Secara umum di Minangkabau jabatan Penghulu merupakan warisan turun temurun. Dari Niniek turun ke Mamak dan dari Mamak turun ke Kemenakan. Kemenakan yang berhak menerima warisan tersebut ialah Kemenakan yang mempunyai pertalian darah. Tetapi ada juga yang tidak demikian. Melainkan melalui pemilihan. Pada pokoknya ada dua cara mengenai pewarisan jabatan Penghulu.

CARA PERTAMA : ialah sistem yang dianut paham Koto Piliang, yaitu “Warih bajawek” (waris diterima). Artinya yang berhak mewarisi jabatan Penghulu ialah kemenakan langsung, anak dari saudara wanita.

CARA KEDUA : ialah sistem yang dianut paham Adat Bodi-Caniago yaitu “Gadang Bagilia” (besar bergilir). Artinya yang berhak mewarisi jabatan Penghulu ialah semua pria warga kaum dengan cara bergilir antara mereka yang seasal-usul.

Di Silungkang jabatan Penghulu juga merupakan warisan turun-temurun. Dalam ½ abad yang terakhir ini telah terjadi berbagai variasi. Ada yang bisa bertahan terus sehingga warisan jabatan Penghulu senantiasa turun kepada kemenakannya. Tetapi ada pula yang karena berbagai faktor (meskipun sebagai pejabat) telah bergilir dari satu famili kepada famili yang lain dalam lingkungan pesukuan. Sebagai ilustrasi dari perkembangan yang terakhir ini dapat dikemukakan hal ihwal dalam lingkungan Suku Payabadar (Malowe Mudiek dan Malowe Hilir).

Setelah meninggalnya Ongku Ongah Penghulu Ejong (Malowe Hilir-Suraubaru), maka kedudukan Penghulu itu tidak terus turun atau dipegang oleh kemenakan langsung dari Penghulu Enjong tersebut. Hal itu terjadi karena Tuk Itam Ayat (Malowe Mudiek) yang semasa Penghulu Enjong masih hidup telah bertindak sebagai wakil Penghulu. Dengan meninggalnya Penghulu Enjong maka jabatan Penghulu terus dipegang oleh Tuk Itam Ayat. Beberapa waktu kemudian, atau tepatnya pada tahun 1942, ketika Batogak Gola (bertegak gelar) di Malowe, oleh Tuk Onda Lian diusulkannya agar Marzali Ibrahim memakai gelar Mangguang Jompo. Maksudnya supaya ia yang menjadi Penghulu Payabadar. Oleh karena sesuatu hal Marzali Ibrahim tak dapat menerima usul Tuk Onda Lian itu. Dan karena itu Tuk Itam Ayat terus memegang jabatan Penghulu tersebut hingga beliau wafat.

Setelah Tuk Itam Ayat meninggal dunia, maka Sdr. Adjis Taher (Malowe Mudiek) yang memegang jabatan Penghulu Suku Payabadar. Kemudian sesudah Sdr. Adjis Taher meninggal dunia, maka jabatan Penghulu dipegang Sdr. Anwar Ramang (Malowe Hilir) hingga kini.

Menjadi seorang Penghulu memang bukan soal yang mudah. Penghulu sebagai Pemimpin kaumnya sering diibaratkan “Kayu besar di tengah kota; uratnya tempat bersela; batangnya tempat bersandar; dahannya tempat bergantung; daunnya yang rimbun tempat berlindung ketika panas, tempat berteduh ketika hujan oleh anak kemenakan yang selingkungan cupak Adat, yang sepayung sepertegak, di bawah payung di lingkungan cupak menyelusup negari.

Seorang Penghulu berpandangan lapang dan ber-alam luas; pergi tempat bertanya, pulang tempat berberita; kusut yang akan menyelesai; keruh yang akan menjernihkan; menimbang sama berat; mengukur sama panjang; tempat meminta hukum putus; berpantang berkata dua; duduk di dalam kebenaran. Penghulu adalah Nakhoda besar. Walau bertiup angin di udara, bersambung ombak di lautan, pedoman pantang dilepaskan.

Penghulu yang ideal bagi setiap Suku tentu Penghulu yang mampu mantangkan segala pantangan bagi Penghulu. Pantangan “memerahkan muka”, karena itu berarti ia tak mampu mengendalikan emosi atau perasaan; pantangan “menghardik menghantam tanah”, karena itu berarti dia pemaki, pemarah dan penggertak; pantangan “menyingsingkan lengan baju”, karena itu berarti ia menyatakan tak mempunyai sumber kehidupan, karena itu dilakukannya kerja kasar untuk penutup biaya hidup; pantangan “berlari-lari”, karena itu berarti dia pencemas, tidak tabah dan penakut; pantangan “menjunjung dengan kepala” karena itu berarti sama dengan mengatakan bahwa tugas kepalanya bukan untuk berpikir, melainkan untuk memikul beban belaka.

Dalam praktek kehidupan sebenarnya Penghulu itu ada yang disebut baik, tetapi ada pula yang disebut kurang baik.

Penghulu yang baik ialah Penghulu yang sebenar Penghulu. Ia benar-benar memegang ajarannya dan memenuhi harapan kaumnya.

Sedang Penghulu yang kurang baik ialah yang “pengeluh”. Ia suka mengeluh, baik karena ketidak mampuannya menyelesaikan persoalan-persoalan kaumnya maupun persoalan pribadinya. Selain dari “pengeluh” juga “pengelah”. Ia suka membuat hela atau dalih untuk mengelakan kewajiban yang terletak di pundaknya. Juga adalah juga termasuk Penghulu yang kurang baik, yaitu yang tak mau kalah atau mundur dari pendiriannya meskipun pendiriannya itu tidak tepat. Ia maunya mengalahkan saja.

Untuk bisa Penghulu itu menjadi Penghulu yang baik ia harus menjauhi 6 macam perangai, yaitu yang mudah memberi alasan ini dan itu bila orang yang mencarinya tak berhasil menemuinya. Alasannya itu hanya dalil untuk mengelakkan tanggung jawab. Perangai semacam itu disebut Penghulu nan tinggal “diujung nagari”. Kedua perangainya seperti perangai “Ayam godang”. Ia pandai berbicara tetapi tak becus bekerja. Ketiga perangai seperti “mambola botuang” (membelah bambu). Ia bersikap tidak adil. Yang satu ditekannya, yang lain diangkatnya. Keempat perangai “katuak-katuak” (ketuk-ketuk). Ia tidak punya inisiatif. Ia baru bergerak bila digerakkan. Seperti tong baru berbunyi bila diketuk. Kelima perangai “tupai tuo” (tupai tua). Ia tak mau berusaha, karena takut salah. Ia tidak percaya kepada kemampuan dirinya sendiri. Keenam perangai “busuak-hariang” (busuk bau). Kedatangannya hanya membawa keresahan.

Belakangan ini di Silungkang terasa makin sulitnya mencari orang yang bersedia menjadi Ninik-mamak pemangku adat. Faktor kesulitan ekonomi memainkan peranannya tersendiri. Maklumlah di Silungkang tidak ada “sawah kagadangan” bagi seorang Penghulu. Ninik-mamak di Silungkang “Karojoan karojo basamo, makan pancarian awak. Boban borek, sengguluang batu” (Kerjakan kerja sama. Makan pencarian sendiri. Beban berat singguluang batu). Demikian tamsil yang dikemukakan wakil KAN dalam Seminar Adat Silungkang.

 

Kesulitan mencari yang bersedia menjadi Ninik-mamak pemangku adat itu telah meliputi semua Suku. Situasi demikian diungkapkan dengan jelasnya oleh wakil KAN Silungkang dengan kata-kata : “Kalau di tempat lain pada berebutan jadi Ninik-mamak, di nagari kita sulit mencari siapa yang bersedia jadi Ninik-mamak. Dengan adanya yang bersedia, yaitu kurang ilmu pengetahuannya baik mengenai Adat, Agama ataupun umum”.

 

Dalam melaksanakan kewajibannya Penghulu Pucuk dibantu oleh Panungkek (penongkat), yaitu pembantu Utama Penghulu. Sepanjang pendengaran, di Silungkang sekarang tidak ada Penghulu yang memakai Panungkek. Penghulu hanya dibantu oleh Monti, Malin dan Dubalang.

 

Menurut wakil KAN bahwa di Silungkang Penghulu Pucuk di samping membawahi dan sebagai sesepuh dari orang nan bajinih dalam pesukuannya, dalam banyak hal di negari kita tugas sehari-harinya tersimpul dalam “Manyalosai, manjago lantai nan kamanjongkek, rantieng nan kamancucuak, memberi nasehat dan pituah”. Penghulu Pucuk tidaklah langsung berurusan dengan kaumnya. Dalam tugasnya Penghulu Pucuk dibantu oleh Monti, Malin dan Dubalang, sesuai dengan bidang masing-masing.

 

Sumber :

Buku Silungkang dan Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo