BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

BAGIAN KEEMPAT

BAGIAN KELIMA

BAGIAN KEENAM

BAGIAN KETUJUH

BAGIAN KEDELAPAN

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang Bekerja Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

BAGIAN KESEMBILAN

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Kedatangan empat orang pengrajin songket Silungkang di Seri Menanti membuat kegembiraan tersendiri bagi kami. Betapa tidak, kami merasa mempunyai anak empat orang lagi yang sudah remaja. Kami menyayangi mereka sebagaimana menyayangi anak sendiri. Kami beranggapan – anggapan kami ini entah betul entah tidak – yaitu berkemungkinan orang tua mereka bisa merelakan melepas mereka merantau ke Malaysia dikarenakan kami ada sebagai pengganti orang tua di Malaysia. Maklumlah tidak mudah bagi orang tua melepas anak gadisnya merantau jauh ke negara lain. Kami menerima mereka dan merasa mereka adalah bagian dari keluarga kami, juga kami mempersiapkan diri untuk waspada dan berkewajiban akan keselamatan mereka sebagaimana juga terhadap anak-anak kami. Mereka disediakan sebuah rumah disebelah rumah kami. Pada suatu malam, setelah shalat Isya mereka berkumpul di rumah kami dan saya mengambil kesempatan untuk menasehati mereka karena disadari mereka masih muda dan belum berpengalaman lagi cara “dimano bumi dipijak, disitu langik dijujuang”, lagi pula mereka kelihatannya dalam masa puber, dunia ini terasa mereka yang punya.

“Disiko ndak ubahnyo awak barado di kampuang”, kata saya membuka kata-kata nasehat setelah hidangan snack yang dikeluarkan istri untuk dicicipi oleh mereka.

“Awak harus pandai mambao diri, di kampuang awak baradek, disiko pun ughang baradek lo, dikampuang awak tau jo eriang gendiang, disiko pun baitu lo. Awak harus sopan santun, apo lai kalian padusi, pandai-pandai manjago diri, kalau awak sopan ughang pun sogan, nan pentiang sakali jagolah harogo diri, jago namo, namo kalian, namo kampuang, namo Minangkabau, namo Indonesia. Awak bakarojo ndak di swasta do, malainkan di Kerajaan, apo lai awak tu TUANKU PUNYA ORANG artinyo awak bakarojo di Istana rajo. Awak kamaghi ndak sakadar mancaghi karojo do, tapi disampiang tu awak dijopuik untuak bakarojo disiko, harus dijago kepercayaan ughang. Ado ciek lai nan Bapak kecek-an ka kalian, kalian anak gadi, ndak tatutuik kamungkinan ado anak bujang disiko konai hati dan ingin mempasuntiang kalian, bakpo-bakponyo kalian agia tau lah ka kami, kok lai untuang kalian ka bajodo di Malaysia ko suatu kabanggaan dek kami, anak-anak kalian sacaro otomatis warga negara Malaysia, karano anak ikuik kewarganegaraan bapaknyo, bukan kewarganegaraan ibunyo do. Baruntuanglah kalian punyo anak barado di negara nan stabil, aman dan makmur sejahtera. Kok salamoko kalian ndak bajilbab, bajilbablah, sobok sabagian besar padusi disiko bajilbab, padusi nan bajilbab manandokan ughang Malayu, ughang Malayu otomatis adolah ughang Islam, baitu disiko. Kamudian nan parolu juo Bapak sampaikan ka kalian yaitu supayo kalian baimok, jan boros, kona kaian tu mancaghi piti, piti nan kalian padapek disiko kok dibao ka kampuang kana manjadi tigo kali lipek harogonyo. Lobiah ancak kalian mamasak daghi pado makan dilopou, tapi kok tarogak makan di lopou sakali-sakali ndak sibagai do. Sa ancak nyo kalian manabuang di Bank, ka untuak maso depan kalian, disampiang tu sisian saketek untuak kalian kirim ka ughang tuo kalian di kampuang, kalian bisa mangirimnyo malalui Pos atau malalui Bank”.

Setelah saya memberi nasehat panjang lebar, mereka mengucapkan terima kasih. Saya berharap mereka dapat menerima nasehat saya itu dan menganggap kami sebagai pengganti orang tua mereka di negeri orang ini.

Pulang dan pergi ke tempat kerja selalu bersama-sama, kami senang hati, karena setelah kami perhatikan dari hari ke hari, dari bulan ke bulan mereka terlihat sangat baik dan bisa mengontrol diri sendiri. Mereka selalu berbusana muslimah, begitu juga kami lihat tingkah laku mereka sehari-hari sangat baik tidak ada yang akan membuat rusaknya nama mereka sendiri ataupun nama kampung, pulang kerja mereka terus ke rumah tidak berkeluyuran ke sana sini, bila ada keramaian di malam hari, mereka keluar bersama orang tua-orang tua. Benar, dikampung mereka ikut aturan adat dan agama, dirantaupun mereka mengamalkan adat dan agama sebagaimana dikampungnya, karena mereka selalu menjaga kesopanan, tidak satupun nada sumbang terdengar dari masyarakat setempat, bahkan masyarakat setempat memuji keluhuran budi alam Minangkabau yang mengajarkan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Mereka ta’at beribadah, inilah yang membuat orang tempatan simpati kepada mereka.

Benar, apa yang saya bayangkan semula, Muhammad Arif, seorang pemuda Negeri Sembilan menaruh perhatian kepada salah seorang dari mereka yaitu Yulismi binti Helmi, kampung Sungai Durian Silungkang Tigo. Sebenarnya Muhammad Arif telah lama memperhatikan Yulismi, pertama sekali Arif (nama panggilan) tertarik dengan kata’atan Yulismi beribadah, bertutur kata yang lemah lembut, bertingkah laku yang baik dan berbudi pekerti, serta dalam penampilan berbusana muslimah nampak anggun serta menarik. Bila bercakap-cakap halus tutur bahasanya. Arif berniat hendak mempersunting gadis Silungkang tersebut, niatnya itu disampaikan kepada orang tuanya. Orang tua Arif tidak begitu saja percaya dengan keterangan Arif tentang Yulismi. Orang tua Arif juga ingin melihat langsung tentang Yulismi, ini dilakukan secara diam-diam dan datang ke tempat Yulismi bekerja sebagai pengunjung.

Arif mencoba mendekti Yulismi. Arif dengan mudah bisa bertemu dengan Yulismi tiap hari karena Arif dan Yulismi setempat kerja, hanya saja bidangnya berlainan. Hari demi hari kelihatan mereka menyempatkan diri untuk berbicara bersama. Yulismi walaupun biasa tinggal dan bergaul ramai di kota Padang sewaktu masih kuliah, sifat kekampungan yang beradat dan bersopan santun selalu terlihat.

Arif berterus terang menyatakan niatnya hendak mempersunting Yulismi. Yulismi belum bisa menerima begitu saja tawaran hasrat Arif itu karena harus dirundingkan dulu dengan orang tua dan mamaknya di kampung, namun pada hakekatnya Yulismi menerima kehadiran Arif dihatinya.

Saya kenal betul dengan Muhammad Arif, seorang pemuda yang sopan dan berbudi pekerti yang baik, sebelum bekerja di Muzium Di Raja Istana Lama Seri Menanti, Arif adalah seorang Asykar (tentera), kemudian dia mengundurkan diri setelah bertugas ke luar negeri. Dia lebih suka bekerja selain bekerja sebagai militer. Konon kabarnya sekarang dia bekerja di Pejabat Distrik Kuala Pilah (Kantor Balai Kota Kuala Pilah) Negeri Sembilan. Karena bekas seorang tentera, dia berbadan kekar, berdisplin tinggi, seorang yang jujur dan ramah. sewaktu Arif dan Yulismi beserta dua orang anaknya pulau ke Silungkang beberapa tahun yang lalu, mereka mengunjungi kami. Dua bulan yang lalu saya menerima SMS dari Yulismi yang mengatakan bahwa anaknya yang besar sudah masuk TADIKA (Taman Pendidikan Kanak-kanak) semacam TK di tempat kita. Sedangkan anaknya yang kecil sudah masuk PRA TADIKA, yaitu semacam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di tempat kita, kedua anaknya itu laki-laki.

Semakin hari semakin ramai pengunjung yang datang ke tempat kami bekerja. Tahun 1999 adalah “TAHUN MELAWAT NEGERI SEMBILAN” pelancong (wisatawan) berdatangan baik pelancong tempatan maupun manca negara.

Pada suatu hari datang dua buah BASA PESIARAN (bus pariwisata) penuh dengan pelajar tingkat SMA dari Sri Langka. Mereka tertarik sekali melihat kami menenun kain. Saya waktu itu sedang “manughiang” (memintal benang), salah seorang dari pelajar tersebut memanggil teman-temannya : “Hai kawan-kawan kemarilah, ada Mahatma Gandhi memintal benang !”. Saya hanya tersenyum mendengarnya, mungkin mereka teringat sejarah India. “Apa kabar kalian semua ?”, kata saya. “Baik-baik saja, terima kasih,” jawab mereka. “Dari negara mana kalian datang ?” tanya saya lagi. “Kami dari Shree Lank,” jawab mereka singkat. Saya tahu bahwa Sri Langka orangnya mirip juga dengan orang India.

Guna menanti pengunjung bermacam-macam acara diadakan seperti Pesta Persukuan Adat Perpatih, Pesta Masakan dan Makanan Tradisional Negeri Sembilan, dan tak kalah meriahnya adalah acara HARI KEPUTERAAN PADUKA SERI TUANKU yaitu Hari Ulang Tahun Kelahiran Tuanku Ja’afar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman yang ke 77 yang jatuh pada tanggal 19 Juli 1999. Acara ulang tahun Tuanku ini diadakan lima hari lima malam, berbagai acara bisa dinikmati mulai tanggal 17 Juli 1999 sampai tanggal 21 Juli 1999, acara kesenian, pertandingan olah raga, acara adat Penghulu Menghadap dan adat Bersiram, tayangan Wayang Gambar (pertunjukan film) layar tancap di Padang Bola Sepak (lapangan bola kaki) dengan judul film KUCH KUCH HOTA HAI, sebuah film Hindi (film India) yang sangat digemari waktu itu. Tayangan wayang gambar ini sangat ramai penontonnya sampai-sampai hampir penuh lapangan bola kaki tersebut. Disamping itu juga ada pameran yang diisi oleh JABATAN PENGANGKUTAN JALAN (JPJ) semacam LLAJR ditempat kita, JABATAN BOMBA semacam Pemadam Kebakaran ditempat kita, pameran Angkatan Tentera dan Pameran Polis di Raja (Polisi).

Dari seluruh acara dalam rangka Tahun Melawat Negeri Sembilan ini, yang masih berbekas dihati saya adalah saya adalah Persembahan Pentas berupa PANCA RAGAM (band) yang menyanyikan lagu-lagu Pop 60-an dengan penyanyinya M. Syarif.

Pop 60-an ini juga disebut Pop Yeyeh. Pop Yeyeh punya nostalgia tersendiri oleh saya. Bila saya mendengar lagu-lagu Pop Yeyeh diumur saya 58 tahun sekarang ini, saya merasa diterbangkan kemasa 41 tahun yang silam sebagaimana yang saya uraikan berikut ini.

Di tahun 1964, Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia, ini adalah akibat terbentuknya negara Federasi Malaysia pada tanggal 16 September 1963 dan mulai tanggal 17 September 1963, pemerntah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaya dan Indonesia menyerukan “Ganyang Malaysia”, apa saja yang berbau Malaysia dilarang di Indonesia. Siaran radio Malaysia tidak boleh didengar oleh siapapun di Indonesia, kalau ketahuan akan ditangkap, film Malaysia yang populer dengan aktornya P. RAMLEE waktu itu sangat diminati di Indonesia tidak boleh ditayangkan di bioskop-bioskop dan terhenti serta merta, di kota-kota besar patung PM Malaysia dibakar, begitulah menghangatnya hubungan Indonesia dengan Malaysia waktu itu. Saat itu saya baru berumur 14 tahun. Saya tidak tahu masalah politik apa yang menyebabkan kakak beradik (Indonesia-Malaysia) itu bermusuhan.
Di Silungkang, satu-satunya alat atau media elektronik yang ada hanya RADIO LISTERIK, dipanaskan beberapa menit dulu baru keluar suaranya, kabel antenanya terbentang di langit-langit loteng, tidak semua orang memilikinya. Radio itu dikerumuni orang lebih-lebih sewaktu mendengarkan Pidato Presiden Soekarno dan juga sewaktu mendengar laporan pandangan mata pertandingan bola kaki atau pertandingan badminton. Anak-anak sebaya saya waktu itu belum tertarik betul dengan radio karena jenis permainan sehari-hari sangat banyak seperti main tapak lele, main lakon semba, main kelereng, main ucak, mandi ba anyuik-anyuik di sungai, main sipak tekong, main bal, main kasti, main olang-olang, main sicaghian, main roda-rda dan lain-lain. Dengan banyaknya jenis permainan anak-anak maka tingkat kenakalan berkurang.

Pemerintah Orde Lama bertukar dengan Pemerintahan Orde Baru di Indonesia, suasana negara pun bertukar pula, hubungan Indonesia denga Malaysia dipulihkan kembali, negara Serumpun kembali hidup mesra berdampingan. Siaran Radio Malaysia diperbolehkan kembali didengar di Indonesia.

Di Silungkang, siaran Radio Malaysia Rangkaian Nasional cukup jelas diterima, sama jelasnya dengan RRI Padang dan RRI Bukittinggi. Tahun 1967, Radio Transistor mulai ada di Silungkang, mula-mula dengan baterai (batu senter) sebanyak 24 buah dan diletakkan didalam sebuah peti, kemudian baru ada RadioTransistor 1 Band dengan 4 buah baterai (batu senter). Harga 1 buah Radio Transistor waktu itu lima ribu Rupiah. Di Silungkang hampir merata memiliki Radio Transistor, dimana siaran Radio Malaysia dan siara Radio Singapura berkumandang, sehingga baterai (batu senter) sangat laku karena radio hanya DC belum lagi AC/DC. Melalui radio, saya mulai mengenal Malaysia, baik kesenian maupun berita-berita, lagu Pop Yeyeh (Pop 60-an) selalu berkumandang, KUGIRAN (Kumpulan Gitar Rancak) semacam Group Band ditempat kita, bermunculan dimana-man dengan mengorbitkan penyanyi masing-masing. Lagu-lagu Pop Yeyeh meresap ke jiwa saya yang kebetulan waktu itu saya dikaruniai oleh Allah SWT “hati yang berbunga-bunga”, pertanda saya mulai memasuki alam remaja, di alam remaja yang penuh keindahan walaupun berada di lembah yang sunyi, apa saja yang dipandang semuanya indah. Di alam remaja ini saya merasa sangat bersemarak dengan kehadiran seorang Dewi Asmara yang langsung bersemayam disinggasana kalbu saya, hati saya baru kali ini merasakannya, mungkin inilah yang dikatakan orang “first love” caro awaknyo “tagosi jolong-jolong”. Dalam pengembaraan saya di alam remaja bersama Dewi Asmara selalu diiringi lagu-lagu merdu Pop Yeyeh (Pop 60-an) melalui Radio Malaysia. Suara Ahmad Jais, Rafe’ah Buang, A. Ramlie dan J. Kamisah menjadi nostalgia yang menyatu di hati saya diumur lebih setengah abad, sampai sekarang koleksi kaset lagu-lagu pop 60-an Malaysia masih tersimpan baik oleh saya. Bila saya memutar lagu-lagu tersebut suasana hati saya kembali ke 41 tahun yang lalu dan ada kalanya tanpa disadari “air mata menitik” terkenang masa bahagia alam remaja bersama si Dewi Asmara. Hanya 2 tahun, kemudian si Dewi Asmara “pergi tanpa pesan” pindah ke sebuah kota besar di pulau Jawa. Sejak dia pergi sampai sekarang saya tidak pernah bertemu dengan dia dan saya berhasrat dapat bertemu dengan dia walaupun sekali saja sebelum malaikat mau menjemput saya.

Lagu-lagu Pop 60’an (Pop Yeyeh) membawa kenangan tersendiri oleh saya, dendangan lagu yang dinyanyikan oleh Ahmad Jais, Rafe’ah Buang, A. Ramlie dan J. Kamisah terasa memanggil saya untuk datang ke Malaysia. Kerinduan dan keinginan yang kuat untuk pergi ke Malaysia terpendam lama sejak tahun 1968 dan barulah terwujud di tahun 1984, selama 2 tahun saya disana kembali lagi ke Silungkang, kemudian di tahun 1998 pergi ke Malaysia selama 2 tahun dan kembali lagi ke Silungkang sampai sekarang. Malaysia bagi saya serasa kampung nomor dua setelah Silungkang. Karena orang Silungkang pun ada yang telah menjadi warga negara Malaysia terutama di Johor Baru dan di Kualalumpur, mereka kalau di rumah tetap berbicara dalam bahasa Silungkang dan ada kalanya memakai tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Silungkang, bahasa Inggris dan bahasa Melayu (Malaysia).

Tanggal 20 Oktober 1999, adalah saat-saat yang mendebarkan dan juga menggembirakan hati saya. Di malam hari itu kira-kira pukul 21.00. Isteri saya sudah melihatkan tanda-tanda akan melahirkan, saya langsung berkemas-kemas dan mengumpulkan kain seperlunya ke dalam tas kemudian menunggu taksi. Kebetulan sekali rumah kami ditepi jalan, saya dukung anak saya yang berumur 5 tahun dan saya bimbing isteri saya, setelah taksi berhenti saya katakan kepada supir taksi : “Tolong antar kami ke Hospital (rumah sakit) Kuala Pilah, isteri saya nak melahirkan”.

Taksi melaju dengan cepat menuju Hospital Kuala Pilah, setibanya kami disana kami langsung saja ke UNIT KECEMASAN (unit gawat darurat).

(BERSAMBUNG)

Cerita Asli dari Djasril Abdullah

Sumber : Tabloid Suara Silungkang – Edisi Kesembilan Maret 2008