Manjalang Dusun

Manjalang Dusun adalah awal Anak Daro mendatangi rumah orang tua Marapulai. Rombongan menjelang Dusun ini biasanya terdiri dari 7 orang Ibu-ibu dan 3 orang anak. Ada juga 9 orang Ibu-ibu dan 5 orang anak. Membawa anak-anak ini sudah menjadi tradisi sejak dulu. Anak Daro akan memakai pakaian biasa sekarang telah ada pula yang memakai Sunting.

Menjelang Dusun ini dilakukan biasanya bila Baroleknya hari Jum’at, maka hari Rabu berikutnya. Begitu pula bila Baroleknya hari Rabu, menjelang Dusun juga pada hari Rabu berikutnya. Biasanya menjelang Dusun paling lambat seminggu sesudah Barolek. Menjelang Dusun ini dulunya dibiasakan hari Rabu. Kini tidak demikian lagi. Ini memang agak menyulitkan bagi yang menanti.

Rombongan Menjelang Dusun ini membawa nasi (5 sampai 25 liter beras) : lauk pauk : kalio 1 sampai dengan 3 kg daging : ayam gulai satu setengah ekor : maco goreng balado : telur dibelah balado : ikan goreng dan lain-lain tergantung kepada orang padunie atau tidak. Di samping itu juga kalamai. Penyiaran, kue besar dan kue kecil. Dan untuk peruntukan (bagi pasumandan dalam kampung) : penyiaran tiap bungkusnya 5 buah dan beras 1 cupak (dibungkus dengan sapu tangan). Bungkusan panyiaram dan beras ada yang sampai menyediakannya 50 buah.

Sewaktu rombongan Menjelang Dusun akan pulang, maka dari pihak Pasumandan akan diberikan kelapa tumbuh 3-5 batang serta kelapa biasa 50 sampai dengan 100 butir. Di Jakarta kelapa ini telah diganti dengan uang. Kelapa ini biasanya pemberian dari tetangga (pasumandan yang diberi peruntukan). Selain daripada itu juga diberi garam, maco, ubi jalar, sirih dan sebagainya. Banyaknya beras berdasarkan ketiding pembawa nasi dukung. Juga uang dulunya di zaman Hindia Belanda dari f. 1.00 sampai 5.00. Sekarang antara Rp. 10.000,- sampai dengan Rp. 25.000,-. Anak kecil yang ikut datang juga diberi uang, kalau ukuran sekarang dari Rp. 500,- sampai dengan Rp. 1.000,-

Sebagai catatan perlu dikemukakan jika rombongan Anak Daro padunie bawaannya lebih besar dan bahkan ada yang ditambah dengan ayam goreng. Tetapi ada pula yang berdamai. Datang membawa seadanya saja. Malahan ada juga atas kesepakatan kedua belah pihak tidak diadakan Menjelang Dusun.

Di dalam rombongan Anak Daro (yang menjelang dusun) ini biasanya terdapat juga Induak Bako dan Anak Buah Anak Daro. Balasan dari pasumandan sekarang telah ada pula yang memberikan Sia Penang (rantang besar).

Sebulan lebih sesudah Barolek, Anak Daro akan pergi bermalam ke rumah pasumandan, dengan membawa nasi, lauk pauk, ketan serikaya dan lain-lain. Waktu dulu benar pergi bermalam ini hanya membawa beras dalam Kampi ukuran 2 atau 3 liter beras, daging kering yang dibungkus dengan krisik (daun pisang yang sudah tua0.

Anak Daro ini nantinya akan memasak di rumah Pasumandan dan Mertuanya akan mengetahui sampai di mana keterampilannya memasak itu.

Sumber : Buku Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan St. Majarajo
Edisi I, Jakarta, Mei 1988. Percetakan oleh IDEAL