Buletin


Hadirilah …….
Semua warga negara Indonesia dan Mancanegara

PAMERAN dan FASHION SHOW SONGKET SILUNGKANG di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini Jakarta Pusat

30 – 31 Oktober 2012Los Lambung (Stand Makanan) diisi ALE-ALE ANGEK (panas), COKI, LUPI (lupis), SOP DAN SOTO WARGA SILUNGKANG JAKARTA, dll.Undangan yang akan hadir Duta Besar Negara Sahabat, Menteri, Pejabat Negara, Bisnismen, Investor dan lain-lain.Setiap hari dihadiri kurang lebih 1500 orang (Insya Allah)

Musik : Talempong, Randai, Gamad, Badiki dan KIM

KIM mulai jam 20.00 WIB

Pameran dibuka jam 14.00 WIB

Makan Bajamba diutamakan masyarakat LUAR KOTA SAWAHLUNTO sebanyak 50 Jambai = 250 orang. Pada tanggal 31 Oktober 2012. Jam 18.30 WIB

AGENDA ACARA

Selasa, 30 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

18.00 – Selesai

  • Kesenian rakyat
  • Talempong
  • Randai
  • Saluang
  • Rabab
  • Kim

Rabu, 31 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

19.00 – Selesai

  • Makan Bajamba

20.00 – Selesai

  • Malam puncak Sawahlunto Kreatif
    • Sambutan Walikota Sawahlunto
    • Launching Buku Sahabat Sawahlunto dan Ragam Hias Songket Silungkang
    • Sambutan Gubernur Sumatera Barat
    • Orasi menteri Parawisata dan Ekonomi Kreatif tentang “Ekonomi Kreatif” Sekaligus membuka acara.
    • Pertunjukan Sendra tari karya Hartati dengan tema “ Restorasi Songket Silungkang”
    • Fashion Show oleh Ria Miranda dengan tema “Minang Heritage”

Agenda acara diatas dikutip dari Undangan yang telah dan akan diedarkan. Sekapur sirih atau sambutan Walikota Sawahlunto dalam undangan tersebut semuanya mengangkat songket Silungkang. Berikut sedikit cuplikannya:

Aktifitas tenun Silungkang yang bernilai ekonomi itu tidak diragukan lagi eksistensinya. Perjalanan tenun Silungkang dengan berbagai produk songket telah mengalami berbagai dinamika dan pasang surut. Tenun songket Silungkang dimasa silam telah menorehkan prestasi hingga ke pentas dunia. Sejarah mencatat dimasa pemerintahan Hindia Belada, pengrajin tenun Silungkang telah ikut serta dalam Pekan Raya Ekonomi Eropa, tepatnya di Brussel Ibukota Belgia ditahun 1920.

FYI: Warga perantau asal Sawahlunto diharapkan meramaikan acara hari pertama dan hari kedua dengan datang berbondong-bondong ke TIM. Acara makan bajamba dan malam puncak di dalam gedung diutamakan untuk undangan karena sifatnya untuk promosi parawisata sawahlunto dan songket Silungkang

Iklan

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Membaca tabloid Koba Silungkang edisi April 2003 dalam tulisan “Seputar Kota Kita” mengkritisi sikap PKS Jakarta soal “Balon” Wako dan Wawako saat itu, Who Wants To Be The Mayor Part 2.

Kami teringat pengalaman Alm. Sdr. Syafar Habib yang diceritakannya pada kami 3 bulan sebelum dia meninggal dunia. Sebelum dia menceritakan pengalamannya itu, dia minta kepada kami agar kami berfikir secara filosofis, sebagai berikut :

Dalam pertemuan ‘acara Minang’ dia duduk; di sebelah kanannya Bapak Emil Salim dan di sebelah kirinya Bapak Menteri Abdul Latif. Bapak Emil Salim berkata kepada Sdr. Syafar Habib : Engku Syafar, saya bangga dengan perantau Silungkang, di mana-mana orang Silungkang jarang yang menjadi pegawai negeri, kebanyakan menjadi pedagang. Tetapi setelah saya menjadi menteri saya perhatikan tidak ada orang Silungkang menjadi pengusaha menengah ke atas.

Mendengar ucapan kedua tokoh Minang itu Sdr. Syafar Habib hanya terdiam, tetapi dalam hatinya berkata : apakah baju putih yang sedang saya pakai ini sama warna putihnya dengan pakaian dalam ?

Mendengar pengalaman Sdr. Syafar Habib ini kami juga merenung dan terpikir bagaimanakah orang Silungkang di abad 21 ini.

Menjelang Sdr. Zuhairi Muhammad Panai Empat Rumah meninggal dunia, kami sekali dalam tiga bulan sengaja datang ke rumahnya di Komplek Perindustrian di Jalan Perdatam Pancoran, rasanya kalau kita berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan mamaknya Alm. Pakiah Akuk. Dia mengatakan pendapatnya kepada kami, bahwa orang Silungkang bukan orang aktif tetapi reaktif. Semula kami tidak sependapat dengannya, tetapi setelah kami renungi kami sependapat pula dengannya.

Tahun 80-an kami pernah membaca buku karangan Mr. Muhammad Rasyid berjudul ‘Sejarah Perjuangan Minangkabau’ sebelum peristiwa PRRI beliau menjadi duta besar RI di Perancis merangkap di Italia, di halaman 45 kami membaca waktu pemberontakan rakyat Silungkang tahun 1927. Penjajah Belanda sangat kejam, tentara Belanda memperkosa gadis-gadis Silungkang.

Begitu tersinggungnya kami, buku itu tidak tamat dibaca tetapi diserahkan kepada PKS di Bendungan Hilir, karena waktu itu PKS masih menumpang di kantor Koperasi Kemauan bersama di Bendungan Hilir (Bendhill). Kenapa buku itu diserahkan karena menurut Mr. Muhammad Rasyid kalau isi buku ini tidak sesuai dengan kenyataannya (buku ini jilid pertama) bisa diralat pada jilid kedua nanti.

Akhirnya buku itu dikembalikan kepada kami setelah buku tersebut berubah warna, mungkin waktu itu tidak ada reaksi dari PKS, entahlah !

Waktu kami mendapat musibah, kami mendatangi Buya Duski Samad , untuk minta nasihat, kepada beliau kami curahkan musibah yang kami terima, jawab beliau singkat: tetapi kita harus berfikir, kata beliau : jika sekarang saya mempunyai uang 100 juta rupiah, uang itu akan habis dalam seminggu, kami bertanya : kenapa begitu Buya ? jawab beliau, saya bukan pedagang. Kami renungkan jawaban beliau itu, kemudian kami menjawab sendiri; “Kerjakanlah apa yang ada ilmunya pada kita”, betul kata beliau. Kemudian beliau bertanya murid-murid beliau dulu yang berasal dari Silungkang, a.l., Yakub Sulaiman (Pakiah Akuk) dan Abdullah Usman (Guru Dullah Sw. Jawai) beliau bangga dengan murid-murid beliau itu.

Lelah bersaing menjadikan takut bersaing
Di zaman Gajah Tongga Koto Piliang Dulu, kemungkinan besar orang Silungkang pintar dan cerdas, tetapi sayang kenapa orang Silungkang mendiami lungkang sempit, hampir tidak ada tanah yang subur untuk ditanami padi, tidak seperti belahan kita di Padang Sibusuk dan Allah mentakdirkan kita orang Silungkang menjadi pedagang.

Pedagang itu sarat dengan persaingan, bisa terjadi persaingan itu antara saudara sesuku, sekampung, sepupu, bahkan antara saudara sendiri clan yang paling riskan terjadi antara Pembayan dengan Pembayan yang sama-sama mendiami rumah panjang (rumah adat).

Coba kita pikirkan Silungkang itu seperti kotak korek api dibandingkan Indonesia yang luas ini.

Menurut perkiraan kami sebelum Jepang menjajah Indonesia, 50% perempuan Silungkang yang sudah bersuami dimadu suaminya, mungkin juga lebih.
Kenapa bisa seperti itu ? Mana mungkin perempuan Silungkang bisa menikah dengan orang luar Silungkang, karena adat melarangnya, terpaksa atau tidak perempuan-perempuan Silungkang harus bersedia menjadi isteri kedua atau menikah dengan duda yang jauh lebih tua umurnya.

Madu itu obat, tetapi bagi perempuan yang di’madu’ menyakitkan hati, bersaing memperebutkan kasih sayang sang suami, anak-anak yang . ibunya dimadu, pun merasa dimadu pula dengan ibu-tiri, saudara tirinya. Persaingan itu menimbulkan kecemburuan, kecemasan, dengki, irihati clan was-was, penyakit itu bisa,, berketurunan.

Menurut Prof. Zakiah Deradjat dalam buku “Menghadapi Liku-Liku Hidup”, beliau menulis dari segi kejiwaan, perkembangan dan pertumbuhan anak, anak dalam kandungan telah menerima pengaruh-pengaruh yang berarti baginya. Suasana emosi dan tolak pikir ibu yang sedang mengandung mempunyai kesan tersendiri bagi janin dalam kandungan.

Jadi orang Silungkang mendiami lungkang yang sempit, persaingan hidup yang tidak sehat, sangat mempengaruhi cara berfikirnya. Jadi apa yang dikatakan Bapak Emil Salim di atas, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Silungkang, jika dilihat dari luar semuanya baik. Coba kita perhatikan semenjak dahulu organisasi apapun yang dibentuk, dan bangunan apapun yang didirikan hampir semua meninggalkan kesan-kesan yang kurang baik.

Kemudian apa yang dikatakan Bapak Menteri Abdul Latif di atas, mungkin juga akibat “Lima Penyakit Di atas”. Seterusnya pendapat Sdr. Zuhairi Muhammad (Alm), kita orang Silungkang bukan aktif tetapi reaktif, kemungkinan ini juga diakibatkan oleh orang kita (SLN) tidak bisa bersaing khususnya dengan orang di luar Silungkang, bisanya hanya bersaing dengan orang sekampung sendiri.

Yang menang membusungkan dada dan yang kalah bak perempuan tua memakan sirih, daun sirih habis, tinggal tembakaunya yang masih dikunyah-kunyah.

Orang-orang Silungkang Diabad 21
(Silungkang People Must Be Brave To Up Side Hand Down)

Mengkritisi PKS., maaf … tentu maksudnya ketua PKS, kalau kita perhatikan latar belakang ketua PKS ini, lahir di Silungkang, kecil dibawa merantau oleh orang tuanya ke Medan, SD, SMP dan SMU di Medan, kuliah di Jakarta. Bekerja dan berusaha, bukan dalam lingkungan Silungkang. Bidang usahapun berlainan dengan kebiasaan orang-orang Silungkang, bergaul selama sekolah di Medan dengan komunitas “Batak” tapi tidak kelihatan pengharuh “Batak”-nya, dia supel, demokrat dan moderat. Menurut kami PKS belum pernah mempunyai ketua yang seperti ini.

Banyaknya balon (lebih dari satu) Wako – Wawako, orang belum tentu menilai kita tidak bersatu, bukan Bapak Emil Salim saja yang menilai kita bersatu, banyak yang lain.

Kita bisa belajar dari cara pemerintahan kita di zaman Soeharto, yang memproteksi pengusha-pengusaha nasional, waktu datang krisis karena globalisasi, pengusaha-pengusaha nasional tidak bisa bersaing, oknum pemerintah korup dan pengusaha menyuap, akhirnya semuanya berantakan, jangan hendaknya Silungkang ini seperti Indonesia kita sekarang.

Jangan pula kita hanya terkesan dengan kata-kata keputusasaan Eva Peron dalam sebuah lagu “Don’t Cry For My Argentina”.

Sampai sekarang lagu itu masih dipopulerkan Madonna, kita tak pernah kenal dengan siapa Eva Peron dan Madonna itu ? Coba kita berpedoman kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana nama beliau kita sebut-sebut setidak-tidaknya 29 x sehari dalam shalat 5 waktu dan lagi beliau itu ada tertulis dalam AI-Qur’an. Mengapa beliau sampai menangis waktu akan meninggal dunia dan berkata : ummati, ummati, ummati, begitu perhatian Nabi Muhammad SAW pada umatnya. Putus asa apa hukumnya ? Haram.

Buletin Silungkang jangan hanya terbit untuk kepentingan sesaat tetapi berlanjut untuk kepentingan orang Silungkang yang dirantau dan yang di kampung dengan harga yang bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, semoga …

Sekarang ilmuan Silungkang sudah banyak di Jakarta dan di kota-kota lainnya, bahkan di mancanegara. Dalam berbagai disiplin ilmu, mintalah kepada mereka sumbangan pikiran untuk ditulis dalam buletin Silungkang. Tentu, dengan tulisan dan kata-kata yang menyejukan dan juga artikel-artikel (rubrik) yang dibutuhkan oleh pelajar, mahasiswa Silungkang dan ditulis pula pengalaman-pengalaman orang Silungkang yang bisa menjadi pelajaran bagi pembacanya.

Apalagi ada ruangan agama terutama di bidang zakat, penulisannya itu ‘bak azan bilal’ sahabat Nabi Muhammad, yang suaranya itu menghimbau orang segera sholat.

Bisa jadi buletin Silungkang itu kelak bak harian Republika yang mempunyai dompet dhuafa untuk orang Silungkang yang berkekurangan dan mengajak orang Silungkang untuk berdoa dan menangis serta berbut, beramal untuk kemaslahatan kampung kita, jauh dari berkorban karena ada sesuatu di belakangnya. Amin ya robbal ‘alamin.

Billahitaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

“Mucho Gracias Amigo – Arigato Gozaimatsu Tomodachi”

Esemmes

Tembusan dikirim kepada Yth.
1. Tabloid KOBA
2. Koordinator LAZ / PKS
3. PT. Estetika (Percetakan)
4. Sdr. Fadil Abidin (Pengajian PKS)

Alkisah, lebih kurang tahun 1600 Masehi, ada sebuah kerajaan kecil yang diperintah oleh seorang Raja yang memerintah dengan adil dan bijaksana, rakyatnya hidup rukun dan damai.

Kerajaan kecil tersebut bernama Kerajaan Sitambago, sesuai dengan nama rajanya Sitambago. Daerah kekuasaannya di sebelah utara berbatas dengan nagari Kolok, di sebelah Timur berbatasan dengan Bukit Buar / Koto Tujuh, di sebelah selatan berbatas dengan nagari Pamuatan dan di sebelah barat berbatas dengan nagari Silungkang dan nagari Kubang.

Kerajaan Sitambago mempunyai pasukan tentara yang kuat dan terlatih. Pusat kerajaan Sitambago berada di sebuah lembah yang dilalui oleh sebuah sungai yang mengalir dari Lunto, pusat kerajaan Sitambago tersebut diperkirakan berada di tengah kota Sawahlunto sekarang. Sudah menjadi adat waktu itu, nagari-nagari dan kerajaan-kerajaan berambisi memperluas wilayahnya masing-masing, memperkuat pasukannya dan menyiapkan persenjataan yang cukup seperti tombak, galah, keris, parang, panah baipuh (panah beracun) dan lain-lain, senjata tersebut digunakan untuk menyerang wilayah lain atau untuk mempertahankan diri apabila diserang.

Di Silungkang / Padang Sibusuk, pasukan Gajah Tongga Koto Piliang disamping mempunyai senjata tombak, keris, galah, parang dan panah juga punya senjata yang tidak punyai oleh daerah lain, yaitu senjata api SETENGGA, senjata api standar Angkatan Perang Portugis. Orang Portugis yang ingin membeli emas murni ke Palangki harus melalui Buluah Kasok (Padang Sibusuk sekarang) dan berhadapan dengan Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang terlebih dahulu, entah dengan cara apa, senjata api SETENGGA lengkap dengan peluruhnya berpindah tangan ke Pasukan Gajah Tongga Koto Piliang.

Guna memperluas wilayah, diadakanlah perundingan antara Pemuka Nagari Silungkang / Padang Sibusuk dengan pemuka Nagari Kubang untuk menyerang kerajaan Sitambago, maka didapatlah kesepakatan untuk menyerang kerajaan Sitambago tersebut, penyerangan dipimpin oleh Panglima Paligan Alam. Strategi penyerangan diatur dengan sistim atau pola pengepungan, dimana tentara Silungkang / Padang Sibusuk mengepung dari daerah Kubang Sirakuk dan tentara Kubang dari jurusan Batu Tajam dan dataran tinggi Lubuak Simalukuik, dengan sistim atau pola pengepungan tersebut akan membuat tentara Sitambago tidak dapat bergerak dengan leluasa.

Maka tibalah hari H pertempuran, kerajaan Sitambago telah dikepung, tentara dan penduduk kerajaan Sitambago jadi panik, ruang gerak semakin sempit. Melihat kepanikan tersebut, agar tidak terjadi pertumpahan darah dan korban yang banyak, Panglima Paligan Alam menyerukan supaya Raja Sitambago beserta tentara dan rakyatnya menyerah, namun seruan niat baik Panglima Paligan Alam itu tidak digubris sedikitpun oleh Raja Sitambago, malahan Raja Sitambago siap untuk berperang, terbukti dihimpunnya balatentara dengan jumlah yang besar dan dikibarkannya bendera perang, pasukan langsung dipimpin oleh Raja Sitambago dengan gagah berani dan terjadilah pertempuran yang sengit.

Secara perdana, untuk jolong-jolong kalinya tentara Silungkang / Padang Sibusuk mempergunakan senjata api SETENGGA, suara letusan senjata SETENGGA menggelegar dan balatentara beserta penduduk kerajaan Sitambago baru kali ini mendengar letusan yang dahsyat serta membuat ciut hati mereka. Banyak tentara dan penduduk kerajaan Sitambago yang tewas akibat peluru SETENGGA, termasuk Raja Sitambago tersungkur bersimbah darah terkena tembakan senjata SETENGGA yang kemudian senjata tersebut dinamakan oleh mereka senjata HANTU TOPAN. Tentara dan penduduk kerajaan Sitambago mundur dan lari kocar-kacir meninggalkan wilayahnya, pusat kerajaan dan kemudian dikuasai oleh balatentara Panglima Paligan Alam.

Setelah perang usai, balatentara Silungkang / Padang Sibusuk dan Kubang yang dipimpin oleh Panglima Paligan Alam kembali ke nagari masing-masing, sedangkan wilayah pusat kerajaan Sitambago (kota Sawahlunto sekarang) terbiar begitu saja. lahan yang terbiar dan terlantar itu dimanfaatkan oleh anak nagari Lunto untuk bercocok tanam, dibuatlah persawahan, sehingga wilayah tersebut menjadi SAWAH yang digarap oleh orang Lunto. Sementara kepemilikan dan hak tanah tetap berada pada anak nagari Silungkang / Padang Sibusuk dan anak nagari Kubang yang telah memenangi peperangan dengan kerajaan Sitambago.

Disisi lain kaum keturunan Sitambago masih ada sampai sekarang disekitar daerah Pamuatan dan Santur.

Kisah ini disajikan oleh Djasril Abdullah untuk kedua kalinya yang sebelumnya dimuat pada Buletin Silungkang-Koba Anak Nagori edisi Desember 2002 / Januari 2003, halaman 54 yang disalin dan divariasi dari arsip Kantor Wali Nagari Silungkang dan kisah ini diriwayatkan oleh Datuak Podo Khatib kampuang Dalimo Kosiak-Penghulu Kepala Nagari Silungkang. Panggilan akrab beliau ONGKU PALO PENSIUN seiring dengan masa pensiun yang beliau jalani sejak tahun 1914 sebagai Penghulu Kepala. Beliau menyampaikan kisah ini secara lisan kepada dua orang tokoh Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia yang kini sudah almarhum yaitu SULAIMAN LOBAI dan M. SALEH BAGINDO RATU. Selanjutnya kisah ini ditulis untuk pertama kalinya oleh M. SALEH BAGINDO RATU.

Sumber : Suara Silungkang – Edisi Kesembilan Maret 2008

Pendidikan Al Qur’an di Kecamatan Silungkang terdapat 25 TPA dan 3 TPSA

  1. TPA Nurul Huda terletak di Puskesmas desa Silungkang Oso, muridnya 75 orang, gurunya 2 orang.
  2. TPA Nurul Ikhlas di Sungai Cocang desa Silungkang Oso, muridnya 30 orang, guru 1 orang
  3. TPA Taqwa di Lubuk Kubang desa Silungkang Oso, muridnya 26 orang, gurunya 1 orang.
  4. TPA Surau Manggis di Sawah Juai desa Silungkang Oso, muridnya 80 orang, guru 1 orang.
  5. TPA Baiturrohim di Tanah Sirah desa Silungkang Duo, muridnya 75 orang, guru 3 orang.
  6. TPA Talang Tulus terletak di Bukit Kecil desa Silungkang Duo, muridnya 30 orang, guru 1 orang.
  7. TPA Al-Islah di Kutianyir desa Silungkang Tigo, murid 35 orang, guru 3 orang.
  8. TPA Nailus Sa’adah di Sungkiang desa Silungkang, murid 20 orang, guru 1 orang.
  9. TPA Babussalam terletak di desa Silungkang Tigo, murid 35 orang, guru 3 orang.
  10. TPA Muhammadiyah di Surau Godang desa Silungkang Tigo, murid 160 orang, guru 2 orang (sama dengan murid SDM).
  11. TPA Madrasah Al Quraniyah di Surau Palo, desa Silungkang Tigo, murid 112 orang, guru 5 orang.
  12. TPA Al Maghfiroh di Batu Bagantuang, desa Silungkang Tigo, murid 25 orang, guru 1 orang.
  13. TPA Nurul Hikmah di Batu Mananggau, desa Silungkang Tigo, murid 30 orang, guru 1 orang.
  14. TPA Thoharroh di Gapersil, desa Silungkang Tigo, murid 35 orang, guru 1 orang.
  15. TPA Mujahiddin di Sawah Taratak, desa Muaro Kalaban, murid 90 orang, guru 4 orang.
  16. TPA Al-Falah desa Muaro Kalaban, murid 110 orang, guru 4 orang.
  17. TPA Babussalam, dekat kantor KUA Muaro Kalaban, murid 20 orang, guru 1 orang.
  18. TPA Al-Hidayah, dekat kantor Koramil, desa Muaro Kalaban, muridnya 45 orang, guru 2 orang.
  19. TPA Al-Mukminin, di Air Dingin, desa Muaro Kalaban, murid 30 orang, guru 1 orang.
  20. TPA Al-Mukhlisin, di Simpang Taratak Bancah, muridnya 30 orang, guru 1 orang.
  21. TPA Nurul Hikmah, di Sungai Laban, desa Muaro Kalaban, murid 75 orang, guru 4 orang.
  22. TPA An-Nur, di Batu Pipik, desa Muaro Kalaban, muridnya 30 orang, guru 1 orang.
  23. TPA Arrahman, di Simpang Kubang, desa Muaro Kalaban, murid 35 orang, guru 2 orang.
  24. TPA Al-Hidayah, di Mesjid Taratak Bancah, muridnya 54 orang, guru 2 orang.
  25. TPA Taqwa, di desa Taratak Bancah, muridnya 24 orang, guru 1 orang.
  26. TPSA Madrasah Al Quraniyah terletak di Surau Palo desa Silungkang Tigo, murid 26 orang, guru 1 orang.
  27. TPSA Al-Falah, terletak di Masjid Al-Falah Muaro Kalaban, murid 45 orang, guru 1 orang.
  28. TPSA Masjid Raya terletak di Raya Silungkang Tigo, murid 85 orang, guru 1 orang.

