BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

BAGIAN KEEMPAT

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia.

Saya punya catatan mengenai alat-alat tenun yang akan dibawa ke Malaysia, sebagian alat yang kecil-kecil langsung dipesan seperti locuik locuik, tughak, sikoci, sikek, buluah tughiang, balobe, juaran panjang, juaran singkek, lidi onau, kakolong, tali putiah, sedangkan palantai juga dipesan yaitu palantai ATBM dan palantai gedokan.

Untuk memesan dan mengurus alat-alat tersebut saya serahkan kepada isteri saya, dan disamping itu saya juga sibuk mengurus surat pindah sekolah anak saya di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah untuk pindah ke salah satu Sekolah Rendah (SR) di Malaysia. Anak saya yang paling tua kelas 5 SD, yang nomor dua kelas 3 SD, sedangkan yang kecil belum sekolah lagi karena baru berumur 4 tahun.

Pada tanggal 5 Nopember 1998, pagi itu saya sedang duduk disebuah bangku didepan Kantor Desa Silungkang Oso. “Pak, ado talepon”, kata salah seorang perangkat Desa. “Terima kasih”, jawab saya sambil langsung menuju gagang telepon yang masih tergeletak diatas meja. “Hallo, Assalamu’alaikum”, kata saya. “Wa’alaikumussalam, saye Cik Din, saye dah ade kat Padang, saye menginap kat Pangeran Hotel, macam ni Pak Djasril, esok pagi Pak Djasril datanglah ke Pangeran Hotel Padang bilik nomor 125 untuk ambik duit pembayar alat tenun dan ongkos balik ke Malaysia, sekalian duit bagi ongkos 2 orang pengrajin lagi, boleh paham tak ape yang saye cakap ni ?”. “Ya Cik Din saya paham, besok pagi saya berangkat ke Padang,” jawab saya.

Rupanya Cik Din (Drs. Shamsudin bin Ahmad) Kurator Lembaga Muzium Negeri Sembilan, sudah berada di Padang mengiringi kepergian saya ke Silungkang, saya sudah dianggap sebagai pegawai Muzium yang sedang melaksanakan tugas kerajaan di luar negeri, keselamatan saya adalah tanggung jawab kerajaan (pemerintah), demikian keterangan yang saya perdapat kemudian.

Siangnya saya temui seorang teman, Pak Idris, salah seorang guru di SD 013 Sungai Cacang, Silungkang Oso, dia ada punya mobil carry, saya minta dia untuk bersedia pergi ke Padang besok pagi mengantar saya ke Pangerang Hotel Padang, Pak Idris bersedia, karena bangku mobil banyak kosong, isteri dan anak-anak saya bawa.

Pada tanggal 6 Nopember 1998, pukul 08.00 pagi, saya sekeluarga dan Pak Idris yang langsung sebagai sopir mobilnya berangkat ke Padang, di Padang terus ke Pangeran Hotel. “Pak Idris, nanti sabonta disiko di, ambo tomui sabonta ughang Malaysia tu”, kata saya, setelah mobil Pak Idris parkir di Pangeran Hotel. “Jadi Pak”, jawab Pak Idris. Pak Idris dan keluarga saya menunggu di mobil, saya langsung ke tempat Receptionis, “Selamat siang Pak, apa yang bisa kami bantu”, tegur salah seorang yang berada di Receptionis itu. “Selamat siang, saya ingin menemui Shamsudin bin Ahmad, kamar nomor 125”, kata saya. “Sebentar ya Pak”, katanya lagi sambil menelepon ke kamar nomor 125 memberi tahu bahwa ada tamu yang ingin bertemu.

Tidak lama kemudian Cik Din muncul. “Seorang aje Pak Djasril ke sini ?”, tanya Cik Din sambil menyalami saya. Saya kesini sekeluarga dengan mobil teman”, jawab saya. Jom … (ayoh) kite pigi makan dulu”, kata Cik Din sambil barengan dengan saya menuju mobil Pak Idris. “Pak Idris ka rumah makan wak”, kata saya. “Jadi”, jawab Pak Idris. Di rumah makan kami duduk semeja dan terhidanglah bermacam-macam lauk pauknya. Saya perhatikan Cik Din memesan gulai tunjang sampai dua piring, nasi patambuhannya pun bertubi-tubi, kami heran juga melihat godang saleghonya (besar seleranya). Sambil makan dia berkata : “Saye kalau ke Padang, inilah yang tak tahan, saye suke masak Padang”. Selesai makan yang ditraktir Din itu kami kembali ke hotel di mana Cik Din menginap, saya dibawah ke kamar Cik Din, sementara Pak Idris dan keluarga saya menunggu di mobil. Lagi-lagi pengalaman baru bagi saya yaitu naik lift, karena kamar Cik Din berada di lantai tiga. Sampai di kamar Cik Din, diserahkanlah uang kepada saya sebanyak tiga setengah juta rupiah guna pembeli alat-alat tenun dan ongkos. “Nanti Pak Djasril balik ikut Dumai, di Silungkang Pak Djasril cari mobil angkut barang, macam mane terserah Pak Djasril-lah, sampai di Dumai nanti Pak Djasril terus ke Hotel Garuda, disane sudah ade yang menunggu, Datok Ismail beserta isteri yang akan pigi same ke Melaka”, kata Cik Din, “Ya, baiklah”, jawab saya singkat.

Kemudian setelah segalanya selesai, saya pamit, tapi sungguh malang bagi saya, saya tidak pandai cara turun dengan lift, pintu tangga ke bawah pun tidak nampak oleh saya, saya kembali ke kamar Cik Din dan minta tolong antarkan ke bawah, barulah saya selamat sampai di bawah (lantai dasar). Karena malu, saya tidak mau menceritakan kebodohan saya ini kepada orang, barulah sekarang saya ceritakan kepada anda, tapi janganlah disampaikan pula kepada orang lain.

Pada tanggal 8 Nopember 1998, jam 20.00 malam, segala alat-alat yang akan dibawa ke Malaysia telah siap, direncanakan besok 9 Nopember 1998, jam 10.00 pagi akan berangkat ke Dumai, sedangkan mobil angkutan barang dan mobil penumpang sudah disiapkan. Di pagi hari itu, 9 Nopember 1998, masyarakat ramai melepaskan kepergian saya sekeluarga, sungguh suatu penghormatan rasanya bagi saya, diwajah mereka kelihatan rasa simpati terhadap saya. Disisi lain ada suatu pemandangan yang menyedihkan dan mengharukan sekali terhadap diri saya ialah sewaktu saya melihat isteri saya bertangisan memeluk ibunya yang tidak bisa melihat karena diakibatkan penyakit diabetes yang dideritanya, dipeluknya ibunya erat-erat sambil keduanya bertangisan, entah akan bertemu lagi entah tidak, wallahu alam, hanya Allah yang tahu, orang tua isteri saya keduanya ditinggalkan dalam keadaan sakit, bapaknya tidak ikut melepas kepergian kami, beliau tinggal dirumah seorang diri, hanyut dengan kesedihan tersendiri. Tepat pukul 10.00 pagi, tibalah saatnya bagi kami meninggalkan Silungkang menuju Dumai dan untuk terus menyeberangi Selat Melaka.

Pada subuh hari, 10 Nopember 1998, kami sampai di Dumai, kami berkeliling-keliling mencari Hotel Garuda, setelah bertemu dan matahari mulai terbit, saya sekeluarga turun disana dan langsung disambut oleh Datok Ismail beserta isteri, sedangkan mobil angkutan barang langsung ke pelabuhan untuk membongkar barang dan dinaikkan ke kapal barang. Di hotel kami disediakan sebuah kamar, pertama sekali kami istirahat, karena diatas mobil tidak puas tidur, jam 10.00 kami sudah selesai istirahat dan mandi. Kami keluar menuju rumah makan, selesai makan, selesai makan saya dan keluarga kembali ke Hotel, saya menemui Datok Ismail, rupanya Datok Ismail juga baru saja menguruskan tiket Ferry Indomal untuk kami, sebuah Ferry yang akan berangkat ke Melaka pukul 14.00 siang.

Sebelum Ferry yang kami tumpangi berangkat, Datok Ismail menelepon ke Seremban yang mengatakan bahwa Ferry berangkat tepat pukul 14.00 supaya ditunggu di Jeti (Pelabuhan Melaka). Tak lama kemudian bertolaklah Ferry Indomal yang kami tumpangi, mula-mula menelusuri pantai ke arah utara kemudian barulah menyeberang Selat Melaka, ada lebih kurang empat jam, kelihatanlah gedung-gedung bertingkat Bandar Melaka.

Ferry merapat ke pelabuhan, kami turun satu persatu. Di pelabuhan sebuah mobil kerajaan telah menanti kami, mobil kerajaan (kalau di Indonesia mobil plat merah) platnya hitam, tetapi disamping platnya itu ada lambang Kerajaan Negeri (propinsi).

Kota Melaka adalah kota bersejarah, kami lalui saja, dari atas mobil kami melihat bangunan peninggalan zaman penjajahan Portugis dan objek-objek wisata lainnya, mobil terus melaju menuju Seremban dan hari pun mulai senja. Di Seremban kami tidak ada singgah, kami terus saja dibawa ke Seri Menanti, tepat pukul 21.00 malam waktu Malaysia Barat kami sampai di rumah yaitu di Kampong Bukit Tempurong Seri Menanti.

Lebih kurang satu minggu kami diantarkan nasi kotak, karena saya harus membeli alat-alat dapur seperti kompor, periuk, kuali dan lain-lainnya, juga tak kalah pentingnya saya dan isteri saya harus mempelajari nama barang keperluan sehari-hari, sebab banyak juga perbedaannya, misalnya kompor disebut dapur, kompor gas disebut dapur ges, api disebut mencis, bumbu disebut perencah, kemiri atau damar disebut buah keras, seledri disebut daun sup, lobak disebut kobis, dan banyak lagi yang harus dipelajari, kadang-kadang harus ditunjuk barang yang akan dibeli itu dan langsung ditanya namanya untuk menambah perbendaharaan kata-kata.

Anak-anak saya sengaja dibiarkan bergaul dengan anak-anak tempatan, tidak memerlukan waktu yang lama, mereka kelihatan akrab dan anak-anak saya pun sudah mulai berbahasa Malaysia, tetapi di rumah tetap kecek Silungkang, tetapi anak saya yang kecil, walaupun bagaimana kami berbahasa Silungkang dia tetap menjawab kata-kata kami dengan bahasa Malaysia, sehingga ada seorang tua mengatakan : “Wah … ni bukan anak Indonesia, ni anak Malaysia, tak de pun dia cakap Indonesia, kalau dah besar nak jadi ape”, tanya orang tua itu kepada anak saya. “Wah, kecik-kecik dah tahu nak bela negare”, kata orang tua itu sambil membela rambut anak saya itu.

BERSAMBUNG ……

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Keempat, Oktober 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah