Mulai hari ini telah dibuka posko penerimaan bantuan untuk korban gempa Sumatera Barat di Gedung Silungkang.
Jl. Gotong Royong Kav. 13
Larangan Indah Tangerang
Telp 021 7328676.

Kepada segenap organisasi yang berada dibawah naungan Persatuan Keluarga Silungkang (PKS) di Jabodetabek untuk ikut berpartisipasi.

KAMI MENGGUGAH KEPEDULIAN ANDA SEMUA.

Iklan

Batuka tando ini didahulunya dilazimkan di atas balai-balai adat. Sesudah itu ditukar dengan di Lapau (Lapau Limin, Lapau Parin, Lapau Tungkin dan lain-lainnya). Akhir-akhir ini telah dibiasakan pula di Surau atau di Mesjid.

Sewaktu batuka tando di balai-balai adat, yang membawa minuman adalah dari pihak perempuan. Setelah pindah ke lapau, yang membayar minuman adalah pihak lelaki.

Sekarang setelah pindah ke surau atau masjid, yang membawa makanan dan minuman adalah kedua belah pihak.

Yang menghadiri batuka tando ini biasanya adalah : Mamak kedua pihak, Pandito kedua belah pihak, Datuak Kampuang kedua pihak. Sekarang telah dihadiri pula oleh induak-induak sebagai pendengar dan yang membawa makanan.

Setelah selesai minum, dihimbaukanlah oleh Datuak kampuang pihak nan laki-laki kepada Datuk Kampuang pihak perempuan :

“Dek kito lah sudah minum, kok kito ansu-ansu paretongan ka baapo kok”.

“Nan sarancaknyo bona”, jawab Datuak Kampuang pihak perempuan.

Kato Datuak Kampuang pihak lelaki : “Ma lah batomu mamak samo mamak, diatehnyo kini lah batomu pulo kito Datuak Kampuang samo Datuak Kampuang. Baapo to kini, kami dipihak nan laki-laki nak mamakaikan adat jo pusoko, artinyo kok batali nak baelo, kok batampuak nak bajinjieng. Sakian sampainyo dek ambo ka Datuak”

Dek Datuak Kampuang pihak yang perempuan, kato-kato Datuak Kampuang pihak laki-laki tadi diulang kembali, dan seterusnya berkata : “Kok iyo Datuak nan mamaikan adat jo pusako, iyolah dek kami nak maliek pulo nan putieh hati bakaadaan, putieh kapeh bulieh diliek”.

Oleh Datuak Kampuang nan laki-laki, diserahkanlah sebentuk cincin. Cincin ini adolah cincin tando yang telah spesial untuk itu.

Cincin ini diikat dengan sedikit tali yang maksudnya “Batali bulieh di elo”.

Oleh Datuak Kampuang pihak yang perempuan, cincin itu dipersaksikan kepada yang hadir.

Waktu batuka tando ini, ditentukan sekali bila nikah, bila balopeh dan bila olek kawin, dan lain-lainnya.

Selesailah upacara batuka tando ini.

Perkawinan yang ideal :

  1. Mengawini anak mamak
  2. Mngawini kemenakan Bapak
  3. Batuka imbek

Perkawinan yang dilarang :
Apa-apa yang dilarang oleh Hukum Islam

Perkawinan pantang :

  1. Kawin keluar baik lelaki maupun perempuan (sudah tidak berlaku lagi)
  2. Yang ada pertalian darah menurut garis ibu
  3. Kawin sekaum atau sekampung
  4. Mengawini orang yang telah diceraikan kaum kerabat, sahabat dan tetangga dekat
  5. Mempermadukan perempuan yang sekerabata atu sekampung
  6. Mengawini orang yang tengah bertunangan
  7. Mengawini anak tiri saudara kandung

Waktu perkawinan yang ideal :

  1. Dekat akan masuk bulan puasa
  2. Dekat bulan haji

Hari perkawinan yang ideal :

  1. Nikah hari Senin
  2. Balope hari Rabu
  3. Barolek kawin hari Jum’at

Ketiga-tiganya dalam minggu itu juga dan diwaktu bulan baik

Perceraian yang dilarang : Apa-apa yang dilarang oleh agama Islam

Perceraian pantang : menceraikan istri di rantau orang.

Penjelasan :
Kalau ada yang melanggar pantang ini akan dikenakan hukum. Sanksi hukum ditimpakan kepada pelanggar tergantung kepada keputusan yang ditetapkan oleh musyawarah kaumnya.

Tingkatannya antara lain : “Membubarkan perkawinan itu, hukum buang dengan diusir dari kampung, dari negeri atau dikucilkan dari pergaulan.

Juga dapat dilakukan dengan hukum denda dengan cara meminta maaf kepada semua pihak pada suatu perjamuan di balai-balai adat.

Link terkait :
Sumando Yang Diidamkan (Part. 3)
Yang Ideal (Part. 2)

Sumber : Makalah pada Seminar Adat Silungkang Asli

Foto-foto pulang basamo Silungkang tahun 2008 telah hadir di silungkang.com.

Berikut linknya :

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 1

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 2

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 3

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 4

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 6

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 7

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 8

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 9

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 10

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 11

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 12

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 13

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 14

Foto-Foto Pulang Basamo Bag. 15

Kontributor Foto oleh Maradona Dias, Zulfikar
Dan nantikan foto-foto selanjutnya di silungkang.com

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Membaca tabloid Koba Silungkang edisi April 2003 dalam tulisan “Seputar Kota Kita” mengkritisi sikap PKS Jakarta soal “Balon” Wako dan Wawako saat itu, Who Wants To Be The Mayor Part 2.

Kami teringat pengalaman Alm. Sdr. Syafar Habib yang diceritakannya pada kami 3 bulan sebelum dia meninggal dunia. Sebelum dia menceritakan pengalamannya itu, dia minta kepada kami agar kami berfikir secara filosofis, sebagai berikut :

Dalam pertemuan ‘acara Minang’ dia duduk; di sebelah kanannya Bapak Emil Salim dan di sebelah kirinya Bapak Menteri Abdul Latif. Bapak Emil Salim berkata kepada Sdr. Syafar Habib : Engku Syafar, saya bangga dengan perantau Silungkang, di mana-mana orang Silungkang jarang yang menjadi pegawai negeri, kebanyakan menjadi pedagang. Tetapi setelah saya menjadi menteri saya perhatikan tidak ada orang Silungkang menjadi pengusaha menengah ke atas.

Mendengar ucapan kedua tokoh Minang itu Sdr. Syafar Habib hanya terdiam, tetapi dalam hatinya berkata : apakah baju putih yang sedang saya pakai ini sama warna putihnya dengan pakaian dalam ?

Mendengar pengalaman Sdr. Syafar Habib ini kami juga merenung dan terpikir bagaimanakah orang Silungkang di abad 21 ini.

Menjelang Sdr. Zuhairi Muhammad Panai Empat Rumah meninggal dunia, kami sekali dalam tiga bulan sengaja datang ke rumahnya di Komplek Perindustrian di Jalan Perdatam Pancoran, rasanya kalau kita berbicara dengannya seperti kita berbicara dengan mamaknya Alm. Pakiah Akuk. Dia mengatakan pendapatnya kepada kami, bahwa orang Silungkang bukan orang aktif tetapi reaktif. Semula kami tidak sependapat dengannya, tetapi setelah kami renungi kami sependapat pula dengannya.

Tahun 80-an kami pernah membaca buku karangan Mr. Muhammad Rasyid berjudul ‘Sejarah Perjuangan Minangkabau’ sebelum peristiwa PRRI beliau menjadi duta besar RI di Perancis merangkap di Italia, di halaman 45 kami membaca waktu pemberontakan rakyat Silungkang tahun 1927. Penjajah Belanda sangat kejam, tentara Belanda memperkosa gadis-gadis Silungkang.

Begitu tersinggungnya kami, buku itu tidak tamat dibaca tetapi diserahkan kepada PKS di Bendungan Hilir, karena waktu itu PKS masih menumpang di kantor Koperasi Kemauan bersama di Bendungan Hilir (Bendhill). Kenapa buku itu diserahkan karena menurut Mr. Muhammad Rasyid kalau isi buku ini tidak sesuai dengan kenyataannya (buku ini jilid pertama) bisa diralat pada jilid kedua nanti.

Akhirnya buku itu dikembalikan kepada kami setelah buku tersebut berubah warna, mungkin waktu itu tidak ada reaksi dari PKS, entahlah !

Waktu kami mendapat musibah, kami mendatangi Buya Duski Samad , untuk minta nasihat, kepada beliau kami curahkan musibah yang kami terima, jawab beliau singkat: tetapi kita harus berfikir, kata beliau : jika sekarang saya mempunyai uang 100 juta rupiah, uang itu akan habis dalam seminggu, kami bertanya : kenapa begitu Buya ? jawab beliau, saya bukan pedagang. Kami renungkan jawaban beliau itu, kemudian kami menjawab sendiri; “Kerjakanlah apa yang ada ilmunya pada kita”, betul kata beliau. Kemudian beliau bertanya murid-murid beliau dulu yang berasal dari Silungkang, a.l., Yakub Sulaiman (Pakiah Akuk) dan Abdullah Usman (Guru Dullah Sw. Jawai) beliau bangga dengan murid-murid beliau itu.

Lelah bersaing menjadikan takut bersaing
Di zaman Gajah Tongga Koto Piliang Dulu, kemungkinan besar orang Silungkang pintar dan cerdas, tetapi sayang kenapa orang Silungkang mendiami lungkang sempit, hampir tidak ada tanah yang subur untuk ditanami padi, tidak seperti belahan kita di Padang Sibusuk dan Allah mentakdirkan kita orang Silungkang menjadi pedagang.

Pedagang itu sarat dengan persaingan, bisa terjadi persaingan itu antara saudara sesuku, sekampung, sepupu, bahkan antara saudara sendiri clan yang paling riskan terjadi antara Pembayan dengan Pembayan yang sama-sama mendiami rumah panjang (rumah adat).

Coba kita pikirkan Silungkang itu seperti kotak korek api dibandingkan Indonesia yang luas ini.

Menurut perkiraan kami sebelum Jepang menjajah Indonesia, 50% perempuan Silungkang yang sudah bersuami dimadu suaminya, mungkin juga lebih.
Kenapa bisa seperti itu ? Mana mungkin perempuan Silungkang bisa menikah dengan orang luar Silungkang, karena adat melarangnya, terpaksa atau tidak perempuan-perempuan Silungkang harus bersedia menjadi isteri kedua atau menikah dengan duda yang jauh lebih tua umurnya.

Madu itu obat, tetapi bagi perempuan yang di’madu’ menyakitkan hati, bersaing memperebutkan kasih sayang sang suami, anak-anak yang . ibunya dimadu, pun merasa dimadu pula dengan ibu-tiri, saudara tirinya. Persaingan itu menimbulkan kecemburuan, kecemasan, dengki, irihati clan was-was, penyakit itu bisa,, berketurunan.

Menurut Prof. Zakiah Deradjat dalam buku “Menghadapi Liku-Liku Hidup”, beliau menulis dari segi kejiwaan, perkembangan dan pertumbuhan anak, anak dalam kandungan telah menerima pengaruh-pengaruh yang berarti baginya. Suasana emosi dan tolak pikir ibu yang sedang mengandung mempunyai kesan tersendiri bagi janin dalam kandungan.

