Saat itu santer sekali tentang Mendulang Ome yang banyak tersebar di kampung kita terutama sekali di sepanjang Batang Ai. Yang mana di tepi batang Batang Ai sudah ada yang mempunyai hak turun temurun atau Tanah Pusako di kampung kita. Yang mana pendulang sebagian besar dari kerabat yang punya tanah tersebut.

Dimana dalam Undang-undang hasil tambang untuk kemakmuran dan mensejahterakan keluarganya. Tapi justru kenyataan sangatlah berbeda. Timbul antara pro dan kontra, yang mana sebetulnya dua-duanya memang benar. Yang pro untuk menghidupi keluarganya yang mana saat itu mencari penghasilan sangatlah sukar apalagi setelah terjadi krismon. Dan begitu pula yang kontrak merasa tanahnya diobok-obok tidak karuan habis omenya, ditinggal begitu saja.

Ditambah lagi kelakuan yang negatif yang diperlihatkan oleh para pendulang ome, dimana masyarakat Silungkang sangatlah menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan budi pekerti warganya. Jangan seperti sekarang merasa mendapat rezeki yang besar dipakailah untuk berfoya-foya. Ini sangat bertentangan sekali dengan nilai agama dan begitu pula dengan Undang-undang. Janganlah kalau hasil mendulang habis begitu saja tidak memikirkan untuk masa depan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penghasilan ome sebagian besar dihabiskan begitu saja. Persediaan ome di Silungkang tentulah sangat terbatas maka pergunakanlah sebaik-baiknya hasil tersebut. Janganlah nanti kalau omenya sudah habis perekonomiannya masih tetap begitu juga. Jadi tidak ada artinya selama ini mendulang ome, yang mendulang ome tetap begitu juga dan yang punya tanah juga sulit untuk memanfaatkan kembali tanahnya dan begitu pula yang dulu waktu kita mandi di sungai dengan aman dan tidak merasa khawatir ada bekas lubang yang ditinggal begitu saja.

Disini peranan KAN ikut mengawasi dan menjaga kelestarian lingkungan dengan mendata kembali dan memberi teguran-teguran jika menyalahi peraturan. Dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Itu wajar-wajar saja. Karena penghasilan dari bumi Silungkang, bukanlah segala hal harus ada peraturan yang mengikat dengan sendirinya harus ada biaya administrasi dan memungut pajak. Yang kontra sebetulnya tidak keberatan kalau ada yang mendulang ome, asalkan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, hilangkan isu-isu negatif yang dilakukan oleh para pendulang. Kita puas dan bahagia kalau para pendulang bisa memanfaatkan hasil mendulangnya dengan sebaik-baiknya.

Sebetulnya pada jaman dulu kaum penjajah (Belanda) sudah ada niatan untuk menambang secara besar-besaran dengan mendirikan perusahaan antara Belanda dengan Inggris. Ada bukti otentik dengan bahasa Belanda akte pendirian yang diberi nama NV. Mijnbouw Maatschapij “SILOENGKANG”.

Karena sesuatu hal mungkin warga Silungkang tidak mau dipindahkan atau karena ome masih muda. Jadi kalau memang ada kandungan omenya marilah ktia kelola bersama-sama untuk kepentingan kesejahteraan warga kita, dengan melibatkan semua unsur seperti pemilik tanah, pendulang dan aparat desa.

Dengan peralatan yang sangat sederhana orang kampung yang biasa disebut Dukun Ome bisa menentuan dimana ada emas di daerah tersebut. Dilihat dari segi peralatannya atau si dukun sangat sakti, bukan itu sebenarnya tetapi memang sebagian besar tanah di Silungkang memang banyak mengandung emas, ini bisa dibuktikan pada waktu dulu Belanda bekerja sama dengan Inggris ingin menambangnya. Timbul pertanyaan (bukti otentik kami sisipkan), apa sebab Belanda mengundurkan diri.

mendulang ome

By Perantau Surabaya

Catatan :

Ome = emas

Ai = air

Sumber : buletin Silungkang, edisi 3, nomor 003/BSM/MARET/1999