Islam


Renovasi kembali Masjid Raya Silungkang yang pembiayaannya dikumpulkan dari masyarakat Silungkang sendiri baik yang di kampung ataupun yang di perantauan. Masjid Raya ataupun Surau Godang (kini jadi sekolah Muhammadiyah) yang akan direnovasi itu dulu dibangun oleh leluhur kita tidak hanya dengan swadaya masyarakat Silungkang saja, tetapi juga dengan bantuan/partisipasi murid-murid dari Syech-syech di Silungkang dan sekitarnya serta guru besar dari semua Syech-syech itu adalah SYECH MOHAMAD SALEH BIN ABDULLAH alias SYECH BARAU yang peranannya sangat besar dalam pembangunan Surau Godang dan Masjid Raya di Silungkang.

Adapun murid-murid beliau antara lain adalah :

  1. Syech Mohammad Taib (Engku Surau Lurah), adik kandung dari Barau (Tanah Sirah).
  2. Syech Ahmad (Engku Surau Tanjung), urang sumando dari Barau (Dalimo Tapanggan).
  3. Syech Abdul Rahman (Engku Surau Bulek), anak kandung dari Barau (Dalimo Jao).
  4. Syech Abdullah (Engku Surau Godang).
  5. Syech Abdul Rahman (Engku Talawi).
  6. Syech Abdullah (Engku Lunto).
  7. Syech Abubakar (Engku Surau Palo) Panai Ruman Nan Panjang.
  8. Syech Abdulah (Engku Surau Ambacang Koto Anau).
  9. Syech Muhammad (Syech Kampung Baru).

Jadi tidak heranlah kita kalau di Silungkang pada tahun seribu delapan ratus itu terdapat kira-kira 40 (empat puluh) buah surau, antara lain dapat disebutkan mulai dari Surau Lubuak Kubang, Surau Ambacang, Surau Lurah Cupuik, Surau Palakoto, Surau Kotomaparak, Surau Nyiak Goduang di Lubuk Taweh, Surau Ongku Balampi di Lubuk Lawa-lawa, Surau Ongku Jaluddin dekat Kutianyar, Surau Lomba, disini ada 3 surau yaitu kepunyaan Kampung Palakoto, Piliang Ateh, dan Tanah Sirah – Surau Topi Air, Surau Lolo, Surau Pangka Titi, Surau Dibawajui, Surau Cobodak, Rumah Sekolah, Surau Masjid, Surau Bulek, Surau Lokuak, Surau Belakang, Surau Ongku, Surau Tanjung, Surau Lurah, Surau Baru Melawas, Surau Sepan, Surau Jambak, Surau Tinggi, Surau Palo – sampai Surau Bangkang – Pada umumnya tanah tempat surau-surau itu didirikan adalah TANAH WAKAF.

Pada waktu itu (tahun seribu delapan ratusan) timbul niat dari Syech Barau untuk membangun sebuah surau yang agak besar (belakang dikenal dengan nama Surau Godang. Sekarang berdiri disana sekolah Muhammadiyah), niat mana setelah beliau musyawarah dengan murid-murid dari murid beliau yang 9 orang tersebut di atas, disokong 100 persen secara moril dan material. Murid-murid dari murid beliau itu telah tersebar di negari sekitar Silungkang seperti Taruang-taruang, Indudur, Pianggu, Koto Anau, Kotobaru, Kampuang Baru, dan Batu Manjulur. Oleh karena itu soal bahan-bahan seperti batu, pasir, kayu-kayu dan lain-lain serta tukang tidak menjadi masalah sama sekali karena mereka bersedia menanggulangi semuanya.

Untuk mewujudkan niat beliau itu, didirikanlah Surau Godang di atas tanah kaum beliau sendiri (Tanah Sirah), karena tanah sekitar tempat akan didirikanlah Surau Godang itu adalah tanah kaum beliau semuanya dimana juga telah berdiri Surau Lurah, Surau Lakuak, Surau Bulek, dan Surau Belakang. Sedangkan tanah Surau Tanjuang adalah tanah kepunyaan kaum Dalimo Kosiak. Jadi semuanya tanah disekitar Surau Godang dan Masjid Raya adalah tanah wakaf didekat Surau Godang itu beliau dirikan pula rumah famili beliau (kemenakan beliau) yaitu Habibullah. Haji Hasan dan Ande dari Upiak (Nenek dari Herman Nawas). Surau tersebut berukuran kurang lebih 20 x 8 m bertingkat tujuh akan tetapi yang dipakai hanya dua tingkat yang pertama saja. Pembangunan Surau Godang berpedoman kepada sebuah miniatur/maket yang dibuat dari batang Pipiang, oleh Ahmad Ongku Surau Tanjung.

Tiap-tiap surau memerlukan “kolam air” seperti Surau Lolo, Surau Lokuak dan Surau Godang yang gunanya semula untuk penampung air buangan dari berwuduk dan buangan hajad kecil/besar yang semuanya untuk menjaga kebersihan. Kolam air yang agak besar adalah kolam Surau Lokuak, di lokasi ini memang banyak surau, jadi banyak orang buang hajad di kolam Surau Lokuak. Satu lagi kolam yang agak besar adalah kolam Surau Godang, guna mengurangi bau yang tidak sedap dari kolam-kolam ini, kolam-kolam itu harus diisi dengan ikan yang banyak (Kaluih dan Limbek), untuk itu dibuatlah mufakat bahwa guna mengisi ikan kolam tersebut dicari orang-orang yang berminat dan terutama tentu yang mampu. Dengan catatan bahwa orang-orang yang mengisi kolam tersebut mendapat “Hak Mengelola” (hasil ikannya untuk orang yang mengisinya). Di zaman saya masih bujang-bujang tanggung dulu, setahu saya Haji M. Taher Tanah Sirah dan Surau Lurah adalah Haji Said. Sedangkan pengelola kolam lainnya tidak diketahui dengan pasti sampai sekarang.

Surau Godang selesai dibangun pada tahun 1870 dan tidak berapa lama setelah itu, karena masih ada tanah tersisa (areal Masjid sekarang) yang merupakan wakaf dari kaum Tanah Siram, kaum Petopang/Sawajui dan kaum Dalimo Godang. Timbul pula keinginan dari Syech Barau untuk membangun sebuah masjid yang lebih besar karena pada tiap-tiap hari Jum’at, murid-murid beliau dari berbagai daerah datang ke Silungkang untuk melaksanakan shalat Jum’at. Mulai pukul 9 pagi murid-murid beliau itu sudah berdatangan dan makin hari makin bertambah sehingga mulai dirasakan surau Godang tidak mencukupi lagi untuk menampung jamaah yang datang untuk beribadah.

Untuk keinginan seperti itu, beliau pergi ke Padang dan waktu melihat masjid Ganting, niat itu semakin kuat. Beliau berkeinginan membuat sebuah masjid seperti masjid Ganting itu. Beliau langsung menemui tukang yang membuat masjid Ganting itu dan mengajaknya untuk bekerja membangun sebuah masjid di Silungkang. Tukang atau adman tersebutlah yang kemudian membangun Masjid Silungkang dan beliau dikenal di Silungkang dengan panggilan Ongku Siak Masojik atau Ongku Padang. Masjid Raya Silungkang selesai dibangun pada tahun 1900 dengan ukuran 24 x 24 m. tersebutlah beranda dan koridornya. Luas masjid kurang lebih dua kali lebih besar dari Surau Godang. Sebelum direnovasi pada tahun 1950 masjid kita mirip sekali dengan masjid Ganting yang di Padang itu.

Pada tahun 1950, masjid itu diperbesar dan dibuat bertingkat atas inisiatif dan sponsorin H. Aziz Udin. Pembangunan dilakukan secara bertahap dan beliau menyisihkan keuntungan dagang bebelok ke Singapura untuk melaksanakan pembangunan Masjid tersebut. Setiap kali beliau kembali membawa barang dengan selamat dari Singapura, maka sebagian labanya diberikan kepada bendahara pembangunan masjid yaitu Bp. Samin Tagatuang dengan panitianya Bp. Said Rajo Bandaro Talakbuai. Perluasan dan pembangunan masjid tersebut dapat diselesaikan pada tahun 1958. Bentuk itulah yang dapat kita lihat sekarang ini, masih kokoh diluarnya, tapi sudah mulai lapuk bagian dalamnya terutama bahan-bahan perkayuannya. Pada waktu diguncang gempa tahun 1929 (meletusnya Gunung Merapi) tidak ada kerusakan masjid ini, akan tetapi pada waktu gempa tahun 1942 (meletusnya Gunung Talang) Migrab masjid menjadi retak dan ayam-ayam yang ada di puncak atap masjid jatuh dan tidak diganti sampai sekarang.

Karena kondisi Masjid Raya yang sangat memprihatinkan itu, timbul keinginan dan kesepakatan masyarakat Silungkang (yang dicetuskan di rumah Drs. H. Nazir Ahmad, Lukuak Kubang) untuk membangun kembali Masjid Raya Silungkang yang lebih besar, dimana untuk itu diperlukan areal tanah yang luas dari yang ada sekarang, maka peran serta positif dan keridhoannya warga “Pemilik” tanah sekitar Masjid itu sangat diharapkan. Kiranya tidak terlepas dari semangat untuk meneruskan tradisi dan cita-cita leluhur kita dalam meningkatkan syiar Islam serta keinginan untuk menjadikan Silungkang sebagai pusat pengembangan agama Islam bagi daerah sekitarnya. Oleh karena itu, marilah kita dukung bersama upaya pembangunan masjid ini berupa dukungan material maupun moril.

Silungkang, Ied 1415 H
Disarikan oleh H. Munir Taher berdasarkan cerita generasi tua-tua Silungkang, terbanyak bersumber dari Almarhumah Ongah Timah Malowe.

Catatan Admin :
Sekarang Masjid Raya Silungkang sudah lama selesai pembangunannya. Terima kasih kepada semua donatur yang telah menyumbang.

Sumber : Bulletin Warga Silungkang, No. 001/SM/JUNI 1999

Iklan

Titah Sambutan Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung
Pada Acara Penobatan Gajah Tongga Koto Piliang
Tanggal 12 Desember 2002 di Nagari Silungkang

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
A’uzubillahiminashaithonirojim
Bismillahirrahmanirrohim
Alhamdulillahrabil A’lamin
Wa sholatu Washollamu A’la Asrafil Ambyai Mursalin Wa’ala Waashabihi Ajmain
Ashadu Allailahailollah Waashaduana Muhammadarasulullah
Allahumma Sholi Muhammad Wa’ala Ali Muhammad

  • Yang sama-sama kita hormati, Bapak Gubernur Sumatera Barat selaku pucuk undang Sumatera Barat
  • Yang terhormat Ketua DPRD Sumatera Barat
  • Yang terhormat Bapak-bapak Unsur Muspida Sumatera Barat
  • Yang terhormat Sdr. Bupati/Walikota Sumatera Barat beserta seluruh pejabat sipil dan militer yang hadir pada acara ini
  • Yang saya muliakan ketua umum pucuk pimpinan LKAAM Sumatera Barat
  • Yang sangat saya muliakan Ibunda yang Dipertuan Gadih Pagaruyung
  • Yang amat mulia orang kaya-orang kaya kami Basa nan Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah
  • Yang amat mulia yang Dipertuan/Tuanku/Raja, Sapiah Balahan, Kaduang Karatan, Kapak Radai dan Langgam nan Tujuah Koto Piliang
  • Khususnya yang mulia Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Sabaleh di Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk
  • Angku-angku, niniak mamak nan gadang basa batuah, para alim ulama suluah bendang dalam nagari, para cadiak pandai yang arif bijaksana, para bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang dan beserta hadirin-hadirat yang saya muliakan.

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat karunianya sehingga dapat terselenggaranya acara penobatan pucuak adat nagari Silungkang dan Padang Sibusuk yakni Gajah Tongga Koto Piliang beserta lima orang penghulu pucuak nagari Silungkang.

Selanjutnya kita ucapkan pula salawat dan salam pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW yang telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam berupa kitab suci Al Qur’an dan Hadist.

Pada hari ini kita semua telah sama-sama menyaksikan penobatan Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagariaan Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajahtongga Kotopiliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang serta penghulu pucuak nan balimo di Nagari Silungkang. Peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat bersejarah baik bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak pada khususnya maupun bagi masyarakat Minangkabau pada umumnya. Kami katakan demikian karena upacara penobatan Gajah Tongga Koto Piliang dan datuak pucuak nan balimo ini adalah suatu wujud untuk membangkitkan batang tarandam yang sekaligus merupakan perwujudan dari program kembali ka nagari dan kembali basurau yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah Sumatera Barat melalui Perda No. 9 Tahun 2000. Dengan telah dibangkitkan kembali kebesaran nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yakni Gajah Tongga Koto Piliang yang merupakan salah satu kebesaran Langgam Nan Tujuah Koto Piliang, yaitu :

  1. Tampuak Tangkai Koto Piliang di Pariangan – Padang Panjang.
  2. Pasak Kunkuang Koto Piliang di Labuatan – Sungai Jambu.
  3. Pardamaian Koto Piliang di Simawang – Bukit Kanduang.
  4. Cemeti Koto Piliang di Sulit Aia – Tanjuang Balik.
  5. Camin Taruih Koto Piliang di Singkarang – Saniang Baka.
  6. Harimau Campo Koto Piliang di Batipuah X Koto.
  7. Gajah Tongga Koto Piliang di Silungkang – Padang Sibusuak.

Langgam Nan Tujuah Koto Piliang ini merupakan Pembantu Utama dari Rajo nan Tigo Selo dibawah koordinasi Basa Ampek Balai. Gajah Tongga Koto Piliang ini adalah Panglima wilayah selatan dalam alam Minangkabau. Di bawah pimpinan Gajah Tongga Koto Piliang inilah pasukan hulubalang Minangkabau dapat mengalahkan dan menghancurkan serangan dari pasukan Singosari yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu I pada tahun 1276 Masehi. Pertempuran besar-besaran ini terjadi di suatu lembah sempit yang pada waktu itu dikenal dengan Lembah Kupitan dan Sungai Batang Kariang. Karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan dan tidak sempat dikuburkan sehingga menimbulkan bau yang sangat busuk sehingga tempat itu dan sekitarnya dikenal kemudian dengan nama Padang Sibusuak. Perlu juga dicatat para peristiwa pertempuran besar-besaran tersebut muncullah hulubalang muda yang dengan gemilang dan tangkasnya membantu Gajah Tongga Koto Piliang dalam mengalahkan pasukan Singosari. Hulubalang muda itu adalah Gajah Mada yang dikenal kemudian dengan Maha Patih Kerajaan Majapahit.

Bapak-bapak, ibu-ibu, angku-angku niniek mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang serta hadirin hadirat yang saya muliakan.

Cuplikan singkat dari sejarah Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak yang kami uraikan tadi hendaknya dapat dijadikan sebagai latar belakang historis dan motivasi bagi anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak untuk menggali, mendalami dan memahami latar dasar dalam menata kembali kehidupan banagari, membangun nagari serta memajukan dan mencerdaskan sumber daay manusia anak nagari ini.

Dengan dibangkitkan kembali kebesaran “Gajah Tongga Koto Piliang” kami mengharapkan Datuak Tan Pahlawan Gagah Labiah yang pada dirinya melekat kebesaran Gajah Tongga Koto Piliang bersama-sama dengan Datuak Pucuak nan sabaleh (Datuak Pucuak Nan Balimo di Silungkang dan Datuak Pucuak Nan Baranam di Padang Sibusuak), kiranya dapat menata kembali dengan sebaik-baiknya susunan masyarakat adat, hukum adat, adat istiadat dan tradisi yang berlaku serta kehidupan beragama dikalangan masyarakat anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak. Hanya dengan tatanan masyarakat adat yang kuat, adat budaya yang dipahami dan diamalkan oleh masyarakatnya. Pemahaman dan pengamalan syariat Islam yang benar oleh suku bangsa Minangkabau pada khususnya, bangsa dan Negara pada umumnya akan dapat mempertahankan eksistensinya dari hantaman globalisasi serta pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa kita.

Demikianlah titah sambutan yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, mudah-mudahan akan ada manfaatnya bagi kita semua dan akhirnya kepada Irwan Husein Sutan Bagindo sebagai Pucuak Adat Kanagarian Silungkang – Padang Sibusuak yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labieh Kasaktian Gajah Tongga Koto Piliang dan Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS yang bergelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajah Tongga Koto Piliang, Datuak Pucuak nan Balimo Nagari Silungkang serta seluruh Niniak mamak, Alim ulama, Cadiak pandai dan Bundo Kanduang serta seluruh anak nagari Silungkang dan Padang Sibusuak kami ucapkan selamat ataslah tabangkiknyo batang tarandam.

Akhirnya kami mohon maaf seandainyo alam Titah Sambutan ini terdapat sesuatu yang tidak pada tempatnya “Kok indak di barih nan bapaek, kok indak ditakuak nan ditabang disusun jari nan sapuluah, ditakuahkan kapalo nan satu, kapado Allah ambo minta ampun, kapada kito basamo ambo minta maaf”.

Wabillahi Taufiq walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

Pagaruyung, 12 Desember 2002
Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung

TTD

H.S.M. TAUFIQ THAIB, SH
(Tuanku Mudo Mahkota Alam)

Dalam keadaan asli tercantum tanda tangan Raja Alam Pagaruyung.


TITAH

DAULAT YANG DIPERTUAN RAJO ALAM PAGARUYUNG

Nomor : III/DYRAP/XI/2002
Tentang : PENOBATAN GELAR SAKO ADAT GAJAHTONGGA KOTOPILIANG KEPADA ENGKU IRWAN HUSEIN SUTAN BAGINDO DAN PANUNGKEKNYA ENGKU DR. IR. YUZIRWAN RASYID, MS.
Membaca : Surat Permohonan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Silungkang Nomor 20/KAN-SLN/XI/2002 tanggal 15 November 2002 perihal penobatan gelar Sako Adat kepada Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dari Nagari Silungkang dan Panungkeknya Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS bergelar “ Datuk Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang ” dari Padang Sibusuak.



Menimbang : 1. Bahwa Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak dalam tatanan adat dan sejarah Minangkabau mempunyai sako kebesaran yang disebut sebagai Gajahtongga Kotopiliang sebagai salah satu anggota kerapatan Langgam Nan Tujuah Kotopiliang yang merupakan perangkat dari Kerajaan Pagaruyung.


2. Bahwa dalam rangka melestarikan adat dan budaya Minangkabau dan dalam rangka kembali Banagari, sudah selayaknya gelar sako kebesaran adat Minangkabau yang sudah terliput dihidupkan / dibangkitkan kembali termasuk gelar sako kebesaran Gajahtongga Kotopiliang dari Nagari Silungkang dan Nagari Padang Sibusuak.


3. Bahwa Engku Irwan Husein Sutan Bagindo dan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS telah disepakati oleh Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak untuk dinobatkan sebagai Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang dan Datuak Pahlawan Gagah panungkek Gajahtongga Kotopiliang.


4. Bahwa Kesepakatan Kerapatan Adat Nagari Silungkang dan Kerapatan Adat Nagari Padang Sibusuak tersebut angka 3 diatas telah disetujui dalam Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dengan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.


5. Bahwa untuk penobatan gelar sako Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek Gajahtongga Kotopiliang perlu dikeluarkan Titah Penobatan dimaksud.




Mengingat : 1. Mamanan Adat “BATAGAK PENGHULU SAKATO KAUM, MENOBATKAN RAJO SAKATO ALAM”


2. Hasil Keputusan Musyawarah Raja Alam Pagaruyung dan Basa Ampek Balai dan Tuan Gadang Batipuah pada tanggal 21 November 2002.

MENITAHKAN :


1. Menobatkan Engku Irwan Husein Sutan Bagindo selaku Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Malintang Labiah Kasatian Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Pucuk Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuk.
2. Menobatkan Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid, MS selaku Panungkek Gajahtongga Kotopiliang dengan gelar Datuak Pahlawan Gagah Panungkek Gajahtongga Kotopiliang sekaligus sebagai Panungkek Pucuak Adat Nagari Silungkang dan Padang Sibusuak.
3. Penobatan gelar sako tersebut angka 1 dan 2 dilakukan dalam suatu upacara kebesaran adat Minangkabau di Nagari Silungkang ditandai pemasangan saluak dan penyisipan keris oleh Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung.
4. Pidato Adat Pati Ambalau Penobatan Gajahtongga Kotopiliang dan Panungkek tersebut dilakukan oleh Ketua Umum Pucuk Pimpinan Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat.
5. Titah ini mulai berlaku sejak penobatan.





Dikeluarkan di : Pagaruyung

Pada tanggal : 25 November 2002.


1. Pangkat Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.
2. Diatas Stempel Kerajaan Pagaruyung terdapat tanda tangan Raja Pagaruyung.
3. Posisi Stempel agak kekiri dan tanda tangan berada ditengah antara Pangkat dan nama Raja.
4. Nama lengkap Raja Pagaruyung diberi garis bawah dengan kesluruhan berhuruf kapital
5. Gelar Raja Pagaruyung dengan huruf kecil.


Tindasan Titah Disampaikan Kepada :
1. Yth. Bapak Gubernur Sumatera Barat/Pucuk Undang Sumatera Barat di Padang.
2. Yth. Ketua Umum Pucuk Pimpinan LKAAM Sumber di Padang.
Asli Titah ini disampaikan kepada :
– Yth. Engku Irwan Husein Sutan Bagindo.
– Yth. Engku Dr. Ir. Yuzirwan Rasyid MS.
– Arsip.






Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007




Source : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Keempat Oktober 2007

Dimano Garubang Hilang,
Di Aia Tojun-manojun
Dimano Bujang Hilang,
Di baliak Asok Bukik Takobun.

Ka ili ka mudiak mancari Dompet
Dompet dapek kobek pinggang ilang
Dek talendo daun lado mudo
La ili kamudiak mancari ubek
Ubek dapek Nan Kanduang ilang
Ba tamba sansai badan ambo
Begitulah bunyi bait/syair Marungui
dan Ratok Silungkang Tuo

Seperti kita ketahui, Budaya Rakyat Minangkabau di setiap Nagari mempunyai ciri/kebiasaan dimasing-masing daerah, termasuk juga di Nagari Silungkang, mempunyai budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu, sebahagian masih tetap dipakai sampai sekarang, seperti budaya kesenian Tak Tumbin (Rebana) yang dipakai atau dipertunjukkan pada setiap ada pesta Baroleh Kawin. Tapi ada satu Budaya Silungkang asli yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu yang terlupakan atau mungkin sudah dilupakan oleh masyarakat Silungkang, bahkan generasi muda Silungkang saat ini ada yang tidak tahu sama sekali tentang budaya tersebut, sehingga membuat mereka terheran-heran. Budaya tersebut adalah MARUNGUI, RATOK SILUNGKANG TUO SERTA RATOK INYIAK PORIANG. Budaya ini sangat unik sekali, karena Silungkang adalah satu-satunya yang mempunyai budaya ini di seluruh Minangkabau, sehingga mendatangkan decak kagum bagi masyarakat Minangkabau lainnya bahkan juga Negara Malaysia.

Budaya atau kesenian Marungui ini dimainkan oleh satu orang dengan cara berkelumun kain sarung, juga Ratok Silungkang Tuo dan Ratok Inyiak Poriang dimainkan oleh satu orang dengan diiringi musik Saluang dan Talempong Botuang. Dalam permainan Marungui ini, Ratok Silungkang Tuo dan Ratok Inyiak Poriang, si pemain menceritakan keadaan yang terjadi pada seseorang maupun yang dialami oleh Nagari, seperti seorang yang putus cinta, atau seseorang yang ditinggal pergi oleh orang-orang yang dicintainya, sehingga akan menimbulkan kesedihan serta keharuan bagi orang yang mendengarnya. Pada saat sekarang ini yang masih menguasai budaya ini, hanya tinggal satu orang lagi di Nagari Silungkang ini, yaitu Bapak UMAR MALIN PARMATO, Kepala Dusun Sawah Darek Desa Silungkang Oso, bahkan sampai saat ini belum ada satupun dari generasi penerus yang mewarisi budaya ini, beliau ingin sekali menurunkan atau mengajarkan budaya ini kepada generasi muda Silungkang, supaya budaya ini tetap lestari serta terpelihara dengan baik, sehingga akan menimbulkan kebanggaan bagi masyarakat Silungkang khususnya dan Sawahlunto pada umumnya, karena budaya ini adalah sebuah aset daerah yang sangat berharga sekali, dan nantinya juga bisa menunjang pariwisata di Kota Sawahlunto, terutama sekali wisatawan akan lebih mengenal lagi Nagari Silungkang, tidak hanya terkenal dengan tenunan songketnya, tapi juga dikenal sebagai Nagari yang mempunyai budaya yang sangat unik sekali.

Sewaktu SS (Suara Silungkang) berkunjung kekediaman Bapak Umar Malin Parmato di Sawah Darek, menanyakan sejak kapan budaya ini ada di Silungkang, beliau menjawab menurut cerita dari orang-orang tua dahulu, budaya ini sudah ada sejak Masyarakat Silungkang masih menganut agama Hindu dan Animisme, atau sebelum agama Islam masuk ke Minangkabau. Sewaktu ditanyakan siapa yang pertama sekali memperkenalkan budaya ini, beliau tidak tahu persis siapa orang yang pertama yang memperkenalkan budaya ini, yang jelas Bapak Umar MP ini sudah menguasai budaya ini sejak tahun 1942 yang lalu. Juga waktu ditanya, dengan siapa beliau mempelajari budaya ini, Bapak Umar MP mengatakan, dia belajar dari Inyiak SAURA Kampung Talak Buai yang tinggal di Sungai Cocang pada tahun 1940.

Bapak Umar MP juga mengatakan, bahwa pada tanggal 10-18 April tahun 2005 yang lalu, budaya ini pernah ditampilkan pada “Pesta Gendang Nusantara 8” di Banda Raya Melaka Bersejarah, Negeri Sembilan Malaysia sebagai utusan dari Pemerintah Kota Sawahlunto. Kita sebagai warga Silungkang patut bangga sekali karena budaya kita sangat dikenal di negeri orang, tapi sungguh sangat ironis sekali, kenapa tidak ada dari warga Silungkang yang ingin melestarikan serta menghidupkan kembali budaya ini, sehingga nantinya akan bisa menjadi salah satu kunjungan wisatawan ke Silungkang, kalau dapat budaya ini bisa dijadikan salah satu agenda bagi kita masyarakat Silungkang untuk mengelolanya secara profesional.

Diharapkan kepada PKS Jakarta, ke depan untuk bisa memperkenalkan secara rutin budaya ini ditingkat Nasional, mungkin bisa dimulai pada acara Halal bi Halal warga Silungkang Jakarta sehabis lebaran nanti, sehingga nantinya budaya ini akan tetap lestari dan tidak akan hilang ditelan waktu. Kedepan marilah sama-sama kita jaga aset budaya kita ini yang sangat berharga seklai, sehingga budaya ini tidak akan diambil oleh daerah lain.

Oleh Rizal F. Daniel

Tabloid Suara Silungkang – Edisi Ketiga September 2007

Sesungguhnya kemunduran Islam sudah begitu rupa di Silungkang, namun hingga tahun 1984 tidak ada yang menyatakan secara terbuka kepada umum. Paling-paling perasaan yang demikian dikemukakan dengan andai-andai saja. Baru ketika konferensi ke II antar PKS yang berlangsung bulan Juli 1984 mulai dinyatakan secara terbuka (tertulis) dan kemudian dalam seminar sehari Adat Silungkang April 1986 di Jakarta lebih terang lagi.

Seperti diketahui dalam konferensi ke II antar PKS tersebut tampil makalah yang bertemakan agama. Dua diantaranya ditemukan oleh almarhum ulama Silungkang (dengan tema “Perkembangan Islam di Silungkang”) dan oleh Baharudin Hr. dengan judul “Masalah Keagamaan di Silungkang”.

Dalam makalah alim ulama Silungkang1) antara lain dikatakan : “Patut menjadi perhatian kita bersama dalam pendidikan agama sekarang ini sangat minim sekali minatnya pemuda/pemudi, sekiranya kita keberatan mengatakan tidak ada sama sekali. Siapakah nantinya yang kaan menggantikan alim ulama (kalau boleh dikatakan ulama), kalau tidak generasi sekarang ini”. “Kita sangat prihatin sekali dengan tidak adanya pemuda/pemudi sekarang ini yang mengarahkan kemauannya terhadap perguruan agama Islam, padahal ini adalah persoalan yang sangat penting sekali”.

Sedang oleh Baharudin Hr2) melalui makalahnya “Masalah keagamaan di Silungkang” antara lain dikemukakan bahwa “anak yang mengaji Al Quran hanya 600 orang, padahal murid SD sebanyak 780 orang. Berarti 25% murid SD belum mengaji. Sebagian besar berhenti sebelum tamat, tidak pandai membaca Al Qur’an dianggap masalah biasa”.

Kemudian ditambahkannya bahwa Mesjid Silungkang yang berdiri tahun 1900 itu telah berumur 84 tahun. Sudah banyak yang rapuh. Perlu pemugaran.

Dan yang lebih menarik lagi ialah makalah yang disampaikan wakil KAN Silungkang3) dalam seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta tahun 1986. Melalui makalah yang berjudul Alim Ulama atau guru agama yang akan habis itu”. Sebagai ulasan dikemukakan :

  • Ada yang sekolah agama karena terpaksa oleh orang tuanya;
  • Ada yang masuk sekolah agama hanya untuk pelarian karena tidak masuk dalam sekolah umum;
  • Banyak yang patah di tengah jalan pada sekolah-sekolah agama karena biaya, tarikan sekolah umum, cemooh dan pentin, keburu kawin, tidak tahan di asrama;
  • Setelah sekolah agama ingin menjadi pegawai negeri atau menjadi wiraswasta di rantau bagi kepentingan hari depannya.

Dan seperti telah dikemukakan dimuka bahwa “ada guru agama atau alim ulama yang sudah hampir ke pintu kubur sesama mereka saja tidak berbaikan”, demikian wakil KAN.

Sementara itu pada tahun 1987 oleh Syarief Sulaiman (Alm)4) sebagai buah pengamatannya selama berdiam beberapa waktku di kampung, ia membuat sebuah “laporan tentang masyarakat Silungkang di kampung sekarang”. Dalam laporannya itu antara lain dikemukakan :
“Begitu pula sikap muda/mudi terhadap pengajian di mesjid. Banyak yang tak acuh saja. Walaupun pengajian itu diadakan sebulan sekali di mesjid dan gurunya didatangkan dari luar dan pemberitahuan akan berlangsungnya pengajian malam itu disiarkan. Namun pada jam akan dimulai yang disertai dengan imbauan melalui pengeras suara (yang terdengar sampai ke pasar), namun puluhan muda/mudi ramai dibalai di depan TV umum atau pelataran parkir. Mereka tak acuh saja atas pengajian tersebut. Maka yang hadir (dalam pengajian tersebut-pen) dapat dihitung dengan jari. Bapak-bapak “camat” (calon mati) yang berumah di sekitar mesjid (itulah yang hadir-pen). Kesehatan mereka tidak mengizinkan lagi keluar rumah dimalam hari”.

Dewasa ini surau yang berfungsi di Silungkang tak lebih dari 10 buah. Padahal menjelang perang dunia ke II, jumlah surau lebih dari 40 buah. Fakta jumlah surau ini berbicara sendiri tentang kemunduran Islam di Silungkang.

Kurangnya pengajian ini tidak hanya di Silungkang, malah di Jakarta juga demikian. Berbeda ketika disaksikan Margaret pada tahun 1984, dimana pengunjung pengajian yang diselenggarakan majelis taklim cukup besar. Rupanya tahun 1984 itu merupakan “puncaknya”. Kemudian berangsur menyurut. Kesepian pengajian di Jakarta ini dapat diketahui dari laporan pertanggung jawaban Pengurus PKS5) (periode 1985 – 1987) yang disampaikan pada rapat anggota PKS Jakarta 26 Juli 1987, antara lain dikatakan :

“Kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan kurang mendapat perhatian dari warga Silungkang. Hal ini terlihat dari sepinya pengunjung pada setiap pengajian yang diadakan, malah pengajian warga Silungkang di Mesjid Al Insan Patal Senayan terpaksa ditutup. Demikian juga dengan pengunjung pengajian Majlis Taklim yang diselenggarakan di kantor Koperasi Kemauan Bersama”.

Itulah sementara fakta yang secara terbuka dikemukakan pemuka-pemuka Silungkang mengenai kemunduran Islam di Silungkang.

Apakah artinya keterangan secara terbuka tersebut ?

Ia mengandung arti orang awak mengamalkan secara tepat Mamangan “Upek maiduiki, puji mambunuah” (umpat atau kecaman menghidupi, puji membunuh). Kritik itu adalah dengan tujuan untuk merubah keadaan yang tidak baik menjadi baik. Jika diri sendiri tidak berusaha merubah keadaan yang kurang menguntungkan menjadi menguntungkan, maka keadaan akan tetap kurang menguntungkan. Ini sesuai dengan surat Ar Ra’du ayat 11 yang mengatakan :

Innalloha layughaiyiruam biqaumin hatta yughaiyiruma bianfusihim” (sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan sesuatu kaum kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri).

Tanpa membaca kita akan bisa menguasai ilmu dunia dan akhirat. Tanpa membaca tak mungkin kita dapat mengamalkan sabda Nabi Muhammad6) : Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat “(tholabul ilmi mahdi ilal lahdi); tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina” (ilmi walau fi siin).

Bisa dipertanyakan, dapatkah dikatakan umat Nabi Muhammad yang baik bila dengan membaca atau tidak mau membaca guna meningkatkan ilmu di dada!

Banyak hal-hal yang dapat diketahui dengan membaca dari pada tidak membaca dengan, tidak membaca memaksa diri kita harus menghubungkan sendiri berbagai permasalahan dan itu akan meminta penyediaan waktu dan energi. Padahal mungkin saja permasalahan itu sudah dipecahkan orang lain, sehingga bila kita membaca tak perlu lagi menyediakan waktu dan energi untuk mencari pemecahannya.

Membaca berarti berdialog dengan pikiran pengarang. Tentu saja hati dan otak dibuka selebar-lebarnya untuk menerima pengaruh dari pikiran pengarang itu dan sekaligus berusaha menyaring dengan cermat. Dialog dengan pikiran pengarang berarti mengantarkan kita pada kebenaran-kebenaran baru yang lebih tinggi.

Dengan banyak membaca kita akan lebih mengenai diri kita (kelebihan dan kekurangan atau keterbatasannya) sehingga mendorong kita lebih banyak lagi membaca dan belajar. Dengan banyak membaca kita akhirnya akan menemui jalan yang benar, yang harus ditempuh, agar Islam bangkit kembali di Silungkang.

Membaca bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk membentuk pikiran dan pandangan kita.

Catatan Kaki :

  1. Alim Ulama Silungkang : “Perkembangan Islam di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi ke II antar PKS, Juli 1984 di Silungkang).
  2. Baharudin Hr : “Masalah Keagamaan di Silungkang” (Makalah dalam Konferensi ke II Antar PKS di Silungkang pada bulan Juli 1984).
  3. KAN Silungkang : “Krisis Adat dan Agama di Silungkang”, (Makalah dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta, April 1986).
  4. Sharief Sulaiman : “Laporan tentang masyarakat Silungkang di Kampung sekaran”, FORMES April 1987.
  5. Pengurus PKS periode 1985 – 1987 : “Laporan Pertanggungan Jawab”, yang disampaikan pada rapat anggota PKS Jakarta 26 Juli 1987.
  6. Dr. M. Amin Rais : Dalam pengantar terhadap buku Dr. Ali Shariati : “Tugas Cendikiawan Muslim”, penerbit CV. Rajawali Jakarta, 1984, h. viii.

Sumber :

Buku Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Terbukalah hubungan dengan dunia luar bagi orang Silungkang (terutama dengan telah adanya jalan kereta api dan jalan oto) yang tampak sepintas lalu terbukanya jalan bagi kemajuan kehidupan. Tetapi jika didalami dengan seksama ternyata didalam kemajuan itu terkandung juga hal-hal yang menyakinkan kemunduran di pihak lain.

Betapa tidak !

Sesungguhnya benih-benih yang akan membawa kemunduran bagi pihak lain itu bisa dihambat sekiranya tujuan berdagang adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Artinya dalam berdagang cara-cara yang ditempuh semata-mata jalan yang diridhoi Allah. Akan tetapi bila tujuan berdagang hanya untuk menumpuk kekayaan perdagangan, masanya sudah berlebih setahun dan nilainya sudah sampai senisab akhir tahun itu, maka orang tersebut wajib mengeluarkan zakatnya. Sebesar 2 ½ %, dihitung dari modal dan keuntungan, bukan dari keuntungan saja. Tentang besarnya harta perniagaan yang harus dizakatkan menurut H. Sulaiman Rasyid dengan zakat emas dan perak. Bagi emas nisabnya 93,6 gr, perak 624 gr. Besar zakat 1/40 dari harta perniagaan itu. Misalnya harta perniagaan diakhir tahun jumlahnya senisab 93,6 gr. Maka besarnya zakat yang wajib diberikan adalah 1/40 dari 93,6 gr. Namun iblis senantiasa akan merayu orang Islam yang berdagang itu meneruskan langkahnya yang sesat (menghalalkan segala cara). Jika pedagang itu termakan oleh rayuan iblis, maka semakin tinggi kedudukannya dalam dunia perdagangan, akan semakin tipislah iman di dada.

Dalam kehidupan beragama, seperti juga dalam kehidupan pada umumnya peranan keteladanan atau contoh dari para pemukanya banyak menentukan apa yang akan dilakukan oleh orang awam. Bila pemuka-pemuka agamanya senantiasa sesuai antara kata dengan perbuatan, maka massapun akan berusaha semacam itu, paling sedikit berusaha mendekati seperti langkah pemukanya itu. Sebaliknya jika pemuka memberi contoh yang kurang baik dalam kehidupan, maka pengikutnya bisa berbuat lebih buruk dari pada apa yang dilakukan pemukanya.

Tentu akan lain halnya bagi orang yang kuat belajar (baik mengenai soal keduniaan maupun keakhiratan). Ia tidak sepenuhnya tergantung dengan apa yang dilakukan para pemukanya. Ia akan melihat dengan kritis. Yang benar akan diikuti dan yang tidak benar akan dijauhinya.

Sekarang marilah kita tengok sikap atau kehidupan sementara guru agama kita.

Seorang guru agama dengan jujur dan terus terang berulang kali mengatakan bahwa kami (maksudnya guru-guru agama) memang tak pernah menjelaskan sejelas-jelsnya tentang zakat dengan segenap permasalahannya. Kami khawatir jika dijelaskan sejelas-jelasnya (secara terperinci) nanti bisa lahir purbasangka atau tuduhan seakan-akan kamilah yang menginginkan zakat itu. Kami tidak ingn mendapat tuduhan semacam itu.

Andai kata lahir purbasangka atau tuduhan begitu terus menyampaikan sesuatu yang hak, itu adalah resiko yang harus diterima oleh setiap mubaligh. Tak mungkin seorang mubaligh akan menjadi mubaligh yang benar, sekiranya ia takut dilamun ombak, tak bersedia memikul suatu resiko.

Padahal zakat itu adalah salah satu tiang agama yang pentng. Seperti dinyatakan Abdul A’la Maududi : “Sesudah shalat, tiang Islam yang terbesar adalah zakat. Biasanya dalam rangkaian ibadah yang biasa, puasa diletakkan sesudah sholat, maka orang banyak mempunyai pengertian bahwa sesudah sholat adalah puasa. Tetapi dari Al Qur’an kita mengetahui dalam Islam pentingnya zakat terletak sesudah sholat. Keduanya adalah tiang penyanggah struktur bangunan Islam. Tanpa zakat, Islam akan roboh”. Dengan mewajibkan zakat Allah telah menempatkan setiap orang dalam ujian. “Mereka yang tulus dalam ujian ini dan berguna bagi Allah. Bahwa zakat, maka sholat, puasa dan pernyataan iman tidak akan berguna”.

Oleh karena masalah zakat tidak diterangkan sejelas-jelasnya oleh para guru agama kita, maka wajar saja jika terdapat berbagai pendapat mengenai zakat antara lain sebagai berikut :

  1. Ada yang berpendapat zakat harta perniagaan itu baru dikeluarkan jika perniagaan untung. Jika pulang modal, apa lagi rugi, tak wajib mengeluarkan zakat, walaupun jumlah modalnya masih cukup nisab.
  2. Ada yang menganggap zakat itu harus dikeluarkan dimana tempat ia berniaga dan tidak boleh dikirim ke daerah lain, meskipun kerabat dekatnya berada disitu.
  3. Ada pula yang tak mau mengeluarkan zakat, karena menurut pendapatnya harta kekayaannya itu didapatkannya dari jerih payahnya dan bukan titipan Allah kepadanya. Karena itu bila ada amil zakat datang kepadanya, sedapat mungkin dihindari bertemu dan jika pertemuan itu tak dapat dielakannya, maka dijawabnya, misalnya “zakat telah diberikan kepada tetangga”.
  4. Ada pula yang mengeluarkan zakat tanpa perhitungan yang cermat. Asal pada akhir tahun perniagaan ada yang meminta zakat, diberikannya sedikit. Jika tak ada yang datang meminta, zakat tak dikeluarkannya.
  5. Ada juga yang mengeluarkan zakat benar-benar dengan tujuan untuk membersihkan harta dan jiwanya.

Mengenai peranan zakat sebagai pembersih harta dan jiwa dengan jelas oleh Dr. M. Yusuf Qardawi dikatakan : “Sesungguhnya orang yang paling membutuhkan pembersih diri dari kekayaan adalah para pedagang, oleh karena usaha mencari yang mereka lakukan diyakini tidak akan bersih dari berbagai macam penyimpangan dan keteledoran, kecuali orang yang betul-betul jujur dan suci, tapi mereka sedikit sekali terutama di zaman sekarang”.

Untuk memperkuat kesimpulannya, Dr. M. Yusuf Qardawi mengemukakan hadis Nabi Muhammad yang berbunyi “Pedagang-pedagang nanti pada hari kiamat dibangkitkan dari kubur sebagai durjana, kecuali orang yang bertaqwa, baik dan jujur” (hadis ini diriwayatkan oleh Turmizi yang mengatakan hadis itu Hasan sahih, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dalam shahih dan hakim yang menilainya sahih).

Menanggapi ucapan Nabi Muhammad tersebut ada yang mempertanyakan “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual beli ?” Nabi menjawab : Ya tapi mereka terlalu mengobral sumpah, oleh karena itu mereka banyak berdosa dan banyak berbohong (diriwayatkan oleh Ahmad dengan Sanad yang baik dan oleh hakim dengan teks darinya yang mengatakan sanadnya sangat shahih).

Seterusnya Dr. M. Yusuf Qardawi mengatakan : “Seseorang yang memiliki kekayaan perdagangan, masanya sudah berlebih setahun dan nilainya sudah sampai senisab akhir tahun itu maka orang itu wajib mengeluarkan zakat sebesar 2 ½%, dihitung dari modal dan keuntungan bukan dari keuntungan saja”.

Tentang besarnya harta perniagaan yang harus dizakatkan menurut H. Sulaiman Rasyid1) dengan zakat emas dan perak. Bagi emas nisabnya 93,5 gram, sedang perak 624 gr. Besar zakat 1/40 dari harta perniagaan itu. Misalnya harta perniagaan akhir tahun jumlahnya senisab 93,6 gr emas. Maka zakat yang wajib dibayar adalah 1/40 x 93,6 gr emas. Bila harga emas misalnya Rp. 22.000,- per gram, maka harta perniagaannya berjumlah 93,6 gr x Rp. 22.000,- = Rp. 2.059.200,- Zakatnya 1/40 dari Rp. 2.059.200,- = Rp. 50.148,-

Jadi zakat yang dibayar tidak hanya dihitung dari keuntungan saja melainkan dari jumlah seluruhnya, modalnya, ya untungnya. Juga tidak bebas dari membayar zakat, sekira perniagaannya rugi, bila modalnya (sesudah dikurangi kerugian) masih cukup senisab.

Mengenai anggapan bahwa tidak boleh memindahkan zakat ke daerah lain, dengan jelas Dr. M. Yusuf Qardawi2) mengatakan : “Apabila bagi si penguasa diperbolehkan berijtihad untuk memindahkan zakat ke daerah lain, karena kemaslahan Islam yang dianggap kuat, maka bagi si muslim yang wajib zakat, diperbolehkan pula untuk memindahkan karena suatu kebutuhan atau suatu kemaslahatan yang dianggap kuat pula, apabila ia sendiri yang mengeluarkannya, seperti terjadi di zaman sekarang ini. Hal itu seperti yang dikemukakan mashaf Hanafi dalam membolehkan pemindahan zakat, seperti untuk kerabat yang membutuhkan, atau untuk orang yang lebih membutuhkan dan lebih sulit penghidupannya atau untuk orang yang lebih membutuhkan bagi kaum muslimin, dan lebih utama untuk dibantu atau untuk melaksanakan rencana Islam di tempat lain, yang akan menghasilkan kebaikan yang besar bagi orang muslim, dimana hal yang semacam itu tidak terdapat di daerah zakat itu berada”.

Andai kata semua orang awak yang berniaga melaksanakan ketentuan-ketentuan syariat agamanya, mungkin dalam waktu singkat tak ada lagi orang Silungkang di akhir tahun menadahkan tangan meminta zakat. Malah ada kemungkinan zakat orang Silungkang diberikan ke negeri tetangga. Sebab, kini telah ada beberapa orang Silungkang yang miliarder pada tahun 1987 dan salah seorang diantaranya pada tahun itu mengeluarkan zakat Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) seperti yang ditulis Abu Asar dalam FORMES Oktober 1987, dengan judul “Impian Silungkang Indah”.

Sementara guru agama yang lain ada pula yang berpendapat “bukan guru yang harus datang ke murid, tetapi murid yang harus datang pada guru”. Guru itu tampak berpegangan pada hadis Nabi yang mengatakan : “Menuntut ilmu itu wajib bagi semua muslim” (tholabul ilmi faridhatun a’laa kulli muslim).

Guru agama itu mungkin belum mengetahui atau mungkin telah mengetahui tetapi lupa akan khutbah perpisahan yang disampaikan Nabi Muhammad pada tanggal 9 Zulhijjah tahun 10 H. Antara lain beliau mengatakan : “………… maka hendaklah yang telah menyaksikan diantaramu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga barang siapa yang menyampaikan akan lebih dalam memperhatikannya dari pada sebagian yang mendengarkannya3). Jelasnya, yang tahulah yang menyampaikan kepada yang belum tahu. Gurulah yang harus mendatangi murid. Bila mana muridnya datang sendiri karena kesadaran akan kewajibannya, itu tentu lebih memudahkan guru menyampaikannya. Bagaimanapun juga tanggung jawab gurulah yang harus menyampaikannya kepada yang belum atau tidak tahu.

Juga bukanlah teladan yang baik bagi yang awam bila ada konflik diantara guru yang tidak diselesaikan, dibiarkan berlarut. Tidak diselesaikan konflik atau perbedaan pendapat tentu saja sangat memprihatinkan. Tidak diselesaikan konflik sesama guru agama telah pernah terjadi pada permula pembaharuan (sehingga ada sementara guru agama yang tidak lagi bersembahyang Jum’at di mesjid) dan pada tahun 1986 wakil KAN4) dalam seniar sehari adat Silungkang di Jakarta mengatakan : “Ada guru agama atau Alim Ulama yang sudah hampir ke pintu kubur sesama mereka saja tidak berbaikan”.

Tidak berbaikan sesama guru agama tentu tidak sesuai dengan ajaran agama yang mereka ajarkan bahwa sesama umat harus saling berbaikan. Hal demikian hanya akan menurunkan nilai mereka dimata murid-muridnya.

Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan5) agar guru agama sesuai perbuatannya dengan apa yang diajarkannya, maka seorang penyair melontarkan kata-kata :

  • Wahai orang yang mengajar orang lain
  • Kenapa engkau tidak juga mengajari
  • Dirimu sendiri
  • Engkau terangkan berbagai macam obat bagi segala
  • Penyakit
  • Agar yang sakit sembuh semua
  • Sedangkan engkau sendiri ditimpa sakit
  • Obatilah dirimu dahulu
  • Lalu cegahlan agar tidak menular
  • Kepada orang lain
  • Dengan demikian engkau adalah
  • Seorang yang bijak
  • Maka apa yang engkau nasehatkan
  • Akan mereka terima dan ikuti
  • Ilmu yang engkau ajarkan akan bermanfaat bagi mereka

Syair ini sesuai dengan firman Allah dalam hadis Qudsi6) yang berbunyi dalam bahasa Indonesianya : “Allah telah memberi wahyu kepada Isa anak Maryam : “Hai Isa, nasehatilah dirimu dengan hikmatku. Jika engkau telah mengambil manfaatnya, nasehatilah orang banyak dan jika tidak hendaklah engkau malu kepadaku”.

Sementara itu mungkin karena kurang membaca, kurang belajar, maka sementara orang awak mempunyai pengertian tentang agama setengah-setengah. Misalnya dianggapnya atau dinilainya seseorang telah taat kepada agama asal telah dilihatnya sholat. Tetapi apa yang dilakukan (oleh orang yang telah dilihatnya sholat itu) sesudah sholatnya, tidak dipermasalahkan lagi. Apakah setelah sholat ia tidak melakukan perbuatan keji dan mungkar, misalnya dalam berdagang menghalalkan segala cara demi laba; tidak mengeluarkan zakat hartanya sesuai dengan ketentuan agama dan sebagainya.

Surat An-Kabut ayat 45 dengan jelas mengatakan (dalam bahasa Indonesianya) : “Sesungguhnya sembahyang itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar”.

Menilai seseorang taat beragama harus dari keseluruhan sikap hidupnya. Dan itu sangat sukar, arena pengetahuan mereka tentang pribadi-pribadi lain, sangat terbatas. Pandangan-pandangan lahiriah akan lebih banyak menentukan penilaian manusia. Karena itu tidak objektif jika hanya dengan melihat sebagian dari kehidupan seseorang telah disimpulkan saja. Vonis keagamaan adalah semata-mata monopoli Allah dan tak seorangpun yang berhak mengganti jabatan Allah.

Penilaian seseorang bisa saja keliru. Bila penilaian keliru kepada seseorang diisukan kepada yang lain bisa menyebabkan yang diisukan (bila kurang kuat imannya semakin mundur rasa keagamaannya, dan tentu saja bila imannya kuat, isu tersebut akan diterimanya dengan sabar).

Pengertian setengah-setengah tentang ajaran agama ini tercermin juga dari “nasehat” seorang mamak kepada kepenakannya yang beberapa waktu lagi kemenakannya akan menikah. Mamak itu tahu benar bahwa kemenakannya itu kurang taat sembahyang lima waktu sehari semalam. Tampaknya ia menutupi kelemahan keponakannya itu. Menjelang hari pernikahan keponakan itu, dinasehatinya : “Berusahalah menunjukkan diri beberapa sholat Jum’at di mesjid”.
Tujuan mamaknya memberikan “nasehat” semacam itu agar keluarga calon istri kemenakannya itu tidak menggunakan kelemahan kemenakannya kurang sembahyang itu sebagai alasan untuk membatalkan rencana pernikahan. Minimal, bila Ninik – Mamak atau keluarga calon istrinya mengetahui bahwa kemenakannya tidak taat bersembahyang pandangan negatiflah yang akan terjadi pada kemenakannya.

“Nasehat” mamak yang semacam itu tentu bukanlah dimaksudkan untuk menegakkan agama Islam, melainkan untuk agar tak tahu sampai dimana ketaatan beragama dari kemenakannya itu. Betapa Islam tidak akan mundur bila dikalangan orang awak sendiri terdapat “nasehat” yang sesungguhnya bukan nasehat melainkan khianat.

Kemunduran Islam mulai tampak pada masa pendudukan serdadu Jepang (1942 – 1945). Ketika itu tekanan ekonomi cukup berat dirasakan. Setiap orang berusaha keras untuk dapat mempertahankan hidup dan berjuang dengan gigih untuk mengatasi tekanan ekonomi itu.

Mungkin karena tekanan ekonomi itu jugalah maka sebagian besar pemuda-pemudi yang sudah menamatkan pendidikan agamanya di Padang atau Padang Panjang terpaksa terjun pula menjadi pedagang atau pengusaha. Bukan menjadi guru agama, atau mubaligh seperti rencana semula tatkala akan memasuki perguruan agama tersebut.

Dalam rangka menanggulangi tekanan ekonomi itu sementara orang Silungkang mulai menggunakan Surau untuk tempat usaha : bertenun atau membuat perusahaan rokok. Padahal dahulunya surau-surau itu tempat pendidikan agama; tempat berkomunikasi antar mamak dengan kemenakannya dan sebagainya. Tak sedikit sumbangan surau bagi kemajuan orang Silungkang. Ketika surau benar-benar berfungsi sebagai surau anak-anak merasa malu jika tak tamat Al Quran.

Massa pendudukan Jepang ini disusul dengan Perang Kemerdekaan atau Revolusi Fisik (1945 – 1950). Keadaan ekonomi yang sudah parah bertambah parah lagi. Pikiran orang awak terutama tertuju untuk memenangkan perang kemerdekaan itu. Perbaikan ekonomi akan terjadi sendiri bila Belanda penjajah telah dikalahkan.

Pada masa revolusi fisik ini makin terasa kemunduran Islam di Silungkang. Sementara tanah yang dulunya diwakafkan bagi keperluan surau-surau banyak yang dicabut oleh anak cucunya. Sebagai alasan untuk mencabut tanah wakaf itu antara lain dikatakan “menurut keterangan nenek tanah itu diwakafkan hanya seumur surau saja. Tak boleh diperbaiki jika telah rusak. Bila surau itu telah hancur maka tanah tersebut harus kembali kepada pemiliknya”.

Memang susah untuk menguji kebenaran “keterangan nenek” yang sudah tiada itu. Sebenarnya jika anak atau cucunya mempunyai pengertian yang benar tentang wakaf, tentu tidak akan muncul istilah atau dalih “menurut keterangan nenek”. Atau apa yang dikatakan “menurut keterangan nenek” itu hanya alasan untuk menguasai tanah yang telah menjadi miliki surau itu.

Menurut H. Sulaiman Rasjid7) bahwa salah satu syarat syah wakaf, ialah bila wakaf itu berlaku untuk selama-lamanya. Tidak dibatasi oleh waktu, misalnya sampai surau yang bersangkutan hancur. Wakaf berarti memindahkan hak pada waktu itu juga kepada yang diberi wakaf.

Mencabut kembali tanah yang telah diwakafkan berarti mengambil hak pihak yang menerima wakaf. Berarti hendak memanfaatkan sesuatu yang bukan lagi menjadi haknya. Bila pengambilan hak penerima wakaf itu dilakukan karena tidak mengerti tentang ketentuan wakaf, persoalannya lebih mudah. Kembalikan kedudukan tanah wakaf itu kepada yang berhak.

Persoalannya menjadi lain, jika yang bersangkutan mengerti ketentuan wakaf yang demikian, tetapi dilakukannya juga mengambil hak yang telah menjadi pemilik tanah wakaf itu. Ia telah melakukan perbuatan yang mungkar.

Catatan Kaki :

  1. H. Sulaiman Rasjid : “Fiqh Islam”, penerbit Sinar Baru, Bd. 1988, h. 188.
  2. Dr. M. Yusuf Qardawi : “Hukum Zakat”, penerbit Pustaka Litera Antar Nusa PT, Bogor 1987, h. 809.
  3. Munir Taher : “Timbang Risalah dan Pelajaran yang dapat diambil daripadanya”, Formes April 1989.
  4. KAN Silungkang : “Krisis Adat dan Agama di Silungkang”, (Makalah dalam Seminar Sehari Adat Silungkang di Jakarta, April 1986).
  5. Dr. Abdullah Nashih Ulwan : “Pedoman Pendidikan Anak-anak” (Jilid II), penerbit Asy-syifa’, Bd. 1988, h. 3.
  6. K.H.M Ali Usman, H.A.A. Dahlan, Dr. H.M.D. Dahlan : “Hadis Qudsi Pola Pembinaan Akhlak Muslim”, penerbit CV. Diponegoro, Bd, 1988, h. 199.
  7. H. Sulaiman Rasjid : “Fiqh Islam”, penerbit Sinar Baru, Bd. 1988, h. 317 – 322.

Sumber :

Buku Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Pada tahun 1893 telah di buka jalan kereta api yang menghubungkan Sawahlunto dengan Teluk Bayur. Jalan kereta api itu mulai dikerjakan tahun 1888. Sebelum jalan kereta itu di buka, jalan raya antara Sawahlunto – Padang (juga lewat Silungkang) telah ada. Dengan adanya hubungan jalan kereta api dan jalan oto (mobil), makin terbukalah peluang bagi orang Silungkang untuk bepergian keluar dan sebaliknya bagi orang luar untuk berkunjung atau lewat Silungkang. Komunikasi tentu terjadi. Arus lalulintas telah membawa pengaruh yang besar bagi kemajuan orang awak.

Kemajuan yang dimaksud bukan saja dalam bidang perdagangan, tetapi juga dalam bidang agama. Dengan mudahnya bepergian keluar, maka banyaknya pemuda-pemudi Silungkang yang belajar agama keluar, seperti ke Padang Panjang, Batusangkar, Payakumbuh, Padang dan sebagainya.

Diantara pemuda-pemudi Silungkang yang pernah menuntut ilmu agama itu keluar ialah : Jalaludin, Abdullah Mahmud (Tanah Sirah), Pokiah Yakub, Noerman (Panai 4 Rumah); Ibrahim Jembek (Paliang Atas); Kasim Taher (Melayu); Samsudin, H. Jalil, H. Mahmud, H. Abdullah Usman (Sawahjui); Sharief Sulaiman (Malowe); Jalil (Dalimo Godang); Naamin Majid (Rumah Tabuh); Darwis Sulaiman (Koto Marapak); Rasjid Sulaiman Labai (Patopang); Nuri Said, Katib Sarbini; Kasim Marzuki (Palkoto); Nurajana (Talak Buai); Rasid Abdullah; Tirana (Kutianyir).

Seperti juga ditempati lain di Minangkabau arus pembaharuan di bidang agama juga berlangsung di Silungkang. Diantaranya jika pada awal berdirinya Mesjid (1900) khutbah Jum’at di Silungkang memakai bahasa Arab, maka tahun dua puluhan tidak demikian lagi. Khutbah Jum’at telah memakai bahasa Indonesia. Ini sesuai dengan Surat Ibrahim ayat 4, yang dalam bahasa Indonesianya : “Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka”.

Dalam pembaharuan ini peranan Ongku Kali Gaek (Tan Kabi Pokiah Kayo, Dalimo Cocah) besar sekali. Seorang diantara murid Ongku Kali Gaek tersebut ialah Pokiah Amat, Guru Surau Tanjung Medan.

Pembaharuan ini terjadi ada kaitannya dengan kegiatan bekas-bekas murid Syekh Ahmad Chatib bin Abdullah Al Minangkabau yang banyak pulang dari tanah suci sekitar tahun 1903-an.

Terhadap pembaharuan (bahasa) dalam Khutbah Jum’at ini ada sementara Ulama Silungkang yang tak dapat menerimanya. Mungkin dianggapnya khutbah dalam bahasa Indonesia itu tak sesuai dengan cara Nabi bersembahyang Jum’at, dimana khutbahnya dalam bahasa Arab. Penolakan mereka atas khutbah dalam bahasa Indonesia itu ditunjukkan dengan mereka tidak pernah lagi turut bersembahyang Jum’at di Mesjid Raya Silungkang sesudah itu.

Sangat sayang perbedaan pendapat tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam khutbah itu tak diselesaikan oleh Ulama-Ulama Silungkang yang ada ketika itu. Baik pembaharu maupun yang mempertahankan tradisi sama-sama tak mengambil inisiatif menyelesaikannya. Mungkin karena pertimbangan lain. Masing-masing bertahan dengan pendiriannya. Yang terang pihak ketiga yang berwibawa terhadap kedua belah pihak yang berbeda pendapat itu nampaknya tidak ada. Dan karena itu perbedaan pendapat itu berjalan terus.

Sementara itu orang Silungkang yang naik haji ke tanah suci senantiasa meningkat. Dan kini ke tanah suci tak memerlukan waktu berbulan-bulan lagi dilautan. Telah ada kapal api. Ke tanah suci tak perlu lagi melalui Ulakan, tetapi melalui Teluk Bayur. Menjelang tahun 1940 yang naik haji antara lain dari :

  • Palakoto : H. A. Karim, H. Abdulmanan, H. Rasyad, H. Muhammad, H. Padang, H. Bakar.
  • Dalimo Tapanggang : H. Salim, H. Ahmad, H. Katab.
  • Sawajuai : H. Djamil, H. Cuba, H. Tumbok.
  • Panai Kotobaru : H. Ibrahim, H. M. Zen, H. M. Yusuf, H. M. Ahmad, H. Capang, H. Abad.
  • Malowe : H. Yusuf, H. Saiyan, H. Ongku Unggai, H. Katab, H. M. Rahim.
  • Dalimo Godang : H. M. Junus, H. Komaria, H. Ibrahim.
  • Tanah Sirah : H. Taher, H. Ongku Godang, H. Hasan.
  • Dalimo Kosiek : H. Marzuki.
  • Koto Marapak : H. Kamaludin.
  • Dalimo Jao : H. Yahya, H. M. Noer, H. Aba, H. Hasan.
  • Panai Ruman Nan Panjang : M. Jamil.
  • Rumah Tabuh : H. Gude.
  • Guguk : H. Kukuik, H. Sulan.
  • Panai 4 Rumah : H. Ismail, H. Samsudin.
  • Batu Bagantung : H. Jusuf.
  • Talakbuai : H. Jusuf, H. Sulaiman, H. Ruslan.

Sesungguhnya masih banyak nama lain yang belum termasuk dalam catatan ini. Maklumlah kekuatan ingatan saya terbatas.

Dalam perjalanan Islam di Silungkang ini tak dapat diabaikan berdirinya Limau Purut Institut pada tahun 1940. Limau Purut Institut ini kemudian berganti nama menjadi Silungkang Institut dan seterusnya berganti lagi menjadi Sekolah Dagang Islam (SDI) hingga kini.

Berdirinya Limau Purut Institut ini adalah salah satu hasil Konferensi Silungkang tahun 1939, yang antara lain acaranya mempermasalahkan pendidikan anak-anak Silungkang. Seperti diketahui masalah pokok yang diperbincangkan dalam konferensi Silungkang 1939 ialah :

  • Masalah air buat mandi dan kesucian nama nagari Silungkang
  • Masalah pendidikan anak-anak
  • Masalah kain tenun Silungkang
  • Masalah perantauan anak nagari

Perlu juga diketahui bahwa sebelum berdiri Sekolah Dagang Islam ini, di Silungkang juga sudah ada Dinniyah School (sekolah agama), yang juga tak sedikit sumbangannya dalam memajukan pendidikan agama Islam di Silungkang.

Ketika konferensi Silungkang yang pertama itu berlangsung Perang Dunia ke II telah mulai di Eropa, dengan diserbunya Danzig oleh tentara Hitler pada 1 September 1939. Dua tahun lebih kemudian, tepatnya 8 Desember 1941, angkatan udara Jepang fasis menyerang armada Amerika di Pearl Habor. Dengan itu Perang Dunia ke II telah meliputi seluruh dunia.

Perang Dunia ini menyebabkan sebagian besar orang Silungkang di perantauan pulang ke kampung halaman. Dalam suasana perang itu rasanya lebih aman bila berdiam di kampung sendiri. Ketika itu Silungkang jadi ramai dengan segala macam kegiatan.

Sumber :

Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :

Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Diperkirakan pada akhir abad ke XVII atau awal abad ke XVIII orang Silungkang telah ada pula yang naik haji ke tanah suci. Untuk ke Jeddah melalui Ulakan. Dari Silungkang ke Ulakan berjalan kaki. Jalannya masih kecil. Belum ada kendaraan seperti sekarang. Di Ulakan mereka tunggu perahu layar yang akan membawa ke Jedah. Menunggunya bisa sebulan, dua bulan atau lebih. Selama di Ulakan tentu perdalam juga ilmu agamanya.

Setelah ada perahu yang akan membawanya, berangkatlah ke tanah suci. Di lautan bisa berbulan-bulan tergantung dari hembusan angin. Sebab itu perbekalan sampai 6 bulan. Tentu saja pada waktu-waktu tertentu dipanasi dengan api, agar rasanya jangan apak. Pendeknya untuk bisa menunaikan haji ke tanah suci benar-benar diperlukan secara fisik dan materiil.

Mungkin karena situasi perjalanan yang begitu berat maka pada umumnya orang awak yang ke tanah suci tentu bermukim disana. Bermukimnya bisa setahun, dua tahun atau lebih. Selama di tanah suci mereka pertinggi pengetahuan agamanya. Setelah mereka pulang ke Silungkang, mereka sampaikan atau kembangkan apa yang telah mereka ketahui orang awak melalui pengajian-pengajian. Berdirilah surau-surau.

Letaknya surau-surau umumnya didataran. Kecuali Surau Tenggi, yang memang agak tinggi dibandingkan dengan Surau Baru, Surau Sepan, Surau Jambak dan sebagainya.

Menurut catatan Abu Asar (melalui tulisannya “Peranan Surau Tempo Dulu Dalam Pembentukan Watak Pribadi”, yang dimuat dalam FORMES April 1989) hingga dengan Konferensi Silungkang (1939) jumlah Surau di Silungkang lebih 40 buah.

Diantara orang awak yang pulang dari tanah suci pada pertengahan abad ke XIX ialah Syekh Barau (Mohd. Saleh bin Abdullah). Beliaulah yang paling terkemuka di Silungkang menyebarkan agama.

Menurut catatan M. Salim Dt. Sinaro Chatib1) bahwa yang membuat Surau Godang Silungkang (selesai pada tahun 1870) adalah Syekh Barau ini, dengan pertolongan tonggak dan pekayuannya sebagian besar dari Pianggu dan Toruang-toruang. Dari Indudu juga ada bantuan sedikit. Sedang tukang-tukang yang mengerjakannya sepenuhnya dari Kubang 13 sampai dari bagian Alahan Panjang.

Bantuan tonggak serta pekayuan dan tenaga kerja guna dapat berdirinya Surau Godang tersebut sebagian besar berasal dari bekas-bekas murid Syekh Barau serta Syekh-Syekh lain murid Syekh Barau. Bantuan itu sebagai ucapan terima kasih yang tak terhingga dari mereka kepada guru-guru yang telah mendidiknya.

Dibawah asuhan Syekh Barau ini perjalanan Islam di Silungkang sangat pesat. Disetiap Surau di Silungkang tentu ada seorang Syekhnya yang mengajarnya. Diantara Syekh-Syekh yang ada itu, 9 orang diantaranya murid Syekh Barau. 5 orang putra Silungkang sendiri, sedang yang 4 orang itu dari luar :

  • Syekh Mohd. Thaib Ongku Surau Lurah (Tanah Sirah)
  • Syekh Akmad Ongku Surau Tanjung (Dalimo Tapanggang)
  • Syekh Abdurrahman Ongku Surau Bulek (Dalimo Jao)
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Godang (Tanah Sirah)
  • Syekh Abubakar Ongku Surau Palo (P. Rumah Nan Panjang)

Yang 4 orang itu adalah :

  • Syekh Abdul Rahman Ongku Talowi
  • Syekh Abdullah Ongku Lunto
  • Syekh Abdullah Ongku Surau Ambacang Koto Anau
  • Syekh Muhammad Ongku Kotobaru Palangki

Pada masa Syekh Barau dan murid-murid beliau mengajar tak sedikit murid-murid beliau yang datang dari luar. Ketika itu aliran Tarqat cukup kuat. Ini sesuai dengan keterangan Hamka bahwa dalam masa tahun 1840 – 1900 ada kecenderungan di Minangkabau kepada Thasawuf. Di beberapa nagari guru-guru Tariqat mendirikan tempat-tempat bersuluk. Tariqat yang berkembang ialah Naqsyabandi-Khalidiyah didarat dan Shatariyah di Pariaman, Batuhampar (Payakumbuh), Kumango, Maninjau, Pariangan, Ulakan, Malalo.

Dalam mengerjakan Suluk ini lebih dulu orang melakukan Tawajjuh (menghadap wajah kepada Allah) dengan memakai Rabbitah (penghubung atau perantara), yaitu Syekh atau Khalifahnya. Setelah melalui pintu Tawajjuh atau Rabbitah itu, orang akan sampai pada fana. Dari fana kelaknya menuju kepada Baqa, sampai kepada La anna Illahhu (tidak ada saya melainkan Dia). Disinilah keluar kata-kata : “Al ibiddu wal ma’budu wahidin”.

Tempat Suluk bagi anak-anak di Silungkang ialah di Surau Lokuak dan Surah Lurah. Sedang bagi pria, terutama setelah Surau Godang berdiri, tempatnya di Surau Godang. Umumnya ibu-ibu yang turut Suluk telah “baki” (suci, tidak haid lagi).

Pada masa itu Silungkang merupakan salah satu tempat pemusatan pengajian di Minangkabau. Yang datang mengaji di Silungkang di antaranya dari Kotobaru Palangki, Talowi, Toruang-toruang, Indudu, Kota Anau, Pianggu, Lunto dan sebagainya. Mereka yang mengaji di luar inilah yang memberikan julukan “Silungkang Serambi Mekah”.

Syekh Barau sendiri meninggal dunia tanggal 29 Zulhijjah. Sayang tidak ada keterangan kapan beliau dilahirkan.

30 tahun sesudah berdirinya Surau Godang, maka telah tegak pula mesjid Silungkang. Ruang dalam 22 x 22 m. Jika berandanya dihitung berarti 24 x 24 m. Tipe mesjid Silungkang ini sama dengan mesjid Ganting di Padang. Sebab tukang yang mengerjakan itu juga. Masjid Ganting di Padang lebih dahulu, kemudian Sulit Air, baru Silungkang.

Dengan berdirinya Mesjid Raya Silungkang itu dua bangunan besar telah dibangun orang Silungkang. Bila berdirinya Surau Godang antara lain berkat bantuan dari bekas-bekas murid Syekh Barau, maka berdirinya Masjid Raya Silungkang belum ada catatannya, misalnya dari mana dananya. Mungkin saja ada yang mencatatnya, namun hingga kini belum diketahui.

Mengingat dana untuk dapat berdirinya Mesjid Silungkang cukup besar, sedang kekayaan orang awak ketika itu jauh di bawah kekayaan orang Silungkang sekarang, maka bisa diperkirakan betapa tingginya semangat beragama dikalangan orang awak ketika itu. Dananya tentu mereka kumpulkan dari sedekah, infak, zakat, wakaf dan sebagainya. Hanya saja bagaimana cara mereka mengumpulkan dana, tak ada keterangan. Masih merupakan rahasia yang harus digali. Itulah salah satu kekurangan orang awak di masa lalu, tidak ada menuliskan pengalamannya bagi cucu dikemudian hari. Padahal yang dikerjakan itu bukan proyek kecil, tetapi proyek besar, minimal menurut ukuran Silungkang.

Sekiranya orang-orang tua kita tempo dulu itu menuliskan dana untuk pembangunan mesjid itu, tentu kita akan dapat banyak menarik pelajaran daripadanya. Dengan tidak dituliskan, maka kita tidak mengetahui apakah pengumpulan dananya dilakukan secara terbuka atau tertutup. Apakah ketika itu juga telah muncul pemeo “sompiek lalu lungga batotok” (sempit lalu longgar diketok) dalam rangka mencari data, seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika hendak mengumpulkan dana bagi rencana pembangunan Gedung PKS di Jakarta.

Sekiranya dulu telah terjadi juga, itu berarti generasi (orang awak) abad ke XX masih seperti generasi abad ke XIX saja, tidak maju-maju. Sebaliknya jika pengumpulan dana itu berjalan lancar dan tidak mengenal sompiek lalu lungga batotok, berarti generasi sekarang mundur dibandingkan dengan generasi abad ke XIX.

Catatan kaki :
1. Disalin dari salinan oleh Bujang St. Sinaro, 9 Mei 1963.

Sumber :
Pelajaran Dari Perjalanan Islam di Silungkang

Oleh :
Munir Taher & Hasan St. Maharajo

Laman Berikutnya »