Uncategorized


simf

multicultural

photograpy

SALINAN DARI SALINAN

Sjech M. Saleh bin Abdullah, meninggal dunia pada hari Sabtu, waktu asjar tgl. 29 Zulhidjah 1288.

KETERANGAN SURAU GADANG DAN TAHAHNJA

Membuat surau itu (Surau gadang Silungkang) adalah engku Sjech M. Saleh bin Abdullah dengan pertolongan tonggak dan pekajuan sebagian besar dari Pianggu dan Tarung2, ada djuga masuk sedikit2, Indudur dan lainnya, tukang jang bekerja semuanja dari Kubang 13 dari bagian Alahan Pandjang.

Setelah surau itu sempurna sudah, beliau wakafkan Surau gadang itu kepada sembilan orang murid beliau jaitu :

1. Sjech Moh. Taib surau lurah Silungkang. (tanah sirah)
2. Sjech Ahmad engku Surau Tandjung. (dalimo tapanggang)
3. Sjech Abdul Rachman anak beliau (engku Surau Bulek). (dalimo jao)
4. Sjech Abdullah engku surau Gadang. (tanah sirah)
5. Sjech Abdul Rachman engku Talawi (engku Hasan Djamin)
6. Sjech Abdullah engku Lunto.
7. Sjech Aboe Bakar engku Surao Palo. (Panaykumah nan Panjang)
8. Sjech Abdullah engku Surau Ambatjang Koto Anau.
9. Sjech Muhammad Sjech Koto Baru Palangki.

Inilah jang terima wakaf Surau Gadang itu dari Sjech Muhammad Saleh tersebut (ini tersebut dalam segel jang tersimpan di engku Surau Tandjung) djuga tersebut dalam segel itu jaitu untuk mendjaga dan untuk mengamat-amat serta melaksanakannja diberatkan beliau kepada anak beliau sampai turun temurun menurut sjari’at agama tidak boleh anak tjutju beliau melalaikannja.

Untuk urusan memperbaikinja disanggupi oleh ninik makam dalam suku Dalimo, dan orang tjerdik pandai masa itu, mengaku ninik mamak akan menjampaikan kepada anak tjutju semuanja (ini keterangan segel) :

Pada tahun 1897 waktu akan mengganti atap idjuk dengan seng, pada waktu itu Suku Dalimo tidak sanggup menggantinja, dirapatkan negeri, ninik mamak dan 4 orang djenis serta tjerdik pandai dalam negeri untuk membitjarakan hal itu, sepakat orang suku Dalimo menjerahkan untuk memperbaiki meusahakan memperbaikinja mana2 jang rusak mulai hari itu sampai seterusnja kepada negeri (kerapatan negeri Silungkang, maka kerapatan negeri sepakat pula menerimanja itu (menerima penjerahan itu).

Kemudian dibitjarakanlah siapa jang akan dikepalakan meurusnja. Dapat kata sepakat untuk mengepalainja kepada 3 orang jaitu :

I. Sjech Mohammad Taib engku Surau Lurah. – Adik Sjech Barau orang Tanah Sirah.
II. Sjech Abdul Rachman engku Surau Bulek. – Anak Sjech Barau orang Dalimo Jao.
III. Sjech engku Surau Tandjung, sampai mati jang bertiga itu terus meurus surau Gadang itu, tersebut dalam segel, tanah surau Bulek dan Tabuh tidak wakaf.

Tabuh, wakaf orang Pianggu dan Tarung2 kepada beliau. Beliau tidak boleh mewakafkan pula. Tanah wakaf nik Itam Dalimo Kasik kepada beliau, tidak pula dapat beliau mewakafkannja, Surau Lakuk beliau buat dengan sedekah nik Itam kepada beliau dan setelah sudah Surau Lakuk itu, beliau wakafkan pula kepada nik Itam itu. Surau Tandjung beliau buat dengan uang sedekah Penghulu Patopang Dt. Rangkayo Nan Gadang. Tanah Surau Tandjung itu beliau beli dengan orang Dalimo Kasih Rp. 250,-

Pada masa hidup orang jy sembilan orang itu ada beliau itu rapat di Surau Bulek semuanja, berkato engku Sjech Talawi “Kita semua jang terima wakaf ini banjak jang tidak tinggal disini, bagaimana hendaknja Surau Gadang ini urusan oleh kita jang terima wakaf.

Djawab engku Surau Gadang “Kita serahkan sadja kepada jang tinggal disini jaitu engku Surau Lurah, engku Surau Bulek dan engku Surau Tandjung. Kemudian diterima oleh jang bertiga itu.

Sesudah mati orang itu semuanja, diurus oleh H. Abdullah anak engku Surau Bulek dan sudah mati Hadji Abdullah digantikan oleh M. Salim Dt. Sinaro Chatib anak engku Surau Bulek djuga (sajo sendiri).

Inilah jang dapat saja tuliskan dengan benar.

(dto) M. Salim Dt. Sinaro Chatib

Disalin dari Salinannja oleh :

(Buyung Sutan Sinaro)
2-5-1963

Silungkang, 05 September 1994.
Disalin dari Salinanja oleh :

d.t.o

DASRIL BAKRI

H. Abdullah anak Ongku Surau Bulek
Ini adalah Bapak H. Adjar (H. Ruslan)

Mulai hari ini telah dibuka posko penerimaan bantuan untuk korban gempa Sumatera Barat di Gedung Silungkang.
Jl. Gotong Royong Kav. 13
Larangan Indah Tangerang
Telp 021 7328676.

Kepada segenap organisasi yang berada dibawah naungan Persatuan Keluarga Silungkang (PKS) di Jabodetabek untuk ikut berpartisipasi.

KAMI MENGGUGAH KEPEDULIAN ANDA SEMUA.

Dasar Falsafah Adat Minang

1. Ketentuan alam terhadap adat :

  • Adat jika dipakai baru, kain jika dipakai usang.
  • Cupak menurut panjang betung, adat adalah sepanjang jalan.
  • Sekali air bah, sekali tepian berkisar ( = adat harus sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman )
  • Melihat contoh pada yang lampau, melihat tuah pada yang pandai ( = agar adat tetap segar dan aktual )
  • Usang diperbaharuai, lapuk disokong, yang buruk dibuang, jika singkat harap diulas, panjang harap dikerat, rumpang harap disisit ( = agar tetap muda – sesuai dengan perkembangan zaman )
  • Birik-birik terbang ke sawah, dari sawah ke halaman, patah sayap terbang terhenti, bertemu di tanah bata. Dari ninik turun pada mamak, dari mamak turun pada kemenakan, patah tumbuh hilang berganti, pusaka demikian juga ( = fatwa adat agar walaupun adat perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman namun tetap menurut fatwa adat )
  • Kayu pulai di Kato Alam, batangnya sendi-sendi. Jika kita pandai dengan alam, patah tumbuh hilang berganti. ( = harus pandai dengan alam )
  • Iman tidak boleh goncang, kemudi tidak boleh patah, pedoman tidak boleh goyang, halun tidak boleh berubah.

2. Beberapa pedoman adat :

Hidup bersama dalam pergaulan hidup :

  • Yang tua dimuliakan, yang muda dikasihi, sama besar hormat *menghormati.
  • Dalam kabar baik memberitahu, dalam kabar buruk berhamburan. Pucuk pauh sedang terjela, penjuluk bunga gelundi, agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi.
  • Yang kurik adalah kundi, yang merah adalah saga, yang baik adalah budi, yang indah adalah basa.
  • Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan budi.
  • Kalau hendak pandai sungguhlah berguru, kalau mau tinggi pertinggilah budi.
  • Puar yang kena cencang, andilau yang bergerak.
  • Yang bagus bagi kita, disetujui oleh orang lain hendaknya, yang sakit bagi kita, sakit pula bagi orang lain, yang enak bagi kita, enak pula bagim orang lain.
  • Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi Janji harus ditepati, ikrar harus dihormati. Kalau berjanji biasa mungkir, titian biasa lapuk, musuh bagi orang Minangkabau.
  • Waris diterima, pusaka ditolong, berjalan tetap pada yang biasa, berkata tetap pada yang benar.
  • Hutang budi dibawa mati, budi sedikit terasa berat.
  • Ingat-ingat, jikalau yang di bawah menghimpit, jikalau bocor dari bawah.
  • Jika di dalam kebenaran, biarpun putus leher dipancang, setapak janganlah engkau surut.
  • Berhemat sebelum habis, sediakan payung sebelum hujan.
  • Hari panas kalau tidak berlindung, hari hujan bila tidak berpayung, hari gelap kalau tak bersuluh, jalan sunyi kalau tidak berteman.

Hidup bersama saling menguatkan satu sama lain :

  • Adat bersaudara, saudara pertahankan ; adat berkampung, kampung pertahankan ; adat bersuku, suku pertahankan ; adat bernegeri, negeri pertahankan ; sandar bersandar seperti air dengan tebing.
  • Bersaudara memagar saudara, berkampung memagar kampung, bernegeri memagar negeri, berbangsa memagar bangsa.
  • Jika mendapat sama berlaba, kehilangan sama merugi ; yang ada dimakan bersama, yang tidak bersama dicari ; hati gajah sama dilapah, hati Lingau sama dicecah ; banyak beri bertmpuk, sedikit beri bercacah ; besar kayu besar bahannya.
  • Ke lurah sama menurun, ke bukit sama mendaki, sama menghayun sama melangkah, seciap seperti ayam, sedenting seperti besi.
  • Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama sakit, sama senang.
  • Duduk sendirian sempit, duduk bersama lapang.
  • Mencari kata mufakat, menambah sesuatu yang kurang, menyambung yang pendek, menjinakkan yang liar, merapatkan yang renggang, menyisit yang umpang, melantai yang lapuk, memperbaharui yang usang.
  • Menyuruh berbuat baik, melarang berbuat jahat, menarik dan mengembangkan, menunjuk dan mengajari, menegur dan menyapa, salah diperbaiki, dialih kepada yang benar.
  • Tidak ada tukang membuang kayu, kalau bungkuk untuk bingkai bajak, yang lurus untuk tangkau sapu, yang sebesar telapak tangan untuk papan tuai, yang kecil untuk pasak suntung.
  • Yang buta penghembus lesung, yang tuli pelepas bedil, yang lumpuh penghuni rumah, yang kuat pembawa beban, yang bodoh untuk disuruh-suruh, yang cerdik tempat bertanya dan lawan berbicara, yang kaya tempat minta tolong.
  • Melawan guru dengan ajarannya, melawan mamak dengan adatnya.
  • Dikurangi berbahaya, dilebihi tidak pantas.
  • Keluk paku kacang belimbing, pucuknya lenggang-lenggangkan, dibawa ke Saruasa. Anak dipangku kemenakan dibimbing, orang kampung pertenggangkan, jaga negeri jangan binasa.
  • Jika tanah yang sekeping telah dimiliki, jika rumput yang sehelai, sudah ada yang punya, malu belum lagi dibagi.
  • Kemenakan beraja pada mamak, mamak beraja pada penghulu, penghulu beraja pada mufakat, mufakat beraja kepada alur dan patut.
  • Bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat, air melalui betung, kebenaran melalui orang.
  • Jika bulat sudah boleh digolongkan, jika gepeng sudah boleh dilayangkan ; tidak ada kusut yang tidak selesai, tidak ada keruh yang tidak jernih.
  • Pada yang sakit lekatkan obat, pada yang benar letakkan alur, pada air lepaskan tuba, pada garis memahat, pada yang diukur yang dikerat, pada rangkanya lekatkan permata ; bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat, bulat jantung oleh kelopak, bulat segolong, ceper selayang.
  • Dicari runding yang benar, beria-ia dengan adik, bertidak-tidak dengan kakak, air dibulatkan dengan pembuluh, kata dibulatkan dengan mufakat, yang buruk dibuang dengan hitungan, yang baik diambil dengan mufakat.
  • Tidak ada kusut yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada keruh yang tidak bisa jernih, lubuk akal, lautan budi.
  • Kalau sudah dapat kata yang satu, bulat tidak bersudut, ceper tidak bersanding, yang terikat karena tiang, yang terkurung karena kunci.
  • Dimana berdiri, disitulah tanah diinjak, langit dijunjung, masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang sapi melenguh.

Sifat Pemimpin

  • Orang besar adalah dibesarkan maka dianya besar, tumbuhnya ditanam, tingginya disokong, besarnya dipelihara.
  • Kalau besar jangan melenda, kalau cerdik jangan menipu.
  • Yang kecil jangan tertipu, yang besar jangan menipu.
  • Air yang jernih, tempurung yang ceper seperti pohon di tengah padang, uratnya tempat bersela, batangnya tempat bersandar, dahannya tempat bergantung, buahnya untuk dimakan, daunnya untuk berlindung.
  • Rajo ( pemimpin ) adii disembah, rajo zalim disanggah.
  • Kalau benar penghulu bagaikan lantai, kalau berpijak jangan menjungkat ; pemimpin biasa mendapat upat ; kalau datang persoalan dan upat, anggaplah sebagai penawar, demikiannya pemimpin yang sebenarnya.
  • Jika penghulu kena kicuh, kampung halamn sudah terjual ; agar penghulu diikuti orang, pandai bergaul dengan orang banyak.
  • Sumbang salah tindakan perangai, jalankanlah hak penghulu, tidak ada kusut yang tidak selesai.
  • Penghulu berdiri di tengah-tengah, jikalau penghulu pecah, adat tidak akan bangun lagi ; hilang percaya anak negeri, kata dan kerja tidak seiring.
  • Perkataan raja memberikan kelapangan, perkataan penghulu menyelesaikan, perkataan monti adalah mengulangi, perkataan hulubalang adalah kertas, perkataan orang banyak tidak keruan.

Penghulu :
1. Sebagai bumi, di mana sesuatu tempat berdiri,
2. Teguh pada adat dan berdiri di pintu adat,
3. Menghukum sepanjang adat,
4. Menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat,
5. Perkataannya menyelesaikan.

Malin :
1. Sebagai air yang menghanyutkan yang kotor,
2. Teguh pada agama dan berdiri di pintu agama,
3. Menghukum sepanjang syarak,
4. Membesokan halal jo haram,

Monti :
1. Sebagai angin yang menyampaikan sesuatu,
2. Tegas dalam tindakan dan pengawal di pintu susah,
3. Menghukum silang selisih,
4. Menerima dakwa, melalaikan jawab,
5. Perkataannya mengulangi.

Dubalang :
1. Sebagai api yang bertindak keras,
2. Teguh pada negeri dan berdiri di pintu mati,
3. Menghukum waktu ada perkelahian dan peperangan,
4. Menjaga dari kejahatan,
5. Perkataannya adalah keras.

Kejayaan negeri :

  • Sawah ladang, jalan yang ramai; padi menjadi jagung.
  • Lumbung berjejer di halaman, rangkiang tujuh sejajar, seubah si Bajau-bajau; untuk anak dagang lewat, sebuah di Tinjau Laut, untuk anak korong kampung, terdapat lumbung yang banyak, makanan anak kemenakan.
  • Bersih di tepi air, sosial jika perut kenyang.
  • Hilang bangsa karena tidak mempunyai emas.

Sumber :

  1. Amir M.S., Adat Minangkabau – Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, Jakarta, Penerbit PT. Mutiara Sumber Widya, 1999.
  2. Prof. Mr. M. Nasroen, Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Jakarta, CV. Penerbit Pasaman, 1957.
  3. A.B. Dt. Madjo Indo, Kato Pusako, Jakarta, Penerbit PT. Pora Karya, 1999.

