Sukses atau berhasilnya sesuatu Olek antara lain tergantung dari : apakah semua yang patut hadir telah dihadirkan dalam Olek tersebut ? Juga apakah yang hadir dalam Olek itu telah didudukkan sesuai dengan status masing-masing ? Bila yang patut hadir telah dihadirkan semua, telah pula masing-masing didudukkan pada tempatnya, Olek itu biasa dikatakan “Selamat” atau berhasil.

Akan tetapi bila ada yang patut hadir tak dihadirkan, misalnya karena kelupaan atau kelalaian, hal itu tentu akan menjadi bahan pergunjingan. Oleh yang demikian tentu tak dapat dikatakan sukses dalam arti yang sesungguhnya.

Untuk bisa menghadirkan semua yang patut hadir dalam suatu Olek, maka penting sekali dapat berkumpulnya semua sanak saudara dari yang akan menyelenggarakan Olek itu. Bukan saja Ninik-mamak, orang sumando di atas rumah serta induak-induak, juga jiran diusahakan supaya hadir. Mereka akan dapat membantu mengingatkan tentang orang yang patut diundang.

Bisa saja yang hadir telah banyak, namun kekhilafan terjadi juga. Hal demikian pernah terjadi di Jakarta. Yang lupa itu saudara sebapak dengan yang pria. Yang diundang malah saudara yang lebih jauh, karena itu yang dianggap dekat. Untuk kemudian setelah undangan beredar ada yang mengingatkan. Sesudah itulah baru kekeliruan diperbaiki.

Di Silungkang ada 3 bentuk Olek. Olek Ketek (kecil), Olek Sedang (sedang) dan Olek Godang (besar). Mengetahui bentuk Olek yang akan diselenggarakan itu adalah sangat penting bagi yang turut mencato orang (mencatat orang). Sebab bila Olek Ketek, maka yang dicato untuk diundang hanya yang terdada saja, yang sangat patut saja. Sedang bila Olek Sadang, maka yang diundang di samping yang terdada dan sangat patut, juga diundang seorang atau berdua dari setiap kampung. Bila Olek Godang, maka segala yang patut di dalam nagari, diundang semuanya. Undangan yang terakhir ini di Silungkang istilahnya “sapu lantai”. Dalam Olek Godang biasanya yang dibantai ialah kambing atau sapi. Di Silungkang tidak dibiasakan membantai kerbau bagi keperluan Olek Godang.

Besar atau kecilnya Olek ditentukan oleh banyak hal. Faktor utama yang menentukan tentu soal keuangan. Bila keuangan mengizinkan, tentu bisa diselenggarakan Olek Godang. Akan tetapi walaupun keuangan mengizinkan, namun ruangan yang tersedia tak mampu menampung tamu yang diundang, tentu sukar juga menyelenggarakan Olek Godang. Atau keuangan mengizinkan, tempat memungkinkan, tetapi kehidupan umum dari penduduk memprihatinkan, Olek Godang tak bisa diselenggarakan. Misalnya di masa pendudukan Jepang fasis. Olek di Silungkang ketika itu hanya diberikan makanan kecil. Ketetapan itu berdasarkan kebijaksanaan Kepala Nagari. Maklumlah ketika pendudukan Jepang fasis kehidupan penduduk sangat berat.

Mancato orang tidak saja dilakukan oleh penyelenggaraan Olek (perayaan pernikahan), tetapi juga untuk Balope (melepas pria yang akan berumah tangga). Mancato untuk keperluan Balope dimulai dari Penghulu pihak mempelai wanita. Secara berturut-turut :

  • Penghulu (pihak yang Balope)
  • Datuk Kampung (pihak wanita)
  • Datuk Kampung (pihak yang Balope)
  • Mamak pihak yang wanita
  • Bapak pihak yang wanita
  • Orang sumando pihak wanita
  • Induak Bako Ande (Ibu) dan Bapak pihak wanita
  • Orang sumando yang Balope
  • Induak Bako Ande dan Bapak pihak yang Balope
  • Sangkut paut orang sumando yang Balope
  • Sangkut paut Ninik-mamak yang Balope
  • Yang akan menjadi teman Basoluak (berdestar) dari yang akan Balope serta anak-anak muda pengiringnya ke rumah Anak Daro.
  • Herieng gendieng.

Sedang mencato orang untuk keperluan Olek dimulai dari Penghulu pihak pria. Kemudian berturut-turut :

  • Penghulu pihak wanita
  • Datuk Kampung pihak pria
  • Datuk Kampung pihak wanita
  • Mamak pria
  • Bapak pria
  • Orang sumando pihak pria
  • Induak Bako Ande dan Bapak pihak pria
  • Orang sumando pihak wanita
  • Induak Bako Ande dan Bapak pihak wanita
  • Induak Bako wanita
  • Sangkut paut orang sumando pihak wanita
  • Sangkut paut Ninik mamak pihak wanita
  • Tetangga pihak wanita
  • Herieng gendieng

Menjumlah orang dalam mancato untuk Olek harus diperhitungkan pula tukang Rabona (biasanya rombongan mempelai pria diiringi dengan Rabona), pengiring Marapulai dan pihak penyelenggara (sipangka yang tidak dikatakan). Ini bila Baroleknya di Silungkang.

Sedang mencato orang yang akan diundang di Jakarta (selain dari komposisi seperti yang dicato di Silungkang), ada pula kemungkinan orang sumando (bapaknya Anak Daro) minta disediakan sejumlah undangan tertulis untuk relasi perdagangannya atau teman sekerjanya. Tentu saja permintaan tambahan yang semacam itu sukar untuk ditolak.

Juga Marapulai dan Anak Daro (yang akan merayakan pernikahan mereka) umumnya juga meminta disediakan sekian persen dari jumlah undangan bagi teman-temannya. Permintaan itu adalah wajar.

Dan yang menarik lagi ada sementara Marapulai atau Anak Daro (yang telah menyandang gelar sarjana atau sarjana muda) meminta agar dalam surat undangan dicantumkan nama gelar kesarjanaannya. Rupanya titel itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sebagai alasan dari permintaan demikian ada yang mengemukakan agar yang diundang mengenal status sosialnya.

Bertentangan dengan sikap sementara Marapulai atau Anak Daro itu, ada pula Marapulai dan Anak Daro yang tak menginginkan gelar kesarjanaannya dicantumkan dalam surat undangan. Mereka ini berpendapat bahwa perayaan pernikahan itu bukan untuk titel kesarjanaannya, melainkan perayaan pernikahan pribadi orangnya. Karena itu sudah cukup dengan nama biasa saja. Dua sikap yang mencerminkan kepribadian masing-masing.

Mengenai cara menyampaikan undangan tertulis ini di Jakarta ada yang berpendapat : supaya melalui pos saja. Itu lebih praktis. Menghemat waktu dan biaya. Pendapat ini mudah dimengerti karena memang untuk menyampaikan undangan tertulis itu ada yang sampai menggunakan 3 buah mobil (tiga rombongan) dan memakan waktu hingga malam hari. Maklumlah tempat berjauhan.

Tetapi pendapat dikirimkan melalui pos itu ada yang menolak, dengan alasan sikap sementara orang awak, yang bila undangannya tak diterimanya langsung dari pihak yang mengundang, dia tidak datang. Meskipun sipengundang telah datang ke rumahnya dan kebetulan yang ada di rumahnya hanya pembantu dan undangan dititipkan pada sipembantu. Apalagi bila dititipkan saja melalui tetangga. Dianggapnya sipengundang kurang menghargai dirinya.

Di Silungkang yang biasanya menyampaikan undangan (mengatakan) kepada pihak pria ialah Ninik mamak dan dibantu oleh Anak Buah. Sedang yang menyampaikan undangan kepada wanita ialah Ibu-ibu penyelenggara Olek dengan dibantu oleh Pasumandan, Induak Bako dan Anak Buah.

Kata-kata dalam menyampaikan undangan itu mempunyai arti khusus. Kepada pihak Olek ucapannya ialah “minta dihadiri”. Misalnya penyelenggara Olek (yang Barolek) dari 3 Niniek (Dalimo, Supanjang dan Payabadar) dan Oleknya 10 Niniek (Patopang dan Melayu), atau sebaliknya, maka dipakai kata-kata “minta dihadiri”. Sedangkan bagi penyelenggara Olek (apakah dari 3 Niniek atau 10 Niniek) undangannya “minta dilihat”.

Yang menyampaikan undangan untuk pria (terutama dari kalangan Olek) umumnya dilakukan oleh lebih dari seorang. Ini untuk menjaga agar jangan sampai ada yang ketinggalan atau harga diri yang diundang tersinggung. Sebab, ada pula sementara orang awak (yang terlalu menjaga harga diri) meskipun undangan telah disampaikan oleh seseorang dan kebetulan yang menyampaikan undangan tersebut usianya jauh lebih muda dari dirinya yang diundang, maka dia tidak mau hadir. Dia baru mau hadir, kalau undangan itu diulangi oleh yang lebih tua (sepadan). Bila tidak ada yang mengulangi akan dipergunjingkannya sebagai “tidak batarotik” (tidak tertib atau tidak sopan).

Sedangkan undangan untuk wanita dilakukan oleh Ibu-ibu sendiri. Kini di Jakarta (selain yang sangat terdada) sudah ada pula undangan untuk wanita dilakukan sekaligus saja oleh pihak pria. Jika Oleknya Godang, biasanya rombongan yang akan menyampaikan undangan terdiri dari 4 pasang (kelompok) Rombongan pengundang yang sampai ke rumah mempelai pria (Olek) di situ tentu disuguhi makanan.

Istilah mencato orang ini tentu tidak tepat digunakan bila yang akan jadi orang sumando bukan orang Silungkang. Dengan bukan orang Silungkang tentu perkawinannya tidak secara Adat Silungkang.

Pengalaman di Jakarta menunjukkan bahwa siapa yang akan diundang oleh calon mempelai pria (orang luar itu), mereka sendiri yang menentukan. Si pengundang tak tahu siapa saja orang yang diundangnya. Mereka hanya meminta supaya disediakan sejumlah undangan baginya.

Bertolak dari kenyataan itu sebenarnya mancato orang dalam arti yang biasa (jika orang sumandonya bukan orang Silungkang) tidak diperlukan. Yang akan barolek tidak akan mencato Penghulu atau Datuak Kampungnya (yang mungkin hal itu tak dikenalnya), tak akan mengundang orang sumandonya dan sebagainya. Paling-paling yang akan dicato hanya induak bako mempelai wanita serta orang sumando kampung. Pertemuan sanak saudara serta Ninik-mamak tentu harus diadakan juga guna menyusun tenaga bagi berhasilnya pesta itu. Istilahnya yang tepat ialah “menyusun tenaga” bukan “mencato orang”.

Sebagai catatan perlu dikemukakan bahwa dahulunya mancato orang itu hanya dengan minum-minum saja. Kini telah dengan makan.

Sumber : Buku Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan St Maharajo