Di Silungkang, Balope (melepas mempelai pria) pada umumnya dilakukan setelah pernikahan, atau setelah ada kepastian hari pernikahan. Hari Balopenya, biasanya hari Rabu. Jarang hari lain. Karena Barolek umumnya hari Jum’at.

Olek Balope pada hari itu dua kali . Paginya Olek untuk wanita dan sesudah Zuhur untuk pria. Bila Balope hari Rabu, maka petang Selasa (malam Rabu) mulai memasak. Di samping tukang masak yang harus memasak, Ninik-mamak juga bekerja keras. Sedang sumando di atas rumah, orang sumando kampung ikut meramaikan (melihat-lihat). Anak buah dan tetangga dekat, ikut menolong.

Jam 8.00 pagi (hari Rabu) Sipangka (penyelenggara Balope) harus telah siap untuk menerima Olek wanita. Biasanya jam 8.30 pagi tamunya telah mulai ada yang datang. Dewasa ini pada umumnya tamu wanita membawa beras dalam Sangku, ditambah dengan kado. Sedangkan dahulu, tamu biasanya hanya membawa beras. Yang dekat hubungan kekerabatannya membawa beras dan piring. Yang dekat benar, membawa beras dan ayam besar.

Sangku tamu yang datang membawa berbagai pembawaan itu, akan diisi dengna nasi dan lauk pauk untuk dibawanya pulang. Sekitar jam 11.00 dijemputlah nasi dukung ke rumah anak daro. Pada jam 11.00 itu rumah telah mulai dibersihkan untuk menyusun hidangan bagi olek pria. Bila masih ada juga olek wanita, maka mereka akan dipindahkan ke ruangan lain.

Kadar nasi dukung ini mempunyai proses perkembangan tersendiri. Dulu benar, kadarnya sesuai dengan namanya, yaitu sekedar yang bisa didukung. Umumnya memakai Kampi (sumpit mini). Kadar itu kemudian mengalami perubahan menjadi : nasi (2 gantang beras), seekor ayam gulai, 2 kg daging (kalio), 1 baskom kecil dadieh, 1 botol manisan. Dekat perang dunia ke II berubah pula menjadi : nasi 10 liter beras, satu setengah ekor ayam gulai (ayam yang besar), 2 kg daging (kalio besar), 1 kg maco besar digoreng balado, 10 butir telur dibelah pakai lado, 3 liter ketan. Pada waktu Indonesia diduduki Jepang fasis hingga tahun 1950 kadarnya sekedarnya saja. Asal ada, baroleknya waktu itu hanya memakai bubur.

Sedang dari tahun 1951 hingga 1980 hampir sama dengan tahap ketiga, yaitu dekat perang dunia ke II. Dewasa ini bagi yang tidak pedunie (sederhana) meneruskan tradisi 1951 – 1980. Sedang bagi yang padunie : nasi 25 liter beras, 3 setengah kg kalio besar, ayam gulai 2 ekor (besar), 1 setengah kg maco besar digoreng balado, 5 liter ketan. Belakangan ini telur balado sudah ada yang menggantinya dengan gulai otak. Sedang bagi yang mempunyai pikiran maju, mereka berkerelaan saja. Tanpa nasi dukung.

Alat-alat pembawa nasi dukung itu nantinya dikembalikan ketika anak daro menjelang dusun.

Menjelang sembahyang Zuhur, ninik-mamak yang akan menjemput olek pria telah berangsur ke balai (pasar). Umumnya olek pria menunggu jemputan itu disekitar balai. Sesudah sembahyang Zuhur olek diiringkan ke rumah. Setelah cukup semua yang perlu dihadirkan, maka balopepun dimulai. Bila yang akan balope hendak memakai gelar, maka gelarnya sekaligus akan diumumkan ketika itu.

Mengenai balope di Jakarta pada umumnya ketentuan harinya tidaklah seperti di Silungkang. Bisa terjadi hari apa saja. Sedang makanan yang dihidangkan kebanyakan dipesan dari warung tertentu. Karena itu acara memasak tidak seperti di Silungkang. Satu dua ada juga yang memasak di rumah. Umumnya yang memasak hanya wanita. Begitu pula oleknya tidak dua kali (pagi dan sesudah Zuhur) melainkan sekali saja : Pria dan Wanita.

Di Jakarta malah ada pihak keluarga mempelai pria tidak menyelenggarakan upacara balope bagi anak kemenakannya yang akan berumah tangga. Mungkin karena saudara yang akan menyelenggarakan tidak ada, atau mungkin karena faktor lain. Bagaimanapun juga ini merupakan satu kekurangan.

Balope adalah satu upacara kebulatan sanak keluarga dan ninik-mamak melepas anak kemenakannya yang akan berumah tangga. Menunjukkan hati yang suci muka yang jernih.

Sumber : Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo