cukup sederhana “Kobakobaan”.

Namun setelah tokoh sentralnya – Dua Husin Bersaudara, Irwan dan Sukri yang semula hanya ingin malewakan pangulu pucuak Suku Malayu memPKSkan wacana ini setelah mendapat restu dari pemuka adat di kampung halaman sebagai oleh-oleh setelah melaksanakan hajat besar “Pulbas Bakor Sawahlunto 2002”, menjadikannya sebagai acara Malewakan Pangulu Pucuak nan Balimo.

Setelah rapat pleno PKS (Persatuan Keluarga Silungkang) Jakarta yang mengeluarkan fatwa “mendukung” dan menyatakan acara ini sebagai OLEK SILUNGKANG, yang berarti semua masyarakat Silungkang akan terlibat dalam perhelatan besar ini, kelima suku yang ada di Silungkang akan bahu membahu – tupangmanupang – tumpahruah menyingsingkan lengan baju guna menyukseskan acara ini, kami sadari kami keliru.

Untuk semua itu berita Malewa Pangulu nan Balimo ini akan selalu kami tempat pada posisi yang sangat terhormat “Kobautamo”

Tak bisa dibayangkan sukacitanya warga menyambut acara ini dan tumpah ruahnya penduduk Silungkang yang akan berbaur dengan para mudikers serta hiruk pikuknya Nagari Silungkang saat acara tersebut dilangsungkan yang menurut rencana akan berlangsung pada tanggal 14 dan 15 Desember 2002.

Berdo’alah pada Sang Pencipta semoga kami mampu, mengingat dalam rubrik ini tentu kami harus mangobaan perkembangan persiapan yang dilakukan panitia mungkin semacam progress repot, sampai pada pelaksanaan.

KESERIUSAN

Sebuah bukti keseriusan panitia pelaksana malewakan pangulu pucuak nan balimo adalah dengan diserahkannya kepanitian kepada PKS Jakarta yang sebelumnya hanya terdiri dari para petinggi suku Malayu.

Pada awalnya memang hanya suku Malayu yang akan malewakan pangulunya, namun setelah didapat kata mufakat bahwa acara tersebut akan ditingkatkan menjadi acara malewa pangulu pucuak nan balimo yang berarti melibatkan seluruh suku yang ada.

Tegasnya acara ini menjadi olek nagori – bukan hanya suku Malayu maka kepanitianpun diserahkan kepada PKS Jakarta.

Kenyataan tokoh sentral dalam kepanitian malewa pangulu pucuak suku Malayu (panitia lama – Irwan Husin) tersebut terpilih kembali secara aklamasi sebagai tokoh sentral dalam kepanitian malewa pangulu pucuak nan balimo dengan jabatan Koordinator Seluruh Acara adalah sesuatu yang wajar mengingat kesiapan yang telah dimilikinya.

“Setidaknya, tokoh ini telah lancar melafazkan petatah-petitih, walau harus dengan terpaksa mengganti kata biduak menjadi sampan,” ujar seorang peserta disela obrolan santai sejenak setelah rapat berakhir.

“Sakali mandayuang sampan duo tigo pulang talampaui – seharusnya adalah sakali mandayuang biduak duo tigo pulau talampaui, namun hal ini bukanlah sebuah kesalahan yang fatal sebam sampan adalah biduak dan biduak adalah sampan.

Babenso saketeknyo, Tuak !

Untuk sekedar perbendaharaan kata : Malewa berarti batogak – mengangkat dan mengambil sumpah pangulu pucuak sebaai pimpinan tertinggi dalam strata suku yang akan menjadi tokoh panutan dan contoh serta suri tauladan bagi kemenakan dan persukuannya serta menjadi public Figure dan utusan bagi persukuannya.

Kembali pada seputar kepanitian Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo.

Keberhasilan yang diharapkan tentu mustahil dicapai apabila hanya dilimpahkan kepundak tokoh ini tapa ada uluran tangan dan bantuan moril serta materil dari para codiak pandai nan copek kaki ringan tangan.

Untuk itu dalam rapat andhiko tersebut telah dicapai kata mufakat bahwa pada tiap-tiap suku harus membentuk kepanitian sendiri dalam kesukuannya, untuk itu dari kedelapan belas andhiko yang bernaung dalam kelima suku yang ada telah mengirimkan daftar nama kelima suku yang ada telah mengirimkan daftar nama warganya yang akan menjabat dalam kepanitian Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo 2002.

 

Tercatat delapan belas orang tungganai telah menyatakan kesediaannya untuk mewakili kedelapan belas andhiko kampuang, diantaranya : H. Hussein Yunus, Akman Burhan, H. Jamaran Turut, H. Syafrie Rauf, BBA, H. Rijal Jalil dan lain-lain.

 

Dalam kepanitian ini, Koordinator Acara lebih berkonsentrasi untuk melaksanakan pekerjaan yang berorientasi keluar, seperti : KAN, PEMDA, LKAAM dan lain-lain

 

MAMBANGKIK BATANG TARONDAM

 

Sudah sedemikian parahkah kondisi Silungkang sehingga generasi sekarang harus memikul beban untuk mambangkik batang tarondam ?

 

Atau sudah seberapa dalam keterpurukan nama Silungkang dalam kancah percaturan adat alam Minangkabau ?

 

Tidak !

 

Silungkang tidak tertinggal apalagi tenggelam. Sekali tidak ! Silungkang tetap eksis dalam percaturan regional atau nasional.

 

Hanya saja, Silungkang sedikit ketinggalan untuk mengekpresikan diri dan menempatkan diri pada bidang kepemerintahan.

 

Kenyataannya, memang belum ada warga Silungkang yang berkesempatan menjadi amtenaar dengan menduduki jabatan sebagai Camat, Bupati, Gubernur dan seterusnya.

 

Inilah kenyataannya !

 

Namun, hal ini tentu tidak bisa dijadikan indikator atau barometer mutlak untuk mengukur ketertinggalan Silungkang.

 

Karena disisi lain, ternyata sudah ada beberapa orang warga Silungkang yang menduduki jabatan terhormat (bila jabatan dalam keperintahan dianggap begitu), namun biasanya, bila ada warga Silungkang yang berkesempatan menduduki posisi penting jarang sekali yang mau menonjolkan diri.

 

Dalam hal dunia bisnis ?

 

Tentu adalah suatu hal yang wajar apabila ada yang jatuh dan yang bangun karena memang begitulah irama kehidupan pedagang.

 

Dalam Lembaga KAN, apakah Silungkang dan Padang Sibusuak yang pernah berjaya dengan sebutan Gajah Tongga Koto Piliang sudah diperhitungkan lagi ?

 

Tidak juga, buktinya Rajo Pagaruyuang (dalam hal ini simbolik) nan duduak samo rondah togak samo tinggi jo Silungkang (duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan Silungkang) berpesan “Apabila Silungkang nan bagola harimau campo koto piliang ingin malewa pangulu, persiapkanlah dengan matang karena itu bisa jadi barometer”.

 

Artinya, Silungkang masih diperhitungkan dan Silungkang punya banyak kaum codiak pandai, alim ulama dan pengusaha serta kaum intelektual.

 

Lantas apa gunanya kita Malewakan Pangulu Pucuak nan Balimo ?

 

Malewa Pangulu dengan tuntutan kemajuan Silungkang memang tak terkait erat, tapi tak berarti tidak berkaitan.

 

Sejak Silungkang dipaksa ikut Kotamadya Sawahlunto pada tahun delapan puluhan, Silungkang yang bersahaja seolah kehilangan jati diri.

 

Silungkang harus melaksanakan sistim pemerintahan desa di bawah kepemimpinan seorang Kepala Desa – sebuah sebutan yang sangat tidak akrab ditelingo (telinga) warga Silungkang yang sudah terlanjur akrab dengan sistim pemerintahan nagari bersama Pak Woli-nya (Wali-nya).

 

Kerapatan Adat Nagori – KAN – sebuah lembaga atau limbago – wadah yang dibentuk guna mengkoordinir (menggantikan ?) peran para kepala suku, pangulu pucuak yang dalam sistim pemerintahan nagari sangat dominan berperan secara aktif dan sebagai filter atau penyaring sebelum sebuah persoalan sampai ke tingkat pengadilan dan perangkat hukum negara lainnya.

 

Dalam sistem pemerintahan nagari, setiap persoalan yang timbul dalam suatu kampung akan diselesaikan dalam kampuang itu sendiri dengan segenap perangkat kampuang yang ada.

 

Bila hal tersebut tak bisa diselesaikan dalam kampuang tersebut, barulah bisa naik ketingkat Suku dan apabila masih tak juga mampu diselesaikan maka baru bisa naik ke tingkat nagari dan begitu seterusnya sampai ke tingkat tertinggi.

 

Tidak seperti yang berlaku sekarang di Silungkang dengan sistim pemerintahan desanya – hampir semua urusan diselesaikan di kantor polisi atau pengadilan – sehingga fungsi niniak mamak, codiak pandai dan alim ulama semakin kabur dan pada akhirnya sirna dengan sendirinya – musnah.

 

Tentu, kita tak ingin hal tersebut berlaku di tanah leluhur kita tercinta ini.

 

Lantas, apa saja yang dikerjakan lembaga Kerapatan Adat Nagari ?

 

Banyak ! Kami dapat memastikan, lembaga KAN telah berbuat banyak untuk Silungkang dan warganya.

 

Hanya saja, entah kenapa lembaga yang tumbuh dari bawah ini selalu saja mendapat cibiran dan perlakuan sinis dari warga masyarakat.

 

Banyak warga yang enggan memanfaatkan lembaga ini bahkan keberadaannya sering dianggap bak angin lalu saja.

 

Mana mungkin, saya bisa menjalankan roda KAN ini seorang diri” kata Ketuanya dalam suatu kesempatan berbincang santai.

 

Banyak warga masyarakat dan pengurus yang ada di dalam KAN bila diundang rapat tidak mau hadir, jadi …. yah saya terpaksa kerja sendiri sebatas kemampuan yang ada.”

 

Jangan sekali-kali mencap saya sebagai ketua yang tidak kooperatif apalagi mau menjadi single fighter – otoriter – karena saya telah mencoba bekerja sebaik mungkin sesuai ketentuan yang ada dan selalu menghimbau agar setiap warga untuk memanfaatkan keberadaan lembaga KAN dan meminta seluruh pengurus KAN untuk aktif bersama-sama” tambahkan lagi dengan serius.

 

Jadi, KAN itu … berhasil atau gagal ?

 

Penilaian setiap orang tentu berbeda, apalagi KAN ini adalah lembaga pelayanan masyarakat, tentu sangat kompleks permasalahan yang dihadapinya.

 

Apapun penilaian Anda – apapun hasil yang telah dicapai – KAN adalah sebuah lembaga yang telah berbuat banyak untuk kita – untuk negeri kita tercinta – untuk kerapatan adat nagari.

 

“Malewakan pangulu pucuak ini adalah sebuah upaya guna menghidupkan kembali sesuatu yang sudah tak pernah kita nikmati lagi” kata ketua koordinator seluruh acara – Irwan Husein.

 

Mudah-mudahan dengan cara Malewa Pangulu Pucuak nan Balimo, yang Insya Allah akan dilaksanakan 11 dan 12 Desember 2002, kita dapat mengoptimalkan kembali fungsi niniak mamak jo codiak pandai saroto alim ulamo nan redup selama era berselang.

 

Sekarang era reformasi, Bung !

 

Ayo, kita reformasi nagori kita demi kemaslahatan anak cucu.

 

Langkah pertama, reform diri kita sebelum memulai sebuah rencana besar – mengembalikan Silungkang menjadi nagari sebagai nagari pertama dalam sebuah kota madya yang kembali kepemerintahan nagari.

 

Jadilah pionir !

 

Buktikan bahwa Kenagarian Silungkang yang pernah hilang dan meliputi wilayah Silungkang Oso, Duo, Tigo dan Muarokalaban bukanlah sebuah nagari pecundang walau sedikit terlambat bila dibanding saudara kembar kita Padang Sibusuak atau Taratak Bancah yang dulu sempat bernaung dibawah panji kenagarian Silungkang.

 

Late is better than nothing, toh ….

 

Pasan Mandeh,

Tanyai diri Anda – apa yang bisa Anda perbuat untuk Silungkang, bukan apa yang bisa Silungkang perbuat untuk Anda. (plagiat dari ucapan mendiang John F.Kennedy).

 

SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA MALEWA PANGULU NAN BALIMO

SILUNGKANG 11 – 12 DESEMBER 2002

 

PANITIA PENGARAH

KOORDINATOR ACARA, Drs. IRWAN HUSEIN.

KOORDINATOR SEMINAR ADAT, Ir. IRLAND Y. M, MM.

KOORDINATOR PUBAS, Drs. JHONY REFF ALBERT

 

PENANGGUNG JAWAB : PKS JAKARTA (Persatuan Keluarga Silungkang)

 

DEWAN PAKAR : ABDULLAH USMAN, HASAN RAID, PROF. DR. AMRI MARZALI, KOL. (PURN) H.M. ARIEF, Drs. DASLI NOERDIN, Msc, PROF. DR. AZHAR KASIM

 

KETUA PELAKSANA : H. FAUZI HASAN, BA

WAKIL KETUA : H. RIJAL JALIL, SE

SEKRETARIS : Drs. AL FEBRI

 

BIDANG NASKAH PIDATO ADAT

KOORDINATOR : Ir. H. HUSSEIN YUNUS

ANGGOTA : AKMAN BURHAN, H. MUNIR TAHER, H. MUSTAFA KAMAL, H. NAWIR SAID

 

BIDANG PENDANAAN

KETUA : H. DJAMARAN TURUT

WAKIL KETUA : H. HEFRIZAL HASMIR

 

BIDANG HUBUNGAN MASYARAKAT

KETUA : BUYA DAMRA MA’ALIM

WAKIL KETUA : H. DASTONI

 

BIDANG DOKUMENTASI

H. ARSAL CHAIPADMOOL, YAHDI JAMHUR

 

BIDANG ACARA

PROTOKOL : Drs. SABIRIN SARIN

ANGGOTA :

KOORDINATOR MAAGHAK PANGULU : H. MARWIN UMAR

KOORDINATOR MEDAN NAN BAPANEH : YOES CHAIDIR

KOORDINATOR MEDAN NAN BALINDUANG : H. HELMY YAN JALIL

 

 

Catatan :
Pelaksanaan Malewa Pangulu Pucuak Nan Balimo dinyatakan dengan sukses dan meriah.

 

Sumber : bulletin dwi bulanan Silungkang, edisi 7, 1 Oktober 2002 tahun ke 2, anniversary edition

 

Dalam Edisi Juli – Agustus 2002 telah dibahas pula tentang acara ini. Berikut isinya :

Malewa berasal dari bahasa Silungkang asli atau setidak-tidaknya adalah bahasa yang sudah umum dipakai di Ranah Minang, alam Minangkabau yang penuh pesona.

 

Malewa mungkin bisa berarti mengangkat, memaklumatkan, mengabarkan, memproklamirkan, memasyarakatkan, merilis, me-launching dan atau apa saja yang senada dengan itu (mohon ma’af kalau salah).

 

Pangulu bukanlah penghulu seperti yang lazim kita pahami sehari-hari. Kalau Penghulu yang lazim kita ketahui adalah petugas dari Kantor Urusan Agama yang bertugas menikahkan pasangan calon suami istri sehingga menjadi pasangan suami istri yang syah menurut hukum adat dan agama.

 

Pangulu adalah Ketua Adat dalam satu Suku atau kaum, mungkin juga bisa atau layak disebut Kepala Suku, seperti Pangulu Pucuak Suku Dalimo, Pangulu Pucuak Suku Patopang, Pangulu Pucuak Suku Malayu, Pangulu Pucuak Suku Payaboda dan Pangulu Pucuak Suku Supanjang dan lainnya.

 

Pangulu atau di bagian lain Minangkabau yang super demokrasi ini biasa disebut dengan “Datuak” adalah pimpinan strata tertinggi dalam kepemimpinan Adat Alam Minangkabau.

 

Untuk itulah, para Pangulu atau Datuak dipilih melalui seleksi yang amat ketat atau dengan kata lain tak sembarang orang bisa menjadi Pangulu atau Datuak ini.

 

Gelar dan atau jabatan yang pangku oleh para Pangulu atau Datuak ini biasa diberikan kepada seorang lelaki dalam sebuah suku yang telah dikenai dan telah teruji dedikasi, ilmu pengetahuan, kepiawaian dan tentu pengetahuan.

 

Oleh karena itulah tak sembarang orang bisa memakai gelar-gelar tersebut, kalaupun dalam suatu kurun waktu gelar tersebut “harus” berpindah kepada yang tidak memiliki garis keturunan langsung, itu biasanya hanya untuk kurun waktu yang sementara saja karena gelar tersebut pada waktunya harus dikembalikan ke keturunan langsung si empunya.

 

Kalau saja Malewa dapat kita artikan mengangkat dan memproklamirkan, maka arti Malewa Pangulu adalah mengangkat dan memproklamirkan Kepala Suku.

 

Jelas ini bukan sebuah pekerjaan yang ringan. Perhelatannya tentu juga bukan sebuah helat atau hajat yang kecil, Iko Baolek Godang !

 

Tak terbayangkan, di Silungkang, yang konon menurut sejarah belum pernah ada acara Malewa Pangulu sejak setengah abad berselang, yang artinya generasi Silungkang yang berusia 60 tahun pada tahun 2002 ini mungkin belum pernah mengalami peristiwa akbar seperti ini kalaupun pernah berkesempatan melihat tentu belum dapat menarik arti dan peristiwa tersebut – kesibukan yang akan dialami panitia penyelenggara yang mau tidak mau harus bekerja kerja mulai dari tahap penyeleksi Bakal Calon Penghulu sampai pada penentuan “Calon Jadi” sesuai tahapan-tahapan dan kaidah-kaidah yang berlaku sampai pada mempersiapkan sebuah penghelatan besar yang akan melibatkan kelima suku yang di Silungkang.

 

Bisa jadi solusinya yang diambil adalah melibatkan semua unsur yang tersedia di Silungkang dan mengambil lokasi di Cintomoni – stadion utama Silungkang semata wayang – yang posisinya memang terletak di tengah-tengah Kenagarian Silungkang karena populasi warga Silungkang tersebar mulai dan Silungkang Oso yang berbatas dengan Kabupaten Solok, Silungkang Duo, Silungkang Tigo sampai ke Muarokalaban berbatas dengan Padang Sibusuak dan kota Sawahlunto – mungkin saja.

 

Namun bila ditilik dan hari H-nya atau hari pelaksanaannya yang bertepatan dengan awal bulan Syawal 1423 H, sekitar awal Desember, yang berarti adalah masa liburan hari raya Idul Fitri, sebuah momen yang tak pernah ditinggalkan oleh warga Silungkang di perantauan untuk melaksanakan acara pulang kampuang atau pulang basamo, sementara jauh-jauh hari Ikatan Generasi Muda Silungkang (IGMS) di Jakarta telah memaklumatkan dan menyebarkan brosur tentang jadual pelaksanaan PULBAS IGMS 2002 yang akan berlangsung pada tanggal 7 s/d 16 Desember 2002. Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuknya Silungkang yang akan dibanjiri oleh perantauan yang akan dibanjiri oleh perantaunya sendiri karena beberapa momen penting yang melibatkan banyak orang akan berlangsung pada kurun waktu yang bersamaan.

 

Silungkang baolek godang, koordinasi dan komunikasi tentu adalah kunci utamanya, dedikasi yang tinggi segenap panitia dan masyarakat perantau serta penduduk setempat sangat dibutuhkan untuk keselamatan dan kemashatan perhelatan akbar ini.

 

Demi menghindari pergesekan yang bukan mustahil bisa terjadi antara para perantau yang pulang kampuang, Mudikers, yang pasti tentu sudah banyak lupa dan atau malah sama sekali tidak mengerti adat istiadat dan kebiasaan yang boleh atau lazim berlaku di tanah leluhur mengingat kebiasaan yang telah berlangsung lama selama di kota-kota besar adalah sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja, kiranya perlu diantisipasi oleh panitia untuk membuat semacam buku saku tentang “Apa yang harus dan Apa yang Jangan Diperbuat selama di Silungkang” (seperti “Do’s and Don’t”nya Brunei Darussalam yang dengan mudah bisa didapat pada outlet penjualan karcis pesawat udara Brunei Air Lines dan travel bironya), sebab penduduk setempat tentu tak ingin adat istiadat dan kebiasaan serta kepatutan yang telah berlaku turun temurun dan telah berurat berakar tidak diindahkan keberadaannya.

 

Yang tak kalah penting, tentu akan banyak penduduk setempat yang akan memanfaatkan peristiwa akbar ini misalnya dengan berjualan aneka penganan khas dan souvenir agar dihimbau untuk tidak menaikkan harga berlipat ganda, mengingat hal tersebut bisa merugikan si pedagang tersebut, karena tentu para mudikers akan berpikir panjang sebelum membeli, betapa ironisnya bila uang rupiah yang dibawa para mudikers yang notabene adalah dun sanak awak juo harus beredar di kota Sawahlunto, Solok, Bukittinggi, Padang dan kota-kota lainnya sebab selang beberapa tahun terakhir gejala tersebut mulai terlihat nyata. Bijaksanalah !

 

Naikkanlah pendapatan dengan cara menjual sebanyak-banyaknya barang dagangan namun tetaplah pada harga standard yang sudah berlaku sehari-hari agar para mudikers menjadi betah dapat merasakan kenikmatan yang tak terlupakan selama berada di tanah leluhurnya tanpa mengeluarkan biaya yang semestinya ia keluarkan atau dengan kata lain pra mudikers tak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk kenikmatan yang sama pada acara akbar tersebut.

 

Tentu peran para petugas keamanan akan sangat penting adanya. Betapa tidak, bila diprediksi pada mudikers tahun 2002 ini sebanyak 2.000 orang saja maka akan ada sekitar 500 – 600 buah kendaraan dengan berbagai jenis dan ukuran.

 

Sementara areal parkir utama yang ada di Silungkang adalah sepanjang jalan lintas Sumatera yang melintasi Silungkang. Tingginya volume kendaraan yang melintas di Silungkang – ingat Silungkang adalah jalur vital Trans Sumatera jalur tengah. Ini tentu sangat riskan !

 

Disampaikan oleh Buya

Revisi oleh admin