Seni


Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya. Berawal dari situ mulai orang Silungkang mencoba berwarung-warung minuman dan makanan dilingkungannya, dari berdagang minuman dan makanan setapak demi setapak mereka maju, dan mulailah berdagang barang-barang lain dari satu desa ke desa lainnya dari satu nagari ke nagari lainnya dari satu daerah ke daerat lainnya, ternyata berdagang cocok untuk orang Silungkang sehingga sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera dan sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam (Thailand) sekarang. Di negeri Siam inilah perantau Silungkang dapat belajar bertenun dan setelah mereka pandai dan mengerti cara bertenun sewaktu mereka kembali ke Silungkang, ilmu bertenun ini mereka ajarkan kepada kaum ibu di Silungkang dan semenjak itu mulailah beberapa orang wanita Silungkang bertenun songket, pada awalnya bertenun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, kemudian mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari.

(lebih…)

Mendukung para keponakan bermusik, ambo baritahukan jadwal panggung mereka di Jakarta Rock Parade sebagai berikut :

Tanggal 18 Juli, hari Jumat, akan tampil bersama group LAST WARNING dari Austria.

Tempat : BACK STAGE Ancol
Waktu : 20.00 WIB
Support dari teman semua merupakan modal utama kami.

salam GRIBS
Reza : Vocal
Arief : Bass
Dion : Gitar
Rashta : Dram

MySpace.com/ gribsrock
MySpace.com/ anakangin
RUMAH MUSIK INDONESIA

Sumber Jadwal berasal dari : Remmy Soetansyah

Berita di Suara Merdeka :

Muda dan Ngerock

SATU dari sedikit grup band yang patut dicatat dari Jakarta Rock Parade 2008, Jumat-Minggu (11-13/7), adalah Grib. Di empat panggung yang tersebar di Tennis Indoor dan Outdoor Senayan, Grib yang tampil di Rock Lounge setelah Monkey to Millionare, Idealego, menawarkan warna tersendiri.

Tak sebagaimana band sesudahnya seperti Bite, Acid Speed, IMI, The Adams dan Denovement, mereka menawarkan sikap bercita rasa rock. Rezanov, sang vokalis yang bercitra tak ubahnya vokalis rock era 70 atau 80-an seperti Robert Plant (Led Zeppelin), Ian Gillan (Deep Purple), atau David Coverdale (White Snake), misalnya, menyajikan tontonan tersendiri.

Gion (Gitar), Rashta (drum), dan Arief (bas) nyaris setali tiga uang. Untuk alasan kemiripan gaya dandan itulah, grup band yang bernaung di bawah manajemen Rumah Musik Indonesia tersebut menamakan diri Gribs: gondrong kribo bersaudara.

Ya, keempat personel yang punya ikatan saudara itu tak cuma jual tampilan. Musik adalah perhatian utama mereka. Lagu cadas yang diyakini tak sejalan dengan selera pasar yang lebih pop dan mudah dengar tetap mengalir dengan garang dan solid.

Pada “Ruang Besi”, “Pejuang” dan “Malam Frustasi”, harmonisasi nuansa rock cadas kental sekali. ”Mengingatkan pada corak Motley Crue,” komentar pengamat musik Remmy Soetansyah.

Sisanya, musik mereka meraung dan berlarian kencang. Tak ayal, perhatian puluhan orang yang lalu lalang pun terpantik untuk menonton aksi mereka. Ya, ya, Grib memang punya cita rasa tersendiri.

Bukan tak mungkin grup band yang dibimbing rocker dan vokalis Elpamas, Doddy Katamsi, itu bakal berbicara lebih banyak kelak. Superglad, The Upstair, dan Shaggy Dog yang tampil di Park Stage pada kemunculan perdana pun belum jadi magnet. Namun karena tekun berkarya, seperti The Changcuters, Pas Band, Suckerhead, dan Koil yang tampil di Tennis Outdoor, mereka akhirnya meraih kesuksesan.

Apalagi Gilang Ramadhan dan Donny Suhendra pun turut campur mematangkan musikalitas mereka. Grib juga mengikuti workshop di Malang bareng Eet Syahrani, Adit Element, dan musikus lain.

Karena mereka berani tampil dan menyetiai rock yang cenderung dijauhi produser kaset, bos Deteksi Production, promotor Soundrenaline, memberi kesempatan Grib tampil pada Sound-renaline 2008.

”Tampil di dua kota pada ajang seakbar Soundrenaline 2008 adalah pencapaian tersendiri,” ujar Rezy, manajer Grib. Dia akan memimpin pasukannya bermain di Malang (3/8) dan Yogya (10/8). (Benny Benke-53)

BAGIAN PERTAMA
BAGIAN KEDUA
BAGIAN KETIGA
BAGIAN KEEMPAT
BAGIAN KELIMA
BAGIAN KEENAM
BAGIAN KETUJUH

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang Bekerja Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

BAGIAN KEDELAPAN

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Dalam perjalanan menuju Malaysia tidak banyak percakapan yang terjadi karena suasana hati masih mengandung kesedihan, bayangan almarhum semasa hidup selalu menjelma diingatan dan suaranya masih terngiang ditelinga.

Biasanya disepanjang jalan kami selalu menikmati keindahan alam yang dilewati, tapi kali ini pemandangan yang indah itu berlalu begitu saja, cuacapun mendung, hujan tidak panaspun tidak. Tanpa terasa dikarenakan perasaan hampa, kami telah mendarat di pelabuhan Melaka. Di Melaka saya sengaja belum mencari kendaraan menuju Seri Menanti, saya bawa isteri dan anak saya jalan-jalan melihat objek wisata serta peninggalan sejarah, setelah puas barulah saya menuju ketempat perhentian taksi yang tak jauh dari pelabuhan. Kami naik taksi menuju Seri Menanti lewat Tampin, jadi kami tidak melalui Seremban karena jalannya jauh dan berbelit-belit. Jalan yang ditempuh Melaka – Tampin – Kuala Pilah – Seri Menanti jauh lebih pendek dari Melaka – Seremban – Kuala Pilah – Seri Menanti.

15 Maret 1999 kami kembali sampai di Seri Menanti, tetangga, teman sekerja dan orang-orang yang kami kenal ikut menyampaikan duka cita, karena kami sudah dianggap oleh mereka sebagai keluarga sendiri, karena kami juga apabila ada kemalangan disana kami menyempatkan diri hadir untuk takziah dan berdoa, asal kami tahu ada kemalangan di tetangga ata orang-orang yang kami kenal, kami tetap berusaha untuk datang, tak kira yang meninggal itu rakyat biasa atau kerabat raja.

Tidak saja sewaktu kemalangan, berhelat kawin, acara adat di kampung-kampung pun kami sering diundang dan dengan senang hati kami menghadirinya. Begitu juga halnya dengan keluarga kerajaan, sewaktu T. Khursiah meninggal saya ikut mengantar ke Makam Diraja, selesai penguburan saya juga ikut membaca yasin, tahlil dan berdoa. T. Khursiah adalah Permaisuri Tuanku Abdul Rahman. Di hari raya Idul Fitri, sesudah shalat hari raya saya juga pergi ke Istana Besar menjamu selera, karena waktu itu Istana Besar terbuka untuk umum, seluruh lapisan masyarakat bersilaturahmi di halaman Istana Besar Seri Menanti. Ini semua saya lakukan supaya saya dan keluarga membaur dengan masyarakat, sebagaimana pepatah mengatakan “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, disamping itu kesempatan tersebut saya gunakan untuk menambah pengetahuan saya tentang pengamalan Adat Perpatih di Negeri Sembilan serta membandingkannya dengan pengamalan Adat Minangkabau di Sumatera Barat. Saya merasa beruntung sekali bekerja di Seri Menanti, karena disinilah pusat kegiatan Upacara Adat Perpatih, jadi dengan mudah saya dapat mengamati pelaksanaan upacara tersebut dan saya pun juga dibawah ikut serta menjadi Urus Setia (Panitia).

Kami mulai bekerja seperti biasa, di samping itu acara demi acara juga berlangsung di sekitar tempat kami bekerja, kegiatan latihan Caklempong oleh Putera/Puteri Seri Menanti dan juga latihan Rebana oleh orang dewasa ditambah lagi dengan adanya Shooting Sinetron TV dan Shooting Iklan TV serta Shooting Video Klip juga ada Pameran oleh instansi pemerintah, kesemua itu menambah semarak suasana.

Caklempong dengan lagu Minang, Rebana dengan pukulan Rentak Melayu, Rentak Arab dan Rentak India sungguh mengasyikkan.

Pada suatu hari datang satu bus pengunjung dari negara India, semuanya sebaya, pemuda- pemuda tampan dan gadis-gadis cantik seperti aktor dan aktris Bollywood, pertama sekali mereka menuju ke tempat kumpulan rebana latihan, seorang diantara mereka yang mungkin sebagai ketua rombongan berbicara dengan salah seorang anggota kumpulan rebana, mereka berbicara dengan salah seorang anggota kumpulan rebana, mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris, nampanya mereka ingin menyumbangkan sebuah lagu dan tari-tarian India serta mengajarkan rentak pukulan rebana yang diinginkan atau yang sesuai dengan lagu yang akan dinyanyikan. Maka mulailah dipalu rebana dengan serentak oleh anggota kumpulan rebana yang jumlahnya 10 orang, diikuti oleh seorang pemuda menyanyikan lagu India (berbahasa Urdu) dan pemuda-pemuda serta gadis-gadis lainnya menari dengan riangnya seperti yang kita lihat pada film-film India.

Tersentuh juga hati saya melihatnya, karena saya juga hobby nonton film India, biasanya saya melihat melalui layar bioskop-bioskop atau layar kaca televisi, sekarang langsung melihatnya. Panjang juga lagu yang dinyanyikannya, setelah berhenti semuanya bertepuk tangan. Saya maju kedepan menyalami penyanyi sambil berkata kepadanya supaya ditambah nyanyinya lagi, dia minta maaf tidak bisa, waktunya terbatas karena sudah diatur jadwal.

yamtuan5.jpgAwal bulan April 1999, terlihat kesibukan-kesibukan di Istana Lama dan di Istana Besar Seri Menanti, suatu acara yang langka dan diadakan pada hari Sabtu, 24 April 1999 yaitu acara ISTIADAT KEBERANGKATAN BALIK DULI YANG MAHA MULIA SERI PADUKA BAGINDA YANG DI-PERTUAN AGONG, SETELAH TAMAT TEMPOH BERTAKHTA SEBAGAI DULI YANG MAHA MULIA SERI PADUKA BAGINDA YANG DI-PERTUAN AGONG KE KE X. Yaitu acara penyambutan kepulangan Tuanku Jaafar ibni Al Marhum Tuanku Abdul Rahman dari Istana Negara Kualalumpur setelah bertakhta selama 5 tahun sebagai Yang di-Pertuan Agung Malaysia dan kembali ke Istana Besar Negeri Sembilan, yang mana jabatan Yang Di-Pertuan Agung selanjutnya digulirkan kepada Raja/Sultan dari Negeri (Propinsi) lainnya, dan bertakhta selama 5 tahun, kecuali meninggal dunia. Raja/Sultan yang akan mendapat giliran tersebut sebanyak 9 orang.

Bisa kita bayangkan bahwa acara penyambutan ini diadakan di Seri Menanti sekali 45 tahun atau hampir setengah abad. Acara penyambutan ini diadakan selama 9 hari 9 malam, penuh dengan Upacara Adat serta Hiburan Kesenian Tradisional, Kesenian Modern juga ada pertandingan-pertandingan Olah Raga.

Pada tanggal 24 April 1999 tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu acara penyambutan Baginda. Pagi-pagi sekali pertama-tama saya mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun kepada salah seorang anak saya yang lahir pada tanggal 24 Aprl 1987, setelah itu baru berangkat menuju halaman Istana Lama, disana sudah ramai orang terutama Pemangku Adat yang sebagian mereka memakai TENGKOLOK DANDAN TAK SUDAH, yaitu destar (deta) kebesaran di Negeri Sembilan. Masyarakat mulai berdatangan, panitia sibuk dengan pekerjaan bagian mereka masing-masing, Seri Menanti penuh dengan hiasan, disepanjang jalan menuju Istana Besar seluruh lapisan masyarakat berbaris di tepi jalan, Pelajar dan Mahasiswa masing-masing membawa bendera Negeri Sembilan dan bendera nasional Malaysia, pertunjukan kesenian tradisional diadakan disepanjang jalan ditambah lagi dengan persembahan Kebudayaan kumpulan Cina, India dan Sikh. Di tepi jalan sebelah kiri dipagari oleh orang-orang pembawa Bunga Manggar sedangkan di tepi jalan sebelah kanan dipagari oleh group Vespa, Motor Klasik dan Mobil Antik.

Tepat pukul 4.45 ptg. (16.45 sore) iring-iringan mobil yang membawa kepulangan Baginda sampai di Seri Menanti, Gendang Perang dan Kompang dipalu silih berganti, tak kalah meriahnya sewaktu gendang Cina, India dan Sikh juga dipalu silih berganti, Puput kelompok Sikh juga dipalu silih berganti, Puput kelompok Sikh meraung-raung diiringi pula oleh seruling kelompok India sungguh indah didengar, rakyat yang berjejar ditepi jalan mengibarkan bendera Negeri Sembilan dan bendera nasional Malaysia yang terbuat dari plastik berukuran kecil.

Setiba di Pintu Gerbang Istana, Baginda dan Permaisuri turun dari mobil dan berjalan menuju Pintu Istana dari mobil dan berjalan menuju Pintu Istana diiringi tiupan seruling dan gurindam, setibanya di Pintu Istana beras kunyit pun ditabur, di Istana diadakan jamuan teh dan dilanjutkan dengan Acara Istiadat Menyimpan Alat-alat Kebesaran.

Pada malamnya pukul 8.30 malam (20.30), di Padang Bola Sepak (lapangan bola kaki) Seri Menanti dan Londa Naga (semacam telaga yang terletak di antara Istana Besar dengan lapangan bola kaki) diadakan persembahan Tatoo dan Ketrampilan oleh ATM (Angkatan Tentera Malaysia) 1 Briged. Persembahan ini mendapat perhatian besar dari pengunjung.

Seri Menanti sangat ramai dikunjungi, siang malam pengunjung silih berganti, para pedagang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual bermacam-macam barang dagangan, disini saya juga mengambil kesempatan untuk menjual Songket Silungkang dan barang-barang souvenir lainnya yang sengaja saya bawa dari Silungkang setiap saya pualng. Songket yang banyak laku waktu itu adalah songket cuki ponuah warna hitam dan warna merah dengan mokou warna emas, saya juga membawa sapu ijuk, karena sapu ijuk sedikit, banyak yang tidak kebagian, sapu ijuk oleh mereka bukan digunakan untk menyapu sampah, tetapi digangunt di dinding sebagai hiasan antik, mainan kunci berbentuk rangkiang (rumah adat Minangkabau) sangat laris terjual untuk digantung di mobil.

Acara demi acara dilaksanakan dengan lancar, aman dan tertib, acara Adat Istiadat, Kesenian Tradisional seperti Caklempong, Randai (ala Negeri Sembilan), Silat dan kesenian tradisional lainnya, dan juga kesenian-kesenian modern seperti persembahan lagu-lagu populer, pementasan drama, persembahan sastra. Disamping itu juga dimeriahkan dengan pertandingan-pertandingan olahraga.

Yang paling berkesan oleh saya adalah persembahan kesenian tradisional GHAZAL yang sengaja didatangkan dari Negeri Johor. Ghazal adalah lagu Melayu asli yang diiringi gabungan alat musik Melayu (biola), Arab (kecapi), India (gendang). Konon kabarnya musik Ghazal ini digunakan oleh Sultan Johor sebagai pengantar tidur. Saya tertarik dengan lagu Ghazal ini dari tahun 1968 lagi, sehingga koleksi kaset saya juga terdiri dari kaset lagu Ghazal. Mengenai kesenian tradisional yang ada di Malaysia, saya juga tertarik dengan Dondang Sayang dari Melaka, Mak Inang Pulau Kampai dari Negeri Sembilan, Dikir Barat dari Kelantan dan Boria dari Pulau Pinang, ini semua dapat saya tonton melalui TV 1 RTM (TV 1 Radio Talivisen Malaysia).

Tuanku Jaafar ibni A-Marhum Tuanku Abdul Rahman adalah satu-satunya keturunan Raja Pagaruyung yang masih berdaulat atau masih di Raja kan dan masih mempunyai Kerajaan yaitu Kerajaan Negeri Sembilan.

Selama Tuanku Jaafar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman bertakhta selama 5 tahun sebagai Yang Di-Pertuan Agong, Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan dijabat oleh Putera Baginda yang tertua Tunku Laxamana Naquiyuddin ibni Tuanku Jaafar Al-Haj dengan gelar Paduka Seri Pemangku Yang Di-Pertuan Besar Negeri Sembilan Darul Khusus. Kepulangan Baginda disambut mesra oleh Paduka Seri Pemangku dengan TITAH ALU-ALUAN (kata sambutan) yang saya salinkan berikut dengan teks sebagaimana aslinya :
Tanggal 24 April 1999 bersamaan 8 Muharram 1420 pasti tercatat sebagai salah satu lagi tarikh dalam sejarah Alam Beraja di Negeri Sembilan Darul Khusus apabila rakyat dari segenap lapisan masyarakat akan menyambut keberangkatan balik, D.Y.M.M. Tuanku Jaafar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman yang menamatkan tempo bertakhta Baginda sebagai Seri Paduka Baginda Yang Di-Pertuan Agong ke X dari 26 April 1994 hingga 25 April 1999.

Peristiwa ini akan disambut dengan penuh adat istiadat menandakan kembalinya Raja yang dikasihi ke pangkuan rakyat negeri, dengan keunikan Adat Perpatih yang menjadi pegangan rakyat Negeri Sembilan Darul Khusus.

Sebagai satu-satunya negeri beradat, pastinya seluruh rakyat yang cintakan Rajanya tidak mau melepaskan peluang untuk bersama-sama meraih peristiwa yang penuh bermakna yang hanya berlaku hampir setengah abad sekali. Apa yang lebih membanggakan Beta, Kerajaan Negeri dengan dokongan pada rakyat dari segala lapisan masyarakat telahpun mengaturkan pelbagai program sebagai tanda kasih untuk menyambut keberangkatan balik Tuanku. Beta yakin, adat yang unik ini akan dapat diteruskan sepanjang zaman karena sesuatu yang datang dari rakyat itu adalah pancaran sebenar hati budi mereka.

Selain daripada acara menyambut keberangkatan balik Baginda, pelbagai acara telah disusun di Daerah Kuala Pilah, antaranya persembahan Tatoo, Larian Raja Melewar. Pementasan peristiwa di Bukit Candu dan pelbagai pertunjukan kebudayaan yang lain.

Pada kesempatan ini, Beta inigin merekamkan setinggi-tingginya penghargaan dan terima kasih diatas kesungguhan yang ditunjukkan oleh pimpinan negeri yang mendapat sokongan padu pihak Pentadbiran dan rakyat keseluruhannya bagi menjayakan adat istiadat ini dengan penuh gilang-gemilang.

Sesungguhnya Beta yakin, sesuatu yang lahir dengan penuh hati yang luhur itu akan membawa keberkatan.

Keterangan dari saya, D.Y.M.M adalah kependekan dari Duli Yang Maha Mulia. Pentadbiran artinya pemerintah atau Yang Berwenang, Beta artinya saya (diucapkan oleh Raja-raja Melayu).

Saya juga sempat menyaksikan pementasan Peristiwa di Bukit Candu, yaitu pertempuran perlawanan rakyat terhadap penjajah. Pementasan ini diadakan di Padang Bola Sepak Seri Menanti dari pukul delapan malam sampai pukul 12.00 malam.

Pada suatu sore Tan Sri Samad Idris datang ke tempat saya bekerja, beliau mengajak saya naik mobilnya. “Pak Djasril, jom (ayoh) kite ke Kuala Pilah sekejap (sebentar)”. “Okey, Tan Sri”, jawab saya. Di Kuala Pilah kami masuk ke sebuah Kedai Minum dan langsung memesan minuman yang disukai masing-masing. “Macam ni Pak Djasril”, kata Tan Sri membuka kata, “Tahun ni adalah dijadikan Tahun Melawat Negeri Sembilan, pelancong tempatan (Malaysia) dan pelancong Antara Bangsa (Manca Negara) datang mengunjungi Negeri Sembilan, terlebih-lebih Istana Lama akan banyak dikunjungi, saye berhajat nak tambah tenun songket empat lagi, dan tentu sahaje ditambah lagi empat pengrajin dari Silungkang, tapi saye inginkan pengrajin yang lepas, kalau perempuan belum punye laki, kalau lelaki belum punye bini, untuk ini saye serahkan pade Pak Djasril macam mane baiknye,” lanjut Tan Sir.

“Baiklah Tan Sri,” jawab saya. “Nanti saya telepon Pak Djasril Munir Pengurus Kopinkra di Silungkang, karena beliaulah nanti yang akan merekrut pengrajin tersebut,” kata saya lagi.

Setelah selesai minum kami langsung saja kembali ke Seri Menanti, sesampainya di Seri Menanti saya terus saja ke kantor Muzium untuk menelepon ke Silungkang yaitu kepada Pak Dasril Munir, saya sampaikan rencana Tan Sri tersebut, Pak Dasril Munir menyambut baik rencana Tan Sri itu, dan akan memberi jawaban seminggu lagi.

Seminggu kemudian saya mendapat kabar dari Silungkang bahwa akan dikirim empat orang pengrajin lagi, semuanya wanita dan belum berumah tangga, 2 orang dari Batu Manonggou, 1 orang dari Sungai Durian dan 1 orang dari Panai Ompek Rumah.

BERSAMBUNG

Cerita Asli dari Djasril Abdullah

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Kedelapan Februari 2008

Tenun Songket merupakan seni budaya spesifik dibelahan benua Asia yang berasal dari daratan negeri Cina, keberadaannya lebih kurang sejak 1000 tahun yang lalu. Dalam kisah perjalanan yang cukup panjang. Tenun Songket setelah itu hadir di Negeri Siam (Thailand), kemudian menyebar ke beberapa negara bagian di Semenanjung Negeri Jiran Malaysia. Seperti ke Selangor, Kelantan, Trengganu dan Brunai Darussalam kemudian menyeberang ke pulau Andalas yaitu ke Silungkang, Siak dan Palembang. Yang mana Songket Silungkang berasal dari Negara Bagian Selangor, sedangkan Songket Pandai Sikek berasal dari Silungkang dan Songket Payakumbuh berasal dari Pandai Sikek. Yang membawa ilmu songket dari Selangor ke Silungkang yaitu Baginda Ali asal Kampung Dalimo Singkek beserta hulubalang beliau yang diperkirakan pada abad ke 16 dan lebih kurang sudah sejak 400 tahun yang lalu.

Pada tahun 1910 Songket Silungkang telah berkiprah di gelanggang Internasional pada Pekan Raya Ekonomi yang berlangsung di Brussel ibukota Belgia. Yang mendemonstrasikan cara bertenun pada waktu itu yaitu Ande BAENSAH dari Kampung Malayu, dan dikala itu hanya dua daerah penghasil Songket dari Indonesia yang ikut didalam Pekan Raya Ekonomi tersebut yaitu Silungkang dan Bali. Seperti Songket Bali itu sendiri berasal dari Negeri Sungai Gangga India. Di tahun 1920, Ismail, Kampung Dalimo Godang, adik dari Ongku Palo pergi merantau kenegeri Indo Cina, seperti Vietnam, Birma dan Laos yang membawa barang dagangan berupa kain Songket, kain Batik, kain Lurik serta kain sarung Bugis dari Makasar.

Kemudian menyusul pada tahun 1921 yaitu Muhammad Yasin kampung Panai Empat Rumah pergi merantau ke Calcutta sebuah kota yang terletak diujung pantai timur India, membawa barang dagangan yang sejenis dengan barang dagang yang dibawa Ismail ke Indo China. Apa kata Om Frans dari Maluku, bagi kami orang Maluku belum bisa dibilang Dehafe (Elite) apabila salah satu keluarga disana belum menyimpan sekurang-kurangnya 20 helai kain Songket tenunan Silungkang. Begitu juga pakaian adat perkawinan di Minahasa Sulawesi Utara, seperti penganten wanitanya juga memakai kain Songket tenunan Silungkang, yang mana warga dari kedua daerah tersebut sangat bangga sekali memakai kain Songket tenunan Silungkang, sebagaimana bangganya masyarakat Minangkabau memaki kain sarung Bugis dari Makasar. Di era tahun 50-an, Abidin kampung Dalimo Godang berdagang kain Songket dengan mempergunakan jasa Pos dan mengirimkan dengan pos paket ke berbagai kota di Indonesia, antara lain : Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.

Masih pada era yang sama, Songket Silungkang hadir sebagai peserta di arena Pasar Malam dibeberapa kota besar di pulau Jawa, seperti pasar malam Gambir di Jakarta, pasar malam Andir di Bandung, pasar malam Simpang Lima di Semarang, pasar malam Alun-Alun di Yogyakarta, pasar malam Yand Mart di Surabaya.

Pada tahun 1974 diruangan Bali Room Hotel Indonesia Jakarta diadakan pameran Industri Kecil yang diselenggarakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) pimpinan DR. Dewi Motik Pramono.

Dari sekian banyak hasil kerajinan industri kecil dari seluruh Nusantara yang dipamerkan pada waktu itu, merasa kagum dan bangga akan Nagari Silungkang, setelah melihat didalam sebuah kotak kaca, disana tersimpan sehelai kain Songket karya anak nagari yang telah berumur 234 tahun pada waktu itu, warna dasar merah hati ayam yang memakai benang Mokou Bulek Soriang tak sudah, bermotif Pucuk Rebung, yang mana kain Songket tersebut bukanlah milik kolektor, tetapi milik sebuah Museum di Den Haag Negeri Belanda.

Informasi dari seorang sarjana asal Koto Anau Solok, di era tahun 1990-an pernah mengikuti bidang studi di Canada, ibu kost dari sarjana tersebut menyimpan lima helai kain Songket tenunan Silungkang. Memang sudah selayaknya kampung Batu Manonggou dijadikan sebagai kawasan penghasil Songket di Nagari Silungkang, karena hampir disetiap rumah disana memiliki alat tenun (palantai) untuk memproduksi kain Songket sebagai Home Industri, istimewanya lagi bukan kaum wanitanya saja yang pandai bertenun Songket, tetapi kaum prianya juga mahir bertenun Songket.

Di masa lampau jika ada tamu yang berkunjung ke Silungkang untuk melihat bagaimana cara bertenun Songket, mereka diajak ke bawah rumah, karena disanalah diletakkan alat tenun, sekarang ini sudah ada dua show room kain Songket yang terletak ditepi jalan lintas Sumatera, lebih tepatnya dibawah kampung batu Manongou, disana juga tersedia alat tenun untuk mendemontrasikan cara bertenun Songket. Keunggulan dari kain Songket Silungkang selama ini, jika dipakai akan terlihat indah cemerlang, Songket Silungkang bukan saja berjaya di Bumi Merah Putih ini, bahkan juga berkibar dibeberapa negara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, Swiss dan Belgia bahkan ada diantara ibu rumah tangga disana yang mengoleksi kain tenun Songket Silungkang yang telah berumur antara 100 hingga 200 tahun. Bahkan di Nagari Silungkang sendiri Songket yang seumur itu sudah sangat sulit untuk ditemui.

Begitulah kisah perjalanan sejarah ilmu bertenun songket yang datangnya dari daratan negeri Cina. (SS/DAPESA)

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Kelima November 2007

Dimano Garubang Hilang,
Di Aia Tojun-manojun
Dimano Bujang Hilang,
Di baliak Asok Bukik Takobun.

Ka ili ka mudiak mancari Dompet
Dompet dapek kobek pinggang ilang
Dek talendo daun lado mudo
La ili kamudiak mancari ubek
Ubek dapek Nan Kanduang ilang
Ba tamba sansai badan ambo
Begitulah bunyi bait/syair Marungui
dan Ratok Silungkang Tuo

Seperti kita ketahui, Budaya Rakyat Minangkabau di setiap Nagari mempunyai ciri/kebiasaan dimasing-masing daerah, termasuk juga di Nagari Silungkang, mempunyai budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu, sebahagian masih tetap dipakai sampai sekarang, seperti budaya kesenian Tak Tumbin (Rebana) yang dipakai atau dipertunjukkan pada setiap ada pesta Baroleh Kawin. Tapi ada satu Budaya Silungkang asli yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu yang terlupakan atau mungkin sudah dilupakan oleh masyarakat Silungkang, bahkan generasi muda Silungkang saat ini ada yang tidak tahu sama sekali tentang budaya tersebut, sehingga membuat mereka terheran-heran. Budaya tersebut adalah MARUNGUI, RATOK SILUNGKANG TUO SERTA RATOK INYIAK PORIANG. Budaya ini sangat unik sekali, karena Silungkang adalah satu-satunya yang mempunyai budaya ini di seluruh Minangkabau, sehingga mendatangkan decak kagum bagi masyarakat Minangkabau lainnya bahkan juga Negara Malaysia.

Budaya atau kesenian Marungui ini dimainkan oleh satu orang dengan cara berkelumun kain sarung, juga Ratok Silungkang Tuo dan Ratok Inyiak Poriang dimainkan oleh satu orang dengan diiringi musik Saluang dan Talempong Botuang. Dalam permainan Marungui ini, Ratok Silungkang Tuo dan Ratok Inyiak Poriang, si pemain menceritakan keadaan yang terjadi pada seseorang maupun yang dialami oleh Nagari, seperti seorang yang putus cinta, atau seseorang yang ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintainya, sehingga akan menimbulkan kesedihan serta keharuan bagi orang yang mendengarnya. Pada saat sekarang ini yang masih menguasai budaya ini, hanya tinggal satu orang lagi di Nagari Silungkang ini, yaitu Bapak UMAR MALIN PARMATO, Kepala Dusun Sawah Darek Desa Silungkang Oso, bahkan sampai saat ini belum ada satupun dari generasi penerus yang mewarisi budaya ini, beliau ingin sekali menurunkan atau mengajarkan budaya ini kepada generasi muda Silungkang, supaya budaya ini tetap lestari serta terpelihara dengan baik, sehingga akan menimbulkan kebanggaan bagi masyarakat Silungkang khususnya dan Sawahlunto pada umumnya, karena budaya ini adalah sebuah aset daerah yang sangat berharga sekali, dan nantinya juga bisa menunjang pariwisata di Kota Sawahlunto, terutama sekali wisatawan akan lebih mengenal lagi Nagari Silungkang, tidak hanya terkenal dengan tenunan songketnya, tapi juga dikenal sebagai Nagari yang mempunyai budaya yang sangat unik sekali.

