Berpegangan kepada kesimpulan HHB Saanin Dt. Tan Pariaman pada judul Pimpinan Nagari, maka Silungkang yang terletak dalam Luhak Tanah Datar, tentu yang terdapat Adat Campuran. Dengan kata lain pahamnya campuran antara Adat Datuk Katumanggungan dengan paham Adat Datuk Parpatih Nan Sabatang.

Tentang hal ini Wakil KAN dalam Seminar Adat Silungkang di Jakarta1) mengemukakan tentang “Adat Silungkang Asli” antara lain sebagai berikut : “Nagari kita adalah “Gajah Tongga Koto Piliang”2), bahkan termasuk orang penting dan Staf Kerajaan Minangkabau yang berhaluan “Koto-Piliang”.

Jelaslah bahwa negari kita berpaham Koto-Piliang. Tetapi dalam prakteknya, yang dijalankan dan dipakai adalah paham :

Pisang sekalek kalek hutan
Pisang tambatu nan bagatah
Koto Piliang inyo bukan
Budi Caniago inyo antah

(Pisang si getir-getir hutan
Pisang sembatu yang bergetah
Koto Piliang dia bukan
Bodi Caniago dia entah)

Untuk memperkuat paham “Adat Silungkang Asli” tersebut, maka wakil KAN memberikan contoh : Balai-balai Adat kita adalah Koto-Piliang. Cara berapatnya atau mengambil keputusan adalah Bodi-Caniago.

Dengan terdapatnya adat campuran di Silungkang (Tanah Datar), tentu tidak bisa dikatakan bahwa Tanah Datar “bukan” Koto Piliang atau “bukan” “Bodi-Caniago”. Mengatakan Tanah Datar “semuanya bukan”, tidaklah tepat, karena Adat yang berlaku di Tanah Datar juga Adat Datuk Katumanggungan dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Yang benar ialah Tanah Datar “ya” Koto Piliang, “ya” Bodi-Caniago. Tekanannya bisa berbeda-beda. Yang satu pada Koto-Piliang, sedang yang lain pada Bodi-Caniago.

Hal ini sesuai dengan teori yang mengemukakan bahwa bila dalam satu materi terdapat beberapa aspek, maka salah satu aspeknya merupakan aspek pokok, aspek yang memimpin perkembangan aspek yang lain, atau sebutlah aspek yang merupakan titik berat atau tekanan. Bila melihat kepada pantun yang dikemukakan wakil KAN dalam Seminar Adat Silungkang di atas maka tekanannya bukan pada Koto-Piliang melainkan pada Bodi-Caniago. Karena mengenai Koto-Piliang melainkan pada Bodi-Caniago. Karena mengenai Koto-Piliang dengan tegas dikatakan “inyo bukan”. Sedang untuk Bodi-Caniago hanya dikatakan “inyo antah”. Perkataan “antah” ditampilkan mungkin untuk menenggang perasaan Koto-Piliang jangan sampai tersinggung. Dipakailah kata-kata yang diperhalus.

Meskipun secara umum di Luhak Tanah Datar berlaku Adat Campuran, namun di setiap negari dalam wilayah Tanah Datar terdapat pula kekhususan-kekhususan dibandingkan dengan yang lain. Itu adalah wajar. Bukankah tidak ada dua orang (meskipun kembar) yang sama dalam segala-galanya. Tentu masing-masing mempunyai ciri-cirinya sendiri, yang menunjukkan identitasnya.

Untuk Silungkang (seperti yang telah dikemukakan di atas) bahwa Balai-balai Adatnya berkoto-piliang, tetapi cara bermusyawarah dan mengambil keputusan berbodi-caniago. Bisa saja ada yang mempertanyakan : bila demikian di mana tekanan Silungkang ?

Bila orang dalam menilai sesuatu mengutamakan bentuk (Balai-balai Adat) tentu akan dijawabnya : tekanan Silungkang pada Koto-Piliang. Sebaliknya bilamana orangnya dalam menilai sesuatu mengutamakan isi (cara bermusyawarah dan mengambil keputusan) tentu akan dijawabnya : tekanan Silungkang pada Bodi-Caniago. Akan lain halnya bila seseorang dalam menilai sesuatu melihat secara keseluruhan (ya bentuk ya isi). Untuk sekarang mungkin akan dijawabnya : hingga kini Silungkang belum pernah menyimpulkan apakah pada Koto-Piliang atau Bodi-Caniago.

Yang terang tekanannya senantiasa bergerak seperti bandul jam dinding (model lama). Pada waktu tertentu dia berada diujung paling kiri, lain kali persis ditengahnya dan pada kesempatan lain dia berada diujung paling kanan. Situasinya dalam proses.

Ciri lain negari Silungkang dibandingkan dengan negari-negari lain di Tanah Datar atau Minangkabau adalah mengenai kedudukan Penghulu Andiko. Di tempat lain di Minangkabau, Penghulu Andiko adalah yang tertinggi dan itulah yang disebut Penghulu Pucuk atau Penghulu Tua. Penghulu lainnya adalah di bawah Penghulu Andiko. Sedang di Silungkang Penghulu Andiko statusnya di bawah Penghulu Pucuk.

Berikutnya di tempat lain di Minangkabau yang memegang tanah ulayat atau pusaka tinggi adalah Penghulu Pucuk. Sedang di Silungkang Penghulu Pucuk tidak punya tanah ulayat. Ulayat atau pusaka tinggi dipegang Penghulu Andiko. Di tempat lain Penghulu Pucuk punya “Sawah kagadangan” (semacam tanah bengkok di Jawa) dan sumber masukan lain. Di Silungkang, Penghulu Pucuk tidak punya sumber tertentu karena fungsinya sebagai Penghulu.

Catatan kaki :

  1. Kerapatan Adat Nagari (KAN) Silungkang dalam Seminar Adat Silungkang di Jakarta April 1986 : “Adat Silungkang Asli”.
  2. Menurut AA Navis dalam bukunya “Alam Terkembang Jadi Guru” bahwa Gajah Tongga Koto – Piliang (Gajah Tongga Koto Piliang) dengan kedudukan di nagari Silungkang, bertugas sebagai kurir (hlm. 58). Keterangan AA Navis ini berbeda jauh dengan curaian Syamsudin Dt. Simarajo di Pagaruyung (antara 6/11 dan 24/12 1984) seperti yang dicatat H. Kamaruzaman dkk. bahwa Gajah Tongga Koto – Piliang ialah : a. Orang Gadang bermandat penuh. b. Aspri Rajo. c. Dewan Pertimbangan. d. Penasehat. Diminta atau tidak diminta harus memberikan pendapat pada Rajo dan Langgam Nan Tujuh. Nampaknya tentang bagaimana kedudukkan Gajah Tongga Koto – Piliang yang sebenarnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Apalagi bila membaca tulisan Drs. Sjafnir Abu Nain dalam Limbago No. 6 tahun 1988 yang berjudul “Batanghari, perwujudan pergulatan ekonomi Minangkabau”, di mana antar lain dikatakannya bahwa Aditiyawarman di Saruaso – Bukit Gombak dinobatkannya putranya, Anggawarman, dalam satu upacara hewajra, karena ia telah tua (82 tahun) dan merasa dirinya akan bersatu dengan moksa (prasasti muka Kantor Bupati Batu Sangkar). Di Padang Sibusuk ditempatkannya keturunan Sanggarama-Tunggawarman, Gajah Tongga, untuk menguasai pendulangan emas Muaro Kalaban.

Sumber :

Buku Silungkang dan Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo