BAGIAN PERTAMA

BAGIAN KEDUA

BAGIAN KETIGA

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu bahasa Indonesia, Silungkang dan Malaysia

Di Muzium Diraja Seri Menanti kami disediakan sebuah kamar lengkap dengan perabotnya, peralatan memasak tidak diberikan karena minum makan kami disediakan oleh Kerajaan melalui Sdr. Mazrin yang juga sebagai pekerja di Muzium tersebut, dan kemudian Sdr. Mazrin kami ketahui adalah anak seorang anggota Polis yang tinggal di Barak Polis (Asrama Polisi) Seri Menanti.

Kami diantarkan nasi setiap pagi, tengah hari dan sore, mula-mula golang golang saya memang agak babaso menerima nasi tersebut karena sambalnya masakan khas Malaysia, sedangkan golang-golang saya sudah akrab dengan joghiang balamun jo lado giliang matah pakai minyak tanak sambia meanggotok agho, tapi lama kelamaan karena terpaksa golang-golang saya setuju juga, daghi pado ndak makan, mano nan elok.

Setiap pagi setelah makan pagi, kami harus stand by, karena kami akan dibawa raun sabolik selama satu minggu, mula-mula sekitar kawasan Seri Menanti dan terus ke Kuala Pilah, dilain hari ke Seremban dan Kualalumpur. Teristimewa di Kualalumpur ini kami dibawa ke Pasar Seni, semacam Plaza yang sarat dengan bermacam-macam barang soUvenir dari berbagai daerah di Malaysia.

Selama satu minggu kami dibawa raun sabolik, banyak sekali kesan yang tersimpan didalam memori saya dan Insya Allah memori saya tersebut sampai sekarang lai ndak konai virus do.

Disuatu sore, Encik Din (panggilan akrab Drs. Shamsudin bin Ahmad) Kurator (Kepala) Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan, datang mengunjungi kami.

Pak Djasril, kite tengoklah rumah tempat tinggal tu, dan lame tak ade orang menghuni rumah tu, tentu dah banyak habuk, kite bersihkan, karena esok pagi perabot sampai”, kata Encik Din seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan naik. “Okey”, jawab saya meniru cara mengucapkan baiklah di Malaysia. Lebih kurang 750 meter dari Muzium Diraja, sampailah kami di rumah tersebut. “Kawasan ni bername Kampong Bukit Tempurong” kata Encik Din. “Ni, ade due rumah, pandai Pak Djasril-lah macam mane mau”, ucapnya lagi. “Kalau macam tu okey lah, dan Encik Din kami persilahkan balik dulu, biarlah kami sahaja yang membersihkan”, jawab saya sambil meniru cara berbicara di Malaysia walaupun lidah saya masih menempel merek Indonesia.

Seri Menanti adalah sebuah kawasan yang disebut Pekan (Kota Kecil) kira-kira sama dengan Nagori di kampung kita, dan juga disebut “Royal Town of Seri Menanti” karena disini berdiri dengan megahnya Istana Besar Raja Negeri Sembilan dan juga masih kokohnya berdiri Istana Lama yang sekarang dijadikan Muzium Diraja.

Alam disini berbukit-bukit, keadaannya masih asri, hutannya terpelihara baik, suasana tenang, aman dan damai, jauh dari kebisingan, udaranya segar tanpa polusi, margasatwa hidup dengan riang dan merdeka tanpa ada tangan jahil yang menganggu dan merusak, bermacam-macam burung berterbangan dengan leluasa dan hinggap tanpa kuatir diganggu orang. Penduduknya hidup bahagia dan sejahtera, rukun sesamanya, ramah dan sopan. Suasana di Seri Menanti tak ubahnya dengan suasana di perkampungan (dusun), bukan suasana di kota yang dilanda kehidupan modern. Upacara adat dipusatkan disini, penduduk di Seri Menanti ini tidak seberapa dan kelihatan lengang dan sunyi karena sebagian penduduknya ada yang tinggal di Seremban, Kualalumpur, dan lain-lain, tetapi kalau ada upacara adat dan keramaian, misalnya PERINGATAN HARI KEPUTERAAN BAGINDA (memperingati hari ulang tahun kelahiran Raja), Seri Menanti penuh dengan pengunjung dari segala penjuru, keramaian diadakan tiga hari tiga malam, bermacam-macam hiburan tradisional dan modern dapat dinikmati, para pedagang pun ramai, kita dapat berbelanja apa saja sepuasnay asal uang ada.

Pada hari Jum’at tanggal 16 Oktober 1998, saya Shalat Fardhu Jum’at di Masjid Diraja Seri Menanti, saya lihat Tuanku Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan juga Shalat Fardhu Jum’at disana. Tuanku sangat akrab dengan rakyat, dan rakyatpun juga sangat hormat kepada Tuanku. Baru saja Tuanku memasuki Masjid, rakyat yang berada di dalam Masjid menyusun jari sepuluh, menyalami Tuanku sambil mencium tangannya, sedangkan Tuanku tersenyum sayang, saya lihat diwajah Tuanku terpancar sinar keagungan sebagai seorang RAJA, kepada yang tidak terjangkau bersalaman, Tuanku mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum sayang, mata bersinar, wajah yang jernih.

Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman, demikian nama Tuanku, adalah keturunan Raja dari Pagaruyung – Minangkabau. Seorang Putera Raja Pagaruyung yang bernama Sultan Mahmud dijemput oleh Pemuka Adat Negeri Sembilan untuk dijadikan Raja. Setelah dinobatkan jadi Raja Negeri Sembilan, Sultan Mahmud dikenal dengan nama Raja Melewar.

Raja Melewar adalah Raja Negeri Sembilan yang pertama 1773 – 1795, sedangkan Tuanku Jaafar Ibni Tuanku Abdul Rahman adalah Raja Negeri Sembilan yang kesebelas 1967 – sekarang.

Tepat pukul 16.00 petang, pada hari Selasa 20 Oktober 1998, seorang pegawai Muzium menjemput kami, “Encik dipelawe untuk datang menghadiri jamuan minum ke rumah Encik wan di Seremban, kite berangkat sekarang juge”, katanya. “Ya, Okey”, jawab saya singkat. Kami naik mobil L-300, dan saya lihat pegawai Muzium lainnya sebanyak 4 orang juga sudah berada di atas mobil.

Encik Wan atau nama lengkapnya Wan Abdullah bin Haji Wan Su, Ketua Penolong Setia Usaa Kerajaan, dikatakan bahwa beliau adalah orang nomor tiga di Kantor Menteri Besar Negeri Sembilan (kira-kira sama dengan Kantor Gubernur di Indonesia), sebelumnya saya sudah kenal dengan beliau sewaktu beliau ke Silungkang pada tanggal 1 Mei 1998 yang lalu dan saya juga sering terlibat dalam percakapan melalui telepon dengan beliau.

Jemput masuk, jemput masuk” kata Encik Wan, sewaktu kami baru saja turun dari mobil di halaman rumah yang kelihatannya sangat bagus bangunannya. “Saye baru sahaje pindah ke rumah ni”, kata Encik Wan yang katanya beliau berasal dari Negeri Kelantan dan sudah lama menetap dan bekerja di Negeri Sembilan. Setelah puas minum dan bercakap-cakap, kami pulang dan diantar kembali ke Seri Menanti.

Saya berusaha dekat dengan penduduk Seri Menanti, sambil memperkenalkan diri, saya juga mempelajari bahasa dan ungkapan sebagai persiapan tinggal di Seri Menanti. Tan Sri Samad Idris sekali seminggu datang ketempat kami, menanyakan keadaan kami, beliau sangat akrab dengan saya. Pada hari Minggu tanggal 25 Oktober 1998, Tan Sri datang membawa dua orang teman beliau PENSYARAH (dosen) pada sebuah universitas di Kualalumpur dan memperkenalkan kepada saya, kami bercakap-cakap sambil minum di kantin Seri Menanti Resort. Dalam percakapan ini saya juga memberitahukan kepada Tan Sri bahwa di Kualalumpur juga ada orang Silungkang jadi Pensyarah yaitu Prof. Umar Yunus dan Prof. Kasmini Kasim. Dengan penuh keheranan Tan Sri berkata : “Oh .. jadi Umar Yunus dan Kasmini Kasim itu orang Silungkang kah, dia sering ke tempat saya, biar nanti saya bagi tahu dia bahwa orang Silungkang juga ada bertenun kain di Seri Menanti”.

Setelah kami puas bercakap-cakap, sebelum Tan Sri kembali ke Kualalumpur, beliau berkata : “Pak Djasril, habis bulan Oktober ini kita akan pergi ke Padang untuk menjemput barang-barang yang masih tinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril”.

Kata-kata Tan Sri yang terakhir ini yang sangat membahagiakan saya, karena hampir sebulan saya menderita menahan rindu pada isteri dan anak-anak, kali ini adalah saat yang paling terlama kami terpisah, biasanya hanya satu atau dua hari saja. Bila saya rindu, saya beli kartu telepon 10 ringgit atau 20 ringgit dan saya dapat berbicara langsung melalui telepon umum di tepi jalan. Apabila anak saya mengatakan “copeklah baliak (cepat balik) Pak”, tenggorokan saya rasa tersekang menahan tangis, kenapa begitu ? Entahlah, orang bisa berahun-tahun terpisah, kenapa saya tidak ? Entahlah.

Pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 1998, disore hari, saya sedang bagolek-golek (istirahat), datang Mazrin, “Pak, ada talipon dari Seremban”. Saya langsung mengikuti Mazrin menuju OPIS (kantor), telepon saya angkat, “Hallo, apa hal Encik Din ?”, kata saya. “Hari Minggu, 1 hari bulan November, Pak Djasril berangkat ke Silungkang untuk mengambil barang kita yang masih tertinggal dan sekaligus menjemput keluarga Pak Djasril, perlu diingat keberangkatan Pak Djasril ke Silungkang adalah sebagai pegawai Muzium, pagi esok datang ke Seremban mengambil gaji dan ongkos ke Silungkang, okey …”.

“Okey”, jawab saya singkat. Keesokan harinya saya pergi ke Seremban, dari Seri Menanti ke Kuala Pilah naik KERETA SEWA (oplet), dan dari Kuala Pilah ke Seremban naik BAS (bus).

Pukul 06.00 pagi waktu Malaysia Barat, tanggal 1 Nopember 1998, sebuah KERETA (sedan) parkir di halaman Muzium menjemput saya, saya pun juga sudah siap berangkat. Kereta melaju menuju Kualalumpur dan terus ke Lapangan Terbang Sultan Abdul Aziz Shah, Subang (diwaktu itu belum ada KLIA = Kualalumpur International Airport, dan di Padang juga belum ada MIA = Minangkabau International Airport). Setiba di Lapangan Terbang saya langsung antri membeli tiket pesawat menuju Padang dan tak lupa sebagian dari uang Ringgit, saya tukar dengan Rupiah.

Setelah melayang-layang di udara lebih kurang 2 jam pesawat mendarat di Bandara Tabing. Pertama sekali saya menuju rumah makan, saya makan dengan lahapnya, duo kali tambuah, maklumlah sudah satu bulan golang-golang saya absen menerima masakan Padang. Selesai makan saya menuju wartel untuk memberitahu ke Silungkang bahwa saya sudah sampai di Padang. Saya ingin cepat saja sampai di Silungkang, saya ambil jalan alternatif, naik taksi saja biar cepat, kalau dengan bus lambat. Menjelang sore saya sudah sampai di rumah, yaitu di Lubuak Kubang, Desa Silungkang Oso. Tidak ada oleh-oleh dari Malaysia, yang ada hanya oleh-oleh dari Padang berupa makanan ringan.

Anak saya yang kecil berumur 4 tahun berlari-lari menyambut saya, “Bapak lah baliak (balik) Ma …”, katanya memberitahu Mamanya. Saya dukung dan saya cium anak saya itu, “Tadogak (teringat) Bapak nak …”, kata saya singkat.

BERSAMBUNG ….

Source :

Tabloid Suara Silungkang

Edisi KETIGA, September 2007

Kisah Nyata Djasril Abdullah