Sewaktu SS (Suara Silungkang) berkunjung kekediaman Bapak Umar Malin Parmato di Sawah Darek, menanyakan sejak kapan budaya ini ada di Silungkang, beliau menjawab menurut cerita dari orang-orang tua dahulu, budaya ini sudah ada sejak Masyarakat Silungkang masih menganut agama Hindu dan Animisme, atau sebelum agama Islam masuk ke Minangkabau. Sewaktu ditanyakan siapa yang pertama sekali memperkenalkan budaya ini, beliau tidak tahu persis siapa orang yang pertama yang memperkenalkan budaya ini, yang jelas Bapak Umar MP ini sudah menguasai budaya ini sejak tahun 1942 yang lalu. Juga waktu ditanya, dengan siapa beliau mempelajari budaya ini, Bapak Umar MP mengatakan, dia belajar dari Inyiak SAURA Kampung Talak Buai yang tinggal di Sungai Cocang pada tahun 1940.

Bapak Umar MP juga mengatakan, bahwa pada tanggal 10-18 April tahun 2005 yang lalu, budaya ini pernah ditampilkan pada “Pesta Gendang Nusantara 8” di Banda Raya Melaka Bersejarah, Negeri Sembilan Malaysia sebagai utusan dari Pemerintah Kota Sawahlunto. Kita sebagai warga Silungkang patut bangga sekali karena budaya kita sangat dikenal di negeri orang, tapi sungguh sangat ironis sekali, kenapa tidak ada dari warga Silungkang yang ingin melestarikan serta menghidupkan kembali budaya ini, sehingga nantinya akan bisa menjadi salah satu kunjungan wisatawan ke Silungkang, kalau dapat budaya ini bisa dijadikan salah satu agenda bagi kita masyarakat Silungkang untuk mengelolanya secara profesional.

Diharapkan kepada PKS Jakarta, ke depan untuk bisa memperkenalkan secara rutin budaya ini ditingkat Nasional, mungkin bisa dimulai pada acara Halal bi Halal warga Silungkang Jakarta sehabis lebaran nanti, sehingga nantinya budaya ini akan tetap lestari dan tidak akan hilang ditelan waktu. Kedepan marilah sama-sama kita jaga aset budaya kita ini yang sangat berharga seklai, sehingga budaya ini tidak akan diambil oleh daerah lain.

Oleh Rizal F. Daniel

Tabloid Suara Silungkang – Edisi Ketiga September 2007

BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia

Di Muzium Diraja Seri Menanti kami disediakan sebuah kamar lengkap dengan perabotnya, peralatan memasak tidak diberikan karena minum makan kami disediakan oleh Kerajaan melalui Sdr. Mazrin yang juga sebagai pekerja di Muzium tersebut, dan kemudian Sdr. Mazrin kami ketahui adalah anak seorang anggota Polis yang tinggal di Barak Polis (Asrama Polisi) Seri Menanti.

Kami diantarkan nasi setiap pagi, tengah hari dan sore, mula-mula golang golang saya memang agak babaso menerima nasi tersebut karena sambalnya masakan khas Malaysia, sedangkan golang-golang saya sudah akrab dengan joghiang balamun jo lado giliang matah pakai minyak tanak sambia meanggotok agho, tapi lama kelamaan karena terpaksa golang-golang saya setuju juga, daghi pado ndak makan, mano nan elok.

Setiap pagi setelah makan pagi, kami harus stand by, karena kami akan dibawa raun sabolik selama satu minggu, mula-mula sekitar kawasan Seri Menanti dan terus ke Kuala Pilah, dilain hari ke Seremban dan Kualalumpur. Teristimewa di Kualalumpur ini kami dibawa ke Pasar Seni, semacam Plaza yang sarat dengan bermacam-macam barang soUvenir dari berbagai daerah di Malaysia.

Selama satu minggu kami dibawa raun sabolik, banyak sekali kesan yang tersimpan didalam memori saya dan Insya Allah memori saya tersebut sampai sekarang lai ndak konai virus do.

Disuatu sore, Encik Din (panggilan akrab Drs. Shamsudin bin Ahmad) Kurator (Kepala) Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan, datang mengunjungi kami.

Pak Djasril, kite tengoklah rumah tempat tinggal tu, dan lame tak ade orang menghuni rumah tu, tentu dah banyak habuk, kite bersihkan, karena esok pagi perabot sampai”, kata Encik Din seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan naik. “Okey”, jawab saya meniru cara mengucapkan baiklah di Malaysia. Lebih kurang 750 meter dari Muzium Diraja, sampailah kami di rumah tersebut. “Kawasan ni bername Kampong Bukit Tempurong” kata Encik Din. “Ni, ade due rumah, pandai Pak Djasril-lah macam mane mau”, ucapnya lagi. “Kalau macam tu okey lah, dan Encik Din kami persilahkan balik dulu, biarlah kami sahaja yang membersihkan”, jawab saya sambil meniru cara berbicara di Malaysia walaupun lidah saya masih menempel merek Indonesia.

Seri Menanti adalah sebuah kawasan yang disebut Pekan (Kota Kecil) kira-kira sama dengan Nagori di kampung kita, dan juga disebut “Royal Town of Seri Menanti” karena disini berdiri dengan megahnya Istana Besar Raja Negeri Sembilan dan juga masih kokohnya berdiri Istana Lama yang sekarang dijadikan Muzium Diraja.

Alam disini berbukit-bukit, keadaannya masih asri, hutannya terpelihara baik, suasana tenang, aman dan damai, jauh dari kebisingan, udaranya segar tanpa polusi, margasatwa hidup dengan riang dan merdeka tanpa ada tangan jahil yang menganggu dan merusak, bermacam-macam burung berterbangan dengan leluasa dan hinggap tanpa kuatir diganggu orang. Penduduknya hidup bahagia dan sejahtera, rukun sesamanya, ramah dan sopan. Suasana di Seri Menanti tak ubahnya dengan suasana di perkampungan (dusun), bukan suasana di kota yang dilanda kehidupan modern. Upacara adat dipusatkan disini, penduduk di Seri Menanti ini tidak seberapa dan kelihatan lengang dan sunyi karena sebagian penduduknya ada yang tinggal di Seremban, Kualalumpur, dan lain-lain, tetapi kalau ada upacara adat dan keramaian, misalnya PERINGATAN HARI KEPUTERAAN BAGINDA (memperingati hari ulang tahun kelahiran Raja), Seri Menanti penuh dengan pengunjung dari segala penjuru, keramaian diadakan tiga hari tiga malam, bermacam-macam hiburan tradisional dan modern dapat dinikmati, para pedagang pun ramai, kita dapat berbelanja apa saja sepuasnay asal uang ada.

Pada hari Jum’at tanggal 16 Oktober 1998, saya Shalat Fardhu Jum’at di Masjid Diraja Seri Menanti, saya lihat Tuanku Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan juga Shalat Fardhu Jum’at disana. Tuanku sangat akrab dengan rakyat, dan rakyatpun juga sangat hormat kepada Tuanku. Baru saja Tuanku memasuki Masjid, rakyat yang berada di dalam Masjid menyusun jari sepuluh, menyalami Tuanku sambil mencium tangannya, sedangkan Tuanku tersenyum sayang, saya lihat diwajah Tuanku terpancar sinar keagungan sebagai seorang RAJA, kepada yang tidak terjangkau bersalaman, Tuanku mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum sayang, mata bersinar, wajah yang jernih.

Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman, demikian nama Tuanku, adalah keturunan Raja dari Pagaruyung – Minangkabau. Seorang Putera Raja Pagaruyung yang bernama Sultan Mahmud dijemput oleh Pemuka Adat Negeri Sembilan untuk dijadikan Raja. Setelah dinobatkan jadi Raja Negeri Sembilan, Sultan Mahmud dikenal dengan nama Raja Melewar.

Raja Melewar adalah Raja Negeri Sembilan yang pertama 1773 – 1795, sedangkan Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman adalah Raja Negeri Sembilan yang kesebelas 1967 – sekarang.

Tepat pukul 16.00 petang, pada hari Selasa 20 Oktober 1998, seorang pegawai Muzium menjemput kami, “Encik dipelawe untuk datang menghadiri jamuan minum ke rumah Encik wan di Seremban, kite berangkat sekarang juge”, katanya. “Ya, Okey”, jawab saya singkat. Kami naik mobil L-300, dan saya lihat pegawai Muzium lainnya sebanyak 4 orang juga sudah berada di atas mobil.

Encik Wan atau nama lengkapnya Wan Abdullah bin Haji Wan Su, Ketua Penolong Setia Usaa Kerajaan, dikatakan bahwa beliau adalah orang nomor tiga di Kantor Menteri Besar Negeri Sembilan (kira-kira sama dengan Kantor Gubernur di Indonesia), sebelumnya saya sudah kenal dengan beliau sewaktu beliau ke Silungkang pada tanggal 1 Mei 1998 yang lalu dan saya juga sering terlibat dalam percakapan melalui telepon dengan beliau.

Jemput masuk, jemput masuk” kata Encik Wan, sewaktu kami baru saja turun dari mobil di halaman rumah yang kelihatannya sangat bagus bangunannya. “Saye baru sahaje pindah ke rumah ni”, kata Encik Wan yang katanya beliau berasal dari Negeri Kelantan dan sudah lama menetap dan bekerja di Negeri Sembilan. Setelah puas minum dan bercakap-cakap, kami pulang dan diantar kembali ke Seri Menanti.

Saya berusaha dekat dengan penduduk Seri Menanti, sambil memperkenalkan diri, saya juga mempelajari bahasa dan ungkapan sebagai persiapan tinggal di Seri Menanti. Tan Sri Samad Idris sekali seminggu datang ketempat kami, menanyakan keadaan kami, beliau sangat akrab dengan saya. Pada hari Minggu tanggal 25 Oktober 1998, Tan Sri datang membawa dua orang teman beliau PENSYARAH (dosen) pada sebuah universitas di Kualalumpur dan memperkenalkan kepada saya, kami bercakap-cakap sambil minum di kantin Seri Menanti Resort. Dalam percakapan ini saya juga memberitahukan kepada Tan Sri bahwa di Kualalumpur juga ada orang Silungkang jadi Pensyarah yaitu Prof. Umar Yunus dan Prof. Kasmini Kasim. Dengan penuh keheranan Tan Sri berkata : “Oh .. jadi Umar Yunus dan Kasmini Kasim itu orang Silungkang kah, dia sering ke tempat saya, biar nanti saya bagi tahu dia bahwa orang Silungkang juga ada bertenun kain di Seri Menanti”.

Setelah kami puas bercakap-cakap, sebelum Tan Sri kembali ke Kualalumpur, beliau berkata : “Pak Djasril, habis bulan Oktober ini kita akan pergi ke Padang untuk menjemput barang-barang yang masih tinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril”.

Kata-kata Tan Sri yang terakhir ini yang sangat membahagiakan saya, karena hampir sebulan saya menderita menahan rindu pada isteri dan anak-anak, kali ini adalah saat yang paling terlama kami terpisah, biasanya hanya satu atau dua hari saja. Bila saya rindu, saya beli kartu telepon 10 ringgit atau 20 ringgit dan saya dapat berbicara langsung melalui telepon umum di tepi jalan. Apabila anak saya mengatakan “copeklah baliak (cepat balik) Pak”, tenggorokan saya rasa tersekang menahan tangis, kenapa begitu ? Entahlah, orang bisa berahun-tahun terpisah, kenapa saya tidak ? Entahlah.

Pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 1998, disore hari, saya sedang bagolek-golek (istirahat), datang Mazrin, “Pak, ada talipon dari Seremban”. Saya langsung mengikuti Mazrin menuju OPIS (kantor), telepon saya angkat, “Hallo, apa hal Encik Din ?”, kata saya. “Hari Minggu, 1 hari bulan November, Pak Djasril berangkat ke Silungkang untuk mengambil barang kita yang masih tertinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril, perlu diingat keberangkatan Pak Djasril ke Silungkang adalah sebagai pegawai Muzium, pagi esok datang ke Seremban mengambil gaji dan ongkos ke Silungkang, okey …”.

“Okey”, jawab saya singkat. Keesokan harinya saya pergi ke Seremban, dari Seri Menanti ke Kuala Pilah naik KERETA SEWA (oplet), dan dari Kuala Pilah ke Seremban naik BAS (bus).

Pukul 06.00 pagi waktu Malaysia Barat, tanggal 1 Nopember 1998, sebuah KERETA (sedan) parkir di halaman Muzium menjemput saya, saya pun juga sudah siap berangkat. Kereta melaju menuju Kualalumpur dan terus ke Lapangan Terbang Sultan Abdul Aziz Shah, Subang (diwaktu itu belum ada KLIA = Kualalumpur International Airport, dan di Padang juga belum ada MIA = Minangkabau International Airport). Setiba di Lapangan Terbang saya langsung antri membeli tiket pesawat menuju Padang dan tak lupa sebagian dari uang Ringgit, saya tukar dengan Rupiah.

Setelah melayang-layang di udara lebih kurang 2 jam pesawat mendarat di Bandara Tabing. Pertama sekali saya menuju rumah makan, saya makan dengan lahapnya, duo kali tambuah, maklumlah sudah satu bulan golang-golang saya absen menerima masakan Padang. Selesai makan saya menuju wartel untuk memberitahu ke Silungkang bahwa saya sudah sampai di Padang. Saya ingin cepat saja sampai di Silungkang, saya ambil jalan alternatif, naik taksi saja biar cepat, kalau dengan bus lambat. Menjelang sore saya sudah sampai di rumah, yaitu di Lubuak Kubang, Desa Silungkang Oso. Tidak ada oleh-oleh dari Malaysia, yang ada hanya oleh-oleh dari Padang berupa makanan ringan.

Anak saya yang kecil berumur 4 tahun berlari-lari menyambut saya, “Bapak lah baliak (balik) Ma …”, katanya memberitahu Mamanya. Saya dukung dan saya cium anak saya itu, “Tadogak (teringat) Bapak nak …”, kata saya singkat.

BERSAMBUNG ….

Source :

Tabloid Suara Silungkang

Edisi KETIGA, September 2007

Kisah Nyata Djasril Abdullah

Manjalang Dusun

Manjalang Dusun adalah awal Anak Daro mendatangi rumah orang tua Marapulai. Rombongan menjelang Dusun ini biasanya terdiri dari 7 orang Ibu-ibu dan 3 orang anak. Ada juga 9 orang Ibu-ibu dan 5 orang anak. Membawa anak-anak ini sudah menjadi tradisi sejak dulu. Anak Daro akan memakai pakaian biasa sekarang telah ada pula yang memakai Sunting.

Menjelang Dusun ini dilakukan biasanya bila Baroleknya hari Jum’at, maka hari Rabu berikutnya. Begitu pula bila Baroleknya hari Rabu, menjelang Dusun juga pada hari Rabu berikutnya. Biasanya menjelang Dusun paling lambat seminggu sesudah Barolek. Menjelang Dusun ini dulunya dibiasakan hari Rabu. Kini tidak demikian lagi. Ini memang agak menyulitkan bagi yang menanti.

Rombongan Menjelang Dusun ini membawa nasi (5 sampai 25 liter beras) : lauk pauk : kalio 1 sampai dengan 3 kg daging : ayam gulai satu setengah ekor : maco goreng balado : telur dibelah balado : ikan goreng dan lain-lain tergantung kepada orang padunie atau tidak. Di samping itu juga kalamai. Penyiaran, kue besar dan kue kecil. Dan untuk peruntukan (bagi pasumandan dalam kampung) : penyiaran tiap bungkusnya 5 buah dan beras 1 cupak (dibungkus dengan sapu tangan). Bungkusan panyiaram dan beras ada yang sampai menyediakannya 50 buah.

Sewaktu rombongan Menjelang Dusun akan pulang, maka dari pihak Pasumandan akan diberikan kelapa tumbuh 3-5 batang serta kelapa biasa 50 sampai dengan 100 butir. Di Jakarta kelapa ini telah diganti dengan uang. Kelapa ini biasanya pemberian dari tetangga (pasumandan yang diberi peruntukan). Selain daripada itu juga diberi garam, maco, ubi jalar, sirih dan sebagainya. Banyaknya beras berdasarkan ketiding pembawa nasi dukung. Juga uang dulunya di zaman Hindia Belanda dari f. 1.00 sampai 5.00. Sekarang antara Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 25.000,-. Anak kecil yang ikut datang juga diberi uang, kalau ukuran sekarang dari Rp. 500,- sampai dengan Rp. 1.000,-

Sebagai catatan perlu dikemukakan jika rombongan Anak Daro padunie bawaannya lebih besar dan bahkan ada yang ditambah dengan ayam goreng. Tetapi ada pula yang berdamai. Datang membawa seadanya saja. Malahan ada juga atas kesepakatan kedua belah pihak tidak diadakan Menjelang Dusun.

Di dalam rombongan Anak Daro (yang menjelang dusun) ini biasanya terdapat juga Induak Bako dan Anak Buah Anak Daro. Balasan dari pasumandan sekarang telah ada pula yang memberikan Sia Penang (rantang besar).

Sebulan lebih sesudah Barolek, Anak Daro akan pergi bermalam ke rumah pasumandan, dengan membawa nasi, lauk pauk, ketan serikaya dan lain-lain. Waktu dulu benar pergi bermalam ini hanya membawa beras dalam Kampi ukuran 2 atau 3 liter beras, daging kering yang dibungkus dengan krisik (daun pisang yang sudah tua0.

Anak Daro ini nantinya akan memasak di rumah Pasumandan dan Mertuanya akan mengetahui sampai di mana keterampilannya memasak itu.

Sumber : Buku Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan St. Majarajo
Edisi I, Jakarta, Mei 1988. Percetakan oleh IDEAL

Laman Berikutnya »