Renovasi kembali Masjid Raya Silungkang yang pembiayaannya dikumpulkan dari masyarakat Silungkang sendiri baik yang di kampung ataupun yang di perantauan. Masjid Raya ataupun Surau Godang (kini jadi sekolah Muhammadiyah) yang akan direnovasi itu dulu dibangun oleh leluhur kita tidak hanya dengan swadaya masyarakat Silungkang saja, tetapi juga dengan bantuan/partisipasi murid-murid dari Syech-syech di Silungkang dan sekitarnya serta guru besar dari semua Syech-syech itu adalah SYECH MOHAMAD SALEH BIN ABDULLAH alias SYECH BARAU yang peranannya sangat besar dalam pembangunan Surau Godang dan Masjid Raya di Silungkang.

Adapun murid-murid beliau antara lain adalah :

  1. Syech Mohammad Taib (Engku Surau Lurah), adik kandung dari Barau (Tanah Sirah).
  2. Syech Ahmad (Engku Surau Tanjung), urang sumando dari Barau (Dalimo Tapanggan).
  3. Syech Abdul Rahman (Engku Surau Bulek), anak kandung dari Barau (Dalimo Jao).
  4. Syech Abdullah (Engku Surau Godang).
  5. Syech Abdul Rahman (Engku Talawi).
  6. Syech Abdullah (Engku Lunto).
  7. Syech Abubakar (Engku Surau Palo) Panai Ruman Nan Panjang.
  8. Syech Abdulah (Engku Surau Ambacang Koto Anau).
  9. Syech Muhammad (Syech Kampung Baru).

Jadi tidak heranlah kita kalau di Silungkang pada tahun seribu delapan ratus itu terdapat kira-kira 40 (empat puluh) buah surau, antara lain dapat disebutkan mulai dari Surau Lubuak Kubang, Surau Ambacang, Surau Lurah Cupuik, Surau Palakoto, Surau Kotomaparak, Surau Nyiak Goduang di Lubuk Taweh, Surau Ongku Balampi di Lubuk Lawa-lawa, Surau Ongku Jaluddin dekat Kutianyar, Surau Lomba, disini ada 3 surau yaitu kepunyaan Kampung Palakoto, Piliang Ateh, dan Tanah Sirah – Surau Topi Air, Surau Lolo, Surau Pangka Titi, Surau Dibawajui, Surau Cobodak, Rumah Sekolah, Surau Masjid, Surau Bulek, Surau Lokuak, Surau Belakang, Surau Ongku, Surau Tanjung, Surau Lurah, Surau Baru Melawas, Surau Sepan, Surau Jambak, Surau Tinggi, Surau Palo – sampai Surau Bangkang – Pada umumnya tanah tempat surau-surau itu didirikan adalah TANAH WAKAF.

Pada waktu itu (tahun seribu delapan ratusan) timbul niat dari Syech Barau untuk membangun sebuah surau yang agak besar (belakang dikenal dengan nama Surau Godang. Sekarang berdiri disana sekolah Muhammadiyah), niat mana setelah beliau musyawarah dengan murid-murid dari murid beliau yang 9 orang tersebut di atas, disokong 100 persen secara moril dan material. Murid-murid dari murid beliau itu telah tersebar di negari sekitar Silungkang seperti Taruang-taruang, Indudur, Pianggu, Koto Anau, Kotobaru, Kampuang Baru, dan Batu Manjulur. Oleh karena itu soal bahan-bahan seperti batu, pasir, kayu-kayu dan lain-lain serta tukang tidak menjadi masalah sama sekali karena mereka bersedia menanggulangi semuanya.

Untuk mewujudkan niat beliau itu, didirikanlah Surau Godang di atas tanah kaum beliau sendiri (Tanah Sirah), karena tanah sekitar tempat akan didirikanlah Surau Godang itu adalah tanah kaum beliau semuanya dimana juga telah berdiri Surau Lurah, Surau Lakuak, Surau Bulek, dan Surau Belakang. Sedangkan tanah Surau Tanjuang adalah tanah kepunyaan kaum Dalimo Kosiak. Jadi semuanya tanah disekitar Surau Godang dan Masjid Raya adalah tanah wakaf didekat Surau Godang itu beliau dirikan pula rumah famili beliau (kemenakan beliau) yaitu Habibullah. Haji Hasan dan Ande dari Upiak (Nenek dari Herman Nawas). Surau tersebut berukuran kurang lebih 20 x 8 m bertingkat tujuh akan tetapi yang dipakai hanya dua tingkat yang pertama saja. Pembangunan Surau Godang berpedoman kepada sebuah miniatur/maket yang dibuat dari batang Pipiang, oleh Ahmad Ongku Surau Tanjung.

Tiap-tiap surau memerlukan “kolam air” seperti Surau Lolo, Surau Lokuak dan Surau Godang yang gunanya semula untuk penampung air buangan dari berwuduk dan buangan hajad kecil/besar yang semuanya untuk menjaga kebersihan. Kolam air yang agak besar adalah kolam Surau Lokuak, di lokasi ini memang banyak surau, jadi banyak orang buang hajad di kolam Surau Lokuak. Satu lagi kolam yang agak besar adalah kolam Surau Godang, guna mengurangi bau yang tidak sedap dari kolam-kolam ini, kolam-kolam itu harus diisi dengan ikan yang banyak (Kaluih dan Limbek), untuk itu dibuatlah mufakat bahwa guna mengisi ikan kolam tersebut dicari orang-orang yang berminat dan terutama tentu yang mampu. Dengan catatan bahwa orang-orang yang mengisi kolam tersebut mendapat “Hak Mengelola” (hasil ikannya untuk orang yang mengisinya). Di zaman saya masih bujang-bujang tanggung dulu, setahu saya Haji M. Taher Tanah Sirah dan Surau Lurah adalah Haji Said. Sedangkan pengelola kolam lainnya tidak diketahui dengan pasti sampai sekarang.

Surau Godang selesai dibangun pada tahun 1870 dan tidak berapa lama setelah itu, karena masih ada tanah tersisa (areal Masjid sekarang) yang merupakan wakaf dari kaum Tanah Siram, kaum Petopang/Sawajui dan kaum Dalimo Godang. Timbul pula keinginan dari Syech Barau untuk membangun sebuah masjid yang lebih besar karena pada tiap-tiap hari Jum’at, murid-murid beliau dari berbagai daerah datang ke Silungkang untuk melaksanakan shalat Jum’at. Mulai pukul 9 pagi murid-murid beliau itu sudah berdatangan dan makin hari makin bertambah sehingga mulai dirasakan surau Godang tidak mencukupi lagi untuk menampung jamaah yang datang untuk beribadah.

Untuk keinginan seperti itu, beliau pergi ke Padang dan waktu melihat masjid Ganting, niat itu semakin kuat. Beliau berkeinginan membuat sebuah masjid seperti masjid Ganting itu. Beliau langsung menemui tukang yang membuat masjid Ganting itu dan mengajaknya untuk bekerja membangun sebuah masjid di Silungkang. Tukang atau adman tersebutlah yang kemudian membangun Masjid Silungkang dan beliau dikenal di Silungkang dengan panggilan Ongku Siak Masojik atau Ongku Padang. Masjid Raya Silungkang selesai dibangun pada tahun 1900 dengan ukuran 24 x 24 m. tersebutlah beranda dan koridornya. Luas masjid kurang lebih dua kali lebih besar dari Surau Godang. Sebelum direnovasi pada tahun 1950 masjid kita mirip sekali dengan masjid Ganting yang di Padang itu.

Pada tahun 1950, masjid itu diperbesar dan dibuat bertingkat atas inisiatif dan sponsorin H. Aziz Udin. Pembangunan dilakukan secara bertahap dan beliau menyisihkan keuntungan dagang bebelok ke Singapura untuk melaksanakan pembangunan Masjid tersebut. Setiap kali beliau kembali membawa barang dengan selamat dari Singapura, maka sebagian labanya diberikan kepada bendahara pembangunan masjid yaitu Bp. Samin Tagatuang dengan panitianya Bp. Said Rajo Bandaro Talakbuai. Perluasan dan pembangunan masjid tersebut dapat diselesaikan pada tahun 1958. Bentuk itulah yang dapat kita lihat sekarang ini, masih kokoh diluarnya, tapi sudah mulai lapuk bagian dalamnya terutama bahan-bahan perkayuannya. Pada waktu diguncang gempa tahun 1929 (meletusnya Gunung Merapi) tidak ada kerusakan masjid ini, akan tetapi pada waktu gempa tahun 1942 (meletusnya Gunung Talang) Migrab masjid menjadi retak dan ayam-ayam yang ada di puncak atap masjid jatuh dan tidak diganti sampai sekarang.

Karena kondisi Masjid Raya yang sangat memprihatinkan itu, timbul keinginan dan kesepakatan masyarakat Silungkang (yang dicetuskan di rumah Drs. H. Nazir Ahmad, Lukuak Kubang) untuk membangun kembali Masjid Raya Silungkang yang lebih besar, dimana untuk itu diperlukan areal tanah yang luas dari yang ada sekarang, maka peran serta positif dan keridhoannya warga “Pemilik” tanah sekitar Masjid itu sangat diharapkan. Kiranya tidak terlepas dari semangat untuk meneruskan tradisi dan cita-cita leluhur kita dalam meningkatkan syiar Islam serta keinginan untuk menjadikan Silungkang sebagai pusat pengembangan agama Islam bagi daerah sekitarnya. Oleh karena itu, marilah kita dukung bersama upaya pembangunan masjid ini berupa dukungan material maupun moril.

Silungkang, Ied 1415 H
Disarikan oleh H. Munir Taher berdasarkan cerita generasi tua-tua Silungkang, terbanyak bersumber dari Almarhumah Ongah Timah Malowe.

Catatan Admin :
Sekarang Masjid Raya Silungkang sudah lama selesai pembangunannya. Terima kasih kepada semua donatur yang telah menyumbang.

Sumber : Bulletin Warga Silungkang, No. 001/SM/JUNI 1999