4 Suku Induk (Koto – Piliang, Bodi – Caniago) di Minangkabau terbagi dalam dua paham Adat. Suku Koto-Piliang berpaham Adat Datuk Katumanggungan (bajanjang naik batanggo turun – berjenjang naik bertangga turun), sedang Suku Bodi – Caniago berpaham Adat Datuk Parpatih Nan Sabatang (duduak samo randah tagak samo tinggi – duduk sama rendah, tegak sama tinggi). Dengan bahasa lain Mochtar Naim1) mengatakan : “…. masyarakat yang berkoto-piliang, yakni berorientasi hirarkis, feodalistis dan paternalistis …. masyarakat berbodi-caniago, lebih berorientasi kerakyatan, kesama-rataan dan fraternalistis”.

Apakah kedua paham di atas berlaku di semua Luhak atau wilayah, atau masing-masing mempunyai daerah utamanya ? Menurut HHB Saanin Dt. Tan Pariaman2) : “… bahwa Luhak Agam adalah Bodi-Caniago, Lima Puluh Koto adalah Koto – Piliang dan Luhak Tanah Datar adalah Adat campuran”.

Catatan kaki :

  1. Mokhtar Naim : “Dialektika Minangkabau dalam kemelut sosial dan politik”, pen. Genta Singgalang Press, Padang 1984, hlm 57.
  2. HHB Saanin Dt. Tan Pariaman : “Kepribadian orang Minangkabau dan psikotapologinya” dalam buku “Kepribadian dan Perubahannya”, Pen. PT. Gramedia Jkt. 1983, hlm 187.

Sumber : Buku Silungkang dan Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo