Dari Sawahlunto, kereta api berangkat pukul 10.00. Ini adalah rit yang kedua. Tampaknya tak ada yang berminat bergelantungan. Kereta memang tidak menyediakan gerbong penumpang. Yang ada cuma gerbong besi hitam berisi batu bara. Inilah yang dinamakan “Mak Itam”.

Jejeran gerbong ditarik oleh sebuah diesel. Satu dari 29 diesel yang ada dijajaran Perumka Sumbar.

Baru saja keluar dari stasiun Sawahlunto, kereta sudah memasuki terowongan. Selama lebih kurang sepuluh menit di dalam lubang gelap itu, membuat pemandangan jadi kabur. Keluar dari terowongan, pakaian jadi kumal. Penuh debu hitam batu bara.

Kereta tidak berhenti di stasiun Muaro Kalaban tetapi terus saja melaju. Stasiun-stasiun kecil sepanjang rel dilewati. Pemandangan cukup indah. Berkali-kali rel memutus jalan Lintas Sumatra yang mulus dan ramai oleh bus jarak jauh. Sepanjang jalan tampak bukit-bukit karang yang tandus. Hanya dibeberapa puncak tertentu yang ada pohon pinusnya. Rel kereta seolah berada dalam lembah yang panjang. Di kedua sisinya berjejer bukit sambung-menyambung.

Petani Minang yang ulet dan tak kenal lelah, menarah bukit sampai ke pinggang, membentuk jenjang-jenjang hijau yang kecil. Tipografi tanah tampaknya kurang menguntungkan untuk bertani.

Di stasiun Solok, kereta berhenti. Bagi saya ini adalah perjalanan nostalgia. Dahulu, tiap lebaran selalu begini. Saat itu pihak Perumka menyediakan gerbong penumpang. Suasana lebaran berlangsung selama seminggu, selama pesta Danau Singkarak berlangsung. Saat itu penumpang membeludak bahkan ada yang naik ke atap.

Kini peminatnya tidak seramai dahulu. Ada perasaan rendah diri penduduk bila naik “Mak Itam”. Memang, angkutan bus jauh lebih maju. Jalan-jalan mulus sampai ke pelosok. Trayek kereta api yang khusus menyediakan gerbong penumpang hanya antar Padang – Naras (Pariaman). Padahal rel sepanjang 196 km, peninggalan Belanda ini sangat potensial untuk alat transportasi murah.

Dari Solok, deretan gerbong mulai bergerak. Sekarang pemandangan lain. Yang tampak adalah hamparan sawah yang luas dan datar. Sedangkan di sebelah kanan bukit-bukit yang agak rendah dan ditumbuhi ilalang.

Memasuki danau Singkarak, pemandangan menjadi menawan. Rel kereta api melintasi belahan timur pinggir danau yang luasnya 13.011 ha dan merupakan danau terbesar di Sumatra Barat. Selain danau ini ada tiga danau lagi yang telah dijadikan sebagai objek wisata yaitu Danau Maninjau, Danau Di Atas dan Danau Di Bawah.

Beberapa orang turis asing tampak mandi dan berenang di tempat yang dinyatakan sebagai objek wisata seperti di Singkarak, Tanjung Mutiara, dan Ombilin. Di pinggir danau ini baru ada 2 buah hotel yang layak untuk turis yaitu Hotel Jayakarta dan Minang Hotel di Ombilin.

Di sepanjang jalur pinggir danau, antara bus dan kereta api seperti berlomba. Jalurnya memang sejajar. Rel kereta api diatas sedangkan jalan raya di bawah.

Di tempat-tempat tertentu yang merupakan tepian penduduk, gadis-gadis pinggir danau kelihatan sedang mandi dan mencuci. Beberapa anak berenang sampai ketengah.

Dahulu kami menamakannya sebagai puteri duyung dan melempari dengan batu bara, kayu, dan sandal jepit. Mereka membalas dengan sorakan mengejek, mencibir, dan menunggingkan pantatnya.Sebagai objek wisata, Danau Singkarak cukup menjanjikan. Namun pengelolaannya tampak belum merata. Di sepanjang pinggir danau, rumah-rumah liar semakin banyak. Tiangnya dipanjangkan ke dalam air. Juga rumah makan dan restauran tumbuh tak beraturan, sehingga menimbulkan kesan kumuh.

Di stasiun Batu Tebal, kereta api berhenti. Diesel penarik gerbong ditambah. Kini diesel menjadi dua, yang satu di depan dan lainnya di belakang untuk mendorong sebab jalan mulai menanjak. Rel kereta api bagian tengahnya juga diberi gir.

Tanjakan berakhir di stasiun Padang Panjang. Di sana kereta berhenti. Dari sini perjalanan mulai menurun memasuki Lembah Anai. Di Lembah Anai perjalanan menjadi mengerikan. Rel melayang di atas jalan raya, di atas sungai, di atas lembah, dan menembus bukit, memasuki terowongan. Namun demikian, pemandangan Lembah Anai yang terkenal indah dengan air terjunnya yang curam kelihatan cukup jelas. Cukup menawan.

Memang cukup beralasan pemerintah Sumatra Barat menggalakkan kereta api angkutan khusus turis. Ruas-ruas jalan yang ditempuh oleh jalur kereta sangat menarik dan bisa merupakan salah satu paket tujuan wisata.

Tiba di stasiun Sicincin, perjalanan mulai mendatar dan di kiri kanan yang ada cuma pohon kelapa, rawa, dan sawah. Kereta terus melaju menuju Padang. Pukul sepuluh malam baru tiba di Teluk Bayur dengan tubuh yang tak karuan. Seandainya saya naik kereta api turis tentu keadaannya menjadi lain.

Sumber : No Name, from Buletin Silungkang tahun 1998