BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

BAGIAN KEEMPAT

 

BAGIAN KELIMA

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Ada lebih dari kurang satu minggu, kami men-stel palantai serta mengatur tata ruang tempat kami bekerja. Palantai ATBM dua buah dan Palantai Gedokan dua buah, jadi kami memproduksi kain sarung dua bidang dan kain songket. Ruangan tempat kami bekerja ditata rapi, beralaskan tikar rotan dan berdinding setengan tiang yang terbuat dari rotan anyaman. Dipintu tempat masuk tertulis “Sila Buka Kasut” artinya silahkan membuka sepatu/sandal, dan setiap palantai juga tertulis “Jangan Sentuh” artinya jangan dipegang. Kami diarahkan supaya menenun kain hanya bila pengunjung ada. Jika pengunjung tidak ada kami tidak menenun, tetapi tetap berada ditempat, kami harus mengikuti kebiasaan pegawai Malaysia lainnya yaitu “Disiplin”, masuk tepat waktu, keluar pun tepat waktu. Setiap masuk kerja dan keluar kerja kami harus memasukkan kartu kehadiran ke mesin absensi sehingga tercetaklah jam masuk dan jam keluar pada kartu tersebut. Saya sudah agak merasa lega karena ketetapan kerja sudah ada, saya bertenun ATBM yang menghasilkan kain sarung dua bidang, sedangkan istri saya bertenun songket, demikianlah kerja kami sehari-hari, tetapi guna untuk menambah pengetahuan dan menambah pergaulan sekali-kali saya memfungsikan diri saya untuk menanti pelancong (pengunjung) yang ingin melihat barang peninggalan sejarah yang ada di Muzim Diraja tersebut, disamping itu saya juga berkesempatan mempelajari sejarah hubungan Minangkabau dengan Negeri Sembilan serta sejarah Negeri Sembilan itu sendiri. Diantara pengunjung yang datang, saya ada berkenalan dengan Datok Batin yaitu seorang Kepala Suku Biduanda (orang asli Negeri Sembilan), dalam percakapan dengannya saya banyak mendapat pengetahuan mengenai orang asli Negeri Sembilan yang terdiri dari orang Semang, Sakai dan Jakun yang telah berkawin campur (semenda menyemenda) dengan pendatang dari Minangkabau. Pada suatu ketika saya juga sempat menghadiri Seminar Adat Perpatih yang diselenggarakan oleh pemuka-pemuka Adat Negeri Sembilan dan dikesempatan lain saya juga sempat itu sebagai “Urus Setia” (Panitia) Pesta Adat Persukuan yang diadakan oleh 12 suku yang ada di Negeri Sembilan. Nama-nama suku yang dua belas itu adalah sebagai berikut :

  1. Tanah Datar

  2. Batu Hampar

  3. Seri Lemak Pahang

  4. Seri Lemak Minangkabau

  5. Mungka

  6. Payakumbuh

  7. Seri Malanggang

  8. Tigo Batu

  9. Biduanda

  10. Tigo Nenek

  11. Anak Aceh

  12. Batu Belang

Untuk ketenangan bekerja telah ada bagi saya, kini saya pindah lagi memikirkan anak-anak saya yang akan bersekolah, menurut perjanjian semula seluruh pengurusan sekolah anak-anak saya ditanggung oleh Muzium (yaitu pegawai Muzium orang Malaysia).

Bulan Desember adalah hari libur sekolah karena baru saja “naik derjah” (naik kelas). Ini satu perbedaan, kalau di Indonesia naik kelas bulan Juni dan tahun ajaran baru bulan Juli, sedangkan di Malaysia naik derjah bulan Desember dan tahun ajaran baru pada bulan Januari.

Pada tanggal 2 Januari 1999 libur sekolah telah berakhir, murid-murid sudah pada mulai sekolah, sedangkan anak-anak saya belum masuk sekolah, karena beluma ada berita dari Muzium tentang pengurusan anak-anak saya, sudah 15 hari saya tunggu-tunggu beritanya namun tidak ada kabar, saya mulai gelisah, akan saya urus sendiri, saya belum tahu caranya dan juga saya kuatir pihak Muzium tersinggung. Untunglah sore itu Wakil Kurator Muzium datang ketempat saya bekerja, saya ceritakan kegelisahan saya tersebut, dan Wakil Kurator Muzium mengerti akan kegelisahan saya itu, “Baiklah, esok kite pigi ke Pejabat Pendidikan Seremban, saye ade kenal dengan salah seorang pegawai disane, Bapak bisa tanye segala persyaratan dan prosedur macam mane nak uruskan anak Bapak”. Kata Cik Mad (Mohammad Darus/Wakil Kurator Muzium).

Keesokan harinya saya dijemput oleh Cik Mad, sesampainya di Pejabat (kantor) pendidikan Seremban, saya diperkenalkan kepada pegawai yang khusus mengurus penerimaan pelajar asing, saya dibawa ke bilik kerja pegawai tersebut, disitu saya diberi keterangan mengenai prosedur yang harus saya lalui dan laksanakan, sedangkan Cik Mad tinggal diluar bercakap-cakap dengan pegawai yang dia kenal disana.

“Pertama sekali Pak Cik harus memastikan yang sekolah tempat anak Pak Cik bersekolah berkenan menerime anak Pak Cik, tentu sahaje Pak Cik jumpe dengan Guru Besar (Kepala Sekolah), kalau die berkenan menerime anak Pak Cik, die akan bagi surat rekomendasi, dan surat rekomendasi itu Pak Cik hantar kesini. Kemudian berhubung kerana anak Pak Cik ikut passport ibu, Pak Cik harus pesah passport itu, sahingga masing-masing anak Pak Cik punye pasport tersendiri, memecah passport tersebut di Kedutaan Besar Republik Indonesia Kualalumpur, nanti setelah siap passport anak-anak Pak Cik itu, bawe kesini bersamaan dengan surat rekomendasi dari Guru Besar tadi. Setelah itu kami buatkan rekomendasi dan Pak Cik bawe rekomendasi beserta passport anak-anak Pak Cik itu ke Pejabat Imigresen (kantor Imigrasi) guna dibuatkan Student’s Pass (Pas Pelajar), yang akan berkuat kuase (berlaku) selame satu tahun. Setelah anak Pak Cik punya Student’s Pass, barulah anak Pak Cik bisa diterima sekolah di Malaysia ini, sebelum punye Student’s Pass anak Pak Cik tak de hak masuk sekolah.”

Demikianlah keterangan yang saya terima dari pegawai yang khusus mengurus penerimaan pelajar asing tersebut, dan seterusnya saya mohon pamit, Cik Mad kembali mengantarkan saya pulang ke Sri Menanti.

Di rumah, lama saya termenung memikirkan panjangnya prosedur mengurus sekolah anak-anak saya, sekali-sekali terlontar nada keluhan dari lubuk hati saya, kalau dipikir-pikir untuk menjalani proses pengurusan sekolah anak-anak saya itu bisa memakan waktu dua bulan, baru anak-anak saya bisa sekolah, tentu anak-anak saya terlantar, kasihan anak-anak saya.

Besoknya saya pergi bekerja seperti biasa walau malam tadi saya susah untuk tidur karena terlalu banyak berpikir, sedang asik bekerja, kebetulan sekali muncul Tan Sri Samad Idris, “Assalamu’alaikum, ape kabar Pak Djasril ?”, kata Tan Sri sambil menyalami saya. “Wa’alaikumussalam, kabar kurang baik, saya susah hati”, jawab saya dengan nada sedih. “Hai …. ape hal, bagi tahulah saye, kalau boleh saye tolong”, kata Tan Sri lagi. Maka saya ceritakanlah segala perihal sekolah anak saya tersebut dan segala prosedurnya. “Oh … macam tu, tunggu sekejap, saye talipon Guru Besar”, kata Tan Sri seraya pergi ke bilik pejabat Muzium untuk menelepon Guru Besar Sekolah Kebangsaan Tunku Laksamana Nasir yang terletak berseberangan jalan dengan Muzium tempat saya bekerja. Hanya sedikit yang terdengar oleh saya kata-kata Tan Sri yaitu “Cik Gu (Pak Guru) terima anak-anak Pak Djasril itu dulu, surat-surat kedian (menyusul). Setelah selesai Tan Sri menelepon lalu menghampiri saya “Esok pagi, Pak Djasril hantar anak-anak ke sekolah, saye dah cakap dengan Guru Besar, kemudian uruslah surat-surat”, kata Tan Sri.

Tak dapatlah saya ceritakan disini betapa gembira dan leganya hati saya atas pertolongan Tan Sri tersebut dengan mudah anak-anak saya bisa masuk sekolah sebelum surat-surat selesai, saya tahu pengaruh Tan Sri sangat besar di Negeri Sembilan dan sangat dihormati semua kalangan, baik oleh rakyat biasa, pemerintah dan juga oleh kerabat raja-raja.

Keesokan harinya saya bawalah anak-anak saya ke Sekolah Kebangsaan Tunku Laksamana Nasir, saya disambut dengan ramah oleh Guru Besar (Kepala Sekolah), dan saya mendapat keterangan-keterangan yang saya perlukan untuk kepentingan anak-anak saya seperti dikatakan bahwa menurut peraturan bagi pelajar asing tidak disediakan Buku Bacaan tapi harus beli sendiri di Kedai Buku (Toko Buku).

Anak saya yang tua (perempuan) duduk di derjah enam sedangkan anak saya yang nomor dua (laki-laki) duduk di derjah tiga, (derjah = kelas). Guru Besar memperkenalkan anak-anak saya kepada murid-murid yang ada di sekolah itu dan murid-murid disana juga gembira menerima anak-anak saya.

Besoknya, melalui telepon saya dipanggil oleh Guru Besar karena ada sesuatu yang akan diberitahukan kepada saya, setelah saya bertemu dengan Guru Besar tersebut dia mengatakan kepada saya bahwa anak saya nomor dua (laki-laki) tidak layak duduk di derjah tiga, kembali kepala saya pusing dibuatnya, kalau tidak layak duduk di derjah tiga tentu duduk di derjah dua kembali, berarti tinggal kelas satu tahun.

Karena penasaran saya tanyakan apa alasannya tidak layak duduk di derjah tiga apa yang kurang dengan anak saya itu, maka dijawab oleh Guru Besar tersebut, “Setelah kami tengok Surat Beranak (Akta Kelahiran) anak Pak Cik, ternyata anak Pak Cik beranak (lahir) 20 Ogos (20 Agustus) jadi sudah lebih dari pertengahan tahun, maka tak layak duduk di derjah tiga, anak Pak Cik harus duduk di derjah empat. Maka mulai sekarang anak Pak Cik kami pindahkan ke derjah empat.”

Tak habis pikir saya, cerdas betul anak saya, satu hari di kelas tiga langsung naik ke kelas empat. Kemudian barulah saya tahu bahwa di Sekolah Rendah (Sekolah Dasar) derjah atau kelas disesuaikan menurut umur dan tidak ada istilah tinggal kelas, naik terus sampai kelas enam, walaupun bodoh. Kelas satu umur tujuh tahun, kelas dua umur delapan tahun, kelas tiga umur sembilan tahun begitu seterusnya.

Anak-anak saya telah mulai sekolah, besoknya saya mengisi borang (formulir) untuk mengambil cuti satu hari guna pergi ke Seremban membeli buku-buku kebutuhan anak-anak saya dengan membawa daftar buku-buku yang akan dibeli. Di Seremban saya cari Kedai Buku semacam Toko Buku Gramedia di Indonesia, di Kedai Buku itu lengkap semua, alat-alat tulis, tas, buku tulis, buku cetak. Setelah semua kebutuhan anak-anak saya itu dilengkapi, saya pergi ke counter untuk membayarnya, total semua saya bayar semua RM. 350,- (tiga ratus lima puluh ringgit), penuh satu kardus kecil untuk saya bawa pulang.

Anak-anak sudah bersekolah, peralatan sekolah sudah cukup, pakaian seragam sudah ada, sebagian dari kesulitan saya sudah teratasi, kini yang harus dipikirkan lagi mengenai surat-surat sebagai persyaratan legalnya anak-anak saya sebagai seorang pelajar di Malaysia, pertama-tama memecah passport isteri saya, yaitu sebelum ini anak-anak saya tercantum sebagai pengikut didalam passport isteri saya, jadi dibatalkan pada passport isteri saya dan dibuatkan masing-masing passport tersendiri, ini pengurusannya di Kedubes RI Kualalumpur (lebih kurang 90 km dari Seri Menanti), kemudian setelah selesai passport anak-anak saya, diurus pula Student’s Pass (Pas Pelajar) ke Pejabat Imigresen (Kantor Imigrasi) di Wisma Persekutuan Seremban.

Lalu siapa yang akan mengurus surat-surat ini semua ? Tentu saja pegawai Muzium orang Malaysia, karena ini negaranya, tentu lebih mengetahui seluk beluknya, tetapi setelah dimintakan kesediaanya tak seorangpun yang sanggup dengan alasan belum ada pengalaman dan pengetahuan mengurus surat-surat seperti ini, lagi pula susah untuk meninggalkan jam kerja disebabkan disiplin pegawai yang ketat, akan diambil jatah cuti tahunan, masing-masing mereka sudah punya program dengan hari cutinya. Lantas siapa yang akan mengurus ini semua ? Kalau ingin selesai ya .. harus saya, saya yang lebih baik tidak punya pengalaman dan pengetahuan berurusan di kantor-kantor Malaysia, saya yang baru beberapa bulan di Malaysia. Ke Kedubes RI Kualalumpur ? Alamatnya saya tidak tahu. Ke Kantor Imigrasi Malaysia ? Saya belum biasa berurusan dengna pegawai-pegawai Malaysia yang punya disiplin tinggi. Kembali kepanikan melanda diri saya, malam hari saya susah tidur, makan mulai berkurang, pikiran mulai tegang, tekanan darah mulai naik, saya berdo’a semoga Allah memberi saya ketabahan dan keimanan.

BERSAMBUNG

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Kelima, November 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah