Di dalam Seminar Adat Silungkang 20 April 1986 di Jakarta oleh Wakil KAN Silungkang dikemukakan bahwa sebelum pernikahan dilangsungkan, masing-masing pihak harus melengkapi surat-suratnya terlebih dahulu. Surat-surat tersebut diurus oleh Pandito masing-masing. Pandito juga bertugas menghubungi Engku Kali (Penghulu di Jakarta). Di hari Nikah masing-masing yang akan Nikah membawa foto ukuran 4 x 3 sebanyak 6 lembar.

Cara ini adalah cara yang dewasa berlaku di Silungkang. Sebab, tempo dulu (sewaktu penyusun Nikah 2 Mei 194) tidak ada keharusan membawa foto. Karena itu di dalam Surat Nikah tidak terpampang foto yang nikah.

Mengenai besarnya uang mahar oleh Wakil KAN dikatakan di zaman Belanda rata-rata f. 0.50 (lima puluh sen). Mungkin tempo dulu benar, demikian. Penyusun (yang membuat buku tentang ini) belum menelitinya. Tetapi sewaktu penyusun Nikah, uang maharnya dua macam. Hal itu penyusun ketahui karena secara kebetulan penyusun beriringan nikahnya dengan sdr. RP bagi penyusun uang maharnya f. 2.00 (dua rupiah). Sedang bagi RP hanya f. 1.25 (satu rupiah dua puluh lima sen).

Perbedaan itu telah “diprotes” oleh RP kepada Engku Kali. Ditanyakannya : mengapa uang mahar yang dibebankan kepadanya lebih ringan, padahal dia juga mampu membayar seperti yang dibebankan kepada penyusun (yang membuat buku tentang ini). Rupanya RP bukannya gembira karena bebannya diringankan, melainkan merasa terhina, dianggap tidak mampu. Padahal persoalannya bukan mampu tidak mampu, melainkan perbedaan status sosial (menurut ukuran Silungkang) antara penyusun (yang membuat buku ini) dengan RP.

Menanggapi pertanyaan yang demikian, maka Engku Kali dengan cukup bijaksana menjawab : “Itu sudah merupakan ketentuan sejak dulu. Tanyalah pada mamaknya”.

Oleh mamaknya RP persoalan itu segera diambil alihnya dan hal itu berakhir sampai di situ saja. Tentu saja di rumahnya nanti oleh mamaknya RP akan diterangkan duduk permasalahannya.

Kini uang mahar yang lazim ialah seperangkat alat sholat, termasuk di Jakarta.

Di Silungkang tempat nikahnya biasanya diselenggarakan di Masjid, tetapi ada kalanya juga di tempat lain, tergantung perjanjian antara Pandito dengan Engku Kali. Di dalam pernikahan yang harus hadir ialah :

a. Pandito kedua belah pihak

b. Datuk Kampung kedua belah pihak

c. Mamak kedua belah pihak

d. Bapak dari yang wanita

e. Pria dan wanita yang akan dinikahkan

f. Engku Kali dengan stafnya

Keharusan yang hadir demikian, jika pernikahannya berlangsung di Silungkang. Sedang bila pernikahannya berlangsung di Jakarta, komposisi yang hadir bervariasi, tergantung dari keadaan. Yang penting kedua calon mempelai, penghulu dan saksi.

Sebagai catatan perlu dikemukakan bahwa tempo dulu pada saat pernikahan itu Anak Daro tak hadir. Sebab itu sebelum pernikahan dilangsungkan, Pandito harus menemui gadisnya di rumahnya guna meminta persetujuan.

Biasanya dulu setelah selesai nikah, pihak wanita (Mamak, Bapak dan Datuk Kampungnya) secara resmi menyerahkan tanggung jawab Anak Daro kepada Marapulai baik secara Adat maupun agama.

Setelah selesai nikah, masing-masing ninik-mamak akan menunjuk mengajari kemenakannya masing-masing tentang cara hidup berumah tangga. Terhadap kemenakan laki-laki biasanya bertempat di Surau, sedang bagi wanita dilakukan di rumahnya.

Kepada kemenakan laki-laki tekanan nasehat ialah agar ia jangan sampai di rumah orang membawa sopiek jo guntieng (jepit dan gunting). Maksudnya agar kemenakannya itu janganlah sampai merusak pergaulan keluarga isterinya. Juga dipesankan sekiranya ia tak dapat menambah, minimal jangan sampai mengurangi isi di atas rumah isterinya. Selain daripada itu juga dinasehati tentang Adat Istiadat dan agama : kewajiban terhadap famili : soal pergaulan dengan isteri dan mertua : cara menghadapi konflik rumah tangga sekiranya hal itu sampai terjadi.

Sedang kepada kemenakan yang peremppuan ditekankan agar ia jangan sampai mancikoroi (mencampuri) urusan suami dengan sanak saudaranya. Harus kuat memegang rahasia rumah tangga. Jangan sekali-kali menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang lain. Bila ada kata-kata suami yang mungkin menyinggung sanak saudaranya, janganlah begitu saja diteruskan kepada sanak saudara. Atau sekira ada ucapan sanak saudara yang mungkin menyinggung suami, jangan diteruskan begitu saja. Semuanya harus ditimbang: mana yang boleh diteruskan dan mana yang harus disimpan dalam hati saja.

Juga dipesankan bahwa seorang isteri yang baik ialah yang tidak suka meminta-minta kepada suaminya. Sekiranya terpaksa, maka caranya ialah bercerita, seakan-akan hanya mengabarkannya saja. Terserah pada suami akan turun tangan atau tidak mengatasi keadaan itu. Sebaliknya apa saja pemberian suami, meskipun misalnya warna baju yang dibelikannya tak cocok dengan selera, sekali-kali tidak boleh ditolak, karena perasaan suami bisa tersinggung. Itu bisa merupakan sumber konflik dalam rumah tangga. Juga harus pandai-pandai menghadapi Mertua dan Pasumandan.

Sumber : Buku Silungkang dan Adat Istiadat