Imau adalah harimau – macan. Daan adalah dahan. Imau dahan adalah macan kumbang. Macan yang bukan karnivora.

Julukan ini biasanya diberikan kepada orang atau pribadi yang tak berani mengambil keputusan atau pilihan dalam hidupnya.

Walau tak sepenuhnya benar, karena dengan mengambil keputusan untuk “tidak memilih” atau “tidak mengambil keputusan” sudah termasuk dalam kategori mengambil keputusan atau mengambil suatu pilihan.

Alkisah, adalah cerita tentang binatang yang bernama harimau.

Harimau atau macan biasanya dijadikan simbol atau lambang sosok yang jantan, satria, gagah, perkasa dan berani serta karnivora.

Namun, tak semua harimau yang karnivora – pemakan daging – ada juga yang herbivora – pemakan dedaunan, itulah macan kumbang yang sehari-hari hidup di atas atau di dahan kayu.

Tampang dan tampilannya tak ubah seperti makan pada umumnya, namun keganasannya atau naluri menyerangnya sangat berbeda jauh dengan macan atau harimau lainnya.

Macan kumbang ini sangat jarang menyerang manusia atau bahkan binatang kecil lainnya – sehingga lahirlah ka dimakan kambiang talampau godang, ka dimakan ayam talalu ketek, kasudahannyo dek indak ado nan ka dipiliah salin daun mako makanlah daun tu … makonyo tiok pagi nan kalua cihgik ijau.

Maksudnya, mau memilih kambing sebagai mangsa, rasanya tak mungkin karena wujudnya lebih besar dan bila memilih ayam sebagai mangsanya juga tak mungkin karena terlalu kecil untuk ukuran macan, karena tidak punya pilihan lain (mengingat perut yang sudah mulai keroncongan) maka pilihannya adalah daun – herbivora.

Celakanya, istilah ini secara tidak langsung ditujukan pada orang atau pribadi yang memilih hidup melajang.

Sekali lagi, tak sepenuhnya benar !

Orang yang memilih hidup melajang dianggap bersikap laksana macan kumbang.

Selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan dalam kehidupan terutama dalam memilih jodoh, apalagi kalau orang atau pribadi tersebut adalah makhluk lelaki.

Akan jadi bahan cemoohan kawan sepermainan, sementara terlalu berani memilih juga akan jadi bahan olok-olokan dengan sebutan istilah lompek tojun.

Serba susah !

Jadi, daripada tidak sama sekali … kan lebih baik memilih, ya … ?!

Pilih aja, bung !

Jangan ragu-ragu !

Banyak gadis pilihan,

Banyak janda … uwit, uwit

Dunia belum kiamat

Dipetik dari lagu Titiek Sandhora dan Mukhsin Alatas.

Sumber : Redaksi Bulletin Silungkang, Edisi 7, 1 Oktober 2002/Tahun ke II – Edisi Ulang Tahun