Lebih kurang 6 bulan sekolah yang dibangun berjalan, diadakanlah pemeriksaan oleh badan pemeriksaan yang dipimpin oleh Guru Arifin. Dari hasil pemeriksaan, Guru Arifin sangat gembira dengan hasil yang telah dicapai. Menurut pendapat Beliau, bahasa Belanda di sekolah ini telah dapat disamakan dengan kelas V di sekolah HIS. Kira-kira satu tahun kemudian, sekolah ini ditukar namanya menjadi “Silungkang Institut”. Ditukarnya karena banyak yang mengusulkan bahwa nama Limau Poeroet Institut, nama ini terlalu khusus sedangkan sekolah ini kepunyaan Silungkang. Pada tahun ajaran kedua guru ditambah, yaitu guru Sugino M. Wigono. Pada tahun ketiga guru telah 6 orang karena ditambah dengan guru Sofyan Jamanuri, guru Nazarirrudin dan guru M. Zein.

Akhir tahun 1941, datang rombongan pemerintah Belanda yang dipimpin oleh Controleur untuk memeriksa sekolah ini, waktu itu tentara Jepang telah menduduki Philipina. Diperiksanya sekolah ini karena pemerintah Belanda curiga terhadap sekolah ini. Kecurigaan ini disebabkan antara lain :

  • Tentara Jepang disamping memakai pakaian seragam, kepalanya semuanya gundul. Peraturan di sekolah ini juga begitu. Apakah sekolah ini ada hubungannya dengan tentara Jepang itu.
  • Karena dapat laporan dari intelegennya, bahwa guru-guru “Silungkang Institut” sedang giat-giatnya mempelajari bahasa Jepang.
  • Belanda masih khawatir terhadap Silungkang. Kekhawatiran ini mungkin akibat pemberontakan Silungkang 1927.

Untunglah sebelum ada pemeriksaan, kepala negeri Silungkang M. Joesoef Penghulu Sati yang menjadi pelindung sekolah ini, telah mengetahuinya dan segera memberitahukan kepada guru-guru bahwa akan ada pemeriksaan. Oleh karenanya guru-guru mana yang patut disingkirkan, disingkirkanlah segera. Nyatanya waktu itu guru Bahaudin memang sedang asyiknya mempelajari bahasa Jepang.

Segala pertanyaan yang diajukan oleh Controleur itu, dapat dijawab oleh guru Bahaudin dan guru Sugino, sehingga Controleur pulang dengan tangan hampa, tapi masih menampakkan kecurigaannya. Lebih kurang satu bulan kemudian, datang rombongan pemerintah Belanda dari Padang, yaitu rombongan dari O & E (Onder Wys en Eeredienst). Kalau istilah sekarang rombongan DEBDIKNAS. Kedatangannya itu untuk membujuk pemimpin-pemimpin Silungkang agar sekolah Silungkang Institut dijadikan saja sekolah pemerintah. Ini mungkin rentetan dari periksaan Controleur tempo hari. Usul ini ditolak dengan tegas oleh pemimpin-pemimpin Silungkang. Tidak ada basa-basi karena pemimpin-pemimpin Silungkang telah tahu bahwa situasi di Indonesia telah mulai gawat. Negeri Belanda telah diduduki Jerman, sedangkan tentara Jepang telah mendekati Singapura.

Sumber : Bulletin Silungkang, 001/SM/JUNI/1998