Mulai tahun 1952 keadaan SMP SDI telah memulai membaik. Perbaikan ini disebabkan : mulai tahun 1952, anak perempuan diterima menjadi murid. Penerimaan murid perempuan ini adalah atas inisiatif dan keberanian majelis guru yaitu Hasan Muhammad, Idroes Katoen, Syarifuddin, Ibrahim Said (Mamak Surau Tenggi).

Murid mulai meningkat jumlahnya :
Tahun 1952 = 67 orang
Tahun 1953 = 80 orang
Tahun 1954 = 115 orang
Tahun 1955 = 119 orang
Tahun 1956 = 172 orang
Tahun 1957 = 167 orang
Tahun 1958 = 123 orang
Tahun 1959 = 98 orang
Tahun 1960 = 141 orang
Tahun 1961 = 119 orang
Tahun 1962 = 114 orang

Buku pegangan guru telah ada. Murid telah dapat meminjam buku di sekolah. Honor guru telah dapat ditingkatkan. Keuangan telah mulai membaik. Bantuan dari Jakarta yang dikumpulkan dari Alumni dan pencinta SDI yang diprakarsai oleh Danil Yusuf, Nazwar Samin, dan Marius Harun telah mulai mengalir.

Tahun 1954/1955 lokal ditambah 2 buah lagi dengan biaya Rp. 40.000,- seluruh ditanggung oleh Salim Jalil. Bangku dan peralatan lainnya seharga Rp. 14.000,- ditanggung oleh PKS Padang.

Bertepatan dengan HUT SMP SDI, majelis guru memberanikan diri pula untuk mendirikan Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA SDI). Dasar didirikannya ialah untuk menampung anak-anak perempuan yang lulus dan tidak lulus dari SMP. Usaha ini disokong penuh oleh Dr. Johor Rukun (waktu itu belum jadi dokter). Johor Rukun diwaktu senggangnya ikut mengajar.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998