Belanda


Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya. Berawal dari situ mulai orang Silungkang mencoba berwarung-warung minuman dan makanan dilingkungannya, dari berdagang minuman dan makanan setapak demi setapak mereka maju, dan mulailah berdagang barang-barang lain dari satu desa ke desa lainnya dari satu nagari ke nagari lainnya dari satu daerah ke daerat lainnya, ternyata berdagang cocok untuk orang Silungkang sehingga sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera dan sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam (Thailand) sekarang. Di negeri Siam inilah perantau Silungkang dapat belajar bertenun dan setelah mereka pandai dan mengerti cara bertenun sewaktu mereka kembali ke Silungkang, ilmu bertenun ini mereka ajarkan kepada kaum ibu di Silungkang dan semenjak itu mulailah beberapa orang wanita Silungkang bertenun songket, pada awalnya bertenun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, kemudian mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari.

(lebih…)

Hadirilah …….
Semua warga negara Indonesia dan Mancanegara

PAMERAN dan FASHION SHOW SONGKET SILUNGKANG di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini Jakarta Pusat

30 – 31 Oktober 2012Los Lambung (Stand Makanan) diisi ALE-ALE ANGEK (panas), COKI, LUPI (lupis), SOP DAN SOTO WARGA SILUNGKANG JAKARTA, dll.Undangan yang akan hadir Duta Besar Negara Sahabat, Menteri, Pejabat Negara, Bisnismen, Investor dan lain-lain.Setiap hari dihadiri kurang lebih 1500 orang (Insya Allah)

Musik : Talempong, Randai, Gamad, Badiki dan KIM

KIM mulai jam 20.00 WIB

Pameran dibuka jam 14.00 WIB

Makan Bajamba diutamakan masyarakat LUAR KOTA SAWAHLUNTO sebanyak 50 Jambai = 250 orang. Pada tanggal 31 Oktober 2012. Jam 18.30 WIB

AGENDA ACARA

Selasa, 30 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

18.00 – Selesai

  • Kesenian rakyat
  • Talempong
  • Randai
  • Saluang
  • Rabab
  • Kim

Rabu, 31 Oktober 2012

10.00 – Selesai

  • Pameran Ekonomi Kreatif & Parawisata Sawahlunto
  • Demo Pembuatan Songket Silungkang
  • Pameran Foto
  • Los Lambuang
  • Pameran Songket Silungkang

19.00 – Selesai

  • Makan Bajamba

20.00 – Selesai

  • Malam puncak Sawahlunto Kreatif
    • Sambutan Walikota Sawahlunto
    • Launching Buku Sahabat Sawahlunto dan Ragam Hias Songket Silungkang
    • Sambutan Gubernur Sumatera Barat
    • Orasi menteri Parawisata dan Ekonomi Kreatif tentang “Ekonomi Kreatif” Sekaligus membuka acara.
    • Pertunjukan Sendra tari karya Hartati dengan tema “ Restorasi Songket Silungkang”
    • Fashion Show oleh Ria Miranda dengan tema “Minang Heritage”

Agenda acara diatas dikutip dari Undangan yang telah dan akan diedarkan. Sekapur sirih atau sambutan Walikota Sawahlunto dalam undangan tersebut semuanya mengangkat songket Silungkang. Berikut sedikit cuplikannya:

Aktifitas tenun Silungkang yang bernilai ekonomi itu tidak diragukan lagi eksistensinya. Perjalanan tenun Silungkang dengan berbagai produk songket telah mengalami berbagai dinamika dan pasang surut. Tenun songket Silungkang dimasa silam telah menorehkan prestasi hingga ke pentas dunia. Sejarah mencatat dimasa pemerintahan Hindia Belada, pengrajin tenun Silungkang telah ikut serta dalam Pekan Raya Ekonomi Eropa, tepatnya di Brussel Ibukota Belgia ditahun 1920.

FYI: Warga perantau asal Sawahlunto diharapkan meramaikan acara hari pertama dan hari kedua dengan datang berbondong-bondong ke TIM. Acara makan bajamba dan malam puncak di dalam gedung diutamakan untuk undangan karena sifatnya untuk promosi parawisata sawahlunto dan songket Silungkang

Oleh H. Abu Nawar (Dalimo Jao)

Perantau Silungkang pertama kali menginjak bumi Surabaya tahun 1930 dipelopori oleh Bapak P. Basir (Tanah Sirah) membuka toko tekstil di Tunjungan. Disusul perantau Silungkang lainnya yaitu Bp. Tayeb Saleh (Panay) dan Bp. M. Usman (Sawah Juai), keduanya di Wonokromo. Bp. M. Saini (Talak Buai) di Keputran, Bp. M. Noor (Guguek) di Blauran, H. Hasan Basri (Dalimo Tapanggang) di Praban, Bp. Salim Djalil (Dalimo Tapanggang) di Slompretan, dan sebagainya. Mereka semua membuka toko tekstil. Para perantau bertujuan datang ke Surabaya untuk mencari nafkah, dipilihnya kota Surabaya karena saat itu Surabaya sebagai kota transit perdagangan/pusat perdagangan.

Sebelum pendudukan tentara Jepang (1942), perantau masih merasa aman dibawah pemerintaha Belanda. Saat itu tidak ada pembebanan listrik, air, kebersihan, pajak dan keamanan terhadap warga negara Indonesia, semua ditanggung pemerintah Belanda. Namun deskriminasi dan tidak adanya persamaan hak antara orang Belanda dengan orang Pribumi itulah yang membuat bangsa Indonesia merasa terinjak-injak hak asasi manusianya, mereka berjuang untuk merebut kembali tanah air Indonesia tercinta, MERDEKA ATAOE MATI.

Masuknya tentara Jepang ke Indonesia khususnya ke Surabaya membuat para perantau Silungkang banyak yang mengungsi, namun hanya dalam waktu singkat mereka kembali lagi. Bapak Abu Nawar mengisahkan bahwa beliau mengungsi ke daerah Tretes, bertempat tinggal di kediamanan Organisasi Silungkang. Pengungsi hanya berbekal baju seadanya sedangkan harta benda yang lain (rumah dan toko) ditinggalkan begitu saja. Beliau mengungsi tidak kurang dari 1 bulan, selanjutnya kembali ke Surabaya dan membuka toko baru, karena toko semula sudah diambil oleh orang WNA (Cina).

Semenjak perjuangan, Bp. Abu Nawar ikut berjuang baik perjuangan di Jembatan Merah, Don Boscho, Hotel Yamatho, Rungkut, Panjang Jiwo dan sebagainya. Perantau Silungkang, Bpk. Basir (Malowe) gugur sebagai pejuang saat Agresi Militer I.

Kedatangan sekutu pasca kemerdekaan (1945), membuat para perantau banyak yang mengungsi kembali. Bpk. Abu Nawar mengungsi ke Blitar sampai tahun1948, diteruskan perjalannya ke Silungkang, beliau berdagang ke Jambi. Yang menarik disini, beliau ke Jambi, menumpang di M. Yunus di kebun kelapa Jambi karena uang ORI tidak berlaku saat Belanda masuk. Pak Abu hanya makan daun singkong disekitar kediaman. Liku-liku beliau untuk berusaha kembali ke Surabaya merupakan hal yang tidak masuk akal. Dimulai dari permohonan ke Camat (Raden Syahrudin) untuk meminta ijin kembali ke Surabaya, yang tidak dikabulkan, dilanjutkan ke Residen Jambi dan kepolisian Jambi tetap baru dapat ijin. Tiba suatu saat, truk berpenumpang tentara Belanda menuju ke Pelabuhan Pal Merah, beliau “menggandol” truk tersebut dengan dua orang awak sampai ketujuan. Tentara Belanda dalam truk tersebut plus tiga orang awak menumpangi pesawat menuju Palembang. Akhirnya dari Palembang setelah menghubungi Surabaya, beliau diperbolehkan kembali ke Surabaya dengan kapal laut.

Di Surabaya, beliau menetap di rumah M. Usman (Sawah Juai) di toko Indonesia kapasan. Dan mulailah kembali usaha toko beliau (tahun 1950).

Demikianlah sekelumit kisah sejarah yang dialami Bapak Abu Nawar dan para perantau Silungkang yang ada di Surabaya. Semoga dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para pembaca. (HAR).

Keadaan sekolah SDI dari tahun 1946 sampai tahun 1951 keadaannya semakin parah, karena :

  1. Kemiskinan akibat Jepang belum lagi terobati, bahkan semakin parah akibat blokade Belanda. Dimana-mana rakyat telah banyak yang memakai baju kulit kayu/baju tarok. Alhamdulillah Silungkang selamat dari itu.
  2. Kebutuhan sekolah semakin sulit.
  3. Murid bertambah menciut pada tahun 1946 berjumlah 42 orang, tahun 1947 = 35 orang, tahun 1948 = 18 orang, tahun 1949 = 25 orang, tahun 1950 = 41 orang, tahun 1951 = 43 orang.
  4. Honor guru bertambah seret. Kadang-kadang menerima kadang-kadang tidak.

UNTUNGNYA : sekolah tetap berjalan dan peraturan sekolah tetap dipatuhi walaupun telah ada yang memakai baju yang ditambal.

Setelah perjanjian KMB, nama sekolah ditambah dengan SMP, lengkapnya SMP SDI.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

7 Desember 1941 Admiral Nagumo menyerang Pearl Harbour. 8 Desember 1941, Belanda ikut memaklumkan perang kepada Jepang. Situasi di Indonesia mulai panas dan gawat. Perantau-perantau Silungkang yang bertebaran di seluruh pelosok tanah air, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan sama-sama sependapat walau tidak pernah bersepakat terlebih dahulu, untuk mengirim istri dan anak mereka ke kampung (Silungkang).

Disebabkan banyaknya anak-anak yang berkumpul di kampung, yang mana kebanyakan di perantauan bersekolah HIS (Hollands Inlansche School), maka Kepala Nagari bersama M. Nour Guguak dan Haroen Rajo Sampomo, mendirikan sekolah HIS pelarian yang kemudian dizaman Jepang ditukar namanya menjadi NIG (Nippon Indonesia Ghako). Tepat sekolah di rumah sekolah Silungkang Institut dipinjamkan satu lokal.

Pada umumnya anak-anak yang dari perantauan terdiri dari anak orang berada, tentu punya pakaian dan perlengkapan sekolah yang cukup dan bagus. Anak-anak Silungkang Institut terikat oleh disiplin sekolahnya, pakai pakaian seragam, kepala gundul dan tidak pakai sepatu. Perbedaan yang menyolok ini telah mulai menampakkan gejala yang tidak baik. Untuk menjaga bentrokan antar murid, oleh pengurusnya dipindahkanlah sekolah HIS ke lokal Volkschool di pasar Silungkang.

Supaya lekas membaurnya anak-anak dari rantau dengan anak-anak yang di kampung, oleh kedua pengurus kedua sekolah itu didirikan Pandu KBI (Kepanduan Kebangsaan Indonesia). Semua murid laki-laki di kedua sekolah itu diwajibkan untuk masuk di kepanduan itu. Pimpinannya diambil dari sekolah yang kedua itu yaitu Idroes Katoen dan Agusnar Alimin dari Silungkang Institut, Anuarby Jamal dan Kamaruzzaman dari HIS pelarian.

Yang patut menjadi perhatian kita bersama, ialah cepat tanggap dan cepatnya bertindak pemimpin-pemimpin Silungkang waktu itu, dan nyatanya semenjak diadakannya pandu KBI itu, baiklah hubungan antara anak-anak perantauan dengan yang di kampung. Kemajuan tentara Jepang diluar dugaan sekutu. Dalam waktu yang singkat, tentara Jepang telah sampai di Malaya. Singapura, benteng Inggris yang terkuat di Asia, telah terancam dan diragukan untuk bisa dipertahankan. Tentara Inggris telah banyak yang berhamburan lari, ada yang ke Pekanbaru, ke Rengat ke Jambi dan lain-lainnya.

Tentara Belanda yang gagah berani terhadap rakyat jajahannya selama ini walaupun belum pernah berhadapan dengan tentara Jepang, telah ketakutan pula. Telah banyak yang panik bahkan telah banyak yang lari meninggalkan kesatuannya. Dalam situasi yang demikian, Silungkang diberi jatah oleh Belanda minyak tanah sebanyak 700 kaleng yang disuruh tempatkan di rumah sekolah Silungkang Institut. Konon kabarnya kemudian diperdapat berita, maksud Belanda memberi minyak tanah itu adalah untuk membumi hanguskan Silungkang Institut dan negeri Silungkang.

9 Maret 1942 Indonesia diduduki oleh Jepang. Penandatanganan penyerahan tanpa syarat oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Tjarda Van Starkenburg Stachhouwer dan Luitnam Jendral Hein Ter Poorten dilakukan di Kalijati. Pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang mulai memasuki kota Sawahlunto dari Sijunjung. Rakyat menyambutnya dengan gembira sekali, lebih-lebih rakyat Silungkang yang dengan masuknya Jepang dan kalahnya Belanda terobat rasanya jerih payah, pengorbanan dan penderitaan tahun 1927.

17 Maret penyerahan di Padang Silungkang Institut ditukar namanya menjadi SDI (Sekolah Dasar Islam) nama mana disesuaikan dengan niat waktu mendirikannya.

Keadaan sekolah SDI selama pendudukan Jepang.

Sama seperti sekolah-sekolah lainnya di Sumatera Barat ini, SDI inipun mengalami nasib yang memprihatinkan, antara lain pada keadaan guru yang pada tahun 1943 terdiri dari Guru Hasan Muhamad, Guru Suginoi, Guru Rustam. Tahun 1944 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Umir Usman, Guru Idroes Katoen. Tahun 1945 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Idroes Katoen, dan Guru Syamsuddin Sawah Juai.

Keadaan murid tahun 1942 berjumlah 72 orang, tahun 1943 yaitu 52 orang, tahun 1944 hanya 46 orang dan tahun 1945 adalah 51 orang.

Honor guru dengan beras, itupun penuh ke bawah. Buku pegangan bagi guru tidak ada. Buku serta peralatan sekolah sulit diperdapat.

Untungnya, kalau ditempat-tempat lain sekolah dan guru-gurunya telah banyak yang kehilangan wibawa, siswa SDI tetap mematuhi peraturan/disiplin sekolah.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

Lebih kurang 6 bulan sekolah yang dibangun berjalan, diadakanlah pemeriksaan oleh badan pemeriksaan yang dipimpin oleh Guru Arifin. Dari hasil pemeriksaan, Guru Arifin sangat gembira dengan hasil yang telah dicapai. Menurut pendapat Beliau, bahasa Belanda di sekolah ini telah dapat disamakan dengan kelas V di sekolah HIS. Kira-kira satu tahun kemudian, sekolah ini ditukar namanya menjadi “Silungkang Institut”. Ditukarnya karena banyak yang mengusulkan bahwa nama Limau Poeroet Institut, nama ini terlalu khusus sedangkan sekolah ini kepunyaan Silungkang. Pada tahun ajaran kedua guru ditambah, yaitu guru Sugino M. Wigono. Pada tahun ketiga guru telah 6 orang karena ditambah dengan guru Sofyan Jamanuri, guru Nazarirrudin dan guru M. Zein.

