Renungan


Negeri Segudang Prestasi

Adakah sebuah negeri/nagari (sekarang kecamatan) di Indonesia ini yang memiliki banyak kisah dan kelebihan yang namanya terukir tidak saja di kancah regional dan nasional tetapi juga di kancah internasional.

Negeri itu pernah mengukir sejarah dengan ‘kehebatan’ industri tenun songketnya yang sangat terkenal dan berkualitas tinggi. Dengan industri ini, masyarakatnya mampu menghidupi diri secara mandiri, mengikat persatuan dan kesatuan, mengharumkan nama negeri, menjadi tempat warga lain belajar dan menjadi ‘ikon’ suatu ketangguhan dan kemajuan masyarakatnya. Dengan songket ini pula penenun dari negeri ini pernah mendapat undangan terhormat dari negeri Belanda untuk memamerkan kelebihan dari songketnya.

Negeri itu pernah berjuang merintis kemerdekaan dengan semangat ksatria, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar melawan penjajah Belanda yang bertindak semena-mena dan melecehkan harkat dan martabat anak negeri. Perjuangan itu terukir dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia dan diwujudkan dalam monumen Tugu Perjuangan Rakyat Silungkang serta terus dikenang oleh generasi penerus sebagai wujud jiwa patriotisme nenek moyang masyarakat negeri ini.

Negeri ini konon dikenal sebagai negeri dengan masyarakat yang cerdik dan pandai. Legenda kemenangan Minangkabau atas Kerajaan Majapahit melalui ’adu kerbau’ konon katanya adalah buah ide cemerlang dan brilian dari orang dari negeri ini. Atas jasanya itu, orang berjasa dari negeri yang cerdik dan pandai itu tidak meminta harta atau kedudukan tetapi ia hanya meminta agar masyarakat dari negeri ini dibolehkan untuk menggunakan sebutan ’datuk’ bagi kaum laki-laki sebagai pertanda mereka orang-orang yang cerdik dan pandai serta memiliki kedudukan yang terhormat. Tidak ada satupun suku dari Minangkabau yang mempermasalahkan atau menggugat sebutan itu.

Negeri ini terkenal pula sebagai negeri perdagang karena mata pencarian utama masyaratnya adala berdagang. Alamnya yang tandus berbukit cadas tidak memungkinkan masyarakatnya bertani. Alam telah mendidik mereka menjadi para perantau yang bertekad kuat memajukan diri, bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan dan selalu terikat dirinya dengan kampung halaman dan sanak saudara. Mereka dikenal sebagai pedagang yang cukup ’berhasil’ dan ’kaya’.

Negeri itu adalah negeri Silungkang. Negeri ini indah dan menawan, dikelilingi oleh bukit-bukit cadas dan menjadi jalur lintas Sumatra yang menghubungkan nadi gerakan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat dari berbagai wilayah di Minangkabau.

Dunia yang Berubah
Kini umat manusia telah berada dalam kehidupan abad 21. Abad yang jauh berbeda dari abad-abad sebelumnya. Dunia menjadi demikian terbuka dan ’tanpa batas’. Informasi demikian mudah diakses oleh siapa saja melalui berbagai media yang tersedia. Manusia bahkan menjadi terlalu banyak menerima informasi, termasuk yang tidak mereka perlukan. Sistem tata nilai berubah secara mendasar dan terus mencari keseimbangan baru. Negara dan bangsa dengan ’budaya superior’ terus memaksakan kehendak dan ’mengatur’ negara dan bangsa lain dengan berbagai cara demi memenangkan ’perang budaya’ dan ’perang ekonomi’. Korbannya adalah negara dan bangsa yang lemah serta tak berpendirian. Mereka menjadi terasing di negara dan di lingkungan bangsanya sendiri.

Lebih parah lagi, perubahan yang bersifat negatif telah memasuki wilayah rumah tangga secara hampir merata. Tidak jarang kita temukan suatu keluarga bahkan menjadi terasing di lingkungannya sendiri. Orang tua yang baik bahkan tidak lagi selalu mampu menjalankan manajemen keluarga secara efektif. Orang tua mencintai anak-anak tetapi kadangkala tidak tahu bagaimana mewujudkan cinta tersebut dengan benar dan bagaimana mengikat hubungan yang harmonis dan bahagia antar anggota keluarga. Anak-anak tidak lagi mencintai orang tua dengan kekaguman atas nilai-nilai positif yang diajarkan dan ditumbuh kembangkan orang tua dalam pendidikan rumah tangga. Mereka lebih melihat keberhasilan orang tua dari sudut materi dan kedudukan atau nama yang terkenal, bukan kekuatan karakternya.

Yang paling parah adalah bila masing-masing anggota keluarga memiliki ’dunia’ sendiri-sendiri yang tidak saling menguatkan tetapi saling ’menghancurkan’ satu sama lain karena mereka tidak ’mengenal’ satu sama lain dan tidak memiliki kepedulian serta kepentingan bersama yang positif untuk mencapai kebahagiaan dan keharmonisan dalam kehidupan bersama.

Apakah yang dapat dihasilkan suatu bangsa dan negara bila kondisi masyarakatnya demikian ? Bangsa yang demikian tentu akan menjadi bangsa yang sangat lemah dan akan kehilangan identitas dan karakter sebagai sebuah bangsa. Tidak mustahil, akan menjadi negara dan bangsa yang ’gagal’ serta bukan mustahil akhirnya menjadi negara dan bangsa yang ’hilang’.

Sebaliknya, negara dan bangsa yang berhasil membangun keunggulan secara mendasar dan memiliki budaya yang kuat dan berkarakter positif, terlebih didukung oleh sumber daya manusia yang berpandangan jauh ke depan, kreatif, inovatif, bersungguh-sungguh membangun kekuatan dan kompetensi diri serta bertindak nyata secara efektif dan efisien akan menjadi negara dan bangsa pemenang dan eksis.

Impian dan Tindakan
Masyarakat Silungkang hidup di masa kini dan akan terus hidup di masa datang. Negeri segudang prestasi tengah berhadapan dengan dunia yang terus berubah. Prestasi-prestasi tinggi tidak akan mungkin dicapai apabila masyarakat tidak terus melakukan proses pembelajaran untuk peningkatan kemampuan dan kualitas diri secara efektif dan efisien guna menghadapi dunia yang terus berubah dan berkembang.

Cita-cita atau impian untuk menjadi masyarakat dan negeri yang sejahtera, mandiri, berkemajuan, berdaya saing dan mampu memberikan kontribusi maksimal dalam kehidupan agar berhasil mencapai kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat hanya dapat diwujudkan dalam suatu tindakan nyata yang terencana, terfokus, sistematis dan konsisten serta pantang menyerah dengan konsep dan strategi yang komprehensif, integral, efektif dan efisien.

Buku
”Konsep dan Strategi Pembangunan Masyarakat dan Negeri Silungkang – Mencapai Silungkang Sejahtera 2015”
adalah sebuah buku yang mencoba untuk merumuskan konsep dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan masyarakat dan negeri Silungkang, baik di kampung halaman maupun di perantauan untuk masa kini maupun masa datang.

Buku tersebut akan meliputi delapan aspek kehidupan, yaitu aspek agama, adat/budaya, pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, lembaga swadaya masyarakat (organisasi) dan generasi muda. Buku ini merupakan sumbangan pemikiran dan gagasan dari segenap komponen-komponen masyarakat dan lembaga swadatya masyarakat, baik kaum alim ulama, kaum ahli/pemangku adat, kaum pendidik/cerdik pandai, kaum profesional/ pengusaha/pedagang, kaum wanita/bundo kandung, dan kaum pemuka/pemimpin organisasi serta kaum generasi muda yang peduli dan berkeinginan untuk ikut aktif memajukan masyarakat dan negeri Silungkang.

Proyek buku ini mulai diluncurkan pada bulan April 2008 dan diharapkan akan selesai dan disebarkan kepada warga Silungkang pada bulan Agustus 2008. Untuk itu, kepada segenap komponen masyarakat Silungkang, kami mohon bantuan dan kontribusinya dalam proyek buku tersebut dengan mengisi Formulir Partisipasi terlampir dan memberikan pandangan-pandangan sesuai Daftar Pertanyaan.

Silahkan klik DI SINI untuk Formulir Pengisian Pertanyaan.

Terima kasih atas partisipasinya.

Sumber : Chairun Nissa