Berkaitan dengan kereta api dan pelabuhan Teluk Bayur

Oleh Alamsyah Halim

Batu bara salah satu sumber energi, akhir-akhir ini telah mengambil tempat yang lebih baik lagi. Hal itu jelas karena perkembangan teknologi modern yang sama sekali membutuhkan minyak sebagai vital utamanya. Sedangkan disatu pihak cadangan minyak terus menipis seantero dunia. Dan dilain pihak bahan mentah batu bara pembakar untuk pembangkitan energi dengan jumlah yang cukup besar pula terkandung di dalam lapisan bumi.

Sejalan dengan itu dapat dilihat perkembangan penambangan batu bara di tanah air kita. Penambangan disana sini sekarang ditangani dengan sungguh-sungguh, agar kekayaan perut bumi kita itu bisa mendapat pemasukkan keuangan negara yang memadai untuk kelanjutan pembangunan segala bidang.

Sementara dalam hal tersebut kita coba menyelusuri penambangan batu bara Ombilin Sawahlunto (Sumbar). Penambangan disini akan kita lihat dalma tiga periode. Pertama periode sebelum perang, kedua periode 1945 sampai dengan 1960-an, ketiga periode 1976 sampai 1981 dan sekarang maupun mendatang.

Periode Sebelum Perang
Periode pertama masalahnya akan menyangkut sekitar sejarah mula-mula ditemui bahan mineral ini. Dari catatan yang otentik pada mula ditemui tahun 1858 di sekitar Sungai Ombilin oleh Ir. De Groet. Kemudian dilanjutkan oleh Ir. De Greve tahun 1867, penyelidikan yang seksama dilakukan pula Ir. R. DM. Verbeck. Hasil dari penyelidikan lapangan Sungai Durian dengan reserver 80.000.000 ton, lapangan perambah dengan reserver 20.000.000 ton, lapangan tanah hitam dengan reserver 205.600.000 ton.

Tebal lapisan masing-masing 1-10 meter derajat dan masing-masing 9 – 12 derajat dan masing-masing lapangan tersebut terdiri dari :

  1. Sungai Durian 3 lapisan (a, b, c)
  2. Sigalut 5 lapisan
  3. Tanah hitam 3 lapisan
  4. Perambahan 7 lapisan
  5. Sugar 3 lapisan

Diantara lapisan-lapisan tersebut setebal lebih kurang 30 meter terdapat lapisan batu pasir.

Setelah melalui beberapa penilaian pada tanggal 27 Juli 1888 dibuatlah Notaricle Acte pertama oleh E.L. Va Ronversy Asisten Residen Tanah Datar selaku Notaris, antara Handrik Yakobus Pelta Schemuring (Pemegang Con Esi) dengan Laras Silungkang Djaar Soetan Pamuncak (mewakili rakyat) untuk melakukan penambangan batu bara.

Didalam Notaricle Acte itu antara lain dicantumkan :

  1. Pihak rakyat tidak boleh menganggu bahkan akan membantu dan melindungi sebanyak-banyaknya pekerjaan pembangunan.
  2. Dan tidak akan melakukan penggalian pula walaupun secara primitif.
  3. Pihak pemegang consessi setiap tahun akan membayar/memberikan sebagai imbangannya berupa 10 persen keuntungan bersih tiap tahun kepada rakyat yang bersangkutan maksimal F 4.000,-

Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dibuka dan realisasi dari Notaricle Acte itu adalah explorasi/pekerjaan persiapan explotasi batu bara antara lain sebagai berikut :

  1. Menyiapkan pelabuhan Teluk Bayur (Emma Haven) mulai dikerjakan tahun 1888 dan selesai tahun 1893.
  2. Memasang jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Padang Panjang ke Sawahlunto (sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan consessi pertambangan batu bara) dimulai tahun 1888 selesai tahun 1893.

Pembuatan Pelabuhan Teluk Bayur dan jalan kereta api dari Teluk Bayur ke Sawahlunto tersebut dikerjakan oleh Ir. J.V.Y. Zerman.

Jalan kereta api ini diperluas sehingga merupakan jaringan jalan kereta api yang akhirnya mengitari dari Sawahlunto terus ke Solok, Padang Panjang, Kayu Tanam, Lubuk Alung – Padang terus ke Teluk Bayur. Sedangkan jalan lain dari Muara Kalaban (4 km dari Sawahlunto) menyimpang ke Tanjung Ampalu terus ke Muaro Sijunjung. Selanjutnya di Padang Panjang jalur jalan Kereta Api ini menyimpang pula ke Bukittingggi terus ke Payakumbuh dan yang di Lubuk Alung menyimpang pula ke Pariaman terus ke Naras.

Serentetan dengan ini berdirilah Perusahaan Listrik, pabrik-pabrik dan kemudian perkebunan-perkebunan dan tambang lain di Sumbar. Demikian sistem buat empalsemen tambang, membuat lubang sumuran di Sawahlunto. Mendirikan Silo (bunker) di Teluk Bayur. Produksi pertama di mulai bulan Oktober 1892 sejumlah 48.000 ton untuk tahun itu. Adapun pekerja terdiri dari orang-oranng rantai dan konirak yang masing-masing mencapai jumlah 5.000 orang, kesemua bangsa kita juga pengerjaan dilakukan secara paksa oleh Belanda. Dan juga pendatang dari orang-orang Eropah dan Tionghoa.

Produksi Tertinggi Selama Tambang Dibuka
Pada tahun 1930 Sawahlunto mencapai tingkat kemasyurannya dimana produksi mencapai 624.212 ton dan penduduk berjumlah lebih kurang 30.000 jiwa. Hal ini berlangsung sampai tahun 1938.

Dari tahun 1938 sudah mulai menurun disebabkan pekerja-pekerja tambang tersebut sedang mempersiapkan juga sebagai tenaga untuk menghadapi Perang Dunia II yang kemudian ke front tersebar ke pelosok Tanah Air.

Sekarang, Ombilin sudah tidak produktif tapi masih ada sebagian kecil rakyat sekitar mencari batu bara yang tersisa.

Sumber : Bulletin Silungkang, 003/BSM/MARET/1999