Akhir tahun 1941, datang rombongan pemerintah Belanda yang dipimpin oleh Controleur untuk memeriksa sekolah ini, waktu itu tentara Jepang telah menduduki Philipina. Diperiksanya sekolah ini karena pemerintah Belanda curiga terhadap sekolah ini. Kecurigaan ini disebabkan antara lain :

  • Tentara Jepang disamping memakai pakaian seragam, kepalanya semuanya gundul. Peraturan di sekolah ini juga begitu. Apakah sekolah ini ada hubungannya dengan tentara Jepang itu.
  • Karena dapat laporan dari intelegennya, bahwa guru-guru “Silungkang Institut” sedang giat-giatnya mempelajari bahasa Jepang.
  • Belanda masih khawatir terhadap Silungkang. Kekhawatiran ini mungkin akibat pemberontakan Silungkang 1927.

Untunglah sebelum ada pemeriksaan, kepala negeri Silungkang M. Joesoef Penghulu Sati yang menjadi pelindung sekolah ini, telah mengetahuinya dan segera memberitahukan kepada guru-guru bahwa akan ada pemeriksaan. Oleh karenanya guru-guru mana yang patut disingkirkan, disingkirkanlah segera. Nyatanya waktu itu guru Bahaudin memang sedang asyiknya mempelajari bahasa Jepang.

Segala pertanyaan yang diajukan oleh Controleur itu, dapat dijawab oleh guru Bahaudin dan guru Sugino, sehingga Controleur pulang dengan tangan hampa, tapi masih menampakkan kecurigaannya. Lebih kurang satu bulan kemudian, datang rombongan pemerintah Belanda dari Padang, yaitu rombongan dari O & E (Onder Wys en Eeredienst). Kalau istilah sekarang rombongan DEBDIKNAS. Kedatangannya itu untuk membujuk pemimpin-pemimpin Silungkang agar sekolah Silungkang Institut dijadikan saja sekolah pemerintah. Ini mungkin rentetan dari periksaan Controleur tempo hari. Usul ini ditolak dengan tegas oleh pemimpin-pemimpin Silungkang. Tidak ada basa-basi karena pemimpin-pemimpin Silungkang telah tahu bahwa situasi di Indonesia telah mulai gawat. Negeri Belanda telah diduduki Jerman, sedangkan tentara Jepang telah mendekati Singapura.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

1. Pengajian
Jauh sebelum ada sekolah umum, tingkat pendidikan di Silungkang hanyalah pendidikan surau. Sama seperti di negeri-negeri lainnya di Minangkabau, suraulah yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan rakyat. Anak-anak yang telah berumur 7 tahun, telah disuruh tidur di surau. Kalau masih tidur di rumah orang tua akan ditertawakan dan akan digelari dengan “Kongkong Induk Ayam”.

Di surau ini dapat dipelajari/diajarkan :

  1. Pelajaran dan didikan agama setidak-tidaknya sekedar yang pokok-pokok yang harus dimiliki oleh seorang Islam.
  2. Pelajaran adat, tambo, pidato-pidato adat, hariang gendiang sampai-sampai bagaimana tata tertib di atas rumah orang (cara berumah tangga).
  3. Tidur bersama, mengaji bersama, shalat bersama, adalah didikan bagaimana cara bermasyarakat, dan bagaimana supaya pandai menyesuaikan diri.
  4. Anak-anak akan dekat berkomunikasi dengan gurunya, ditempat untuk tidak penakut dan berjiwa besar, dan diberi pelajaran bela diri (silat).
  5. Di surau ini juga dapat dipelajari bagaimana cara berdagang, cara bertenun ataupun cara-cara serta pengalaman merantau.
  6. Setelah ada kaum pergerakan sekitar tahun 1915/1926, di surau-surau juga diadakan kursus-kursus politik.

Perlu diketahui, bahwa pada waktu itu, untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan di suatu negeri dapat dilihat dari banyaknya surau serta murid yang mengaji disurau tersebut. Pada waktu itu, jumlah surau yang ada di Silungkang 25 buah, suatu jumlah yang besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya.

Surau terbesar adalah surau Godang, (tempatnya di sekolah Muhammadiyah sekarang), surau ini didirikan pada tahun 1870 M / 1287 H dengan tujuan sebagai induk surau-surau yang sudah ada.

Yang mempelopori dan memimpin berdirinya adalah Syekh Barau (nama aslinya M. Saleh bin Abdullah). Syekh Barau ini adalah seorang ulama besar, punya murid dan pengikut yang banyak. Beliau pernah bermukim di Makkah untuk mempelajari seluk-beluk agama Islam. Beliau sangat disegani masyarakat Silungkang setara negeri-negeri sekitarnya. Di Batang Air Silungkang ada ikan bernama ikan Barau, untuk menghormati beliau dan ada yang berpendapat supaya jangan kualat, oleh masyarakat nama ikan itu ditukar dengan ikan tobang, yang sampai sekarang masih bernama ikan tobang. Beliau meninggal hari Sabtu, 29 Zulhijjah 1288 H.

Surau Godang ini ada hubungannya dengan Ulakan Pariaman, dan Syekh Barau sebagai wakil Khalifah dari Khalifah yang ada di Ulakan. Antara tahun 1920 – 1926, yang mengaji di Silungkang tidak terbatas pada warga Silungkang saja, tapi banyak pula yang berdatangan dari negeri lain, seperti dari Garabak Data, Simiso, Aie Luo, Batu Manjulur, Kobun, Koto Baru, Padang Sibusuk dan lain-lain.

Diantara yang ikut mengaji di Silungkang adalah Dr. Amir, Prof. Mr. M. Yamin dan Jamaludin Adinegoro. Beliau-beliau ini mengaji dan tinggal di surau Jambak dibawah asuhan H.M. Rasad. Paginya beliau-beliau ini sekolah HIS di Solok.

2. Sekolah Umum
Sekolah dasar (Volkschool) yang pertama untuk bumi putra Minangkabau didirikan di Bukit Tinggi pada tahun 1940. Sekolah ini didirikan dengan tujuan utama untuk mempersiapkan rakyat Minangkabau untuk menjadi pegawai Belanda. Di Silungkang kapan berdirinya Volkschool tidak diperdapat keterangan yang pasti, yang jelas sebelum tahun 1921 sudah ada Volkschool dan Vervolgschool (sekolah desa 3 tahun dan sekolah gubernaman 5 tahun). Besar kemungkinan adanya Volkschool itu sebelum tahun 1900, sebab setelah tahun1900 Silungkang telah banyak yang pandai tulis baca, pergi merantau ke Jawa, Singapura, Kelang (julukan untuk Malaysia waktu itu) bahkan ada yang telah bermukim dan berdagang di Makkah.

Pada tahun 1915 telah ada beberapa orang Silungkang yang berhubungan dagang ke negeri Belanda dan Belgia dengan korespondensi dengan berbahasa Belanda, diantaranya Sulaiman Lapai dan Zoon, Datuk Sati & Co., Muchtar & Co., Fa. Baburai dan lain-lainnya.

Pada tahun 1920 Sulaiman Labai resmi mendapat izin untuk menjadi pengacara di Pengadilan Sawahlunto dan pada tahun itu juga M. Lilah Rajo Nan Sati ditunjuk oleh General Manager Ford sebagai Dealer Ford untuk order Afdeling Sawahlunto dan sekitarnya.

