By Oim D. Ismael PillBars

 

Ilmu yang tidak diamalkan, sama seperti pohon rindang yang tidak berbuah, pada akhirnya digunakan sebagai kayu bakar (Amri Marzali)

 

Dulu, Amri dan teman-temannya pernah bikin buku dari kali lima menjadi profesor, dengan nama Marzali Ibrahim, yang diambil dari nama kakeknya Ibrahim, kata Icang adik Amri Marzali.

 

“Pinjam dong bukunya,” pinta Oim pada Icang ketika perhelatan perkawinan anak Haji Maswardi dengan anak Haji Marwin.

 

“Wah dipinjam sama Abdul Majid. Orang PDIP”. Yah, udah, gumam si Oim dalam hati, sebab dulu pun ketika pengukuhan Amri Marzali jadi guru besar tetap UI tanggal 6 April, juga sudah bilang memang sedang dipinjam sama orang PDIP.

 

Apakah Amri pernah dagang kaki lima ? Pertanyaan in berkaitan setelah 11 tahun barulah Amri meraih S1-nya. Amri membutuhkan jangka waktu yang panjang sekali 1962 – 1973. Kenapa begitu lama ? Sempat terhenti kuliah. Itu gara-gara pergolakan politik 1965 – 1966. Amri terkena imbasnya. Amri mengembara membawa untungnya ke Yogyakarta. Begitulah bagi Amri, meraih S1 butuh 11 tahun melalui dua universitas, Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada.

 

Mungkin saja selama kurun waktu 11 tahun ini, Amri pernah menjadi pedagang kaki lima, mungkin juga tidak pernah. Tapi nasibnya memang mirip dengan judul bukunya “Dari kaki lima jadi Profesor”. Oke-lah ! Kenapa Amri bisa menjadi Profesor ? “Pisau tajam,” kata Drs. Asri Rukun (Ketua Lembaga Amil Zakat PKS). Tapi Drs. Asril Amri, konglomerat Silungkang, melihatnya dari sudut berbeda. “Tak lepas dari ini,” sembari Asril menggurat-gurat telapak tangannya. Maksudnya tak lepas dari suratan-takdir.

 

Takdir apakah gerangan yang mengiring Amri Marzali masuk jurusan Antropologi UI ? Sebuah jurusan yang tak pernah diunggulkan, jurusan pas-pasan atau jurusan balak-onam istilah bagi orang yang mancondu main domino. “Bisa jadi apa setelah lulus sarjana Antropologi ?” Di Fakultas Sastra Indonesia 1962, Amri Marzali ditanya oleh Dekan FSUI waktu itu, Prof. Soetjipto Wirjosoeparto, tentang tujuan Amri Marzali belajar di jurusan Antropologi. Amri Marzali menjawab sekenanya “Saya mau belajar tentang budaya bangsa primitif di Indonesia”.

 

“Lalu setelah itu ?”. Pertanyaan lanjutan Profesor itu membuat Amri Marzali takumbek (tersekat kerongkongannya). Amri KO !

 

Dan Profesor memberi petuah bak seorang ayah kepada anaknya. “Lalu setelah itu, kamu berkewajiban membawa bangsa primitif itu ke dunia kemajuan, karena mereka adalah juga bagian dari bangsa Indonesia”.

 

Amri Marzali yang berasal Dalimo Kosiek ini, mengingatkan Oim (Penulis) yang berasal dari Paliang Baru, juga pernah mengajukan pertanyaan yang sama pada Amri ketika sama-sama jadi anggota Ikatan Mahasiswa Silungkang tahun 1960-an : “Untuk apa mengambil jurusan Etnologi ? (waktu itu dikenal sebagai jurusan ilmu bangsa-bangsa)”.

 

Ternyata Amri terjun ke jurusan yang mahasiswanya “bukan yang berpisau tajam”, sebagian besar mahasiswa yang diterima di jurusan Antropologi UI saat itu adalah mereka yang mempunyai nilai NEM relatif rendah.

 

Hal ini berbeda sekali dengan calon mahasiswa yang mendaftar untuk masuk Fakultas Kedokteran, Teknik, Ilmu Komputer, Ekonomi, bahkan Ilmu Hubungan Internasional yang sama-sama dibawah FISIP dengan Antropologi. Apakah Amri termasuk ke dalam sebuah pepatah Melayu “di negeri orang buta yang matanya picak menjadi raja” ? Sebab tak mungkin Amri meraih Ph.D di Boston University USA kalau IQ-nya jongkok ! Ya, kan ? Baiklah, mari kita hayati kutipan berikut.

 

“Dalam pengalaman banyak dosen Antropologi, lebih mudah mengajarkan mahasiswa jurusan Hubungan Internasional tentang topik “budaya” dibandingkan dengan mahasiswa jurusan Antropologi.

 

Kemudian, dalam kelas-kelas campuran, nilai rata-rata mahasiswa jurusan Antropologi untuk pelajaran tertentu selalu lebih rendah daripada mahasiswa jurusan lain dalam lingkungan FISIP, bahkan lebih rendah dari mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer. Saya terpaksa mengungkapkan hal ini, meski menyakitkan dan mengecewakan bagi sebagian orang.

 

Walaupun masuk jurusan yang tidak tergolong berpisau-tajam, toh Amri Marzali sukses menjadi seorang intelektual-akademik. Nasib telah berpihak kepada dirinya walaupun dengan liku-liku kehidupan yang penuh dengan kegetiran.

 

Kesuksesan “Anak Tanah Abang ini”, yang dulu pernah tinggal di Kebon Melati sebelah pasar kambing, sekarang bersebelahan dengan Gang Kubur Lama (Jl. Haji Sabeni, Tanah Abang), tak lepas dari pergulatan situasi batin yang pada awalnya memang penuh dengan ketidak pastian.

 

Ada kepasrahan yagn terselip atau mungkin bahkan pernah menyelinap perasaaan kehilangan arah. Ada ketegangan syaraf atau ketegangan psikologis dalam perjalanan karir Amri.

 

“Ketika saya bergumul menyelesaikan skripsi S1 dengan sebuah mesin tik butut pinjaman keluarga di sebuah rumah gubuk tanpa listrik di sebuah kampung MHT di Jakarta sepanjang tahun 1971. Saya didampingi oleh istri saya yang cantik dr. Zarni yang baru saja lulus dari FKUI”.

 

Berhasil menggaet seorang cewek Fakultas Kedokteran adalah suatu prestasi yang mencengangkan, mengingat Amri dari jurusan yang masa depannya gurem.

 

Sebab itu tidak heranlah kalau Dr. Usman Chatib Warsa, pejabat sementara yang mengukuhkan Amri Marzali sebagai profesor tetap, dengan nada mesra bercanda, “Kok anak jurusan yang tidak ada apa-apanya bisa menggaet anak kedokteran. Saya jadi cemburu” (anekdot yang lucu ini berhasil memancing gelak-tawa hadirin).

 

Adapun Amri sendiri berkomentar begini, “Mau-maunya dokter ini kawin dengan mahasiswa antropologi yang masa depannya tidak jelas entah dimana.”

 

Dengan masa depan yang tidak jelas entah dimana ini, toh akhirnya Amri berhasil meraih posisi sebagai profesor tetap.

 

Pantaslah, Amri merasa sangat berhutang budi pada sosok-sosok yang telah mengulurkan tangan dan mempermudah perjalanan karirnya selama 40 “ngelmu” untuk menjadi seorang intele akademik.

 

Dalam “ngelmu” ini, akibat pergolakan politik 1965 – 1966 Amril sempat putus kuliah, seolah seperti orang sudah sempoyongan, datanglah uluran tangan. Sosok pertama adalah Prof. Dr. Kodiran dari UGM menyuntikkan semangat hidup untuk kuliah kembali.

 

Kilas balik ini dapat kita ikuti dari kutipan berikut. “Yang pertama adalah Prof. Dr. Kodiran dari UGM menghidupkan kembali minat studi saya di perguruan tinggi, setelah terhenti sekian tahun karena gejolak politik 1960-an.”

 

Hutang budi pada Prof. Dr. Kodiran itu akhirnya menghasilkan skripsi dengan judul Latar Belakang dan Fungsi Konflik dalam Sistem Kekerabatan Orang Silungkang di Jakarta, UGM, Yogyakarta, 1973.

 

“Masalah yang dihadapi orang Silungkang di Jakarta”, adalah artikel Amri yang seirama dengan skripsinya dalam majalah Intisari November 1972. Demikianlah, nasib Amri pernah pernah ibarat perahu di tengah lautan. Layar robek, dayung patah, perahu pecah, terapung-apung di tengah lautan, tenggelam tidak hanyutpun tidak. Tiba-tiba ada orang yang mengulurkan tangan.

 

Uluran tangan lainnya dalam meniti karirnya sebagai intelektual akademik adalah sosok yang memberikan landasan meraih dunia intelektual akademik. Amri belajar metode penelitian antropologi pada tahun 1970 – 1971 kepada Prof. Dr. Jacob Vredenbregt, kemudian menjadi asisten beliau, sampai tahun 1974.

 

Menjadi asisten dosen selama 3 tahun dengan tulus hati, sang Prof. Dr. dari Belanda ini sekali lagi mengulurkan tangannya dalam menghantarkan Amri meniti dunia intelektual akademik.

 

“Lebih dari sekedar dosen, lebih dari sekedar sumber mata air bagi kehidupan intelektual saya, Pak Vredenbregt adalah patron saya, yaitu orang yang tanpa diminta pada suatu telah membisiki Prof. Koentjaraningrat agar saya diangkat sebagai dosen jurusan Antropologi Fakultas Sastra Indonesia. Dengan demikian beliau telah mengalihkan jalan rel kehidupan saya, dari jalan yang menuju entah kemana ke jalan yang terang menuju dunia intelektual akademik”.

 

Prof. Dr. Koentjaraningrat yang dibisiki adalah “tokoh sentral” dalam kehidupan Amri sendiri. Mengutip kalimat Amri : “Lebih dari seorang guru, pembimbing, patron, Pak Koentjaraningrat seorang dewa penolong kami sekeluarga. Semoga arwah beliau, Profesor Doktor Kanjeng Pangeran Hario Haji Koentjaraningrat didudukkan di tempat terhormat di sisi Tuhan, Amin”

 

Sepertinya “Pak Koen is everything” bagi Amri. Amri tidak punya banyak kosa kata untuk mengungkap rasa terima kasihnya. Sebagian kecil sudah pernah Amri ungkapkan dalam jurnal antropologi Indonesia no. 57 tahun 1998.

 

Sebagian besar yang lain akan Amri bawa terus ke akhir hayat. Kami berasal dari dua lingkungan sosial yang bertolak belakang, tapi kami, kalau Amri diperkenankan untuk mengakui adalah guru dan murid yang saling pengertian, patron dan client yang paling setia.

 

Beliau adalah kekasih sebagian antropolog, pembimbing sebagian besar antropolog, dan guru semua antropolog Indonesia. Kami diikat oleh satu benang cita-cita yang sama kerasnya yaitu kemajuan antropolog Indonesia.

 

Kemudian, 7 tahun setelah menjadi dosen tetap, Amri mendapat berkah memperoleh peluang untuk mengasah otaknya mengambil Master (1981 – 1983). Peluang ini menghasilkan Thesis master of art in anthropology, the dilemma of development. The relations between Local Community and Supralocal Institunions, Australian National University, Canberra, Australia 1983.

 

What’s next ? Mestinya bisa langsung meneruskan mengambil S3. Yang terjadi sebaliknya. Amri tidak diperkenankan melanjutkan studi mengambil program Ph.D. Amri sempat pasrah; “Beliau (Prof. Dr. James Fox) menyuruh saya pulang ke Indonesia”

 

Tamatlah karir intelektual akademik Amri ? Saya patuh saja. Mungkin kemampuan saya memang hanya sampai disitu.

 

Mentok ? Tak mungkin lagikah Amri mempertajam otaknya agar menjadi intelektual akademik yang sempurna ? Cuma sampai S2 ? Jalan ditempat ? Menyelesaikan program MA di ANU Canberra 1983 adalah titik akhir perjalanan karir sebagai intelektual akademik Amri ?

 

Ternyata 2 tahun kemudian, tahun 1985 Prof Dr. James Fox mengulurkan tangan membawa berkah dalam kehidupan Amri. Ternyata Amri memperoleh peluang menyempurnakan teori-teori mencapai karir puncak sebagai seorang intelektual akademik.

 

Tahun itu Prof. Dr. James Fox menelepon Amri dari rumahnya yang berada di Jakarta, mengajak untuk makan siang bersama di Restoran Padang. Sampailah pembicaraan tentang kelanjutan studi Amri. Prof. Dr. James Fox menganjurkan Amri studi antropologi untuk S-3 di Amerika.

 

Dan ini bukan bohong-bohongan. Besoknya Amri langsung diajak ke kantor Ford Foundation, minta dukungan bea siswa untuk studi doktoral di Amerika. Permintaan langsung diterima oleh pejabat Ford Foundation, Dr. Mark Poffendberger. Dengan hanya meminta Amri mengirimkan Curriculum Vitae. Saat itu Amri sudah berusia 43 tahun.

 

Disinilah Amri menyadari betapa pengaruhnya Prof. Dr. James Fox dikalangan intelektual akademik dunia, dan betapa perhatian beliau terhadap dirinya. “Hanya sebagian kecil orang yang beruntung memperolehnya”

 

Di Boston University tahun 1986 – 1992, perjalanan intelektual Amri dibina oleh dua guru besar yaitu Prof. Dr. Allan Hoben dan Direktur African Studies Centre Boston University. Dengan lemah lembut dan bijak bestari, Prof. Dr. Robert Hefner, seorang Indonesianist yang brilian dan energik, usianya saat itu lebih muda 10 tahun dari Amri. Keduanya guru besar tersebut tidak hanya menaruh perhatian atas nasib pendidikan Amri tapi juga keadaan keluarga Amri yang hidup sederhana sebagai mahasiswa.

 

Ungkapan terima kasih yang tulus terutama untuk Prof. Dr. Hefner. Pak Bob dan istri beliau ibu Nancy yang sering mengundang keluarga Amri ke rumah beliau. Mereka berdua terus memberikan kata-kata penawar serta pendingin bagi Amri yang sering dilanda ketegangan psikologis dalam menyelesaikan studi.

 

Dengan disertasi Amri dengan judul In Anthropology the Urang of West Java. A study of Peasant’s Responses to Population Pressure Boston, 1992, berakhirlah pergulatan mental berjuang mental berjuang meraih S3 dalam kurun waktu 30 tahun. Ditambah 10 tahun kemudian Amri Marzali mendapat berkah dikukuhkan menjadi Profesor tetap pada FISIP UI.

 

Menyabet posisi sebagai seorang Profesor tetap, berkat uluran tangan dari begitu banyak intelektual akademik yang berpengaruh. Semua uluran tanan manusia dalam perjalanan intelektual Amri pada hakekatnya adalah uluran tangan Tuhan.

 

Artinya Tuhan punya rahasia dan diantara rahasia Tuhan adalah lika-liku kehidupan seseorang yang penuh dengan kontradiksi dan berlarut-larut berada dalam situasi depresi mental yang melelahkan.

 

Penulis (Oim) teringat ucapan seorang Sersan Mayor Pusdikzi di Gunung Pancar, Sentul, 6 km mendaki, tentang taqdir : “Pertemuan kita tidak ada yang kebetulan, semuanya adalah perencanaan Tuhan”

 

AYAH BUNDA, ISTRI BESERTA ANAK-ANAK

 

Haji Marzali Rangkayo Sati dan Hj. Sarah, mereka tidak pernah berbicara tentang akan jadi apa anaknya nanti, karena dunia mereka hanyalah seluas dunia orang desa dengan tingkat pencapaian sekolah desa.

 

Meskipun mereka jarang menasihati anak-anaknya secara langsung, tapi saya yakin bahwa apa yang dicapai sekarang sebagian adalah hasil dari keampuhan doa orang tua komat-kamitkan setelah Isya. Tidak terbayangkan kegembiraan yang Amri capai hari ini terwujud dengan dukungan isteri dan anak-anak.

 

Setelah itu, kemana Amri pergi mengajar di Univesiti Malaya tahun 1974 – 1977, belajar di Canberra 1981 – 1983, belajar di Boston 1986 – 1992, jadi Fellow di Leiden 1998, selalu didampingi oleh anak dan istri sebagai penenang dan pemberi semangat kerja.

 

 

Penulis (Oim)

Istri adalah partner yang paling ideal, bisa dihubungi 24 jam.

 

Alries : horse sense, the key to success is finding horse to ride

Sumber : Bulletin Silungkang, edisi Juli-Agustus 2002

Telah direvisi oleh Admin “Silungkang Dalam Sejarah” tapi tidak menghilangkan makna dari tulisan aslinya

• Prof. Dr. Amri Marzali, MA.
Pengajaran :
Etnografi Asia Tenggara
Analisa Faktor-Faktor Sosial Budaya Dalam Pembangunan
Masyarakat Pedesaan Indonesia
Dampak Pembangunan Terhadap Masyarakat & Kebudayaan Daerah
Antropologi Indonesia
Antropologi Politik
Metodologi Ilmu Sosial
Kebudayaan dan Institusi Lokal
Antropologi dan Kebijakan Publik.

Publikasi :
Menulis buku, judul: Kekerasan Sosial di Kalimantan Sebuah analisis Antropologi Sosiokultur dalam Majalah Analisis CSIS Tahun XXX/2001 No.3. Tahun 2001.

Menulis buku, judul: Hukum Adat dan Komersialisasi hutan di Luar Jawa pada Masa Orde Baru dalam Buku Menuju Keadilan Agraria. ISBN: 979-8589-40-8 Tahun 2002.

Menulis buku, judul: Perbedaan etnis Dalam konflik Sebuah Analisis Sosio-Ekonomi terhadap Kekerasan di Kalimantan dalam buku Konflik Komunal di Indonesia saat ini. ISBN: 979-8116-64-X Tahun 2003.

Menulis, judul: disintegrasi Nasional: Sebuah Warisan Ekonomi-Politik Orde Baru dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Masyarakat Indonesia jilid XXIX No.2 2003 ISSN: 0125-9989.

Menulis buku, judul: Strategi Peisan Cikalong dalam Menghadapi Kemiskinan diterbitkan Yayasan Obor Indonesia ISBN: 979-461-462-2 Tahun 2003.

Menulis dalam jurnal Hukum FORKAPHI, judul: Tidak Semua Orang Aceh Pro GAM, Vol.1 No.1 Bulan Mei 2003 ISSN: 1693-2676.

Menulis, judul: Persaingan dalam Industri Ilmu dalam Harian Kompas, tanggal 11 Desember 2003.

Menulis dalam jurnal Antarbangsa Dunia Melayu “MELAYU” ISSN 1675-6440 jilid 1 bulan 2 Desember 2004, judul: Komplek Minangkabau.

Menulis, Majalah: Leadership Park, judul: Pemimpin/Dewa, Pemimpin=Orang Biasa Bulan Desember 2004 ISSN: 1829-9849.

Menulis buku, judul: Antropologi dan Pembangunan Indonesia diterbitkan Kencana Prenada Media Group ISBN: 979-3925-16-7 Tahun 2005.

Menulis buku Referensi Sistem Penjamin Mutu Akademik Universitas Indonesia tahun 2005.

Penelitian :
Makalah yang sampaikan pada Seminar Internasional dengan Tema: The Progress of Quality Assurance Management in the University of Indonesia” pada Regional workshop on “Sharing Information and Experience on Quality assurance Procedures at the University Level in ASEAN, held in Naresuan University Phitsanulok Thailand, 23-25 Juni 2004.

Makalah dengan tema: Konflik Tanah Hutan di Pedalaman Kalimantan Kasus Desa Tumbang Koburai disampaikan pada Konferensi sebumi di University Kebangsaan Malaysia, 15 Desember 2005.

Makalah yang disampaikan pada Bengkel Penyelidikan Bersama Malaysia-Indonesia: Perbandingan Pembangunan Komiti dengan tema: Peran serta Masyarakat Desa dalam Pembangunan di Indonesia disampaikan di University Kebangsaan Malaysia, 17 Desember 2005.

Pengabdian masyarakat:
Sebagai Pembicara dalam Simposium Pendidikan Seri II dengan Tema: Konteks Sosiokultural dari Pendidikan Dasar di Indonesia: suatu Tinjauan dari Perspektif Gender. Bandung. 26 Mei 2001.

Memberikan Ceramah, judul: Sustainable Development in Traditional Communities disampaikan di Lead Bali. 5-10 Agustus 2001.

Sebagai Pembicara pada Pekan Budaya Betwai 2001 dengan tema: Pengembangan Kultur Lokal Dalam Konteks Masyarakat Multikultural Indonesia, Jakarta, 6 Oktober 2001.

Sebagai Pembicara pada Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif yang diselenggarakan Lab. Sosiologi FISIP-UI bekerjasama dengan Diklat Kompas, Jakarta, 30 Oktober s/d 15 Nopember 2001.

Sebagai Narasumber pada Pelatihan Singkat Program Community Development (COMDEV) dengan Tema: Teknik-Teknik Identifikasi Kebutuhan & Peran Serta Masyarakat Dalam Program Program Community Development, Jakarta, Departemen ESDM-RI, 30 Oktober 2001.

Memberikan Ceramah pada Pelatihan Community Development Short Course For Oil, Gas, and Mines Industri dengan Tema: Teknik Mengembangkan Partisipasi Masyarakat, Jakarta, 20 Juni 2002.

Sebagai Instruktur pada Pelatihan Penelitian Sosial yang diselenggarkan oleh Pusat Pengkajian Indonesia Timur (PPIT), Jakarta, 24 s/d 31 Juli 2002.

Sebagai Pembicara pada Sarasehan Cagar Budaya dan Museum Sebagai Aset Pariwisata Propinsi DKI Jakarta dengan tema: Menghidupkan Unsur Budaya Lokal dalam Cagar, Program DIII Pariwisata FISIP-UI, 6-7 Agustus 2002.

Sebagai Pembicara dalam Lokakarya Pengembangan Sistem Penjamin Mutu dan Sistem Manajemen Mutu di Universitas Indonesia Dalam Pengembangan Mutu Akademik, 30-31 Oktober 2002.

Sebagai Narasumber pada Seminar Nasional dan Dialog Interaktif Lingkungan Hidup dan Nasib Suku Asli Minoritas Riau dengan Tema: Memikirkan Nasib Suku Asli Riau. 28 Desember 2002.

Memberikan Ceramah pada Temu Nasional Penyelenggara Pendidikan Kosgoro dengan Tema: Peningkatan Mutu Pendidikan tinggi, Jakarta 20-23 April 2003.

Memberian Ceramah, judul: “Kajian Terjadinya Konflik Masyarakat dilihat dari Perspektif Budaya. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, 23 Mei 2003.

Memberikan Ceramah, judul: Local Knowledge: Untuk Materi Muatan Lokal Pendidikan dasar disampaikan pada Lokal Knowledge untuk Materi Muatan Lokal Pendidikan Dasar, Balitbang Depdagri Jakarta, 16-18 Juni 2003.

Sebagai Pemakalah pada Lokakarya dengan Tema: Menggali, Mengkaji, Memahami dan Mensosialisasikan Nilai-nilai Adat dan Budaya Minangkabau dengan judul: Kompleks Minang. ITB Bandung, 23-24 Agustus 2003.

Memberikan Ceramah, judul: “Quality Assurance dan Kelangsungannya di Universitas Indonesia disampaikan pada Konferensi ASAIHL, Jakarta, 9-11 Desember 2003.

Sebagai Pembicara pada Seminar Dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-9 Kementrian Riset & Teknologi RI dengan Tema: IPTEK dan Peradaban Indonesia, Jakarta, 2 Juni 2004.

Memberikan Ceramah, judul: Sikap Mental Orang Melayu Betawi Menurut Orang Non Betawi disampaikan pada International Conference on Social Sciences and Humanities (ICOSH 04), Malaysia, 14 s/d 15 Desember 2004.

Memberikan Ceramah dengan Tema: Kerjasama Universitas Regional Dalam Rangka Menghadapi Globalisasi pada Simposium Kebudayaan Indonesia & Malaysia di Bandung 10-12 Mei 2005.

Memberikan Ceramah dengan Tema: The Relevance of Antropology to Indonesia pada Simposium Internasional of The Journal Antropologi Indonesia, FISIP-UI Depok, 12 s/d 15 Juli 2005.

Memberikan Ceramah, dengan judul: Kearifan Budaya Lokal dan Kerukunan Bangsa, disampaikan pada Seminar Pengembangan Kerukunan Beragama Melalui Revitalisasi Kultur dan Kearifan Lokal guna Membangun Budaya Nasional. Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan Dep. Agama RI Jakarta, 25 Agustus 2005.

Memberikan Ceramah, dengan judul: Sumber Informasi Tentang Masyarakat Hukum Adat pada Praseminar “Hubungan Struktural antara Masyarakat Hukum Adat, Suku Bangsa, Bangsa dan Negara. Jakarta, 12 September 2005.

Sumber : FISIP UI