TAMAT

14. Sifat Pribadi Orang Minang

  • Tujuan utama adat adalah untuk membentuk individu atau manusia yang berbudi luhur, berbudaya dan beradab agar melahirkan masyarakat yang aman, damai dan selalu dalam lindungan Tuhan ( baldatun toiyibatun wa Robbun Gafuur )
  • Untuk mencapai masyarakat yang demikian, diperlukan manusia-*manusia dengan watak-watak ideal, yang menurut adat Minang, antara lain :
  1. Hiduik Baraka, Baukue jo Bajangko ( hidup befikir, berukur dan berjangka atau memiliki rencana yang jelas dan perkiraan yang tepat ) :
    • Waspada dalam hidup ( dalam awal akhir terbayang, dalam baik ingatlah buruk, dalam tawa tangis menghadang, hati ria hutang tumbuh ).
    • Dapat memperkirakan apa yang bakal terjadi ( belum rebah sudah ke ujung, belum pergi sudah kembali, belum dibeli sudah dijual, belum dimakan sudah terasa ).
    • Merencanakan sesuatu dengan difikirkan lebih dulu sematang-matangnya dan secermat-cermatnya ( diraba sehabis rasa, dijarah sehabis lobang )
    • Dalam melaksanakan pekerjaan dilakukan sesuai dengan prioritas yang sudah direncanakan ( mengaji dari alif, berhitung dari satu )
    • Dalam melaksanakan sesuatu harus memiliki alasan yang masuk akal clan bisa dipertanggung jawabkan atau bukan asal berbuat tanpa berfikir ( mencencang berlandasan, melompat bersitumpu )
    • Nenek moyang orang Minang, mengajarkan :
    1. Berjalan dengan yang tua, berlayar bernakhoda dan berkata dengan yang pandai,
    2. Ingin kaya, bekerja keraslah, ingin tuah bertaburlah harta, ingin mulia tepatilah janji, ingin nama berjasalah, ingin pandai belajarlah,
    3. Yang elok menurut kita namun disukai orang juga ( elok dek awak katuju dek urang )
    4. Berlebihan berarti riya, kalau kurang sia-sia, dihitung dutu baru dibagi, dibalik dulu baru dibelah, bayang-bayang sepanjang badan – artinya beban jangan lebih dari kemampuan ),
    5. Yang dibaris yang dipahat, yang diukur yang dipotong, jalan lurus yang ditempuh, jalan yang lazim yang dituruti,
    6. Di garis makanan pahat, di air lepaskan racun, ditempat sakit diberi obat, lurus menentang baris adat.
  2. Baso Basi – Malu jo Sopan
    • Yang burik ialah kundi, yang merah ialah sega, yang baik adalah budi, yang indah adalah basa ( basi )
    • Kuatnya rumah karena sendi, rusak sendi rumah binasa, kuatnya bangsa karena budi, rusak budi bangsa binasa
    • Yang tua dihormati, yang kecil disayangi, sama besar bawa berkawan, ibu dan ayah diutamakan
    • Karena ribut rebahlah padi, di cupak Datuk Tumenggung, hidup kalau tak berbudi, duduk tegak serba canggung
    • Gugur pepaya karena binalu, tumbuh serumpun di tepi tebat, kalau habis rasa dan malu, bagaikan kayu longgar pengikat
    • Pucuk pauh sedang terjela, penjuluk bunga linggundi, supaya jauh silang sengketa, perhalus basa basi ( budi pekerti )
    • Pulau pandan jauh di tengah, di balik pulau angsa dua, hancur badan dikandung tanah budi baik terkenang juga
    • Anak orang koto ilalang, mau lewat ke pekan baso, malu dan sopan kalau sudah hilang, habislah rasa dan periksa,
  3. Tenggang Rasa
    • Berjalan pelihara kaki, berkata pelihara lidah, kaki tertarung inai imbuhannya, lidah tertarung emas imbuhannya, berjalan selangkah lihat ke belakang, kata sepatah difikirkan,
    • Yang baik menurut kita, harus juga disukai orang lain, yang enak menurut kita, harus enak juga menurut orang lain, kalau sakit menurut kita, sakit pula bagi orang lain.
  4. Setia ( Loyal )
    • Melompat sama patah, menyeruduk sama bungkuk, tertelungkup sama makan tanah, tertelentang sama minum air, terendam sama basah, resapan air kembali ke air, resapan minyak kembali ke minyak
    • Adat bersaudara saudara dipertahankan, adat berkampung kampung dipertahankan, adat bernegeri negeri dipertahankan, adat berbangsa bangsa dipertahankan, perang antar suku sama disimpan, perang terhadap penjahat sama dihadapi,
  5. Adil ( Tidak Berat Sebelah & Teguh pada Kebenaran )
    • Menimbang sama berat, mengukur sama panjang, tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan, tiba di dada tidak dibusungkan,
    • Mendapat sama beruntung, kehilangan sama merugi, mengukur sama panjang, menyambung sama luas, berbagi sama banyak,
    • Besar kayu besar bahannya ( iuran ), kecil kayu kecil bahannya ( andilnya ),
    • Yang ada sama dimakan, yang tidak ada sama dicari, hati gajah sama dipotong/disuap, hati kuman sama dicicip ( dicercah ), yang besar di bagi beronggok, yang kecil dibagi secercah.
  6. Hemat dan Cermat, yaitu selalu bertindak efisien clan efektif, baik dalam urusan penempatan manusia maupun penggunaan benda-benda alam, seperti pepatah tentang tanah, kayu, bambu dan sagu.
  7. Waspada ( Siaga ), seperti kata pepatah : memintas sebelum hanyut, dibuat lantai sebelum lapuk, siaga sebelum kenan ( bahaya ), sia-sia negeri akan kaiah, sia-sia hutang timbul, siang di lihat-lihat ( waspada, ), malam di dengar-dengar.
  8. Berani karena Benar
    • Kalau dipindahkan orang pematang, kalau diubah orang adat Minang, kalau diubah orang kata dahulu, jangan cemas jiwa melayang jangan takut darah menyembur,
    • Asalkan masih dalam kebenaran, bersilang tombak dalam perang, sebelum ajal berpantang mati, beribu sebab yang datang, namun mati hanya sekali, esa hilang dua terbilang, berpantang mundur di jalan,
    • Asal masih nafas-nafasan ikan, asal masih jiwa-jiwanya capung, namun yang benar disebut juga,
    • Sekali orang berbicara lancing, anggap angin lalu saja, dua kali orang berbicara lancang, anggaplah lelucon sesama kawan, tiga kali orang berbicara lancang, jangan takut darah tersembur.
  9. Arif, Bijaksana, Tanggap dan Sabar
    • Tahu dengan kilat beliung ke kaki, kilat cermin yang ke muka, tahu dengan mendung di hulu tanda akan hujan, mega di langit tanda akan panas, ingat ranting yang akan menusuk, tahu dahan yang akan menimpa, tahu duri yang akan mengait, pandai memintas sebelum hanyut,
    • Gunung biasa timbunan kabut, lurah biasa timbunan air, lekuk biasa timbunan sampah, laut biasa timbunan ombak, yang hitam tahan tempa ( pukul ), yang putih tahan cuci, dicuci berhabis air, dikikir berhabis besi,
  10. Rajin, seperti kata pepatah : kalau duduk meraut ranjau (jebakan), tegak mengintai mangsa ( berburu ), ingin kaya ulet mencari (uang), ingin pandai rajin belajar.
  11. Rendah Hati, seperti kata pepatah : kalau menimba ( air ) di hilir-hilir, kalau bicara bersahaja, tiba di kandang kambing mengembek, tiba di kandang kerbau menguak, dimana langit dijunjung, di sana bumi dipijak, disitu ranting dipatah.
Bersambung ….
7. Kato Nan Ampek

  • Kato Pusako, yaitu petuah nenek moyang yang disampaikan secara turun temurun untuk menjadi pedoman hidup bagi anak cucu dalam bentuk pepatah petitih seperti :
  1. Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah
  2. Hidup berakal, mati beriman
  3. Adat hidup tolong menolong, adat mati jenguk menjenguk, adat kaya beri memberi dan adat miskin saling membantu
  4. Karajo baiak ba imbauan – karajo buruak baambauan ( amar makruf nahi munkar )
  • Kato Daulu, yaitu kato daulu kato ditepati artinya setiap ucapan merupakan janji atau ikrar yang harus ditepati oleh setiap orang yang mengucapkannya demi kemuliaan dan harga dirinya.
  • Kata Buatan, yaitu ikrar yang diterapkan berdasarkan persetujuan semua pihak dalam suatu permusyawaratan yang dilakukan menurut “alui clan patuik” sepanjang adat. Hal ini tergambar dari pepatah adat : Bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat dan tuah sepakat orang yang banyak.
  • Kata Kemudian, yaitu suatu ikrar yang terpaksa diperbarui karena tak terlaksananya ikrar terdahulu. Hal ini tergambar dari pepatah :Janji ditepati, ikrar dimuliakan dan elang tak sekali hinggap, pikiran tak sekali tumbuh.

Bersambung ……….

6. Landasan Berfikir

  • Landasan berfikir orang Minang tercermin dari pepatah adat berikut :Rumah bersendi batu, Adat bersendi jalan yang benar dan pantas, memakai aturan yang wajib diturut serta budi pekerti dan kecermatan.
  • Orang Minang umumnya anti penindasan, anti kemiskinan dan anti kemapanan. Proses perubahan dilakukan melalui proses “dialektika” yaitu, suatu keadaan yang ada ( thesa ) akan menimbulkan antithesa, sehingga dapat timbul suatu situasi konflik dan dicarikan jalan keluarnya sendiri dalam bentuk sinthesa.

Terdapat empat landasan pokok berpikir orang Minang menurut adat, yaitu :

  1. Logika ( alue patuik ), artinya harus dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya untuk menciptakan keadilan dalam masyarakat dan menghindari sengketa antara anggota masyarakat, sehingga tercipta kehidupan yang rukun, aman dan damai.
  2. Tertib hukum ( anggo tango ), artinya mengerjakan sesuatu harus sesuai dengan aturan pokok dan aturan rumah tangga adat ( diatur dalam Limbago Nan Sapuluah ) agar tercipta disiplin dan ketertiban pada lingkungan kekerabatan, lingkungan masyarakat dan dalam mengatur negeri.
  3. Ijtihad ( penelitian ) atau raso pareso, artinya membiasakan untuk mempertajam rasa kemanusiaan dan hati nurani yang luhur dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Dialektika atau musyawarah mufakat ( sinthesa )

Laman Berikutnya »