3. Sekolah Diniyah
Pada tahun 1923, didirikan di Silungkang sekolah Diniyah, cabang dari sekolah Diniyah Padang Panjang. Yang mempelopori berdirinya yang masih diketahui adalah :
a. H. Jalaludin
b. Joli Ustaz
c. Sulaiman Labai

Guru-gurunya dikirim dari Padang Panjang yaitu :
a. Guru Syariat dari Bukit Tinggi
b. Guru Murad dari Bukit Tinggi
c. Guru Adam dari Batipuh Padang Panjang
d. Guru Bagindo Syaraf dari Kampuang Dalam Pariaman

Putra Silungkang yang pernah menjadi gurunya antara lain :
a. Guru Ibrahim Jambek
b. Guru Ya’kub Sulaiman
c. Guru Syamsuddin
d. Guru Abdul Jalil Mahmud
e. Guru Abdoellah Desman
f. Guru Abdoellah Mahmoed
g. Guru A. Bakar

4. Kursus-kursus
Setelah adanya kaum pergerakan, sering diadakan kursus-kursus politik. Hampir disetiap surau yang tidak kolot, setelah selesai pengajian diadakan kursus politik.

Kaum pergerakan itu tidak sedikit andilnya dalam mencerdaskan dan membukakan mata rakyat, bukan rakyat Silungkang saja, tapi jangkauannya mencakup distrik Sawahlunto, distrik Sijunjung, distrik Solok, bahkan sampai ke daerah Riau dan Jambi.

Jauh sebelum tahun 1927, di Silungkang telah ada Bibliotik yang dikelola oleh Salim Sinaro Khatib. Beberapa surat kabar seperti Pemandangan Islam, jago-jago dan Silungkanglah dibagi-bagikan untuk daerah sekitarnya.

5. Tempaan Alam
Didesak oleh alamnya yang sempit, tidak punya sawah yang memadai, apalagi karena tanahnya tidak subur, rakyat Silungkang terpaksa memilih usaha dibidang perdagangan dan pertenunan (perindustrian). Perdagangan dan pertenunan sudah pasti menghendaki kecerdasan, setidak-tidaknya sekedar untuk bisa memperhitungkan pokok, laba rugi, atau prosentase untuk mengaduk celup.

Sebelum tahun 1937, pada umumnya rakyat Silungkang laki-laki, walaupun tidak pernah duduk dibangku sekolah, akan berusaha belajar sendiri walaupun hanya sekedar pandai tulis baca. Disamping itu perdagangan dan pertenunan ini memaksa rakyat Silungkang untuk merantau. Bertebaranlah rakyat Silungkang di seluruh pelosok tanah air, ke Singapura dan Malaysia.

Keuntungan utama dari merantau ini adalah terbukanya mata melihat kemajuan-kemajuan di negeri orang. Kemajuan-kemajuan ini mana yang cocok dibawa pulang ke kampung.

Beberapa contoh :

  • Menurut uraian yang kita terima, tenunan kampung Silungkang ini dipelajari dan dibawa dari petani (Siam) oleh perantau-perantau Silungkang pada abad ke 15.
  • Tenunan ATBM, ilmu dan modalnya didapat dari Pamekasan Madura, yang digabungkan dengan ilmu dan model ATBM buatan Bandung.
  • Pada tahun 1925, yang dipelopori oleh Ongku Kadhi Gaek (Tankadi gelar Pokiah Kayo), khotbah Jum’at di Silungkang telah mulai menggunakan bahasa Indonesia, padahal waktu itu, kecuali di kota-kota, pada umumnya khotbah Jum’at masih memakai bahasa Arab.
  • Sebelum Perang Dunia Kedua, kenduri-kenduri di rumah kematian seperti kenduri 3, 7, 14 atau 40 hari sudah tidak ada lagi, jangan harap akan ada orang yang datang kalau dipanggil untuk kenduri tersebut.

Hubungan lalu lintas seperti Auto dan kereta api yang melalui Silungkang juga ikut memberi kemajuan bagi Silungkang.

Demikian kira-kira gambaran pendidikan di Silungkang sebelum tahun 1927.

Sumber : Buletin Silungkang, Nomor : 001/SM/JUNI/1998

Laman Berikutnya »