Orang Malowe adalah sepesukuan : Payabadar. Malowe terdiri dari 2 (dua) keandikoan : Malowe Hilir dan Malowe Mudiek (Mudik). Hingga kini perkawinan tidak terjadi antara Malowe Hilir dengan Malowe Mudiek. Meskipun menurut keputusan Kerapatan Adat di Silungkang tahun 30-an telah dibuka kemungkinan untuk perkawinan antar Keandikoan. Tujuan dari dibukanya perkawinan yang demikian agar orang awak jangan sampai berumah tangga dengan orang lain.

Dulunya jangankan antara Keandikoan, antar Suku saja pernah tidak diperbolehkan, yang boleh hanya antara 3 Niniek (Dalimo, Supanjang dan Payabadar) dengan 10 Niniek (Patopang dan Melayu).

Dibanding dengan Keandikoan-keandikoan yang lain maka Keandikoan Malowe Hilir dan Malowe Mudiek yang hingga kini tidak menggunakan kesempatan yang telah dibuka itu. Keandikoan yang lain dalam sepesukuan telah membukanya.

Kenyataan itu menunjukkan betapa kuatnya rasa kekerabatan antara Malowe Hilir dengan Malowe Mudiek. Dasar materiil dari kuatnya rasa kekerabatan itu mungkin karena proses sejarah. Dulunya orang Malowe bertempat tinggal di satu tempat yang kini dikenal dengan Malowe Mudiek. Dari tempat itulah bertebaran ada yang ke hilir dan kelain tempat. Dari situlah lahirnya Malowe Hilir dan Malowe Mudiek.

Di kalangan Niniek-Mamak Malowe hingga kini tak terpikirkan untuk membuka kemungkinan terjadinya perkawinan antara Malowe Hilir dan Malowe Mudiek. Kekerabatan ini makin diperkuat dengan di Silungkang berdiri Malowe Sakato, sedang di Jakarta berdiri Malowe Sepakat.