Rekapitulasi :

  1. 4 buah TK di Kec. Silungkang, muridnya 98 orang, gurunya 10 orang.
  2. 13 buah SD di Kec. Silungkang, muridnya 1.390 orang, gurunya 82 orang.
  3. 28 buah TPA/TPSA di Kec. Silungkang, muridnya 1.342 orang, gurunya 51 orang.

YAYASAN / ORGANISASI SETINGKAT YAYASAN YANG BERBADAN HUKUM PENYELENGGARA PENDIDIKAN DI KECAMATAN SILUNGKANG

  1. Yayasan Sekolah Dagang Islam, menyelenggarakan SLTP dan SMU/SDI.
  2. Yayasan Pendidikan Muaro Kalaban, menyelenggarakan SMU Swasta Muaro Kalaban.
  3. Pimpinan Muhammadiyah Cabang Silungkang, menyelenggarakan SD, TPA dan SLTP.
  4. Pimpinan Aisyiyah Cabang Silungkang, menyelenggarakan TK Aisyiyah.
  5. Yayasan Pendidikan Silungkang Badan Penyandang Dana TPA, SD dan SLTP Muhammadiyah.
  6. Yayasan Nurul Huda, menyelenggarakan TK dan TPA Nurul Huda.
  7. Yayasan Al-Islah, menyelenggarakan TK dan TPA Al-Islah.
  8. Yayasan Babussalam penyelenggara TPSA Masjid Raya Silungkang.

Tamat

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

  1. SLTP Negeri 06 terletak di desa Muaro Kalaban
  2. SLTP SDI terletak di Silungkang Tigo
  3. SLTP Muhammadiyah terletak di Silungkang Tigo

Disamping itu ada 5 SLTP terbuka, dimasing-masing desa

Sekolah Menengah Umum

  1. SMU / SDI di desa Silungkang Tigo
  2. SMU Swasta Muaro Kalaban yang direncanakan tahun 1999 akan menjadi SMU Negeri

Bersambung ….

Oleh H. Abu Nawar (Dalimo Jao)

Perantau Silungkang pertama kali menginjak bumi Surabaya tahun 1930 dipelopori oleh Bapak P. Basir (Tanah Sirah) membuka toko tekstil di Tunjungan. Disusul perantau Silungkang lainnya yaitu Bp. Tayeb Saleh (Panay) dan Bp. M. Usman (Sawah Juai), keduanya di Wonokromo. Bp. M. Saini (Talak Buai) di Keputran, Bp. M. Noor (Guguek) di Blauran, H. Hasan Basri (Dalimo Tapanggang) di Praban, Bp. Salim Djalil (Dalimo Tapanggang) di Slompretan, dan sebagainya. Mereka semua membuka toko tekstil. Para perantau bertujuan datang ke Surabaya untuk mencari nafkah, dipilihnya kota Surabaya karena saat itu Surabaya sebagai kota transit perdagangan/pusat perdagangan.

