Silungkang – Seri Menanti

 

Kisah Nyata Pengrajin Tenun Silungkang
Bekerja Di Istana Lama Muzium Diraja Negeri Sembilan DK, Malaysia

 

Tulisan ini punya tiga bahasa yang bercampur aduk yaitu M
Bahasa Indonesia, Silungkang, Malaysia

 

Oleh Djasril Abdullah

BAGIAN KEDUA

Sebagaimana biasa saya tetap menjalankan tugas-tugas sebagai Kepala Desa, saya kembali mempertegas pendirian dan bertekad untuk menang dalam Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) Periode 1998 – 2006, segala sesuatu untuk itu saya persiapkan, isteri dan anak-anak pun juga menyadari akan hal itu bahwa “Poi ka Malaysia tu ndak jadi do” (pergi ke Malaysia tidak jadi), karena 4 bulan menanti kabar dari Malaysia tidak kunjung ada.

Saya sibuk mempersiapkan dan mengkoordinir Panitia Pemilihan Kepala Desa yang diketuai oleh Sdr. Syahruddin Syarif, dan saya pun yakin sebagian masyarakat masih ada yang simpati dan mengharapkan saya terpilih kembali, dan saya pun yakin bahwa saya sanggup bersaing dengan kandidat lainnya. Sebagai Pejabat Sementara, saya bertanggung jawab suksesnya pelaksanaan Pilkades. “Pak … ! Ado telepon untuak Bapak,” (Pak … ! Ada telepon untuk Bapak) kata salah seorang staf desa kepada saya. “Daghi mano ?” (dari mana ?) jawab saya tanpa melihat kepada staf itu karena sibuk. “Katonyo daghi Malaysia Pak” (Katanya dari Malaysia Pak) jawabnya. Siiir….,“Tasighok dagha” (tersirat darah) saya mendengar jawaban staf Desa itu, saya tinggalkan kesibukan saya, langsung saja saya menuju gagang telepon yang masih tergeletak diatas meja, saya angkat, “Hallo ….. Assalamu’alaikum, saya Djasril Abdullah, siapa disana ? Kata saya. “Waalaikumussalam, saya Muhammad Darus dari pada Negeri Sembilan Malaysia, saya nak bagi tahu Pak Djasril bahwa saya dan Tan Sri Samad Idris besok akan ke Padang, kami akan sampai di Silungkang pada 3 hari bulan Oktober, kami mohon Bapak sedia menunggu kami”. Kata suara telepon.” Baiklah, kami tunggu kedatangannya dengan senang hati” kata saya.

Hm ……, sebuah nada keluhan tanpa disadari lepas landas dari mulut dan hidung saya, saya terhenyak duduk di kursi tamu. “Pangona lah ba beliang-beliang” (berputar-putar) dunia panggung sandiwara, kita sebagai lakonnya, ikuti saja apa yang telah ditentukan oleh scenario itu, tapi “ndak samugha mambaliak-an talapak tangan do” (tidak semudah membalikkan telapak tangan). Sekarang tanggal 29 September 1998, Tan Sri dan Encik Mad Darus akan sampai di Silungkang tanggal 3 Oktober 1998, jadi ada 5 hari lagi termasuk hari ini. Maksud kedatangan Tan Sri dan Encik Mad Darus belum bisa diduga, tapi saya menyangka ada dua hal yang akan disampaikan kepada saya, yaitu pertama keberangkatan ke Malaysia gagal dikarena hal-hal yang tak dapat dielakkan, kedua kepastian berangkat ke Malaysia.

Ada lebih kurang setengah jam saya terhenyak di kursi tamu hanyut oleh “Pangona ba beliang-beliang tu”, kemudian saya langsung menemui isteri saya yang sedang asyik bertenun songket, memang tempat tinggal saya bersebelahan dengan Kantor Desa, dan langsung saya sampaikan isi percakapan telepon tadi, tapi tidak ada jawaban, menolak tidak, menyetujui pun tidak, “takatuang-katuang” (terkatung-katung)

Hasil percakapan telepon itu juga saya sampaikan kepada Ketua Pilkades Syahruddin Syarif, nampaknya dia kecewa, kalau sekiranya saya mundur dari pencalonan tentu akan dicari satu orang kandidat lagi untuk pengganti saya. Diwaktu itu kira-kira pukul 10.00 pagi, Sabtu, 3 Oktober 1998, saya ditelpon oleh Bapak Kepala Desa Silungkang Tigo, Drs. Dasril Munir, “Pak Desa, kabalai lah, ughang Malaysia tu lah tibo, kami nanti di Rumah Makan Memok, copek di,” katanya (Pak Desa, ke pasarlah, orang Malaysia telah tiba, kami nanti di Rumah Makan Memok, cepat ya). “Jadi, ambo barangkek kini” (Jadi, saya berangkat kini), jawab saya.

Di rumah makan Memok, sudah ada disana Tan Sri Samad Idris, Encik Muhammad Darus, Bapak Drs. Dasril Munir, Bapak Ir. Aswan Basri dan seorang pegawai dari Kantor Gubernur Sumbar, saya dapati mereka sedang menikmati makanan spesifik Silungkang berupa ale-ale, “Assalamu’alaikum” kata saya yang baru saja muncul dihadapan mereka. “Waalaikummussalam”, jawab mereka serentak. Saya menyalami satu persatu dan duduk serta minum bersama mereka. Setelah selesai minum barulah Tan Sri Samad Idris memulai pembicaraannya. “Pak Djasril ! Kami minta maaf karena sudah terlambat datang ke sini, bukan apa-apa, kami harus bermusyawarah ke segala pihak sehingga memerlukan waktu yang lama, barulah hari ini saya sampai di Silungkang. Begini Pak Djasril, kami sudah mempersiapkan ruangan kosong untuk peragaan tenun, di Muzium Diraja Seri Menanti, dan kami juga telah menyediakan 2 buah rumah untuk Bapak dan anggota Bapak, untuk pertama kali, Bapak berangkat satu orang dulu, untuk memasang alat tenun, menata ruang, mempersiapkan segala sesuatu di rumah tempat tinggal, karena rumah tersebut kosong, tanpa perabot. Kami sudah sediakan satu tiket pesawat untuk Bapak berangkat tanggal 6 Oktober 1998 jam 12.55 siang”. Kata Tan Sri menerangkan secara pelan-pelan karena harus menyesuaikan penyampaian menurut bahasa dan logat Indonesia. “Terima kasih Pak” kata saya, “Tapi saya ada usul ni Pak, karena memasang alat tenun itu susah dikerjakan satu orang, saya mengusulkan untuk pertama kali diberangkatkan 2 orang” kata saya memohon. “Baiklah, saya setuju” kata Tan Sri Samad Idris sambil memberi tahu Encik Muhammad Darus supaya membeli satu tiket lagi. “Atas nama siapa ?” tanya Encik Muhammad Darus. “Atas nama Yusben” kata saya. Kami rasa percakapan sudah selesai dan maksud kedatangan Tan Sri dan Encik Mad sudah bisa dipahami. “Kini apo acara lai” (Kini apa acara lain) kata Drs. Dasril Munir kepada saya, “Katompek si Au Wak makan nasi soto”, lanjutnya (Ketempat si Au Wak makan nasi soto). “Jadi” jawab saya. Maka berangkatlah kami seluruhnya ke Air Dingin Muarokalaban. Saya duduk berhadap-hadapan dengan Encik Mad Darus, sambil akan nasi soto, Encik Mad Darus berkata, “Apa nama yang kita makan ni, sedapnya”. “Ini namanya nasi soto” jawab saya. “Saya heran”, kata Encik Mad Darus, “Alam disini sama sangat dengan alam di Negeri Sembilan, berbukit bakau, sungai yang berbatu, orang punya cakap pun hampir sama”, tambahnya. Saya hanya diam saja sambil tersenyum mendengar ucapan Encik Mad Darus itu. Selesai makan kami kembali naik mobil, saya dan Bapak Dasril Munir beserta Ir. Aswan Basri satu mobil dan Tan Sri bersama Encik Mad Darus beserta seorang pegawai Kantor Gubernur Sumbar dengan mobil Pemda Tk. I Sumbar, karena mereka langsung saja menuju Padang.

Di rumah, segala percakapan saya dengan Tan Sri dibeberkan kepada isteri saya, nampaknya isteri saya menyetujui “Poi ka Malaysia, mundur jadi calon Kepala Desa” (pergi ke Malaysia, mundur jadi calon Kepala Desa), terbukti isteri saya mempersiapkan segala sesuatu keperluan saya dalam rangka keberangkatan saya 4 hari lagi.

Malamnya, mata saya susah untuk tidur, saya mempersiapkan mental menghadapi keberangkatan dan menjiwai pekerjaan yang akan dilaksanakan. Memang tidak mudah menukar persiapan mental dari “Siap jadi Kepala Desa” kepada “Siap bekerja di Malaysia” dalam jangka waktu pendek.

Yang tak kalah menganggu pikiran saya adalah “naik pesawat, seumur hidup saya belum pernah naik pesawat, saya hanya pernah naik kendaraan darat dan laut, seperti pedati, bendi, sepeda, motor, mobil, kereta api dan kapal laut. Disatu sisi saya ingin mencoba naik pesawat karena belum pernah, disisi lain saya ngeri, “sadang mamanjek batang patukai jo ngori tughun, basah tapak kaki dek nyo” (sedang memanjat batang pepaya saja ngeri turun, basah tapak kaki karenanya), apalagi naik pesawat yang melayang-layang tinggi diudara ”ndak tontu kamano ka malompek” (tidak tentu kemana akan melompat).

Segala persiapan pribadi diselenggarakan oleh isteri saya, dan segala persiapan barang-barang peralatan tenun yang akan dibawa diselenggarakan oleh Bapak Drs. Dasril Munir dan Ir. Aswan Basri, sedangkan saya mengurus segala surat-surat serta pamit kepada Bapak Camat, Bapak Kabag Tapem, Bapak Walikota dan rekan-rekan Kepala Desa.

Hari Selasa, 6 Oktober 1998, jam 9,00 pagi saya berangkat dari Silungkang dengan mobil pribadi Ir. Aswan Basri yang sebelumnya telah dimuat dengan barang-barang alat tenun, sampai di Bandara Tabing pukul 11.00 siang sedangkan pesawat berangkat pukul 12.55 siang, sebelum berangkat saya, Sdr. Yusben dan Encik Mad Darus sempat makan siang terlebih dahulu di Kompleks Bandara Tabing. Dan tak lama kemudian tibalah saatnya menuju pesawat yang akan menerbangkan kami ke Malaysia, saya berjalan antri menuju tangga pesawat dengan “Jantuang badobak-dobak” (jantung berdebar-debar), setibanya diatas pesawat langsung duduk dikursi dan “ndak lupo mamasang tali pangobek badan” (tidak lupa memasang tali pengikat badan).

Mula-mula memang apa yang saya kuatirkan terjadi, ngeri, tapi tidak berlangsung lama, perasaan saya berangsur-angsur normal kembali hanya 1 jam 20 menit, pesawat mendarat di Lapangan Terbang Sultan Ismail, Johor Bahru Malaysia, kami turun dari pesawat, disana kami telah ditunggu oleh seorang petugas Lapangan Terbang yang nampaknya sudah tahu akan kedatangan kami, kami diberi masing-masing 1 tiket lagi atas nama kami dan terus naik ke pesawat yang sama menuju Kualalumpur.

Lama saya berpikir, kenapa di Johor Bahru kami diberi lagi tiket pesawat, sedangkan pesawatnya itu juga, kenapa tidak langsung saja tiket Padang – Kualalumpur, kenapa diberi lagi tiket Johor Bahru – Kualalumpur.

Kemudian barulah saya tahu adanya perjanjian SIJORI (Singapura – Johor – Riau) mengenai bebas fiscal. Kalau dibeli tiket Padang – Kualalumpur dikenakan fiscal (menurut peraturan di waktu itu, Pen).

Lebih kurang 50 menit, pesawat mendarat di Lapangan Terbang Sultan Abdul Aziz Shah, Subang. Disana kami sudah ditunggu oleh 3 orang dengan sebuah mobil yang ditugaskan khusus menjemput kami, dengan sangat ramahnya kami disalami dan dipersilahkan naik ke atas mobil dan terus kami diberangkatan menuju Bandar (kota) Seremban, Negeri Sembilan.

Di dalam perjalanan tidak banyak kami bercakap-cakap, hanya sekali-sekali ada juga yang perlu ditanyakan, kalau tidak kami yang bertanya dia yang bertanya.

Saya asyik memandang kiri kanan jalan, disebabkan kami lewat jalan tol, jarang kelihatan daerah pemukiman, yang ada hanya hamparan kebun kelapa sawit, ditengah perjalanan kami singgah di kawasan Jamu Selera untuk mengisi perut yang mulai lapar, golang golang (usus) saya mulai mencicipi masakan Malaysia.

Bandar (kota) Seremban mulai kami masuki pukul 20.00 malam, mobil berhenti sejenak, salah seorang dari orang menjemput kami itu turun dan menuju sebuah Plaza, tak lama dia kembali dan menyerahkan kepada kami masing-masing 1 tas plastik yang isinya baju kaus dan selimut, “Terima kasih ncik” kata saya singkat, “Terima kasih kembali, tak pe, tu semua untuk awak (anda)”, jawabnya.

Selanjutnya mobil terus melaju menuju Seri Menanti, lebih kurang 33 km dari Bandar Seremban, Seri Menanti adalah suatu kawasan dimana terletak Istana Besar Raja Negeri Sembilan. Kami telah disediakan sebuah kamar di Hotel Seri Menanti Resort yang terletak diantara Istana Besar Raja Negeri Sembilan dengan Istana Lama Muzium Diraja Seri Menanti.

Pagi-pagi kami sudah bangun, setelah mandi dan shalat subuh, snack untuk sarapan pagi sudah tersedia berupa nasi lemak dan roti canai, ini juga adalah pengalaman pertama untuk golang golang (usus) saya menerima sarapan seperti itu.

Pukul 10.00 pagi kami dijemput oleh seorang pegawai Muzium untuk pergi ke Seremban menemui Kurator (Kepala) Lembaga Muzium Negeri, Negeri Sembilan. Sesampainya kami di Seremban kami dibawa ke sebuah bangunan bergonjong persis seperti rumah bergonjong di Minangkabau dan langsung ke ruang kerja Kurator, di pintu ruang kerja itu tertulis nama Kurator Muzium tersebut : Drs. Shamsudin bin Ahmad. Kami diterima dengan ramah dan gembira, saya melihat wajahnya yang berseri, menandakan suatu kebahagiaan tersendiri menerima kedatangan kami. Kami dipersilahkan duduk di kursi tamu dan kami bercakap-cakap, tukar pikiran, berbagi pengalaman. Ternyata Drs. Shamsudin bin Ahmad sangat bisa berbahasa Indonesia, katanya dia dulu sekolah di Bali sampai mendapat gelar sarjana. Kemudian kami diberi wejangan atau arahan-arahan mengenai pekerjaan serta tata cara hidup di Malaysia, “Bapak sangat beruntung sekali” kata Encik Din (nama akrab Drs. Shamsudin bin Ahmad), “Karena baru pertama kali Kerajaan Malaysia mengambil pekerja asing dengan biaya Kerajaan (pemerintah) semua diuruskan oleh Kerajaan. Bapak dipersamakan (hak dan kewajiban) dengan Kaki Tangan Kerajaan (pegawai negeri) lainnya, disamping gaji pokok Bapak juga akan menerima bonus lainnya seperti gaji lebih masa (lembur), biaya perumahan, perubatan (Askes), pakaian seragam kerja, studi banding dan lain-lainnya. Bapak akan menerima gaji setiap bulannya melalui Bank Simpanan Nasional. Jawatan (jabatan) Bapak sangat spesial, karena sebelumnya jawatan ini belum ada, pekerjaan yang akan Bapak kerjakan disini langsung Bapak bawa dari Indonesia dan menguntungkan bagi menarik pelancong-pelancong di Malaysia ini. Untuk satu bulan ini minum makan Bapak ditanggung oleh Kerajaan, karena biasanya gaji boleh diambil paling cepat 28 hari bulan (tanggal 28) tiap bulannya. Mulai Bapak menjejakkan kaki di Malaysia ini, gaji Bapak sudah dihitung. Untuk satu minggu pertama ini Bapak tak usah kerja dulu karena Bapak akan kami bawa jalan-jalan melihat lingkungan. Mengenai peraturan-peraturan kerja nanti akan kami beri secara tertulis, disini semua peraturan berlaku (dijalankan) dengan kesadaran sendiri tanpa dikontrol langsung …

Setelah kami diberi arahan panjang lebar, kami diperkenalkan dengan pegawai lainnya, mereka menyalami kami dengan ramah, kami sudah dianggap oleh mereka teman sekerja.

BERSAMBUNG ……

Source :
Tabloid Suara Silungkang
Edisi Kedua, Agustus 2007
Kisah Nyata Djasril Abdullah