nikah-fotokeluarga1.jpg

Pada pokoknya cara mempersiapkan barolek (perayaan pernikahan) dengan balope hampir sama. Hanya untuk barolek pihak anak daro harus menghias rumah, menghias kamar anak daro, membuat kue-kue. Juga mengadakan “sandaran” untuk tempat duduk marapulai dan rombongannya.

Tempat duduk marapulai atau “sandaran” itu ialah sebuah kasur yang dialas dengan permadani dan di bagian belakangnya dihias pula. Dulunya tempat duduk marapulai itu harus menghadap ke kamar anak daro. Tidak boleh menghadap ke luar rumah, karena ada kepercayaan atau anggapan bila menghadap ke luar, maka marapulai itu tidak akan lama di rumah. Kepercayaan tahyul ini kini tidak ada lagi.

Rombongan marapulai biasanya terdiri dari Panungkatan, marapulai dengan 2 atau 3 temannya yang memakai soluak, serta pengiring 5 sampai 10 orang yang terdiri dari anak-anak muda dan tukang rabona kira-kira 5 orang.

Pakaian marapulai dan rombongannya sebagai berikut : panungkatan memakai pakaian biasa dengan sarung setengah tiang. Marapulai memakai celana batik, sarung bugis, baju jas warna kehitaman, kemeja lengan panjang soluak. Pakaian teman yang bersoluak hampir sama dengan marapulai, tetapi tidak memakai celana batik. Sedangkan pakaian pengiring ialah sarung, baju jas, kopiah. Tukang robana memakai teluk belanga, sarung setengah tiang, kopiah tenunan Silungkang.

Demikianlah yang berlaku sekarang jika baroleknya di Silungkang. Tetapi jika baroleknya di Jakarta tidaklah secara demikian. Baik yang upacaranya berlangsung di sebuah rumah, apalagi yang di gedung. Umumnya rombongan marapulai tidak memakai robana. Meskipun belakangan ini ada juga satu dua yang telah menggunakan robana, misalnya turun dari mobil sampai tiba di gedung, atau sampai ke rumah anak daro yang bersangkutan.

Mendudukkan tamu merupakan masalah tersendiri dalam barolek di rumah (yang dilakukan secara adat). Penerima tamu harus benar-benar orang yang mengerti akan tamu-tamunya. Salah mendudukkan tamu akan jadi bahan pergunjingan. Tidak sembarang orang bisa mendudukkan tamu, seperti pada pesta umum di gedung. Karena itulah maka pihak Sipangka (penyelenggara olek) senantiasa meminta maaf, jika tamunya tak terdudukan pada tempatnya.

Yang didudukkan di kepala rumah (bagian atas) ialah Penghulu Pucuk. Sesudah itu berurutan Datuk Kampung pihak olek, Nan Bajinih, Mamak kandung olek, Bapak olek. Kepala Desa Silungkang Khusus (dulu Wali Nagari) biasanya didekatkan dengan Penghulu Pucuk. Orang sumando yang dikeataskan ialah orang sumando pihak Olek, tetapi yang tidak seninik dengan sipangka. Kalau ada datang yang berdunsanak, maka yang tua didudukkan lebih dulu. Yang sangat penting dijaga jangan sampai terjadi orang yang barumik (ninik mamak dengan orang sumandonya) duduk bersebelahan atau sejamba (setempat hidangan).

Sedang yang mengatur tempat duduk bagi Marapulai dan rombongannya adalah Panungkatan. Sipangka telah menyediakan tempat khusus untuk itu. Orang sumando sipangka yang nantinya akan jadi sasaran untuk minta izin pulang, didudukkan di tempat yang akan tampak oleh Panungkatan. Dengan demikian memudahkan menuoknya (menyasarnya) bagi Panungkatan.

Baik Baroleknya di Jakarta, apalagi di Silungkang, tidaklah menjadi kebiasaan orang awak menjemput marapulai. Marapulai datang dibawa oleh Panungkatannya. Begitu rombongan marapulai tiba di halaman, tentu segera akan disambut dengan pidato adat, yang isinya antara lain berisi pengakuan atas kedudukan marapulai “kakanti ninik dan mamak”. Hal ini tercermin dengan jelasnya dari bait ini.

  • Bakukuak ayam Birugo
  • Bakukuak di ate botuang
  • Maambua ka dalam somak
  • Mangoke ke dalam padi
  • Ola la tibo rang sumando
  • Kakanti1) niniek jo mamak
  • Sumarak korong jo kampuang
  • Ola la suko hati kami

Artinya :

  • Berkokok ayam Birugo
  • Berkokok di atas betung
  • Menghambur ke dalam semak
  • Mengais ke dalam padi
  • Sudahlah tiba orang sumando
  • Kakanti ninik dengan mamak
  • Semarang korong dengan kampung
  • Sudahlahlah senang hati kami.

Peranan marapulai kakanti ninik-mamak ini terutama terhadap anak dan isterinya. Tetapi tidak itu saja. Ia juga berkewajiban membantu mengakurkan sanak keluarga isterinya, sekiranya terjadi silang sengketa. Juga untuk memberi petunjuk dan nasehat bila keluarga isterinya memerlukan dan sebagainya.

Bila Baroleknya di rumah (baik di Silungkang maupun di Jakarta) maka setelah rombongan marapulai masuk rumah dan duduk segera akan disusul dengan pidato penyembahan duduk dan carano. Setelah itu disusul pula dengan pidato persembahan makan, doa selamat dan disudahi dengan minta dirinya Panungkatan Marapulai yang ditujukan kepada orang sumando kampung tersebut. Dalam hal melepas rombongan marapulai dan tamu lain, peranan kakanti ninik-mamak telah dilakukan oleh orang sumando.

Akan tetapi bila baroleknya di sebuah gedung di Jakarta, maka sesudah pidato Sipangka menyambut kedatangan rombongan marapulai dan balasannya dari Panungkatan2) yang membawa marapulai telah menduduki tempat pelaminannya, segera akan disusul dengan pidato-pidato sambutan dari keluarga anak daro dan marapulai. Kadangkala pidato sambutan itu dilakukan oleh seorang saja atas kesepakatan kedua belah pihak. Pidato sambutan itu selain berisi ucapan selamat datang kepada para tamu, juga berisi beberapa nasehat kepada kedua mempelai. Kemudian akan dibacakan doa. Sesudah itu dipersilahkan tamu untuk memberi doa restu kepada kedua mempelai dan diikuti dengan menikmati hidangan yang disediakan. Selesai itu tamu pulang ke tempat masing-masing.

Tempo dulu benar di Silungkang rombongan marapulainya tidaklah komposisinya seperti yang telah dikemukakan di atas. Rombongan marapulai terdiri dari dubalang, panungkatan, marapulai, seorang anak kecil, teman basoluak, pengiring, tukang telempong (baru sesudah masuk Islam talempong diganti robana).

Pakaian yang dipakai rombongan marapulainya ialah bagi dubalang pakaian angkatannya : bagi panungkatan bercelana galembong hitam, baju teluk belanga hitam, sarung setengah tiang, pakai destar, membawa sokin (semacam rencong): bagi marapulai memakai celana hitam yang bersulam benang emas, kemeja, baju rompi bersulam emas, soluak yang memakai emas kulit, keris dan punjin (semacam pundi-pundi) : anak kecil berseragam hitam yang berhiaskan benang emas, membawa gobuak mangku berisi berseragam hitam yang berhiaskan benang emas, membawa gobuak mangkuk berisi perlengkapan sirih : bagi teman yang bersoluak sama dengan marapulai, tetapi tidak memakai ukiran benang mas, soluak biasa, tidak pakai keris dan tidak membawa punjin : pakaian pengiring sama dengan pakaian teman bersoluak, tetapi berkopiah : tukang talempong berseragam hitam.

Rombongan marapulai yang di depan sekali ialah dubalang dalam keadaan siap siaga. Sesampai di depan rumah anak daro, rombongan akan disambut dengan tari silat oleh dubalang pihak anak daro dan terjadilah sebentar pertunjukkan tari silat antara dubalang rombongan marapulai dengan dubalang yang menanti.

Menurut curaian yang diterima dari orang-orang tua sebabnya dubalang memakai pakaian angkatannya dan panungkatan memakai sokin ialah untuk menjaga kalau di jalanan ada yang mencegat rombongan dari pihak yang tidak menyetujui perkawinan itu. Karena itu panungkatan di samping mahir berpidato, juga harus pendekar.

Perlu juga diketahui bahwa tempo dulu makan di tempat barolek adalah bajambai dengan memakai dengan memakai dulang berkaki (seperti carano tetapi lebih lebar di bagian atasnya) : masing-masing hadir dalam olek akan diberi daun pisang untuk pembungkus sebagian hidangan, selain yang dimakan di tempat lauk pauk yang mutlak ialah dadieh dengan manisan.

Catatan Kaki :

  1. Mengatakan bahwa orang sumando itu “ka ganti Ninik-mamak”. Padahal sesungguhnya bukan “ka ganti” melainkan “kakanti”.Jauh bedanya antara “ka ganti” dengan “ka kanti”. “Ka ganti” berarti ia akan menjadi penukar sesuatu yang tak ada atau hilang. Padahal ninik mamak yang akan diganti masih tetap ada dan tidak hilang. Karena itu istilah “ka ganti” tidaklah tepat. Sedangkan “ka kanti” berarti ia kana menjadi teman, kawan atau rekan dari ninik-mamak. Itu adalah wajar. Mengenai hal in Chaidir Taher Sampono Mudo dan Rusli Taher Sampono Gagah dalam bukunya “Mambangkik Tareh Tarandam” mengatakan : “Nan sabananyo urang sumando tu bukan ka ganti niniek jo mamak do, cuma ka kanti (kawan) niniek mamak” (hlm. 12).
  2. Telah ada kejadian di Jakarta rombongan Marapulai berangkat ke tempat pesta pernikahannya tidak dipimpin (tidak memakai Panungkatan). Keberangkatannya Marapulai itu memang bukan “sendirian” melainkan bersama anak daro. Memang terasa kurang wajar jika rombongan Marapulai bersama anak daro setibanya di gedung (tempat pesta) disambut dengan pidato adat oleh ninik-mamak anak daro dengan mengatakan : “Ola la tibo – rang sumando ….”. Pada hal yang “tibo” (datang) itu bukan saja orang sumando, tetapi juga kemenakannya sendiri : anak daro. Pidato adat semacam itu memang tepat bila diucapkan dalam upacara perkawinan seperti di Silungkang, dimana yang “tibo” benar-benar rombongan Marapulai. Anak daronya sendiri berada di rumah.Tentu saja menggelikan bila Pidato Adat semacam itu diucapkan, padahal yang tibo Marapulai bersama anak daro.

Sumber : Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo