Mei 2007


Berkaitan dengan kereta api dan pelabuhan Teluk Bayur

Oleh Alamsyah Halim

Batu bara salah satu sumber energi, akhir-akhir ini telah mengambil tempat yang lebih baik lagi. Hal itu jelas karena perkembangan teknologi modern yang sama sekali membutuhkan minyak sebagai vital utamanya. Sedangkan disatu pihak cadangan minyak terus menipis seantero dunia. Dan dilain pihak bahan mentah batu bara pembakar untuk pembangkitan energi dengan jumlah yang cukup besar pula terkandung di dalam lapisan bumi.

Sejalan dengan itu dapat dilihat perkembangan penambangan batu bara di tanah air kita. Penambangan disana sini sekarang ditangani dengan sungguh-sungguh, agar kekayaan perut bumi kita itu bisa mendapat pemasukkan keuangan negara yang memadai untuk kelanjutan pembangunan segala bidang.

Sementara dalam hal tersebut kita coba menyelusuri penambangan batu bara Ombilin Sawahlunto (Sumbar). Penambangan disini akan kita lihat dalma tiga periode. Pertama periode sebelum perang, kedua periode 1945 sampai dengan 1960-an, ketiga periode 1976 sampai 1981 dan sekarang maupun mendatang.

Periode Sebelum Perang
Periode pertama masalahnya akan menyangkut sekitar sejarah mula-mula ditemui bahan mineral ini. Dari catatan yang otentik pada mula ditemui tahun 1858 di sekitar Sungai Ombilin oleh Ir. De Groet. Kemudian dilanjutkan oleh Ir. De Greve tahun 1867, penyelidikan yang seksama dilakukan pula Ir. R. DM. Verbeck. Hasil dari penyelidikan lapangan Sungai Durian dengan reserver 80.000.000 ton, lapangan perambah dengan reserver 20.000.000 ton, lapangan tanah hitam dengan reserver 205.600.000 ton.

Tebal lapisan masing-masing 1-10 meter derajat dan masing-masing 9 – 12 derajat dan masing-masing lapangan tersebut terdiri dari :

  1. Sungai Durian 3 lapisan (a, b, c)
  2. Sigalut 5 lapisan
  3. Tanah hitam 3 lapisan
  4. Perambahan 7 lapisan
  5. Sugar 3 lapisan

Diantara lapisan-lapisan tersebut setebal lebih kurang 30 meter terdapat lapisan batu pasir.

Setelah melalui beberapa penilaian pada tanggal 27 Juli 1888 dibuatlah Notaricle Acte pertama oleh E.L. Va Ronversy Asisten Residen Tanah Datar selaku Notaris, antara Handrik Yakobus Pelta Schemuring (Pemegang Con Esi) dengan Laras Silungkang Djaar Soetan Pamuncak (mewakili rakyat) untuk melakukan penambangan batu bara.

Didalam Notaricle Acte itu antara lain dicantumkan :

  1. Pihak rakyat tidak boleh menganggu bahkan akan membantu dan melindungi sebanyak-banyaknya pekerjaan pembangunan.
  2. Dan tidak akan melakukan penggalian pula walaupun secara primitif.
  3. Pihak pemegang consessi setiap tahun akan membayar/memberikan sebagai imbangannya berupa 10 persen keuntungan bersih tiap tahun kepada rakyat yang bersangkutan maksimal F 4.000,-

Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dibuka dan realisasi dari Notaricle Acte itu adalah explorasi/pekerjaan persiapan explotasi batu bara antara lain sebagai berikut :

  1. Menyiapkan pelabuhan Teluk Bayur (Emma Haven) mulai dikerjakan tahun 1888 dan selesai tahun 1893.
  2. Memasang jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Padang Panjang ke Sawahlunto (sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan consessi pertambangan batu bara) dimulai tahun 1888 selesai tahun 1893.

Pembuatan Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Sawahlunto tersebut dikerjakan oleh Ir. J.V.Y. Zerman.

Jalan kereta api ini diperluas sehingga merupakan jaringan jalan kereta api yang akhirnya mengitari dari Sawahlunto terus ke Solok, Padang Panjang, Kayu Tanam, Lubuk Alung – Padang terus ke Teluk Bayur. Sedangkan jalan lain dari Muara Kalaban (4 km dari Sawahlunto) menyimpang ke Tanjung Ampalu terus ke Muaro Sijunjung. Selanjutnya di Padang Panjang jalur jalan Kereta Api ini menyimpang pula ke Bukittingggi terus ke Payakumbuh dan yang di Lubuk Alung menyimpang pula ke Pariaman terus ke Naras.

Serentetan dengan ini berdirilah Perusahaan Listrik, pabrik-pabrik dan kemudian perkebunan-perkebunan dan tambang lain di Sumbar. Demikian sistem buat empalsemen tambang, membuat lubang sumuran di Sawahlunto. Mendirikan Silo (bunker) di Teluk Bayur. Produksi pertama di mulai bulan Oktober 1892 sejumlah 48.000 ton untuk tahun itu. Adapun pekerja terdiri dari orang-oranng rantai dan konirak yang masing-masing mencapai jumlah 5.000 orang, kesemua bangsa kita juga pengerjaan dilakukan secara paksa oleh Belanda. Dan juga pendatang dari orang-orang Eropah dan Tionghoa.

Produksi Tertinggi Selama Tambang Dibuka
Pada tahun 1930 Sawahlunto mencapai tingkat kemasyurannya dimana produksi mencapai 624.212 ton dan penduduk berjumlah lebih kurang 30.000 jiwa. Hal ini berlangsung sampai tahun 1938.

Dari tahun 1938 sudah mulai menurun disebabkan pekerja-pekerja tambang tersebut sedang mempersiapkan juga sebagai tenaga untuk menghadapi Perang Dunia II yang kemudian ke front tersebar ke pelosok Tanah Air.

Sekarang, Ombilin sudah tidak produktif tapi masih ada sebagian kecil rakyat sekitar mencari batu bara yang tersisa.

Sumber : Bulletin Silungkang, 003/BSM/MARET/1999

Iklan

Saat itu santer sekali tentang Mendulang Ome yang banyak tersebar di kampung kita terutama sekali di sepanjang Batang Ai. Yang mana di tepi batang Batang Ai sudah ada yang mempunyai hak turun temurun atau Tanah Pusako di kampung kita. Yang mana pendulang sebagian besar dari kerabat yang punya tanah tersebut.

Dimana dalam Undang-undang hasil tambang untuk kemakmuran dan mensejahterakan keluarganya. Tapi justru kenyataan sangatlah berbeda. Timbul antara pro dan kontra, yang mana sebetulnya dua-duanya memang benar. Yang pro untuk menghidupi keluarganya yang mana saat itu mencari penghasilan sangatlah sukar apalagi setelah terjadi krismon. Dan begitu pula yang kontrak merasa tanahnya diobok-obok tidak karuan habis omenya, ditinggal begitu saja.

Ditambah lagi kelakuan yang negatif yang diperlihatkan oleh para pendulang ome, dimana masyarakat Silungkang sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti warganya. Jangan seperti sekarang merasa mendapat rezeki yang besar dipakailah untuk berfoya-foya. Ini sangat bertentangan sekali dengan nilai agama dan begitu pula dengan Undang-undang. Janganlah kalau hasil mendulang habis begitu saja tidak memikirkan untuk masa depan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan ome sebagian besar dihabiskan begitu saja. Persediaan ome di Silungkang tentulah sangat terbatas maka pergunakanlah sebaik-baiknya hasil tersebut. Janganlah nanti kalau omenya sudah habis perekonomiannya masih tetap begitu juga. Jadi tidak ada artinya selama ini mendulang ome, yang mendulang ome tetap begitu juga dan yang punya tanah juga sulit untuk memanfaatkan kembali tanahnya dan begitu pula yang dulu waktu kita mandi di sungai dengan aman dan tidak merasa khawatir ada bekas lubang yang ditinggal begitu saja.

Disini peranan KAN ikut mengawasi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan mendata kembali dan memberi teguran-teguran jika menyalahi peraturan. Dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Itu wajar-wajar saja. Karena penghasilan dari bumi Silungkang, bukanlah segala hal harus ada peraturan yang mengikat dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Yang kontra sebetulnya tidak keberatan kalau ada yang mendulang ome, asalkan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, hilangkan isu-isu negatif yang dilakukan oleh para pendulang. Kita puas dan bahagia kalau para pendulang bisa memanfaatkan hasil mendulangnya dengan sebaik-baiknya.

Sebetulnya pada jaman dulu kaum penjajah (Belanda) sudah ada niatan untuk menambang secara besar-besaran dengan mendirikan perusahaan antara Belanda dengan Inggris. Ada bukti otentik dengan bahasa Belanda akte pendirian yang diberi nama NV. Mijnbouw Maatschapij “SILOENGKANG”.

Karena sesuatu hal mungkin warga Silungkang tidak mau dipindahkan atau karena ome masih muda. Jadi kalau memang ada kandungan omenya marilah ktia kelola bersama-sama untuk kepentingan kesejahteraan warga kita, dengan melibatkan semua unsur seperti pemilik tanah, pendulang dan aparat desa.

Dengan peralatan yang sangat sederhana orang kampung yang biasa disebut Dukun Ome bisa menentuan dimana ada emas di daerah tersebut. Dilihat dari segi peralatannya atau si dukun sangat sakti, bukan itu sebenarnya tetapi memang sebagian besar tanah di Silungkang memang banyak mengandung emas, ini bisa dibuktikan pada waktu dulu Belanda bekerja sama dengan Inggris ingin menambangnya. Timbul pertanyaan (bukti otentik kami sisipkan), apa sebab Belanda mengundurkan diri.

mendulang ome

By Perantau Surabaya

Catatan :

Ome = emas

Ai = air

Sumber : buletin Silungkang, edisi 3, nomor 003/BSM/MARET/1999

Pasar di sekitar Silungkang hanya ramai kalau pada hari pokan. Di Silungkang hari Pokan jatuh pada hari Jum’at dan Minggu. Pada hari itu berdatanglah (secara tradisi turun temurun) berdatangan masyarakat di sekitar Silungkang seperti Desa Kubang, Lunto Barat dan Timur, Limindai, Taratak Boncah dan warga Silungkang sendiri. Bahkan di kotamadya Sawahlunto sendiri yang hari pokannya jatuh pada hari Sabtu akan ramai dikunjungi, padahal hari Minggu merupakan hari libur tetap sepi saja. Dan penjualnya juga sebagian besar dari luar daerah inilah yang disebut Pedagang Babelok Pokan, kaum pedagangnya tiap hari jualannya akan berpindah-pindah ke pasar satu pindah ke pasar lainnya menurut hari pokannya. Barang dagangannya pun sebagian besar kebutuhan sehari-hari jadi warganya kalau berbelanja kebutuhan sehari/satu minggu sekali. Pasar Silungkang merupakan sentral perdagangan bagi warga sekitar.

By Perantau Surabaya

Dari Bulletin Silungkang, Nomor 003/BSM/MARET/1999 

Seorang anak sedang disuruh oleh Guru Bahasa Indonesia untuk membacakan puisi karangannya sendiri, di depan kelas :

Guru :

“Sekarang, ayo mulai !!”

Anak :

“Di mana-mana ada air

Di sungai … di danau … dan di laut

Pasti ada air

Semua orang pasti perlu air …

Permisi …. aku mau buang air

Murid-murid :

“Ha … ha … ha … !!”

By M. Hidayatullah

Diambil dari Bulletin Silungkang, edisi 3, Nomor 003/BSM/MARET/1999

Bentus adalah anak sulung si Pentus. Dia anak bodoh, tetapi selalu patuh pada perintah ibunya.

Pada suatu hari ibunya menyuruhnya untuk menjual anak ayam yang baru menetas.

Ibu :

“Nanti kalau ada orang menanyakan namanya, bilang namanya adalah si Bentus anak sulung si Pentus. Lalu, kalau ada orang yang menanyakan apa yang kamu bawa, bilang yang kamu bawa ini membeli anak-anak ayam ini, dan mengasihkan uang kepadamu, minta tambah lagi, dikasih lagi minta lagi, lalu kalau sudah ditambah ucapkan terima kasih kepada orang itu”.

(Ditengah-tengah perjalanan Bentus, selalu mengingat kata-kata ibunya itu. Tapi dasar ia bodoh, yang ingat hanya jawabannya saja).

(Setibanya di pasar …)

Pembeli : “Apa yang kamu bawa itu, nak ?”

Bentus : “Si Bentus anak sulung si Pentus.”

Pembeli : “Kamu anggap apa aku ini, ha ?”

Bentus : “Anak ayam yang baru menetas.”

Pembeli : “Apa kamu bilang ?” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Masih kurang, pak.”

Pembeli : “Masih kurang ? Ini sekali lagi” (sambil menampar si Bentus).

Bentus : “Tambah lagi, pak.”

Pembeli : “Lagi ?!!” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Terima kasih, pak.”

(Akhirnya si Bentus pulang dengan muka yang bengkak dan benjol-benjol kena tampar).

Karya : M. Hidayatullah

Diambil dari Edisi Ketiga Bulletin Silungkang, Nomor 003/BSM/MARET/1999

SILOENGKANG DI ZAMAN DAHOELOE

SOMPIK LALOE LOENGGAI BATAKOK

 

 

Sedjak dahoeloe disegani orang, Gadjah Tongga Koto Piliang, diseboet dalam Tambo Minang.

 

 

Iktibar bagi lingkoengan, kampoengnja dikelilingi boekit, djalan, soengai jang berlikoe-kelok, loengkang dalam bahasa.

 

 

Loear biasa keberaniannja melawan pendjadjah Belanda. Poeloehan Perintis Kemerdekaan jang tertoelis dalam sedjarah perdjoeangan.

 

 

Oengoel dalam beroesaha, bidjak dalam menyelesaikan masalah masjarakat dan teladan bagi orang.

 

 

Ekonominja mendjadi bilangan, seboetan di Minangkabau.

 

Nama kampoengnja diseboet, orang pertjaja mendjadi djaminan, dihormati diloer kampoengnja sendiri.

 

 

Gaoeng tenunannya bergema di Noesantara, sampai ke Keradjaan Kintjir Angin, menjatoe dengan nama kampoengnja.

 

 

Kalang penjangga bagi kehidoepan kampoeng. Bermotto, anak didoekoeng kemenakan dibimbing.

 

 

Anak mendjelang dewasa disoeroeh merantau tanda kelaki-lakian, diamanatkan, sembahjang dan kedjoedjoeran jangan diabaikan. Itoelah pesan orang toea bersama mamak.

 

 

Norma dipakai, masjarakat dan kampoeng kelahiran dipertenggangkan.

 

 

Godanglah, tjopeklah godang waang boejoeang, poelanglah ke kampoeng. Kok kan lai ka panggonti niniak mamak nan lah gaek-gaek.

 

 

 

SILUNGKANG DI ZAMAN MODERN DENGAN SERIBU SARJANA

 

 

Semenjak tahun lima puluhan, keadaan silih berganti, apakah diperhatikan wahai orang-orang yang arif ?

 

 

Islam memudar, guru Agama dan panutan langka, pengajian, ceramah agama bak dilanda perang. Tak ada lagi yang disegani dan ditakuti.

 

 

Lomba-berlomba mengumpulkan picisan kertas yang nilainya berangka-rangka. Kadang lupa sanak, lupa kerabat dan bahkan mereka terlanda.

 

 

Undian pernah mewabah tetapi tidak ditakuti. Main kertas bergambar sudah bergenerasi, minuman keras ada, tak ada lagi yang tersembunyi.

 

 

Nah, individu membudaya, kepedulian menghilang, malu pun menyusut, pertanda ke zaliman sedang muncul, akibatnya ?

 

 

Gagah berani membela kebenaran, nasehat-menasehati dengan bijaksana sirna sudah. Kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab terbenam.

 

 

Komunikasi langka, walaupun telepon ada, silahturahmi jauh, mobil, motor pun punya, masing-masing hidup sudah sendiri-sendiri.

 

 

Adat manakah yang engkau anut, wahai orang-orang yang hidupnya bermotto : sempit lalu, longgar dipalu ???.

 

 

Ninik mamak yang engkau berada, apakah engkau sebagai saksi dizaman modern ini ? Seharusnya engkau kan menjadi suluh penerang dalam keadaan seperti ini ? Ilmuwan dan hartawan, kelompok inilah yang mulai berbilang, lupa atau belum sempat berkumpul memadu pendapat ?

 

 

Gerangan apakah obatnya wahai orang-orang yang arif ? Anda-anda sedang ditunggu-tunggu masyarakat Silungkang. Hati-hati, kampung kita, warga kita hampir berada dipinggir jurang …. mesjid besar tetapi belum berfungsi. Semoga.

 

 

 

 

 

By Rimfan – Jakarta Selatan

Diambil dari Bulletin Silungkang, Edisi Ketiga, 003/BSM/MARET/1999

Setiap Suku (yang di dalamnya terhimpun beberapa Kampung) dipimpin oleh seorang Penghulu (pemegang hulu bicara musyawarah dalam Suku). Penghulu Pucuk ini mempunyai perangkat :

 

  1. MONTI : yang arif bijaksana, yang tahu dengan yang tinggi dan rendah; tahu dengan onak yang akan menyangkut; tahu dengan angin yang bertiup; yang tahu dengan ombak akan bersabung; yang tahu dengan runcing yang akan mencucuk; yang tahu dengan dahan yang akan menimpa (cerdik pandai – cendekiawan).

  2. MALIN : Suluh bendang dalam Adat; yang tahu dengan halal dengan haram; tahu dengan yang sah dengan yang batil; yang akan menghela Penghulu jika tersesat ke yang bukan; yang akan menerangi Penghulu jika tersesat di yang kelam (Mualim, guru agama Islam, yang memegang hukum agama).

  3. DUBALANG : Parit pagar yang kokoh; tahu dengan herieng dan gendieng; tahu dengan sumbang dan salah. Kalau keras akan ditakiknya, kalau lunak akan disudunya bila tidak diatas kebenaran. Matanya nyalang; telinganya nyaring; menjaga nagari jangan binasa; jangan ada silang sengketa; jangan terjadi sumbang dan salah; maling dan pencurian jangan bersua (memegang tampuk keamanan Suku).

Penghulu Pucuk bersama dengan Monti, Malin dan Dubalang disebut “Nan 4 Jinih”. Nan 4 Jinih adalah yang memegang Suku. Suara yang tertinggi dalam Suku adalah keputusan Nan 4 Jinih.

 

Setiap Kampung (yang di dalamnya terhimpun beberapa kaum atau famili) dipimpin oleh Penghulu Andiko didampingi oleh Pandito, yang mengurus soal-soal agama. Penghulu Pucuk, Monti, Malin, Dubalang, Penghulu Andiko, Pandito disebut “Orang Nan Bajinih”.

 

Juga termasuk “Orang Nan Bajinih”, yaitu imam mesjid (yang dipegang oleh Suku Melayu); Khatib (yang dipegang Suku Patopang); Bilal (yang dipegang Suku Supanjang). Begitu pula Ongku Kali (Kadhi) Silungkang Khusus juga termasuk “Orang Nan Bajinih”.

 

Sedang Tungganai yang memimpin Kaum atau Famili, yang biasanya disebut Mamak Kaum atau Mamak Kepala Waris, tidaklah termasuk “Orang Nan Bajinih”.

 

Jumlah Orang Nan Bajinih di Silungkang 60 orang : 5 (Penghulu Pucuk); 5 (Malin); 5 (Monti); 5 (Dubalang); 18 (Penghulu Andiko); 18 (Pandito); 1 (Imam); 1 (Khatib); 1 (Bilal) dan 1 (Kadhi). Keenam puluh Orang Nan Bajinih tersebut adalah anggota-anggota KAN (Kerapat Adat Negari) Silungkang. KAN ini merupakan kesatuan masyarakat hukum Adat.

 

“Keputusan-keputusan KAN menjadi pedoman bagi Kepala Desa dalam menjalankan roda Pemerintahan Desa dan wajib ditaati oleh seluruh masyarakat negari dan aparat pemerintahan berkewajiban membantu menegakkan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku” (Perda Sumatera Barat No. 13/1983, Bab IV, pasal 7, sub 2).

 

Menurut Hasan Basri Durin Datuk Rangkayo Mulia Nan Kuning1) Pimpinan tertinggi dalam Nagari adalah mufakat para Penghulu. Dalam perkembangannya kemudian dalam musyawarah itu diikutsertakan unsur-unsur Ulama dan Cerdik Pandai. Sebagai pimpinan musyawarah biasanya ialah Penghulu Pucuk yang lebih ditinggikan dari Penghulu-penghulu pucuk lainnya (biasanya karena asal-usulnya dari kaum yang paling dahulu menghuni Nagari tersebut) untuk yang Nagari yang menganut Koto Piliang. Di nagari-nagari yang menganut aliran Bodi Caniago biasanya dipilih di antara penghulu-penghulu Pimpinan musyawarah inilah yang kemudian menjadi penghulu Kepala, yang kemudian lagi menjadi Kepala Nagari di zaman penjajahan Belanda.

 

Catatan kaki :
1. Mokhtar Naim : “Dialektika Minangkabau dalam kemelut sosial dan politik”, pen. Genta Singgalang Press, Padang 1984, hlm 57.

 

Sumber :
Buku “Silungkang dan Adat Istiadat” oleh Hasan St. Maharajo
Edisi 1, Jakarta, Mei 1988

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »