Oleh-oleh Dari Negeri Belanda
Pertenunan Di Silungkang
Catatan : DR. L. Margadant
Alih Bahasa : Ir. Irland Y.M., MM

Keberadaan pertenunan di Silungkang dapat dinyatakan oleh beberapa faktor yang berbeda. Tentu saja lebih utama kita menganggap suatu nilai atau pembawaan yang artistik.

Lagipula pemilikan sawah di daerah pegunungan ini sangat sedikit. Ini menimbulkan dua akibat yaitu penduduk harus mencari tambahan selain sawah dan ladang. Mereka lalu berusaha melalui pertenunan. Akibat yang kedua yaitu adanya kemungkinan mendapatkan keuntungan dari pertenunan yang terorganisir. Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan tentang dasar pertenunan dimana diharapkan penduduk tidak terganggu dengan adanya problem pada persawahan dan perladangan.

Faktor yang terpenting letaknya yang dekat dengan Sawahlunto yang pada tahun 1893 telah dihubungkan dengan jalan kereta api.

Sampai pada awal abad ini pertenunan Silungkang hanya diproyeksikan untuk kebutuhkan lokal Silungkang sendiri. Lebih-lebih dalam pembuatan untuk pakaian adat, kebanyakan mereka memakai benang tenun dan bahan pewarna sendiri. Tonun ikek. Di sekitar tahun tersebut Sawahlunto jadi sangat terkenal dengan berdirinya Tambang Batubara Ombilin. Juga dengan banyaknya orang Eropa bermukim disana dan punya perhatian yang sangat besar terhadap pertenunan di Silungkang terutama dari kaum wanitanya. Wanita-wanita Eropa inilah yang gigih memasarkan hasil pertenunan Silungkang pada pameran-pameran di dalam negeri dan di Eropa khususnya, hingga pada akhirnya mendapat penghargaan dari suatu pameran di Brussel, Belgia.

Letak Silungkang yang strategis dan menghubungkan kota Sawahlunto, Solok dan Sijunjung sangat berpengaruh dalam mencapai kemudahan dan kemurahan dalam pengangkutan hasil produk dan bahan-bahan dasar.

Last but not least. Orang-orang Silungkang selain baik dalam bertenunan juga baik dalam perdagangan. Hasil tenun Silungkang dapat dibeli di Kualalumpur dan daerah penjualan di Ambon.

Pertenunan Silungkang menggunakan berbagai alat baik yang tradisional maupun yang modern yang disebut dengan ATBM.

Dalam bulan Juli 1941, bekerjasama dengan Penghulu Suku dibawah bimbingan biro pertenunan di Fort De Kock, diadakan suatu penyelidikan dengan melihat berkembangnya pertenunan di Silungkang dan daerah sekitarnya. Dari hasil penyelidikan ini, didapat data sebagai berikut :

ATBM, 104 buah
Alat tenun tradisional, 382 buah
Alat tenun songket, 1.399 buah

Alat tenun tradisional baik yang lama atau yang telah diperbaharui, ditangani oleh kaum wanita sementara ATBM oleh pria. Keikutsertaan kaum pria dalam pertenunan dapat dikatakan sangat minim. Dalam pengoperasian alat tenun tradisional (untuk songket) tidak memerlukan tenaga yang besar namun memerlukan waktu yang lama. Oleh sebab itu banyak kaum prianya lebih baik mengerjakan pekerjaan lain yang lebih menguntungkan. Kebanyakan sebagai perantau dan pedagang babelok yang dalam kurun waktu tertentu baru kembali ke kampung halamannya.

Sedang untuk ATBM (pembuat sarung) memerlukan tenaga yang besar dan hasilnya pun 6 – 7 kali lebih besar. Minat untuk pemakaian ATBM semakin meningkat. Sebagai perbandingan : pada tahun 1939 jumlah ATBM hanya 12 buah. ATBM ini made in Silungkang Asli harganya 25 gulden per unit.

Dengan adanya perubahan pola pemakaian dari alat tradisional ke ATBM berdampak serius terhadap produksi “Kain Bacuki, handuk, serbet dan bahan baju” yang hanya dapat diproduksi oleh alat tenun tradisional, yang pada akhirnya jenis kain ini jadi sangat langka dan menghilang.

Masa keemasan pertenunan Silungkang ini sempat mengalami kendala dan hampir bangkrut karena ulah spekulan benang dan pedagang perantaunya yang melanggar kaidah-kaidah yang berlaku dengan menaikan harga jual benang sampai 80%, sementara harga jual tetap.

Kesulitan yang dialami mengajarkan kemandirian kepada orang Silungkang. Di tiap-tiap rumah orang Silungkang paling tidak terdapat 2 – 3 unit alat tenun pada malam hari suaranya bertalu-talu – pekerja wanita yang sekaligus pemilik mencapai 700 orang, semua bebas membeli bahan sendiri dan menjual sendiri. Orang Silungkang memang terkenal akan kebebasan dan kemandiriannya. Menurut penelitian pada tahun 1940, nilai jual produk Tenun Silungkang cukup fantastik mencapai f 6.000 tiap bulannya sementara kebutuhan benang per bulannya adalah 12,5 ball, dengan klasifikasi pekerjaan sebagai berikut :

tabel-tenun.jpg

Ada sekitar 300 – 400 orang pekerja wanita yang bekerja menurut pembagian hasil pemakaian benang (gaji borongan lepas).

Di Silungkang terdapat 9 units usaha “Scheermolens” (tukang turiang?). Tukang turiang ini mendapat gaji berdasarkan turiangannya. Tukang turiang tidak menjual opgeboombe (turiangannya?) tidak mengenal pembayaran kredit.

Pertenunan di Silungkang sudah berkembang pesat sejak tahun 1926. Revolusi industri baik ATBM dan ATM (alat tenun bermesin) sangat memukul pertenunan Silungkang. Banyak upaya dilakukan oleh pemerintah, diantaranya memberi pinjaman hibah pada tahun 1936 sebesar f 1.500. Jumlah ini seluruhnya diberikan kepada pengrajin wanita. Rangsangan dari pemerintah Belanda ini dirasa aneh oleh penduduk Silungkang karena saat itu banyak pemuka Silungkang yang ditangkap Belanda sehubungan dengan pemberontakan Silungkang tahun 1927. Pertenunan Silungkang dipelajari dari Ambarawa – Jawa Tengah. Banyak sudah usaha dari penduduk Silungkang sendiri untuk mendirikan koperasi. Akhirnya berdirilah Silungkangsche Handel Matschaapij pada tahun 1929 namun tak berhasil baik, walau maksud semula yang sangat baik, yaitu ingin memutus jalur kaum pedagang benang perantara/calo yang saat itu bisa mengambil keuntungan sebesar 190% diatas harga import (harga di kota Padang f 2,625 per kg, sedangkan di Silungkang bisa mencapai f 8).

Selang berapa bulan, koperasi itu bangkrut, karena ada 2 orang pemegang andil koperasi tersebut yang menjual benangnya kepada pihak lain dan koperasi tetap dengan benang lama yang tak diminati dan mahal.

Kegagalan Silungkangsche Handel Matschaapij tak terlepas dari sikap orang Minangkabau yang secara keseluruhan yang sangat individualistik. Jadi pilihan kerjasama dalam bentuk koperasi adalah pilihan yang kurang bijaksana. Kerja sama individual antara pengusaha dan pekerja justru lebih berhasil disini dan tak perlu serikat pekerja.

Sumber : Koba PKS, edisi Adiak Nan Jolong Tobik, Desember 2001