9. Sako

  • Sako artinya warisan yang tidak berwujud benda ( immaterial ) tetapi sangat berperan dalam membentuk moralitas orang Minang dan kelestarian adat Minang atau disebut pula pusako kebesaran.
  • Yang termasuk Sako seperti gelar penghulu ( gelar kebesaran ), garis keturunan diwariskan secara turun temurun kepada anak perempuan (matrilineal), pepatah-petitih dan Hukum Adat yang diwariskan kepada semua anak dan kemenakan dalam suatu nagari clan kepada seluruh Ranah Minang serta tata krama dan adat sopan santun yang diwariskan kepada semua anak dan kemenakan dalam suatu nagari clan kepada seluruh Ranah Minang.
10. Pusako

Pusako atau harato pusako adalah segala kekayaan materi atau harta benda, seperti hutan dan tanah, sawah dan ladang, tambak dan kebun, rumah, pekarangan, pandam pekuburan, perhiasan, uang, balai, mesjid, peralatan dan lain-lain.

11. Ketentuan adat tentang sako dan harato pusako adalah sebagai berikut :

  • Hak berpunya dan harta bermilik.
  • Sako dan harato pusako pada dasarnya dikuasai dan dimiliki bersama (kolektif) kelompok-kelompok samande atau seperinduan, kelompok sajurai, kelompok saparuik atau sapayung, kelompok sasuku, dan milik nagari (pepatah-petitih, balai adat, mesjid, pasar, tanah ulayat dan pandam pekuburan).
  • Harato Pusako terbagi dua :
  1. Harta pusaka tinggi, yaitu segala harta pusaka yang diwarisi secara turun temurun dari niniek kepada gaek, dari gaek kepada nenek, dari nenek kepada mande dan dari mande kepada anak perempuan serta tidak boleh dijual. Masih dapat digadaikan bila keadaan terpaksa, seperti untuk kepentingan darurat mengurus mayat terbujur di tengah rumah, gadis dewasa belum bersuami, membangkitkan batang tarandam dan rumah gadang yang bocor atau penutup harga diri.
  2. Harta pusaka rendah, yaitu segala harta hasil pencarian orang tua ( bapak bersama ibu ) selama ikatan pernikahan ditambah dengan pemberian dari mamak dan tungganai kepada kemenakannya ( yang berasal dari hasil pencarian mamak dan tungganai itu sendiri ). Bila telah diwariskan kepada anak-anaknya selama 4 ( empat ) generasi dan disisipkan ke dalam harta pusaka tinggi maka disebut “harta susuk”.