Malam pertama adalah malam perkenalan Marapulai dengan pamboyan-pamboyan (orang sumando dalam kampung Anak Daro) dengan sanak keluarga Anak Daro. Malam perkenalan ini adalah malam menemani Marapulai duduk-duduk. Karena itu biasanya disebut mambawo duduak (membawa duduk) : Tentu Marapulai akan canggung benar bila malam pertama itu tak ada yang menemaninya di rumah Anak Daro.

Marapulai merupakan orang baru di kampung isterinya itu. Dia belum tahu siapa saja pamboyan-pamboyannya di kampung terutama di atas rumah isterinya. Dan bagaimana cara menyapanya bila bersua : apakah harus menyebut Datuk dan kalau Datuk, Datuk apa, Datuk Ongah, Datuk Uniang, Datuk Onsu dan sebagainya. Begitu pula bila disebut Bapak, Bapak apa. Bapak tuo, Bapak ociek, Bapak utiah dan sebagainya.

Tanpa ada malam perkenalan tentu Marapulai bisa keliru dalam menegur seseorang pamboyannya. Mungkin saja yang seharusnya dipanggil Datuk, disebut Bapak, atau seharusnya dipanggil Bapak disebutnya Datuk. Itu tentu tidak enak. Meskipun akan dibetulkan oleh yang bersangkutan.

Begitu pula dengan kakak-kakak atau ibu-ibu isterinya. Tentu Marapulai belum mengenalnya. Malahan dengan isterinya sendiri (meskipun telah nikah) belum mengenalnya. Marapulai dengan Anak Daro baru akan bersua dan sekaligus mulai mengenalnya pada hari ketiga sesudah pernikahannya dirayakan.

Marapulai sebagai orang baru harus berusaha mengingat-ingat panggilan seseorang yang didengarnya dalam malam perkenalan itu. Memang berbeda dengan malam perkenalan seorang tokoh, di mana tokoh itu yang diperkenalkan atau memperkenalkan diri. Sedang dalam membawa duduk justru yang diperkenalkan kepada Marapulai ialah pamboyan-pamboyannya (yang telah berumah-tangga di kampung itu lebih dulu dari padanya).

Membawa duduk ini dahulunya berlangsung selama 3 malam. Kini kebanyakan hanya dua malam. Malahan di Jakarta hanya semalam saja. Yang turut hadir dalam malam membawa duduk ini ialah pamboyan-pamboyan di atas rumah serta yang di kampung. Ninik-mamak Anak Daro ada juga yang hadir hingga sampai makan.

Marapulai pada malam pertama ini akan dijemput di tempat yang dijanjikan. Biasanya dijemput sesudah sembahyang maghrib. Yang menjemput ialah salah seorang pamboyannya. Biasanya orang sumando kampung yang akan menjemput Marapulai itu dihubungi oleh Induak-induak sesudah rombongan Marapulai dan tamu lain turun dari rumah.

Marapulai malam itu masih memakai pakaian seperti siang tadi, kecuali soluak digantinya dengan kopiah. Dulu, sebelum aliran listrik masuk Silungkang, biasanya Marapulai juga membawa lampu senter untuk keperluan pulangnya besok pagi. Karena ia harus meninggalkan rumah Anak Daro pagi-pagi benar. Kini soalnya telah lain.

Tidak berapa lama sesudah Marapulai tiba di rumah dan setelah pamboyan-pamboyan hadir, maka makan pun dimulai. Makan Marapulai seperti juga siang tadi, asal makan saja. Karena itu sebelum ia dijemput, ia sudah makan di rumah ibunya. Tentu saja lauk-pauk untuk membawa duduk itu agak istimewa.

Sesudah makan berlangsunglah dialog antara pamboyan dengan Marapulai, antara pamboyan dengan pamboyan. Sasaran utama ialah Marapulai. Akan ditanyakan tentang keadaannya di rantau (sekiranya dia baru pulang dari rantau), tentang perjalanan pulang, tentang situasi perdagangannya dan sebagainya.

Sekitar jam 9.00 malam Marapulai akan diajak oleh pamboyannya untuk pergi sembahyang (baik ke Surau atau ke tempat lain). Sekembalinya dari sembahyang akan disuguhi minuman dan makanan dengan berbagai macam hidangan. Ada kalanya juga dengan kue yang besar. Biasanya pada malam pertama itu kue besar tadi belum disentuh. Malam keduanya baru dimakan.

Kira-kira jam 10.00 malam para pamboyan berangsur minta diri dan akhirnya Marapulai tinggal sendirian. Dalam keadaan demikian datanglah ibu-ibu membawa carano serta mempersilahkan Marapulai masuk ke kamarnya.

Sesampai di dalam kamar, maka beberapa orang ibu-ibu yang sudah agak berumur (sebagai basa-basi) duduk di pintu kamar sambil bertanya ini dan itu. Tidak berapa lama ibu-ibu itu pun pergi dan mempersilahkan Marapulai untuk tidur.

Pada malam pertama itu Marapulai belum lagi dipertemuan dengan Anak Daro. Marapulai biasanya baru dipertemukan pada hari ketiga. Demikian dulunya. Kini malam pertama sudah ada yang dipertemukan, terutama bila Marapulai akan segera membawa Anak Daro (isterinya) ke rantau.

Pada malam pertama dan kedua Marapulai harus meninggalkan rumah sebelum sembahyang Subuh. Kalau kesiangan tentu akan ditertawakan orang. Karena itu pulalah maka beberapa orang ibu yang sudah agak tua, akan tidur dekat pintu kamar. Sekiranya Marapulai terlambat bangun, akan dibangunkannya. Dan bila tidak terlambat bangun, kepada ibu-ibu itulah Marapulai memberitahukan bahwa ia akan ke rumah ibunya.

Pada hari Minggu (jika Baroleknya hari Jum’at). Sesudah turun pagi-pagi dari rumah itu, maka sekira jam 8.00 Marapulai akan kembali ke rumah Anak Daro untuk makan pagi. Dulunya kedatangan ini disertai dengan seorang anak kecil yang biasanya membawakan pakaian dan pembawaan untuk isterinya yang dinamakan pakaian “Tiga Pekan”. Salah satu pakaian “Tiga Pekan” itu nantinya oleh isterinya akan dipakai waktu Manjalang Dusun (menjelang dusun).

Makan pagi ini, Marapulai telah ditemani oleh isterinya. Selesai makan, Marapulai akan memberikan belanja kepada isterinya dan biasanya uang itu langsung diberikan isterinya kepada ibunya. Uang belanja yang diberikan itu namanya belanja Tiga Pekan. Besar kecilnya uang belanja Tiga Pekan ini tergantung kepada keadaan. Sungguhpun telah diberikan uang belanja Tiga Pekan, namun pihak isterinya tetap akan tertambah juga. Sepandai-pandai mencencang landasannya akan kena juga.

Pemberian uang belanja Tiga Pekan kepada isterinya ini biasanya bertingkat. Pada minggu keduanya kurang sedikit dan minggu berikutnya kurang lagi dan pada minggu keempat baru dengan ukuran standar belanja secara umum. Tetapi ada juga pada minggu kedua sudah memberikan belanja menurut ukuran standar.

Sewaktu akan turun dari rumah, anak-anak yang di atas rumah diberi pula uang sekedarnya. Mulai hari itu Marapulai suami telah dapat pulang ke rumah isterinya sekehendak hatinya, tetapi tentu dengan ukuran yang patut.

Mengenai soal membawa duduk ini adalah menarik uraian Afni Rasyid melalui skripsinya untuk mencapai gelar Sarjana Syariah pada IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN), Jakarta 1987, dimana dikatakannya : “Selama tiga malam berturut-turut para pamboyan yang membawa duduk Marapulai mempunya kesempatan untuk bersenda gurau dengan urang baru tanpa batas, yang biasa disebut dengan mementin (mengejek dengan bergurau), seolah-olah pada saat tersebut urang baru itu sedang melalui masa pelonco”.

Bersenda gurau tanpa batas, mementin atau mengejek urang baru ketika membawa duduk sudah jelas itu tidak termasuk dalam adat membawa duduk. Bila ada sementara pamboyan yang melakukan demikian, seperti yang dikatakan Afni Rasyid, mungkin karena mereka tidak mengerti tujuan adat membawa duduk. Atau mereka lakukan hal itu karena telah akrabnya pergaulananya sebelum urang baru itu menjadi urang baru, atau hanya karena angkak-angkak (ugal-ugalan) saja.

Sumber : Silungkang dan Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo