Apa yang dinamakan Adat Silungkang sesungguhnya sebagian dari Adat Minangkabau. Silungkang sebagai suatu Nagari memang mempunyai ketentuan Adat sendiri yang berlaku di selingkungan Nagari. Karena Adat Silungkang merupakan bagian dari Adat Minangkabau, maka perlu dikemukakan lebih dulu tentang pengertian Adat dan asal usul nama Minangkabau.

a. Pengertian Adat

Menurut M. Rasyid Manggis Dt. Rajo Penghulu1) dalam bukunya “Sejarah Ringkas Minangkabau” kata Adat lebih tua dari Adat itu sendiri. Adat berasal dari bahasa Sansekerta. Dibentuk dari kata “a” = tidak dan “dato” = bersifat kebendaan. Jadi adat pada hakikatnya adalah segala sesuatu yang tidak bersifat kebendaan. Selagi benda masih dapat menguasai seseorang, selagi seorang manusia masih dapat diperhamba benda, orang ini disebut belum beradat.

Bagi orang Minangkabau sebelum masuk pengaruh Hindu dan Islam kata-kata yang bermakna sama dengan Adat sudah ada, yaitu “Buek” (Nagari bapaga udang, kampuang bapaga buek). Buek ialah kebiasaan normatif yang mengatur hidup dan kehidupan, yang berpokok pangkal kepada ajaran budi dan bukan kebendaan.

Sedang menurut Drs. Sidi Gazalba dalam bukunya “Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu” mengemukakan bahwa Adat adalah kebiasaan yang normatif. Kebiasaan lahir sebagai jawaban terhadap kondisi yang baru. Apabila kondisi sudah berubah lagi, kebiasaan yang sudah menjadi Adat, bertahan lama sekali. Adat yang sudah tidak sesuai dengan kondisi dijalankan juga, karena ia sudah membentuk sifat pada pendukung-pendukungnya. Unsur Adat yang demikian sesungguhnya tidak berfungsi. Ia dijalankan karena Adat. Terjadilah pembalikan fungsi, bukan Adat untuk manusia tetapi manusia untuk Adat. Sekarang dengan keadaan yang sudah berubah, kebenaran fungsi itu harus diuji kembali.

Bila Adat diartikan kebiasaan, maka kata Adat dalam pengertian ini berasal dari Arab, yaitu “Adat”.

b. Minangkabau

Dari mana asal nama Minangkabau hingga kini belum ada kesatuan pendapat. Hal ini tercermin dari berbagai pandangan seperti di bawah ini.

Prof. DR. RM. Ng. Purbocaroko dalam bukunya “Riwayat Indonesia” mengemukakan bahwa dalam prasasti Kedukan Bukit (tahun Saka 604 – 682 Masehi) yang terdapat di Palembang ada terdapat kata-kata sebanyak 10 baris tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Isinya pada pokoknya menceritakan bahwa Yang Dipertuan Hyang berangkat dari Minanga Tamwan naik perahu membawa balatentara. Sebagian tentaranya jalan darat. Kata “Tamwan” sama dengan “Temon” dalam bahasa Jawa Kuno Muda. Artinya pertemuan2). Pertemuan di atas yang dimaksud ialah pertemuan dua buah sungai “ Kampar Kiri dan Kampar Kanan.

Besar kemungkinan dari orang yang kemudian Minanga Tamwan dinamakan Minanga Kamwar, yaitu Minang kembar. Bagi orang Sumatera Barat disebut Minangkamwa. Lama kelamaan diucapkan Minangkabau.

Sedang menurut M. Rasyid Manggis yang bertolak dari prasasti Padang Roco tahun 1286, yang diketemukan pada tahun 1935 dekat Sungai Langsat (di hulu sungai Batanghari) tidak diketemukan kata-kata Minangkabau. Yang ada hanya Swarna Bhumi dan Bhumi Melayu. Padahal prasasti terdapat dalam wilayah Minangkabau (sekarang). Ketika ekspedisi Pemalayu (1275) nama Minangkabau belum ada.

Menurut penelitian ahli sejarah seperti M. Yamin dan CC Berg bahwa ekspedisi Pemelayu bukanlah agresi militer, melainkan muhibah diplomatik dalam usaha mengadakan aliansi menghadapi serangan Kubhilai Khan. Itulah sebabnya prasasti Padang Roco isinya juga menunjukkan kegembiraan. Tidak mustahil antara tuan rumah dan tamu diselenggarakan pesta untuk menyenangkan hati kedua belah pihak. Pada peristiwa itu salah satu acaranya pertarungan kerbau. Rupanya kemenangan berada di pihak tuan rumah. Terlalu kecil peristiwa pertarungan kerbau ini menguji kalah menangnya peristiwa dan status negara. Tetapi dari peristiwa ini tidak tertutup kemungkinan munculnya nama Minangkabau.

Tentang nama Minangkabau ini di dalam buku berjudul “Provinsi Sumatera Tengah” dikatakan bahwa nama Minangkabau berasal dari satu peminangan yang dilakukan dengan jalan mengantarkan beberapa ekor kerbau besar sebagai persembahan. Karena pinangan dari Jawa itu diterima baik maka Kerajaan tersebut dinamakan Pinang Kerbau.

Sayang dalam buku itu tidak diterangkan sumbernya dan Raja Jawa mana yang meminangnya dan putri mana yang dipinang.

Menurut Prof. Van der Tuuk nama Minangkabau asalnya dari “Pinang Khabu”, yang artinya tanah asal.

Prof. Mr. M. Nasroen dalam bukunya “Dasar Falsafah Adat Minangkabau”3) mengatakan bahwa diantara keterangan-keterangan yang paling banyak mengandung kemungkinan kebenaran, adalah pendapat Prof. Van der Tuuk tersebut. Keterangan-keterangan lainnya yang menghubungkan perkataan itu dengan “menang (minang) kerbau”, kerbau menang, atau dengan “mainang (memelihara) kerbau adalah contoh-contoh dari keterangan orang banyak saja.

Sedang menurut Tambo : pelagaan kerbau itu terjadi di satu Desa dekat Kota Batusangkar (sekarang). Desa itu sampai sekarang bernama Minangkabau. Bila demikian Minangkabau untuk nama Desa Minangkabau.

Catatan kaki :

  1. Limbago (Majalah Adat dan Kebudayaan Minangkabau) No. 2 dan 3 tahun 1987)
  2. Berbeda dengan pendapat Prof. Purbocaroko mengenai arti Minanga Tamwan, yang terdapat dalam prasasti Kedukan Bukit, maka F.R. Anwar A. Muttalib dalam tulisannya “Prasasti Kedukan Bukit dan Lokasi Sriwijaya” mengartikan “tamwan” adalah “tambahan”, bukan “temon” (menurut bahasa Jawa Kuno Muda) atau “pertemuan” seperti pendapat Prof. Purbocaroko. Sedang “Minanga” menurut F.R. Anwar A. Muttalib adalah nama sebuah Desa di Kecamatan Cempaka, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, di tepian sungai Komering (Tamara No. 03/04 Agustus 1987).
  3. Prof. Mr. M. Nasroen : “Dasar Falsafat Adat Minangkabau” pen. Bintang Bulan Jakarta, 1971, hlm. 19.

Sumber : Buku Silungkang dan Adat Istiadat oleh Hasan St. Maharajo