Dari pergaulan dapat diketahui bahwa orang awak ada yang mempunyai penglihatan tajam serta jauh pandangannya ke depan dan mampu pula menelusuri jauh ke belakang. Karena itu tidaklah luar biasa bila ia cukup bijaksana dan ayunan langkahnya ke depan banyak yang tepat. Orang tersebut disebut “panjang akal”.

Sementara itu orang awak yang lain ada pula yang disebut “banyak akal”. Dia dapat memecahkan dengan baik persoalan-persoalan yang muncul di depannya, meskipun soal itu rumit dan pelit. Adanya saja akalnya untuk mengatasi persoalan yang timbul.

Tak bisa pula disangkal ada pula sementara orang awak yang “akalnya berbelit-belit”. Dengan akalnya ia berusaha untuk menang sendiri. Jika ada kerja yang berat, supaya orang lainlah yang mengerjakannya. Sedang bila untung yang bakal datang, maka harus lebih banyak pembagian untuk dirinya. Orangnya yang akalnya berbelit itu sering disebut “licik”.

Beberapa orang diantara orang awak ada pula yang disebut “berakal pendek”. Pikirannya paling banyak sejauh yang lihat dan dirasanya. Ia tak mempunyai kemampuan untuk memikiri sesuatu secara mendalam dan meluas.

Itulah kategori akal yang terdapat di kalangan orang awak : akal panjang, akal banyak, akal berbelit dan akal pendek. Panjang, banyak, berbelit dan pendek itu serupa saja dengan akar yang terdapat pada pohonan. Pohonan itu ada akarnya yang panjang, ada yang banyak, ada yang berbelit dan ada yang pendek. Seperti diketahui “aka” dalam bahasa awak bisa berarti “akal” dan bisa juga berarti “akar”. Mungkin dari istilah “aka” itulah lahirnya kategori “akal yang 4” itu. Ya, Minangkabau terkenal dengan “alam terkembang jadi guru”.

Terhadap orang yang berakal pendek ini di Silungkang ada istilah “ompek sennyo nu” (empat sennya itu). Maksudnya pikiran orang itu tidak lengkap, tidak genap, kurang. Yang genap, lengkap ialah 5 sen (1 kelip uang Hindia Belanda). 4 sen belum cukup 1 kelip. Ungkapan “ompek sennyo nu” sama dengan mengatakan akalnya tidak lengkap, tidak genap alias bodoh.

Ungkapan lain sekitar angka 4 ini ialah “Inyo indak tau jo ompek do” (Dia tak tahu dengan 4 itu). Tidak tahu dengan 4 bukan dalam arti ia tidak tahu 2 + 2 = 4, atau 2 x 2 = 4. tidak tahu dengan 4 ini biasanya dihubungkan dengan tingkah lakunya dalam pergaulan. Bagi dia sawah tidak berpematang. Sama saja cara menghadapi orang yang lebih tua (baik dalam artian usia atau keahlian) dengan orang sebaya dengan dirinya, atau dengan orang yang disegani (seperti dengan menantu atau mertua).

Padahal di kalangan orang awak terkenal “langgam kato nan 4, yakni : kata mendaki (terhadap orang yang lebih tua atau murid kepada guru) : kata melereng (terhadap orang yang segan menyegani) : kata mendatar (terhadap orang yang status sosialnya sama) : kata menurun (terhadap yang lebih muda). Jelasnya cara berbicara dengan orang yang lebih tua tidak sama dengan cara berbicara dengan orang yang lebih muda. Cara berbicara dengan orang yang disegani tak sama dengan cara berbicara sesama besar.

Istilah “kata mendaki, kata melereng, kata mendatar, kata menurun” nampaknya juga diinsipirasi oleh alam terkembang. Seperti diketahui nagari Silungkang bukanlah sepenuhnya bertanah datar. Di sekelilingnya adalah bukit-bukit. Antara bukit dengan bukit terdapat lurah. Bila orang hendak ke bukit, dia harus mendaki. Mendakinya bisa secara tajam atau tegak, tetapi bisa juga secara melereng. Sedang dari bukit bila hendak ke bawah (ke tempat yang datar) harus dengan menurut. Di tanah datar jalannya bukan mendaki, melereng atau menurun, tetapi ia mendatar saja.

Ungkapan “dia tidak tahu dengan 4” bisa juga dalam arti dia tak bisa membedakan antara Adat yang sebenar Adat (hukum alam) dengan Adat yang teradat (peraturan yang lahir dari mufakat atau konsensus), dengan Adat yang diadatkan (undang-undang atau hukum yang berlaku), dengan Adat Istiadat (kebiasaan yang berlaku di kalangan masyarakat). Atau tak bisa membedakan tugas “4 jinih” (Penghulu, Monti, Malin dan Dubalang).

Penilaian “ompek sennyo nu” serta “Inyo indak tau jo ompek” tentu tidak langsung dikatakan kepada yang bersangkutan. Bila dikatakan secara langsung, hatinya bisa tersinggung dan naik darah. Perkelahian bisa terjadi. Kecuali jika yang menilainya begitu kuat dalam segala hal. Penilaian yang “menghina” itu bisa saja diucapkannya secara langsung.

Dengan tidak diucapkan secara langsung kepada yang bersangkutan pada pokoknya dapat dihindarkan perkelahian tetapi orang yang dinilai “kurang” itu tak akan mengerti tentang dirinya yang sesungguhnya (tentu saja menurut pandangan si penilai). Dengan tidak mengenal diri, sukar bagi yang bersangkutan untuk memperbaiki atau melengkapi diri.
Di sinilah pentingnya dituntut dari setiap hari untuk mengenali diri sendiri : apakah cemoohan atau penghinaan “ompek sennyo nu”, atau “Inyo indak tau jo ompek” mengenai dirinya atau tidak. Dengan mengenal diri, kita akan dapat mengembangkan hal yang positif terdapat pada diri dan membuang jauh-jauh hal-hal yang negatif (misalnya bodoh) yang terdapat pada diri (Est).

April 1986

Sumber : Silungkang & Adat Istiadat oleh Hasan Sutan Maharajo