Inggris


Ditempa oleh kondisi alam Silungkang yang sempit, kejam dan berbukit- bukti batu, serta sulit untuk bercocok tanam membuat orang Silungkang harus berpikir keras untuk mengatasi keadaan kehidupannya, dari keadaan itu terlahirlah orang Silungkang yang tangguh, ulet, berani menghadapi segala tantangan demi untuk kelangsungan kehidupannya. Berawal dari situ mulai orang Silungkang mencoba berwarung-warung minuman dan makanan dilingkungannya, dari berdagang minuman dan makanan setapak demi setapak mereka maju, dan mulailah berdagang barang-barang lain dari satu desa ke desa lainnya dari satu nagari ke nagari lainnya dari satu daerah ke daerat lainnya, ternyata berdagang cocok untuk orang Silungkang sehingga sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera dan sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam (Thailand) sekarang. Di negeri Siam inilah perantau Silungkang dapat belajar bertenun dan setelah mereka pandai dan mengerti cara bertenun sewaktu mereka kembali ke Silungkang, ilmu bertenun ini mereka ajarkan kepada kaum ibu di Silungkang dan semenjak itu mulailah beberapa orang wanita Silungkang bertenun songket, pada awalnya bertenun hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja, kemudian mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari.

(lebih…)

7 Desember 1941 Admiral Nagumo menyerang Pearl Harbour. 8 Desember 1941, Belanda ikut memaklumkan perang kepada Jepang. Situasi di Indonesia mulai panas dan gawat. Perantau-perantau Silungkang yang bertebaran di seluruh pelosok tanah air, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan sama-sama sependapat walau tidak pernah bersepakat terlebih dahulu, untuk mengirim istri dan anak mereka ke kampung (Silungkang).

Disebabkan banyaknya anak-anak yang berkumpul di kampung, yang mana kebanyakan di perantauan bersekolah HIS (Hollands Inlansche School), maka Kepala Nagari bersama M. Nour Guguak dan Haroen Rajo Sampomo, mendirikan sekolah HIS pelarian yang kemudian dizaman Jepang ditukar namanya menjadi NIG (Nippon Indonesia Ghako). Tepat sekolah di rumah sekolah Silungkang Institut dipinjamkan satu lokal.

Pada umumnya anak-anak yang dari perantauan terdiri dari anak orang berada, tentu punya pakaian dan perlengkapan sekolah yang cukup dan bagus. Anak-anak Silungkang Institut terikat oleh disiplin sekolahnya, pakai pakaian seragam, kepala gundul dan tidak pakai sepatu. Perbedaan yang menyolok ini telah mulai menampakkan gejala yang tidak baik. Untuk menjaga bentrokan antar murid, oleh pengurusnya dipindahkanlah sekolah HIS ke lokal Volkschool di pasar Silungkang.

Supaya lekas membaurnya anak-anak dari rantau dengan anak-anak yang di kampung, oleh kedua pengurus kedua sekolah itu didirikan Pandu KBI (Kepanduan Kebangsaan Indonesia). Semua murid laki-laki di kedua sekolah itu diwajibkan untuk masuk di kepanduan itu. Pimpinannya diambil dari sekolah yang kedua itu yaitu Idroes Katoen dan Agusnar Alimin dari Silungkang Institut, Anuarby Jamal dan Kamaruzzaman dari HIS pelarian.

Yang patut menjadi perhatian kita bersama, ialah cepat tanggap dan cepatnya bertindak pemimpin-pemimpin Silungkang waktu itu, dan nyatanya semenjak diadakannya pandu KBI itu, baiklah hubungan antara anak-anak perantauan dengan yang di kampung. Kemajuan tentara Jepang diluar dugaan sekutu. Dalam waktu yang singkat, tentara Jepang telah sampai di Malaya. Singapura, benteng Inggris yang terkuat di Asia, telah terancam dan diragukan untuk bisa dipertahankan. Tentara Inggris telah banyak yang berhamburan lari, ada yang ke Pekanbaru, ke Rengat ke Jambi dan lain-lainnya.

Tentara Belanda yang gagah berani terhadap rakyat jajahannya selama ini walaupun belum pernah berhadapan dengan tentara Jepang, telah ketakutan pula. Telah banyak yang panik bahkan telah banyak yang lari meninggalkan kesatuannya. Dalam situasi yang demikian, Silungkang diberi jatah oleh Belanda minyak tanah sebanyak 700 kaleng yang disuruh tempatkan di rumah sekolah Silungkang Institut. Konon kabarnya kemudian diperdapat berita, maksud Belanda memberi minyak tanah itu adalah untuk membumi hanguskan Silungkang Institut dan negeri Silungkang.

9 Maret 1942 Indonesia diduduki oleh Jepang. Penandatanganan penyerahan tanpa syarat oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Tjarda Van Starkenburg Stachhouwer dan Luitnam Jendral Hein Ter Poorten dilakukan di Kalijati. Pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang mulai memasuki kota Sawahlunto dari Sijunjung. Rakyat menyambutnya dengan gembira sekali, lebih-lebih rakyat Silungkang yang dengan masuknya Jepang dan kalahnya Belanda terobat rasanya jerih payah, pengorbanan dan penderitaan tahun 1927.

17 Maret penyerahan di Padang Silungkang Institut ditukar namanya menjadi SDI (Sekolah Dasar Islam) nama mana disesuaikan dengan niat waktu mendirikannya.

Keadaan sekolah SDI selama pendudukan Jepang.

Sama seperti sekolah-sekolah lainnya di Sumatera Barat ini, SDI inipun mengalami nasib yang memprihatinkan, antara lain pada keadaan guru yang pada tahun 1943 terdiri dari Guru Hasan Muhamad, Guru Suginoi, Guru Rustam. Tahun 1944 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Umir Usman, Guru Idroes Katoen. Tahun 1945 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Idroes Katoen, dan Guru Syamsuddin Sawah Juai.

Keadaan murid tahun 1942 berjumlah 72 orang, tahun 1943 yaitu 52 orang, tahun 1944 hanya 46 orang dan tahun 1945 adalah 51 orang.

Honor guru dengan beras, itupun penuh ke bawah. Buku pegangan bagi guru tidak ada. Buku serta peralatan sekolah sulit diperdapat.

Untungnya, kalau ditempat-tempat lain sekolah dan guru-gurunya telah banyak yang kehilangan wibawa, siswa SDI tetap mematuhi peraturan/disiplin sekolah.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998

(SUATU KISAH YANG BELUM PERNAH TERUNGKAP)

Pengantar
Dengan naskah sederhana ini saya ingin bercerita kepada kawan-kawan sekampung-sehalaman, sesekolah-sepermainan, bahwa selama ini mungkin tidak banyak diantara kita yang memikirkan mengapa sekarang kita telah menetap di Jakarta dan mengapa pula orang Silungkang lainnya ada yang pergi merantau bahkan kemudian bertempat tinggal di Kotobaru, Muara Tebo, Jambi, Medan, Solo, Semarang, Surabaya bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Australia, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Eropa dan lain-lain. Menurut hemat saya salah satu penyebb tersebarnya orang Silungkang tersebut dimana-mana, pada awalnya tidak lain dan tidak bukan, karena dorongan kaum ibunya.

Permulaan Merantau
Dari berbagai cerita yang saya terima mengenai nagari Silungkang dan penduduknya, cerita-cerita yang menyangkut penghidupan anak negeri Silungkang sangat menarik perhatian saya dan bebrapa diantaranya melekat dalam ingatan saya hingga kini. Hal ini mungkin disebabkan kisah-kisah tersebut saya terima pada waktku saya masih remaja, ketika daya ingat masih kuat, dan cara menuturkannya oleh orang tua-tua kita dapat menarik perhatian yang mendengarnya.

Tanpa mengurangi arti penting dan rasa hormat saya kepada nara sumber lainnya, di bawah ini saya sebutkan beberapa orang yang masih saya ingat, yaitu :
Haji Chatab, Kampung Dalimo Tapanggang
Haji Mohamad Samin, Kampung Batu Mananggau
Ongku Ociak, Kampung Dalimo Tapanggang (Ongku saudara Alm. Jalius Jalil)
Haji Yunus, Kampung Dalimo Kosiak (Ayah Saudara H. Hussein Yunus)
Bapak Samin, Kampung Batu Bagantung (Bapak Ir. Rivai Samin)
Bapak Usman Karim, Kampung Dalimo Godang
dan lain-lain.

Menurut penuturan orang tua-tua kita tersebut, orang Silungkang terutama kaum ibunya sejak dari negeri asal mereka telah memiliki kepandaian bertenun kain gedokan. Namun setelah sampai di negeri yang baru, yaitu Silungkang, yang pertama-tama mereka kerjakan adalah bertani dengan membuka ladang dan sawah. Pada waktu itu luas tanah yang mereka dapati untuk digarap menjadi perladangan dan persawahan, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bagi penduduk yang jumlahnya masih sedikit.

Tentu saja ladang dan sawah itu digarap dengan cara dan alat yang sangat sederhana. Sebagai contoh di waktu kecil saya masih lihat bekas-bekas ladang dan sawah tersebut, termasuk parak (kebun) kopi yang mungkin kawan-kawan sudah tidak ingat lagi. Agaknya parak kopi ini merupakan bagian dari peninggalan Sistim Tanaman Paksa (Cultuur Stelsel) penjajah Belanda dahulu.

Setelah penghidupan di negeri yang baru ini berjalan lancar, dan didorong oleh pertambahannya kebutuhan hidup sehari-hari, maka teringatlah oleh kaum ibu kita untuk menggarap tenunannya kembali, karena pada waktu itu masih banyak tersisa bahan baku, terutama benang, yang dibawa dari negeri asal. Mengapa dikatakan menggarap tenunannya kembali, ialah karena kegiatan bertenun kain tersebut telah menjadi terbengkalai selama proses pindah dari negeri asal ke negeri yang baru ini.

Pada waktu itu dalam suatu keluarga telah terdapat pembagian kerja yang baik antara anak perempuan dan anak laki-laki. Anak-anak perempuan disamping bertugas membantu ibunya di rumah juga diajar bertenun kain gedokan. Bahkan bagi anak perempuan kepandaian bertenun kain merupakan kepandaian wajib. Diceritakan bahwa bila seorang anak perempuan telah menginjak dewasa, harus dibuatkan baginya sebuah pelantai (alat tenun gedokan). Sebagai bukti, dapat kita lihat dahulu ditiap-tiap rumah godang (rumah adat Minangkabau) terdapat lima sampai sepuluh buah pelantai untuk dikerjakan oleh kaum ibu Silungkang (dewasa dan anak-anak perempuan) yang bertempat tinggal dalam rumah tersebut. Yang dihasilkan pada masa itu adalah kain lopor, kain balopak, kain songket, kain baju (batabu), kain pintu, kain sarung, kain selendang dan jenis kain lainnya yang biasa dipakai dalam rumah tangga.

Adapun tugas utama yang diberikan kepada anak laki-laki dewasa adalah bagian dari pekerjaan bertenun kain yang lebih berat seperti maani dan mangarok, dan pergi menjual hasil kain tenunan tersebut ke balai (pasar) dan ke pekan-pekan. Maka bertambahlah satu lagi mata pencaharian orang Silungkang yaitu berdagang.

Setelah persediaan bahan baku untuk bertenun (terutama benang tenun) makin menipis, maka timbullah pikiran pada kaum ibu kita untuk menyuruh anak laki-laki mereka yang telah dewasa pergi ke kota-kota untuk menjual hasil tenunan mereka dan membeli benang untuk ditenun kembali.

Adapun negeri-negeri yang pertama kali menjadi tujuan adalah negeri-negeri yang pada waktu itu pekannya sudah ramai, seperti Bayang, Muara Labuh, Padang, bahkan Air Molek (Riau) dan Kuala Tungkal (Jambi). Negeri-negeri yang terletak di pinggir laut seperti Bayang (Pesisir Selatan) pada waktu itu telah disinggahi oleh kapal-kapal dagang. Jalan pikiran kaum ibu kita waktu itu sangat masuk akal, yakni di kota-kota pelabuhan akan ada kapal yang merapat dan disana tentu akan ada orang yang mau membeli hasil tenunan untuk mereka jual lagi dan sekaligus di sana bisa diperoleh informasi mengenai benang tenun yang bisa dibeli.

Setelah sampai di negeri yang dituju, ternyata nenek moyang kita tidak langsung mendapatkan apa yang mereka inginkan, meskipun kain yang mereka bawa telah terjual. Maka terpaksalah mereka bertempat tinggal di negeri tersebut buat sementara dan dengan bentuk mata pencaharian yang lain, seperti berdagang dan bentuk usaha yang lain. Dengan begitu terjadilah perantauan pertama orang Silungkang di dalam kerangka mencari penghidupannya.

Untuk merantau ini anak-anak muda Silungkang zaman dahulu dari kampung telah dibekali dengan berbagai kepandaian antara lain berdagang, menjahit, memasak dan untuk menjaga dirinya bila sewaktu-waktu diperlukan, dibekali juga dengan kepandaian bersifat.

Setelah bermukim bertahun-tahun di rantau orang dan karena sulitnya hubungan ke kampung waktu itu, ada diantara orang Silungkang yang merantau itu kawin di rantau orang dengan wanita setempat. Berita perkawinan ini lambat laun sampai juga ke telinga kaum ibu kita yang ada di kampung, tetapi apalah hendak dikata meskipun hati tidak mengizinkan, keadaan ini pada akhirnya dapat juga diterima oleh kaum ibu di kampung sambil berpasrah diri kepada Allah.

Sesuai dengan bertambah pesatnya kegiatan pertenunan di kampung, maka perantauan orang Silungkang makin lama makin jauh, hingga sampai menyeberangi lautan menuju tanah Jawa, yang diperkirakan terjadi kira-kira mulai tahun 1902. sebagaimana di rantau orang yang lain, di tanah Jawa pun banyak orang Silungkang yang kawin dengan wanita setempat.

Pembukaan Tambang Batu Bara Ombilin (TBBO) – Sawahlunto
Kira-kira pada tahun 1876 sewaktu Dja’far Sutan Pamuncak orang Dalimo Godang menjadi Laras, Belanda ingin membuka tambang batu bara di daerah kita. Perundingan antara pemerintah Belanda dengan Laras berlangsung selama kurang lebih 12 (dua belas) tahun.

Berkat kegigihan beliau dalam memperjuangkan nasib anak negeri pada perundingan-perundingan tersebut, setelah tambang bara Ombilin dibuka, banyak orang Silungkang mendapat kesempatan berusaha yang terkait dengan kegiatan pertambangan ini. Kesempatan tersebut antara lain menjadi pemborong (aannemer), pemasok bahan, pegawai, dan lain-lain.

Pembangunan jalan kereta api jalur Sawahlunto – Padang adalah semata-mata karena adanya Tambang Batu Bara Ombilin (TBBO) tersebut. Batubara diangkut dari Sawahlunto ke pelabuhan Teluk Bayur Padang untuk dikapalkan dengan gerbong-gerbong kereta api ini. Sebagian dari batubara tersebut dari Stasiun Bukit Putus diangkut dengan lori-lori gantung ke pabrik semen Indarung (yang berdiri dari kurang lebih tahun 1911) untuk digunakan sebagai bahan bakar pada proses pembuatan semen.

Zaman “keemasan” bagi orang Silungkang atas keberadaan TBBO ini berlangsung sampai tentara Jepang masuk ke Indonesia. Terbukanya TBBO ini boleh dikatakan sebagai perintis bagi terbukanya tambang-tambang dan perkebunan-perkebunan lainnya di Sumatera Barat karena tambang-tambang dan perkebunan dibuka setelah adanay TBBO-Sawahlunto.

Permulaan Membangun Negeri
Kemajuan yang dialami negeri Silungkang sebagai hasil dari berbagai usaha anak negerinya (bertenun, berdagang, pemborong, dan lain-lain) tercermin dari pembangunan-pembangunan yang dilakukan anak negeri pada waktu itu.

Sebagai contoh, pada tahun1904 los-pasar (passer loos) yang pertama dibangun di Pasar Silungkang dan sebelas tahun kemudian 91915) disusul dengan pembangunan los-pasar yang kedua ditempat yang sama dan setelah itu dibangun los besi (los besi yang berhasil dibangun pada tahun 1938, merupakan los besi terbesar di Sumatera Barat ketika itu).

Kemudian pada tahun 1918 di Silungkang didirikan Kantor Pos Pembantu dan dibangun pula jembatan penyeberangan yang menghubungkan pasar dengan stasiun kereta api. Jembatan tersebut masih bertahan hingga kini.

Kejadian penting diantara tahun-tahun tersebut yang menyangkut pertenunan antara lain adalah pada tahun1910, orang Silungkang dibawa oleh Pemerintah Belanda ke Pekan Raya Internasional di Belgia untuk memperagakan cara bertenun kain di sana (mungkin Belanda ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa sebagai penjajah mereka berlaku baik kepada anak jajahannya hingga bisa memiliki kepandaian bertenun kain yang artistik, padahal seperti telah disebutkan di atas, kepandaian bertenun ini telah dimiliki nenek moyang kita sejak dahulu kala.).

Kejadian penting berikutnya yang membawa pengaruh besar terhadap kemajuan anak Nagari Silungkang adalah pemberontakan orang Silungkang melawan Penjajahan Belanda pada tahun 1926 – 1927. Seperti akan kita lihat nanti dalam tulisan saya berikutnya, Insya Allah, kepandaian bertenun kain dan membuat Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimiliki orang Silungkang sekarang bermula dari keterampilan yang dibawa oleh salah seorang dari orang tua-tua kita (Karim Gagok) dari tanah Jawa, setelah beliau kembali dari menjalani hukuman. Dengan demikian keaneka ragaman pertenunan kain Silungkang telah bertambah dengan alat ATBM, yang dapat dijadikan permulaan untuk membangun industri pertenunan yang padat karya dan padat modal untuk sebelum masa kemerdekaan.

Konferensi Anak Silungkang Yang Pertama
Antara tanggal 18 hingga 23 Desember 1939 di Silungkang dilaksanakan Konferensi Anak Silungkang yang pertama. Konferensi ini bertujuan untuk mempersatukan pandangan dan kekuatan orang Silungkang yang berada di kampung dan di rantau.

Selain dari pada itu satu hal mengenai Konferensi Anak Silungkang Yang Pertama ini yang belum terungkap sebelumnya adalah bahwa konferensi itu diadakan karena Pemerintah Belanda (Ratu Wilhemina) akan menghadiahkan Bintang Jasa/Medali kepada YUSUF DATUK SATI, Kepala Nagari Silungkang pada waktu itu. Yang memiliki Ratu Belanda mengantarkan Medali itu adalah Gubernur Jenderal (GG) Belanda pada waktu itu (kalau sekarang GG itu sama dengan Presiden).

Jadi inilah pekerjaan luar biasa yang pernah dihasilkan oleh orang tua-tua kita dahulu yang mungkin belum tertandingi oleh generasi sekarang, meskipun besarnya kekayaan generasi Silungkang sekarang melebihi kekayaan orang tua-tua dahulu.

Konferensi ini melahirkan banyak hal, antaranya berdirinya di Silungkang Sekolah Dagang Islam (SDI) yang setingkat dengan Sekolah MULO. Pada waktu itu di Sumatera Tengah Sekolah MULO merupakan jenjang pendidikan yang tertinggi, yang baru terdapat di dua tempat, yaitu di Padang dan di Bukit tinggi.

Disamping menghasilkan berdirinya sekolah SDI di Silungkang, konferensi tersebut juga melahirkan keinginan-keinginan untuk :

  • Memasukkan listrik ke Silungkang
  • Membangun Sistim Air Ledeng dan Sistim Pemadam Kebakaran

Seperti kita ketahui aliran listrik ke Silungkang masuk pada tahun1947, yang mungkin merupakan Listrik Masuk Desa yang pertama yang ada di Indonesia. Pembangunan jaringan dan masuknya aliran listrik ke Silungkang ini adalah atas permintaan orang tua-tua kita yang dibuang (diinternir) Belanda ke Digul bersama dengan almarhum Bapak Drs. Moh. Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, yang pada tahun 1947 tersebut berkunjung ke negeri Silungkang.

Dalam konferensi itu juga terungkap suatu ratapan yang berjudul : “Kaum Ibu Silungkang” yang memberitahukan kepada kita bahwa segala kemajuan yang dicapai anak Silungkang adalah karena dorongan kaum ibunya.

Bunyi pantun tersebut adalah sebagai berikut :
Kaum Ibu Silungkang
Silungkang kekurangan sawah
Beras dibeli setiap pekan
Anak Silungkang sampai ke Jawa
Palantai induak nan mamajukan


Induak batanun kain jo baju
Dijua kain dibalikan ka bareh
Anak Silungkang manjadi maju
Turak jo sikek nan bakarajo kareh

Dan dengarlah pula sebuah pantun yang lain sebagai berikut :
Konferensi Silungkang Pertama
Rantau dan Kampung Satu Tenaga

Silungkang bapagaa bukik
Bukik hilalang nan banyak batu
Apo karajo indak basakik
Asal puteranyo tetap basatu


Silungkang bapaga bukik
Bukik bapaga si batu baro
Kok di Silungkang hiduik basakik
Mari marantau kito basamo


Badarak badiran-diran
Samalam di Koto Tuo
Kok dikona maso nan silam
Namun di hati batambah laruik juo


Badarak badiran-diran
Samalam di Koto Tuo
Guno dikoan maso nan silam
Kapaluciak nan mudo-mudo

Khotimah

Begitulah sekilas gambaran yang didapat dari orang tua-tua kita dahulu mengenai asal muasal kita pergi merantau. Untuk melengkapi riwayat ini saya harapkan sekali dari saudara-saudara sekalian, terutama dari kita-kita ini yang sudah berusia “senja”, hingga sebelum “mata hari tenggelam di ufuk barat”, ada kisah yang akan kita bacakan kepada anak, cucu, cicit kita untuk memacu semangat mereka berbuat yang terbaik bagi negeri leluhurnya.

Walluhu a’lam bissawaab.

Wassalam,

H. Munir Taher
Jakarta, akhir Juni 1999

Saat itu santer sekali tentang Mendulang Ome yang banyak tersebar di kampung kita terutama sekali di sepanjang Batang Ai. Yang mana di tepi batang Batang Ai sudah ada yang mempunyai hak turun temurun atau Tanah Pusako di kampung kita. Yang mana pendulang sebagian besar dari kerabat yang punya tanah tersebut.

Dimana dalam Undang-undang hasil tambang untuk kemakmuran dan mensejahterakan keluarganya. Tapi justru kenyataan sangatlah berbeda. Timbul antara pro dan kontra, yang mana sebetulnya dua-duanya memang benar. Yang pro untuk menghidupi keluarganya yang mana saat itu mencari penghasilan sangatlah sukar apalagi setelah terjadi krismon. Dan begitu pula yang kontrak merasa tanahnya diobok-obok tidak karuan habis omenya, ditinggal begitu saja.

Ditambah lagi kelakuan yang negatif yang diperlihatkan oleh para pendulang ome, dimana masyarakat Silungkang sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti warganya. Jangan seperti sekarang merasa mendapat rezeki yang besar dipakailah untuk berfoya-foya. Ini sangat bertentangan sekali dengan nilai agama dan begitu pula dengan Undang-undang. Janganlah kalau hasil mendulang habis begitu saja tidak memikirkan untuk masa depan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan ome sebagian besar dihabiskan begitu saja. Persediaan ome di Silungkang tentulah sangat terbatas maka pergunakanlah sebaik-baiknya hasil tersebut. Janganlah nanti kalau omenya sudah habis perekonomiannya masih tetap begitu juga. Jadi tidak ada artinya selama ini mendulang ome, yang mendulang ome tetap begitu juga dan yang punya tanah juga sulit untuk memanfaatkan kembali tanahnya dan begitu pula yang dulu waktu kita mandi di sungai dengan aman dan tidak merasa khawatir ada bekas lubang yang ditinggal begitu saja.

Disini peranan KAN ikut mengawasi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan mendata kembali dan memberi teguran-teguran jika menyalahi peraturan. Dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Itu wajar-wajar saja. Karena penghasilan dari bumi Silungkang, bukanlah segala hal harus ada peraturan yang mengikat dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Yang kontra sebetulnya tidak keberatan kalau ada yang mendulang ome, asalkan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, hilangkan isu-isu negatif yang dilakukan oleh para pendulang. Kita puas dan bahagia kalau para pendulang bisa memanfaatkan hasil mendulangnya dengan sebaik-baiknya.

Sebetulnya pada jaman dulu kaum penjajah (Belanda) sudah ada niatan untuk menambang secara besar-besaran dengan mendirikan perusahaan antara Belanda dengan Inggris. Ada bukti otentik dengan bahasa Belanda akte pendirian yang diberi nama NV. Mijnbouw Maatschapij “SILOENGKANG”.

Karena sesuatu hal mungkin warga Silungkang tidak mau dipindahkan atau karena ome masih muda. Jadi kalau memang ada kandungan omenya marilah ktia kelola bersama-sama untuk kepentingan kesejahteraan warga kita, dengan melibatkan semua unsur seperti pemilik tanah, pendulang dan aparat desa.

Dengan peralatan yang sangat sederhana orang kampung yang biasa disebut Dukun Ome bisa menentuan dimana ada emas di daerah tersebut. Dilihat dari segi peralatannya atau si dukun sangat sakti, bukan itu sebenarnya tetapi memang sebagian besar tanah di Silungkang memang banyak mengandung emas, ini bisa dibuktikan pada waktu dulu Belanda bekerja sama dengan Inggris ingin menambangnya. Timbul pertanyaan (bukti otentik kami sisipkan), apa sebab Belanda mengundurkan diri.

mendulang ome

By Perantau Surabaya

Catatan :

Ome = emas

Ai = air

Sumber : buletin Silungkang, edisi 3, nomor 003/BSM/MARET/1999

Tak hanya masakan dan keelokan negerinya yang membuat saya sangat jatuh cinta pada Silungkang.

Bahasa dan perilaku warga yang moderat (bila tak bisa disebut modern) tanpa saya sadari telah menambah rasa kecintaan tersebut.

Adalah saat saya berada jauh dari negeri elok nan aman sentosa ini, ketika saya berkesempatan menimba ilmu di sebuah negeri yang sudah sangat maju peradabannya, Great Britain.

Banyak kesamaan sikap dan perilaku serta tatacara yang berlaku di Silungkang dan di Inggris.

Pada tulisan yang singkat ini mari kita simak kejadian dalam keseharian warga Silungkang : Tata cara perkawinan adat.

Sebagai tindaklanjut dari selesainya acara Mancigok (melihat) calon manantu (menantu) adalah tugas para kaum Ibu atau wanita untuk menindaklanjuti.

Lazimnya disebut “Osok Ayi, Osok minyak” (meraba air, meraba minyak) dalam bahasa Inggris hal ini disebut sebagai “Test the water“, mauku-uku dalamnyo ayi (mengukur-ukur dalamnya air).

Dalam ilmu pemasaran modern hal ini ditempat sebagai sarana kita untuk mengetahui “need” atau kebutuhan dan keinginan seorang calon prospek yang akan digarap.

“Osok ayi, osok minyak”, jelas ditujukan untuk hal yang sama, yakni sebagai sarana atau cara untuk mengetahui ada atau tidaknya keinginan si empunya badan dan keluarganya untuk segera menikah.

Apabila ada, maka usaha dan ikhtiar akan dengan mudah bisa diteruskan namun apabila tidak, ya … sekian saja !.

Mengatur tempat duduk bagi tamu atau Manduduakan tamu (mendudukkan tamu) yang bila di Inggris disebut “Sitting Arrangement“, dalam tata cara pelaksanaannya sama sekali tidak berbeda dengan yang berlaku di Silungkang.

Seorang Datuak atau Lord, tentu akan didudukkan sejajar dengan jabatannya.

Seorang ipar atau sumondo tentu tidak akan didudukkan disebelah niniakmamaknya serta seorang keponakan tidak akan pernah didudukkan disamping kanan pamannya.

Dalam acara balope, Anda tak bisa duduk ditempat yang bukan disediakan untuk Anda.

Sama kan ?

Pertanyaannya siapakah yang lebih dahulu, Silungkang atau Inggris ?

By Sukri Husin

Sumber :

Bulletin Dwi Bulanan Silungkang “Koba Anak Nagori”

Edisi #7, 1 Oktober 2002, Anniversary Edition