Oleh H. Abu Nawar (Dalimo Jao)

Perantau Silungkang pertama kali menginjak bumi Surabaya tahun 1930 dipelopori oleh Bapak P. Basir (Tanah Sirah) membuka toko tekstil di Tunjungan. Disusul perantau Silungkang lainnya yaitu Bp. Tayeb Saleh (Panay) dan Bp. M. Usman (Sawah Juai), keduanya di Wonokromo. Bp. M. Saini (Talak Buai) di Keputran, Bp. M. Noor (Guguek) di Blauran, H. Hasan Basri (Dalimo Tapanggang) di Praban, Bp. Salim Djalil (Dalimo Tapanggang) di Slompretan, dan sebagainya. Mereka semua membuka toko tekstil. Para perantau bertujuan datang ke Surabaya untuk mencari nafkah, dipilihnya kota Surabaya karena saat itu Surabaya sebagai kota transit perdagangan/pusat perdagangan.

Sebelum pendudukan tentara Jepang (1942), perantau masih merasa aman dibawah pemerintaha Belanda. Saat itu tidak ada pembebanan listrik, air, kebersihan, pajak dan keamanan terhadap warga negara Indonesia, semua ditanggung pemerintah Belanda. Namun deskriminasi dan tidak adanya persamaan hak antara orang Belanda dengan orang Pribumi itulah yang membuat bangsa Indonesia merasa terinjak-injak hak asasi manusianya, mereka berjuang untuk merebut kembali tanah air Indonesia tercinta, MERDEKA ATAOE MATI.

Masuknya tentara Jepang ke Indonesia khususnya ke Surabaya membuat para perantau Silungkang banyak yang mengungsi, namun hanya dalam waktu singkat mereka kembali lagi. Bapak Abu Nawar mengisahkan bahwa beliau mengungsi ke daerah Tretes, bertempat tinggal di kediamanan Organisasi Silungkang. Pengungsi hanya berbekal baju seadanya sedangkan harta benda yang lain (rumah dan toko) ditinggalkan begitu saja. Beliau mengungsi tidak kurang dari 1 bulan, selanjutnya kembali ke Surabaya dan membuka toko baru, karena toko semula sudah diambil oleh orang WNA (Cina).

Semenjak perjuangan, Bp. Abu Nawar ikut berjuang baik perjuangan di Jembatan Merah, Don Boscho, Hotel Yamatho, Rungkut, Panjang Jiwo dan sebagainya. Perantau Silungkang, Bpk. Basir (Malowe) gugur sebagai pejuang saat Agresi Militer I.

Kedatangan sekutu pasca kemerdekaan (1945), membuat para perantau banyak yang mengungsi kembali. Bpk. Abu Nawar mengungsi ke Blitar sampai tahun1948, diteruskan perjalannya ke Silungkang, beliau berdagang ke Jambi. Yang menarik disini, beliau ke Jambi, menumpang di M. Yunus di kebun kelapa Jambi karena uang ORI tidak berlaku saat Belanda masuk. Pak Abu hanya makan daun singkong disekitar kediaman. Liku-liku beliau untuk berusaha kembali ke Surabaya merupakan hal yang tidak masuk akal. Dimulai dari permohonan ke Camat (Raden Syahrudin) untuk meminta ijin kembali ke Surabaya, yang tidak dikabulkan, dilanjutkan ke Residen Jambi dan kepolisian Jambi tetap baru dapat ijin. Tiba suatu saat, truk berpenumpang tentara Belanda menuju ke Pelabuhan Pal Merah, beliau “menggandol” truk tersebut dengan dua orang awak sampai ketujuan. Tentara Belanda dalam truk tersebut plus tiga orang awak menumpangi pesawat menuju Palembang. Akhirnya dari Palembang setelah menghubungi Surabaya, beliau diperbolehkan kembali ke Surabaya dengan kapal laut.

Di Surabaya, beliau menetap di rumah M. Usman (Sawah Juai) di toko Indonesia kapasan. Dan mulailah kembali usaha toko beliau (tahun 1950).

Demikianlah sekelumit kisah sejarah yang dialami Bapak Abu Nawar dan para perantau Silungkang yang ada di Surabaya. Semoga dapat dijadikan pelajaran berharga bagi para pembaca. (HAR).