Jadi orang Silungkang mendiami lungkang yang sempit, persaingan hidup yang tidak sehat, sangat mempengaruhi cara berfikirnya. Jadi apa yang dikatakan Bapak Emil Salim di atas, sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam masyarakat Silungkang, jika dilihat dari luar semuanya baik. Coba kita perhatikan semenjak dahulu organisasi apapun yang dibentuk, dan bangunan apapun yang didirikan hampir semua meninggalkan kesan-kesan yang kurang baik.

Kemudian apa yang dikatakan Bapak Menteri Abdul Latif di atas, mungkin juga akibat “Lima Penyakit Di atas”. Seterusnya pendapat Sdr. Zuhairi Muhammad (Alm), kita orang Silungkang bukan aktif tetapi reaktif, kemungkinan ini juga diakibatkan oleh orang kita (SLN) tidak bisa bersaing khususnya dengan orang di luar Silungkang, bisanya hanya bersaing dengan orang sekampung sendiri.

Yang menang membusungkan dada dan yang kalah bak perempuan tua memakan sirih, daun sirih habis, tinggal tembakaunya yang masih dikunyah-kunyah.

Orang-orang Silungkang Diabad 21
(Silungkang People Must Be Brave To Up Side Hand Down)

Mengkritisi PKS., maaf … tentu maksudnya ketua PKS, kalau kita perhatikan latar belakang ketua PKS ini, lahir di Silungkang, kecil dibawa merantau oleh orang tuanya ke Medan, SD, SMP dan SMU di Medan, kuliah di Jakarta. Bekerja dan berusaha, bukan dalam lingkungan Silungkang. Bidang usahapun berlainan dengan kebiasaan orang-orang Silungkang, bergaul selama sekolah di Medan dengan komunitas “Batak” tapi tidak kelihatan pengharuh “Batak”-nya, dia supel, demokrat dan moderat. Menurut kami PKS belum pernah mempunyai ketua yang seperti ini.

Banyaknya balon (lebih dari satu) Wako – Wawako, orang belum tentu menilai kita tidak bersatu, bukan Bapak Emil Salim saja yang menilai kita bersatu, banyak yang lain.

Kita bisa belajar dari cara pemerintahan kita di zaman Soeharto, yang memproteksi pengusha-pengusaha nasional, waktu datang krisis karena globalisasi, pengusaha-pengusaha nasional tidak bisa bersaing, oknum pemerintah korup dan pengusaha menyuap, akhirnya semuanya berantakan, jangan hendaknya Silungkang ini seperti Indonesia kita sekarang.

Jangan pula kita hanya terkesan dengan kata-kata keputusasaan Eva Peron dalam sebuah lagu “Don’t Cry For My Argentina”.

Sampai sekarang lagu itu masih dipopulerkan Madonna, kita tak pernah kenal dengan siapa Eva Peron dan Madonna itu ? Coba kita berpedoman kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana nama beliau kita sebut-sebut setidak-tidaknya 29 x sehari dalam shalat 5 waktu dan lagi beliau itu ada tertulis dalam AI-Qur’an. Mengapa beliau sampai menangis waktu akan meninggal dunia dan berkata : ummati, ummati, ummati, begitu perhatian Nabi Muhammad SAW pada umatnya. Putus asa apa hukumnya ? Haram.

Buletin Silungkang jangan hanya terbit untuk kepentingan sesaat tetapi berlanjut untuk kepentingan orang Silungkang yang dirantau dan yang di kampung dengan harga yang bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, semoga …

Sekarang ilmuan Silungkang sudah banyak di Jakarta dan di kota-kota lainnya, bahkan di mancanegara. Dalam berbagai disiplin ilmu, mintalah kepada mereka sumbangan pikiran untuk ditulis dalam buletin Silungkang. Tentu, dengan tulisan dan kata-kata yang menyejukan dan juga artikel-artikel (rubrik) yang dibutuhkan oleh pelajar, mahasiswa Silungkang dan ditulis pula pengalaman-pengalaman orang Silungkang yang bisa menjadi pelajaran bagi pembacanya.

Apalagi ada ruangan agama terutama di bidang zakat, penulisannya itu ‘bak azan bilal’ sahabat Nabi Muhammad, yang suaranya itu menghimbau orang segera sholat.

Bisa jadi buletin Silungkang itu kelak bak harian Republika yang mempunyai dompet dhuafa untuk orang Silungkang yang berkekurangan dan mengajak orang Silungkang untuk berdoa dan menangis serta berbut, beramal untuk kemaslahatan kampung kita, jauh dari berkorban karena ada sesuatu di belakangnya. Amin ya robbal ‘alamin.

Billahitaufiq walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

“Mucho Gracias Amigo – Arigato Gozaimatsu Tomodachi”

Esemmes

Tembusan dikirim kepada Yth.
1. Tabloid KOBA
2. Koordinator LAZ / PKS
3. PT. Estetika (Percetakan)
4. Sdr. Fadil Abidin (Pengajian PKS)

Karena adanya PILKADA Tangerang yang jatuh pada tanggal 26 Oktober 2008, maka dengan ini Halal bi Halal PKS diundur menjadi tanggal 9 November 2008 pada waktu dan tempat yang sama.

Agar maklum adanya

Dasar Falsafah Adat Minang

1. Ketentuan alam terhadap adat :

  • Adat jika dipakai baru, kain jika dipakai usang.
  • Cupak menurut panjang betung, adat adalah sepanjang jalan.
  • Sekali air bah, sekali tepian berkisar ( = adat harus sanggup menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman )
  • Melihat contoh pada yang lampau, melihat tuah pada yang pandai ( = agar adat tetap segar dan aktual )
  • Usang diperbaharuai, lapuk disokong, yang buruk dibuang, jika singkat harap diulas, panjang harap dikerat, rumpang harap disisit ( = agar tetap muda – sesuai dengan perkembangan zaman )
  • Birik-birik terbang ke sawah, dari sawah ke halaman, patah sayap terbang terhenti, bertemu di tanah bata. Dari ninik turun pada mamak, dari mamak turun pada kemenakan, patah tumbuh hilang berganti, pusaka demikian juga ( = fatwa adat agar walaupun adat perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman namun tetap menurut fatwa adat )
  • Kayu pulai di Kato Alam, batangnya sendi-sendi. Jika kita pandai dengan alam, patah tumbuh hilang berganti. ( = harus pandai dengan alam )
  • Iman tidak boleh goncang, kemudi tidak boleh patah, pedoman tidak boleh goyang, halun tidak boleh berubah.

2. Beberapa pedoman adat :

Hidup bersama dalam pergaulan hidup :

  • Yang tua dimuliakan, yang muda dikasihi, sama besar hormat *menghormati.
  • Dalam kabar baik memberitahu, dalam kabar buruk berhamburan. Pucuk pauh sedang terjela, penjuluk bunga gelundi, agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan basi.
  • Yang kurik adalah kundi, yang merah adalah saga, yang baik adalah budi, yang indah adalah basa.
  • Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati. Agar jauh silang sengketa, perhalus basa dan budi.
  • Kalau hendak pandai sungguhlah berguru, kalau mau tinggi pertinggilah budi.
  • Puar yang kena cencang, andilau yang bergerak.
  • Yang bagus bagi kita, disetujui oleh orang lain hendaknya, yang sakit bagi kita, sakit pula bagi orang lain, yang enak bagi kita, enak pula bagim orang lain.
  • Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi Janji harus ditepati, ikrar harus dihormati. Kalau berjanji biasa mungkir, titian biasa lapuk, musuh bagi orang Minangkabau.
  • Waris diterima, pusaka ditolong, berjalan tetap pada yang biasa, berkata tetap pada yang benar.
  • Hutang budi dibawa mati, budi sedikit terasa berat.
  • Ingat-ingat, jikalau yang di bawah menghimpit, jikalau bocor dari bawah.
  • Jika di dalam kebenaran, biarpun putus leher dipancang, setapak janganlah engkau surut.
  • Berhemat sebelum habis, sediakan payung sebelum hujan.
  • Hari panas kalau tidak berlindung, hari hujan bila tidak berpayung, hari gelap kalau tak bersuluh, jalan sunyi kalau tidak berteman.

Hidup bersama saling menguatkan satu sama lain :

  • Adat bersaudara, saudara pertahankan ; adat berkampung, kampung pertahankan ; adat bersuku, suku pertahankan ; adat bernegeri, negeri pertahankan ; sandar bersandar seperti air dengan tebing.
  • Bersaudara memagar saudara, berkampung memagar kampung, bernegeri memagar negeri, berbangsa memagar bangsa.
  • Jika mendapat sama berlaba, kehilangan sama merugi ; yang ada dimakan bersama, yang tidak bersama dicari ; hati gajah sama dilapah, hati Lingau sama dicecah ; banyak beri bertmpuk, sedikit beri bercacah ; besar kayu besar bahannya.
  • Ke lurah sama menurun, ke bukit sama mendaki, sama menghayun sama melangkah, seciap seperti ayam, sedenting seperti besi.
  • Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama sakit, sama senang.
  • Duduk sendirian sempit, duduk bersama lapang.
  • Mencari kata mufakat, menambah sesuatu yang kurang, menyambung yang pendek, menjinakkan yang liar, merapatkan yang renggang, menyisit yang umpang, melantai yang lapuk, memperbaharui yang usang.
  • Menyuruh berbuat baik, melarang berbuat jahat, menarik dan mengembangkan, menunjuk dan mengajari, menegur dan menyapa, salah diperbaiki, dialih kepada yang benar.
  • Tidak ada tukang membuang kayu, kalau bungkuk untuk bingkai bajak, yang lurus untuk tangkau sapu, yang sebesar telapak tangan untuk papan tuai, yang kecil untuk pasak suntung.
  • Yang buta penghembus lesung, yang tuli pelepas bedil, yang lumpuh penghuni rumah, yang kuat pembawa beban, yang bodoh untuk disuruh-suruh, yang cerdik tempat bertanya dan lawan berbicara, yang kaya tempat minta tolong.
  • Melawan guru dengan ajarannya, melawan mamak dengan adatnya.
  • Dikurangi berbahaya, dilebihi tidak pantas.
  • Keluk paku kacang belimbing, pucuknya lenggang-lenggangkan, dibawa ke Saruasa. Anak dipangku kemenakan dibimbing, orang kampung pertenggangkan, jaga negeri jangan binasa.
  • Jika tanah yang sekeping telah dimiliki, jika rumput yang sehelai, sudah ada yang punya, malu belum lagi dibagi.
  • Kemenakan beraja pada mamak, mamak beraja pada penghulu, penghulu beraja pada mufakat, mufakat beraja kepada alur dan patut.
  • Bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat, air melalui betung, kebenaran melalui orang.
  • Jika bulat sudah boleh digolongkan, jika gepeng sudah boleh dilayangkan ; tidak ada kusut yang tidak selesai, tidak ada keruh yang tidak jernih.
  • Pada yang sakit lekatkan obat, pada yang benar letakkan alur, pada air lepaskan tuba, pada garis memahat, pada yang diukur yang dikerat, pada rangkanya lekatkan permata ; bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat, bulat jantung oleh kelopak, bulat segolong, ceper selayang.
  • Dicari runding yang benar, beria-ia dengan adik, bertidak-tidak dengan kakak, air dibulatkan dengan pembuluh, kata dibulatkan dengan mufakat, yang buruk dibuang dengan hitungan, yang baik diambil dengan mufakat.
  • Tidak ada kusut yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada keruh yang tidak bisa jernih, lubuk akal, lautan budi.
  • Kalau sudah dapat kata yang satu, bulat tidak bersudut, ceper tidak bersanding, yang terikat karena tiang, yang terkurung karena kunci.
  • Dimana berdiri, disitulah tanah diinjak, langit dijunjung, masuk kandang kambing mengembek, masuk kandang sapi melenguh.

Sifat Pemimpin

  • Orang besar adalah dibesarkan maka dianya besar, tumbuhnya ditanam, tingginya disokong, besarnya dipelihara.
  • Kalau besar jangan melenda, kalau cerdik jangan menipu.
  • Yang kecil jangan tertipu, yang besar jangan menipu.
  • Air yang jernih, tempurung yang ceper seperti pohon di tengah padang, uratnya tempat bersela, batangnya tempat bersandar, dahannya tempat bergantung, buahnya untuk dimakan, daunnya untuk berlindung.
  • Rajo ( pemimpin ) adii disembah, rajo zalim disanggah.
  • Kalau benar penghulu bagaikan lantai, kalau berpijak jangan menjungkat ; pemimpin biasa mendapat upat ; kalau datang persoalan dan upat, anggaplah sebagai penawar, demikiannya pemimpin yang sebenarnya.
  • Jika penghulu kena kicuh, kampung halamn sudah terjual ; agar penghulu diikuti orang, pandai bergaul dengan orang banyak.
  • Sumbang salah tindakan perangai, jalankanlah hak penghulu, tidak ada kusut yang tidak selesai.
  • Penghulu berdiri di tengah-tengah, jikalau penghulu pecah, adat tidak akan bangun lagi ; hilang percaya anak negeri, kata dan kerja tidak seiring.
  • Perkataan raja memberikan kelapangan, perkataan penghulu menyelesaikan, perkataan monti adalah mengulangi, perkataan hulubalang adalah kertas, perkataan orang banyak tidak keruan.

Penghulu :
1. Sebagai bumi, di mana sesuatu tempat berdiri,
2. Teguh pada adat dan berdiri di pintu adat,
3. Menghukum sepanjang adat,
4. Menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat,
5. Perkataannya menyelesaikan.

Malin :
1. Sebagai air yang menghanyutkan yang kotor,
2. Teguh pada agama dan berdiri di pintu agama,
3. Menghukum sepanjang syarak,
4. Membesokan halal jo haram,

Monti :
1. Sebagai angin yang menyampaikan sesuatu,
2. Tegas dalam tindakan dan pengawal di pintu susah,
3. Menghukum silang selisih,
4. Menerima dakwa, melalaikan jawab,
5. Perkataannya mengulangi.

Dubalang :
1. Sebagai api yang bertindak keras,
2. Teguh pada negeri dan berdiri di pintu mati,
3. Menghukum waktu ada perkelahian dan peperangan,
4. Menjaga dari kejahatan,
5. Perkataannya adalah keras.

Kejayaan negeri :

  • Sawah ladang, jalan yang ramai; padi menjadi jagung.
  • Lumbung berjejer di halaman, rangkiang tujuh sejajar, seubah si Bajau-bajau; untuk anak dagang lewat, sebuah di Tinjau Laut, untuk anak korong kampung, terdapat lumbung yang banyak, makanan anak kemenakan.
  • Bersih di tepi air, sosial jika perut kenyang.
  • Hilang bangsa karena tidak mempunyai emas.

Sumber :

  1. Amir M.S., Adat Minangkabau – Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, Jakarta, Penerbit PT. Mutiara Sumber Widya, 1999.
  2. Prof. Mr. M. Nasroen, Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Jakarta, CV. Penerbit Pasaman, 1957.
  3. A.B. Dt. Madjo Indo, Kato Pusako, Jakarta, Penerbit PT. Pora Karya, 1999.

TAMAT