Bentus adalah anak sulung si Pentus. Dia anak bodoh, tetapi selalu patuh pada perintah ibunya.

Pada suatu hari ibunya menyuruhnya untuk menjual anak ayam yang baru menetas.

Ibu :

“Nanti kalau ada orang menanyakan namanya, bilang namanya adalah si Bentus anak sulung si Pentus. Lalu, kalau ada orang yang menanyakan apa yang kamu bawa, bilang yang kamu bawa ini membeli anak-anak ayam ini, dan mengasihkan uang kepadamu, minta tambah lagi, dikasih lagi minta lagi, lalu kalau sudah ditambah ucapkan terima kasih kepada orang itu”.

(Ditengah-tengah perjalanan Bentus, selalu mengingat kata-kata ibunya itu. Tapi dasar ia bodoh, yang ingat hanya jawabannya saja).

(Setibanya di pasar …)

Pembeli : “Apa yang kamu bawa itu, nak ?”

Bentus : “Si Bentus anak sulung si Pentus.”

Pembeli : “Kamu anggap apa aku ini, ha ?”

Bentus : “Anak ayam yang baru menetas.”

Pembeli : “Apa kamu bilang ?” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Masih kurang, pak.”

Pembeli : “Masih kurang ? Ini sekali lagi” (sambil menampar si Bentus).

Bentus : “Tambah lagi, pak.”

Pembeli : “Lagi ?!!” (sambil menampar si Bentus)

Bentus : “Terima kasih, pak.”

(Akhirnya si Bentus pulang dengan muka yang bengkak dan benjol-benjol kena tampar).

Karya : M. Hidayatullah

Diambil dari Edisi Ketiga Bulletin Silungkang, Nomor 003/BSM/MARET/1999