Diperkirakan pada akhir abad ke XVII atau awal abad ke XVIII orang Silungkang telah ada pula yang naik haji ke tanah suci. Untuk ke Jeddah melalui Ulakan. Dari Silungkang ke Ulakan berjalan kaki. Jalannya masih kecil. Belum ada kendaraan seperti sekarang. Di Ulakan mereka tunggu perahu layar yang akan membawa ke Jedah. Menunggunya bisa sebulan, dua bulan atau lebih. Selama di Ulakan tentu perdalam juga ilmu agamanya.

Setelah ada perahu yang akan membawanya, berangkatlah ke tanah suci. Di lautan bisa berbulan-bulan tergantung dari hembusan angin. Sebab itu perbekalan sampai 6 bulan. Tentu saja pada waktu-waktu tertentu dipanasi dengan api, agar rasanya jangan apak. Pendeknya untuk bisa menunaikan haji ke tanah suci benar-benar diperlukan secara fisik dan materiil.

Mungkin karena situasi perjalanan yang begitu berat maka pada umumnya orang awak yang ke tanah suci tentu bermukim disana. Bermukimnya bisa setahun, dua tahun atau lebih. Selama di tanah suci mereka pertinggi pengetahuan agamanya. Setelah mereka pulang ke Silungkang, mereka sampaikan atau kembangkan apa yang telah mereka ketahui orang awak melalui pengajian-pengajian. Berdirilah surau-surau.

Letaknya surau-surau umumnya didataran. Kecuali Surau Tenggi, yang memang agak tinggi dibandingkan dengan Surau Baru, Surau Sepan, Surau Jambak dan sebagainya.

Menurut catatan Abu Asar (melalui tulisannya “Peranan Surau Tempo Dulu Dalam Pembentukan Watak Pribadi”, yang dimuat dalam FORMES April 1989) hingga dengan Konferensi Silungkang (1939) jumlah Surau di Silungkang lebih 40 buah.

Diantara orang awak yang pulang dari tanah suci pada pertengahan abad ke XIX ialah Syekh Barau (Mohd. Saleh bin Abdullah). Beliaulah yang paling terkemuka di Silungkang menyebarkan agama.

Menurut catatan M. Salim Dt. Sinaro Chatib1) bahwa yang membuat Surau Godang Silungkang (selesai pada tahun 1870) adalah Syekh Barau ini, dengan pertolongan tonggak dan pekayuannya sebagian besar dari Pianggu dan Toruang-toruang. Dari Indudu juga ada bantuan sedikit. Sedang tukang-tukang yang mengerjakannya sepenuhnya dari Kubang 13 sampai dari bagian Alahan Panjang.

Bantuan tonggak serta pekayuan dan tenaga kerja guna dapat berdirinya Surau Godang tersebut sebagian besar berasal dari bekas-bekas murid Syekh Barau serta Syekh-Syekh lain murid Syekh Barau. Bantuan itu sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga dari mereka kepada guru-guru yang telah mendidiknya.

Dibawah asuhan Syekh Barau ini perjalanan Islam di Silungkang sangat pesat. Disetiap Surau di Silungkang tentu ada seorang Syekhnya yang mengajarnya. Diantara Syekh-Syekh yang ada itu, 9 orang diantaranya murid Syekh Barau. 5 orang putra Silungkang sendiri, sedang yang 4 orang itu dari luar :

  • Syekh Mohd. Thaib Ongku Surau Lurah (Tanah Sirah)
  • Syekh Akmad Ongku Surau Tanjung (Dalimo Tapanggang)
  • Syekh Abdurrahman Ongku Surau Bulek (Dalimo Jao)
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Godang (Tanah Sirah)
  • Syekh Abubakar Ongku Surau Palo (P. Rumah Nan Panjang)

Yang 4 orang itu adalah :

  • Syekh Abdul Rahman Ongku Talowi
  • Syekh Abdullah Ongku Lunto
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Ambacang Koto Anau
  • Syekh Muhammad Ongku Kotobaru Palangki

Pada masa Syekh Barau dan murid-murid beliau mengajar tak sedikit murid-murid beliau yang datang dari luar. Ketika itu aliran Tarqat cukup kuat. Ini sesuai dengan keterangan Hamka bahwa dalam masa tahun 1840 – 1900 ada kecenderungan di Minangkabau kepada Thasawuf. Di beberapa nagari guru-guru Tariqat mendirikan tempat-tempat bersuluk. Tariqat yang berkembang ialah Naqsyabandi-Khalidiyah didarat dan Shatariyah di Pariaman, Batuhampar (Payakumbuh), Kumango, Maninjau, Pariangan, Ulakan, Malalo.

Dalam mengerjakan Suluk ini lebih dulu orang melakukan Tawajjuh (menghadap wajah kepada Allah) dengan memakai Rabbitah (penghubung atau perantara), yaitu Syekh atau Khalifahnya. Setelah melalui pintu Tawajjuh atau Rabbitah itu, orang akan sampai pada fana. Dari fana kelaknya menuju kepada Baqa, sampai kepada La anna Illahhu (tidak ada saya melainkan Dia). Disinilah keluar kata-kata : “Al ibiddu wal ma’budu wahidin”.

Tempat Suluk bagi anak-anak di Silungkang ialah di Surau Lokuak dan Surah Lurah. Sedang bagi pria, terutama setelah Surau Godang berdiri, tempatnya di Surau Godang. Umumnya ibu-ibu yang turut Suluk telah “baki” (suci, tidak haid lagi).

Pada masa itu Silungkang merupakan salah satu tempat pemusatan pengajian di Minangkabau. Yang datang mengaji di Silungkang di antaranya dari Kotobaru Palangki, Talowi, Toruang-toruang, Indudu, Kota Anau, Pianggu, Lunto dan sebagainya. Mereka yang mengaji di luar inilah yang memberikan julukan “Silungkang Serambi Mekah”.

Syekh Barau sendiri meninggal dunia tanggal 29 Zulhijjah. Sayang tidak ada keterangan kapan beliau dilahirkan.

30 tahun sesudah berdirinya Surau Godang, maka telah tegak pula mesjid Silungkang. Ruang dalam 22 x 22 m. Jika berandanya dihitung berarti 24 x 24 m. Tipe mesjid Silungkang ini sama dengan mesjid Ganting di Padang. Sebab tukang yang mengerjakan itu juga. Masjid Ganting di Padang lebih dahulu, kemudian Sulit Air, baru Silungkang.

Dengan berdirinya Mesjid Raya Silungkang itu dua bangunan besar telah dibangun orang Silungkang. Bila berdirinya Surau Godang antara lain berkat bantuan dari bekas-bekas murid Syekh Barau, maka berdirinya Masjid Raya Silungkang belum ada catatannya, misalnya dari mana dananya. Mungkin saja ada yang mencatatnya, namun hingga kini belum diketahui.

Mengingat dana untuk dapat berdirinya Mesjid Silungkang cukup besar, sedang kekayaan orang awak ketika itu jauh di bawah kekayaan orang Silungkang sekarang, maka bisa diperkirakan betapa tingginya semangat beragama dikalangan orang awak ketika itu. Dananya tentu mereka kumpulkan dari sedekah, infak, zakat, wakaf dan sebagainya. Hanya saja bagaimana cara mereka mengumpulkan dana, tak ada keterangan. Masih merupakan rahasia yang harus digali. Itulah salah satu kekurangan orang awak di masa lalu, tidak ada menuliskan pengalamannya bagi cucu dikemudian hari. Padahal yang dikerjakan itu bukan proyek kecil, tetapi proyek besar, minimal menurut ukuran Silungkang.

Sekiranya orang-orang tua kita tempo dulu itu menuliskan dana untuk pembangunan mesjid itu, tentu kita akan dapat banyak menarik pelajaran daripadanya. Dengan tidak dituliskan, maka kita tidak mengetahui apakah pengumpulan dananya dilakukan secara terbuka atau tertutup. Apakah ketika itu juga telah muncul pemeo “sompiek lalu lungga batotok” (sempit lalu longgar diketok) dalam rangka mencari data, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika hendak mengumpulkan dana bagi rencana pembangunan Gedung PKS di Jakarta.

Sekiranya dulu telah terjadi juga, itu berarti generasi (orang awak) abad ke XX masih seperti generasi abad ke XIX saja, tidak maju-maju. Sebaliknya jika pengumpulan dana itu berjalan lancar dan tidak mengenal sompiek lalu lungga batotok, berarti generasi sekarang mundur dibandingkan dengan generasi abad ke XIX.

Catatan kaki :
1. Disalin dari salinan oleh Bujang St. Sinaro, 9 Mei 1963.

Sumber :
Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :
Munir Taher & Hasan St. Maharajo