Sebelum pendudukan tentara Jepang (1942), perantau masih merasa aman dibawah pemerintaha Belanda. Saat itu tidak ada pembebanan listrik, air, kebersihan, pajak dan keamanan terhadap warga negara Indonesia, semua ditanggung pemerintah Belanda. Namun deskriminasi dan tidak adanya persamaan hak antara orang Belanda dengan orang Pribumi itulah yang membuat bangsa Indonesia merasa terinjak-injak hak asasi manusianya, mereka berjuang untuk merebut kembali tanah air Indonesia tercinta, MERDEKA ATAOE MATI.

Masuknya tentara Jepang ke Indonesia khususnya ke Surabaya membuat para perantau Silungkang banyak yang mengungsi, namun hanya dalam waktu singkat mereka kembali lagi. Bapak Abu Nawar mengisahkan bahwa beliau mengungsi ke daerah Tretes, bertempat tinggal di kediamanan Organisasi Silungkang. Pengungsi hanya berbekal baju seadanya sedangkan harta benda yang lain (rumah dan toko) ditinggalkan begitu saja. Beliau mengungsi tidak kurang dari 1 bulan, selanjutnya kembali ke Surabaya dan membuka toko baru, karena toko semula sudah diambil oleh orang WNA (Cina).

Semenjak perjuangan, Bp. Abu Nawar ikut berjuang baik perjuangan di Jembatan Merah, Don Boscho, Hotel Yamatho, Rungkut, Panjang Jiwo dan sebagainya. Perantau Silungkang, Bpk. Basir (Malowe) gugur sebagai pejuang saat Agresi Militer I.

Kedatangan sekutu pasca kemerdekaan (1945), membuat para perantau banyak yang mengungsi kembali. Bpk. Abu Nawar mengungsi ke Blitar sampai tahun1948, diteruskan perjalannya ke Silungkang, beliau berdagang ke Jambi. Yang menarik disini, beliau ke Jambi, menumpang di M. Yunus di kebun kelapa Jambi karena uang ORI tidak berlaku saat Belanda masuk. Pak Abu hanya makan daun singkong disekitar kediaman. Liku-liku beliau untuk berusaha kembali ke Surabaya merupakan hal yang tidak masuk akal. Dimulai dari permohonan ke Camat (Raden Syahrudin) untuk meminta ijin kembali ke Surabaya, yang tidak dikabulkan, dilanjutkan ke Residen Jambi dan kepolisian Jambi tetap baru dapat ijin. Tiba suatu saat, truk berpenumpang tentara Belanda menuju ke Pelabuhan Pal Merah, beliau “menggandol” truk tersebut dengan dua orang awak sampai ketujuan. Tentara Belanda dalam truk tersebut plus tiga orang awak menumpangi pesawat menuju Palembang. Akhirnya dari Palembang setelah menghubungi Surabaya, beliau diperbolehkan kembali ke Surabaya dengan kapal laut.

Di Surabaya, beliau menetap di rumah M. Usman (Sawah Juai) di toko Indonesia kapasan. Dan mulailah kembali usaha toko beliau (tahun 1950).

Demikianlah sekelumit kisah sejarah yang dialami Bapak Abu Nawar dan para perantau Silungkang yang ada di Surabaya. Semoga dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para pembaca. (HAR).

Dari Sawahlunto, kereta api berangkat pukul 10.00. Ini adalah rit yang kedua. Tampaknya tak ada yang berminat bergelantungan. Kereta memang tidak menyediakan gerbong penumpang. Yang ada cuma gerbong besi hitam berisi batu bara. Inilah yang dinamakan “Mak Itam”.

Jejeran gerbong ditarik oleh sebuah diesel. Satu dari 29 diesel yang ada dijajaran Perumka Sumbar.

Baru saja keluar dari stasiun Sawahlunto, kereta sudah memasuki terowongan. Selama lebih kurang sepuluh menit di dalam lubang gelap itu, membuat pemandangan jadi kabur. Keluar dari terowongan, pakaian jadi kumal. Penuh debu hitam batu bara.

Kereta tidak berhenti di stasiun Muaro Kalaban tetapi terus saja melaju. Stasiun-stasiun kecil sepanjang rel dilewati. Pemandangan cukup indah. Berkali-kali rel memutus jalan Lintas Sumatra yang mulus dan ramai oleh bus jarak jauh. Sepanjang jalan tampak bukit-bukit karang yang tandus. Hanya dibeberapa puncak tertentu yang ada pohon pinusnya. Rel kereta seolah berada dalam lembah yang panjang. Di kedua sisinya berjejer bukit sambung-menyambung.

Petani Minang yang ulet dan tak kenal lelah, menarah bukit sampai ke pinggang, membentuk jenjang-jenjang hijau yang kecil. Tipografi tanah tampaknya kurang menguntungkan untuk bertani.

Di stasiun Solok, kereta berhenti. Bagi saya ini adalah perjalanan nostalgia. Dahulu, tiap lebaran selalu begini. Saat itu pihak Perumka menyediakan gerbong penumpang. Suasana lebaran berlangsung selama seminggu, selama pesta Danau Singkarak berlangsung. Saat itu penumpang membeludak bahkan ada yang naik ke atap.

Kini peminatnya tidak seramai dahulu. Ada perasaan rendah diri penduduk bila naik “Mak Itam”. Memang, angkutan bus jauh lebih maju. Jalan-jalan mulus sampai ke pelosok. Trayek kereta api yang khusus menyediakan gerbong penumpang hanya antar Padang – Naras (Pariaman). Padahal rel sepanjang 196 km, peninggalan Belanda ini sangat potensial untuk alat transportasi murah.

Dari Solok, deretan gerbong mulai bergerak. Sekarang pemandangan lain. Yang tampak adalah hamparan sawah yang luas dan datar. Sedangkan di sebelah kanan bukit-bukit yang agak rendah dan ditumbuhi ilalang.

Memasuki danau Singkarak, pemandangan menjadi menawan. Rel kereta api melintasi belahan timur pinggir danau yang luasnya 13.011 ha dan merupakan danau terbesar di Sumatra Barat. Selain danau ini ada tiga danau lagi yang telah dijadikan sebagai objek wisata yaitu Danau Maninjau, Danau Di Atas dan Danau Di Bawah.

Beberapa orang turis asing tampak mandi dan berenang di tempat yang dinyatakan sebagai objek wisata seperti di Singkarak, Tanjung Mutiara, dan Ombilin. Di pinggir danau ini baru ada 2 buah hotel yang layak untuk turis yaitu Hotel Jayakarta dan Minang Hotel di Ombilin.

Di sepanjang jalur pinggir danau, antara bus dan kereta api seperti berlomba. Jalurnya memang sejajar. Rel kereta api diatas sedangkan jalan raya di bawah.

Di tempat-tempat tertentu yang merupakan tepian penduduk, gadis-gadis pinggir danau kelihatan sedang mandi dan mencuci. Beberapa anak berenang sampai ketengah.

Dahulu kami menamakannya sebagai puteri duyung dan melempari dengan batu bara, kayu, dan sandal jepit. Mereka membalas dengan sorakan mengejek, mencibir, dan menunggingkan pantatnya.Sebagai objek wisata, Danau Singkarak cukup menjanjikan. Namun pengelolaannya tampak belum merata. Di sepanjang pinggir danau, rumah-rumah liar semakin banyak. Tiangnya dipanjangkan ke dalam air. Juga rumah makan dan restauran tumbuh tak beraturan, sehingga menimbulkan kesan kumuh.

Di stasiun Batu Tebal, kereta api berhenti. Diesel penarik gerbong ditambah. Kini diesel menjadi dua, yang satu di depan dan lainnya di belakang untuk mendorong sebab jalan mulai menanjak. Rel kereta api bagian tengahnya juga diberi gir.

Tanjakan berakhir di stasiun Padang Panjang. Di sana kereta berhenti. Dari sini perjalanan mulai menurun memasuki Lembah Anai. Di Lembah Anai perjalanan menjadi mengerikan. Rel melayang di atas jalan raya, di atas sungai, di atas lembah, dan menembus bukit, memasuki terowongan. Namun demikian, pemandangan Lembah Anai yang terkenal indah dengan air terjunnya yang curam kelihatan cukup jelas. Cukup menawan.

Memang cukup beralasan pemerintah Sumatra Barat menggalakkan kereta api angkutan khusus turis. Ruas-ruas jalan yang ditempuh oleh jalur kereta sangat menarik dan bisa merupakan salah satu paket tujuan wisata.

Tiba di stasiun Sicincin, perjalanan mulai mendatar dan di kiri kanan yang ada cuma pohon kelapa, rawa, dan sawah. Kereta terus melaju menuju Padang. Pukul sepuluh malam baru tiba di Teluk Bayur dengan tubuh yang tak karuan. Seandainya saya naik kereta api turis tentu keadaannya menjadi lain.

Sumber : No Name, from Buletin Silungkang tahun 1998

Laman Berikutnya »