7 Desember 1941 Admiral Nagumo menyerang Pearl Harbour. 8 Desember 1941, Belanda ikut memaklumkan perang kepada Jepang. Situasi di Indonesia mulai panas dan gawat. Perantau-perantau Silungkang yang bertebaran di seluruh pelosok tanah air, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dan sama-sama sependapat walau tidak pernah bersepakat terlebih dahulu, untuk mengirim istri dan anak mereka ke kampung (Silungkang).

Disebabkan banyaknya anak-anak yang berkumpul di kampung, yang mana kebanyakan di perantauan bersekolah HIS (Hollands Inlansche School), maka Kepala Nagari bersama M. Nour Guguak dan Haroen Rajo Sampomo, mendirikan sekolah HIS pelarian yang kemudian dizaman Jepang ditukar namanya menjadi NIG (Nippon Indonesia Ghako). Tepat sekolah di rumah sekolah Silungkang Institut dipinjamkan satu lokal.

Pada umumnya anak-anak yang dari perantauan terdiri dari anak orang berada, tentu punya pakaian dan perlengkapan sekolah yang cukup dan bagus. Anak-anak Silungkang Institut terikat oleh disiplin sekolahnya, pakai pakaian seragam, kepala gundul dan tidak pakai sepatu. Perbedaan yang menyolok ini telah mulai menampakkan gejala yang tidak baik. Untuk menjaga bentrokan antar murid, oleh pengurusnya dipindahkanlah sekolah HIS ke lokal Volkschool di pasar Silungkang.

Supaya lekas membaurnya anak-anak dari rantau dengan anak-anak yang di kampung, oleh kedua pengurus kedua sekolah itu didirikan Pandu KBI (Kepanduan Kebangsaan Indonesia). Semua murid laki-laki di kedua sekolah itu diwajibkan untuk masuk di kepanduan itu. Pimpinannya diambil dari sekolah yang kedua itu yaitu Idroes Katoen dan Agusnar Alimin dari Silungkang Institut, Anuarby Jamal dan Kamaruzzaman dari HIS pelarian.

Yang patut menjadi perhatian kita bersama, ialah cepat tanggap dan cepatnya bertindak pemimpin-pemimpin Silungkang waktu itu, dan nyatanya semenjak diadakannya pandu KBI itu, baiklah hubungan antara anak-anak perantauan dengan yang di kampung. Kemajuan tentara Jepang diluar dugaan sekutu. Dalam waktu yang singkat, tentara Jepang telah sampai di Malaya. Singapura, benteng Inggris yang terkuat di Asia, telah terancam dan diragukan untuk bisa dipertahankan. Tentara Inggris telah banyak yang berhamburan lari, ada yang ke Pekanbaru, ke Rengat ke Jambi dan lain-lainnya.

Tentara Belanda yang gagah berani terhadap rakyat jajahannya selama ini walaupun belum pernah berhadapan dengan tentara Jepang, telah ketakutan pula. Telah banyak yang panik bahkan telah banyak yang lari meninggalkan kesatuannya. Dalam situasi yang demikian, Silungkang diberi jatah oleh Belanda minyak tanah sebanyak 700 kaleng yang disuruh tempatkan di rumah sekolah Silungkang Institut. Konon kabarnya kemudian diperdapat berita, maksud Belanda memberi minyak tanah itu adalah untuk membumi hanguskan Silungkang Institut dan negeri Silungkang.

9 Maret 1942 Indonesia diduduki oleh Jepang. Penandatanganan penyerahan tanpa syarat oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Tjarda Van Starkenburg Stachhouwer dan Luitnam Jendral Hein Ter Poorten dilakukan di Kalijati. Pada tanggal 8 Maret 1942, Jepang mulai memasuki kota Sawahlunto dari Sijunjung. Rakyat menyambutnya dengan gembira sekali, lebih-lebih rakyat Silungkang yang dengan masuknya Jepang dan kalahnya Belanda terobat rasanya jerih payah, pengorbanan dan penderitaan tahun 1927.

17 Maret penyerahan di Padang Silungkang Institut ditukar namanya menjadi SDI (Sekolah Dasar Islam) nama mana disesuaikan dengan niat waktu mendirikannya.

Keadaan sekolah SDI selama pendudukan Jepang.

Sama seperti sekolah-sekolah lainnya di Sumatera Barat ini, SDI inipun mengalami nasib yang memprihatinkan, antara lain pada keadaan guru yang pada tahun 1943 terdiri dari Guru Hasan Muhamad, Guru Suginoi, Guru Rustam. Tahun 1944 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Umir Usman, Guru Idroes Katoen. Tahun 1945 yaitu Guru Hasan Muhamad, Guru Idroes Katoen, dan Guru Syamsuddin Sawah Juai.

Keadaan murid tahun 1942 berjumlah 72 orang, tahun 1943 yaitu 52 orang, tahun 1944 hanya 46 orang dan tahun 1945 adalah 51 orang.

Honor guru dengan beras, itupun penuh ke bawah. Buku pegangan bagi guru tidak ada. Buku serta peralatan sekolah sulit diperdapat.

Untungnya, kalau ditempat-tempat lain sekolah dan guru-gurunya telah banyak yang kehilangan wibawa, siswa SDI tetap mematuhi peraturan/disiplin sekolah.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998