SILOENGKANG DI ZAMAN DAHOELOE

SOMPIK LALOE LOENGGAI BATAKOK

 

 

Sedjak dahoeloe disegani orang, Gadjah Tongga Koto Piliang, diseboet dalam Tambo Minang.

 

 

Iktibar bagi lingkoengan, kampoengnja dikelilingi boekit, djalan, soengai jang berlikoe-kelok, loengkang dalam bahasa.

 

 

Loear biasa keberaniannja melawan pendjadjah Belanda. Poeloehan Perintis Kemerdekaan jang tertoelis dalam sedjarah perdjoeangan.

 

 

Oengoel dalam beroesaha, bidjak dalam menyelesaikan masalah masjarakat dan teladan bagi orang.

 

 

Ekonominja mendjadi bilangan, seboetan di Minangkabau.

 

Nama kampoengnja diseboet, orang pertjaja mendjadi djaminan, dihormati diloer kampoengnja sendiri.

 

 

Gaoeng tenunannya bergema di Noesantara, sampai ke Keradjaan Kintjir Angin, menjatoe dengan nama kampoengnja.

 

 

Kalang penjangga bagi kehidoepan kampoeng. Bermotto, anak didoekoeng kemenakan dibimbing.

 

 

Anak mendjelang dewasa disoeroeh merantau tanda kelaki-lakian, diamanatkan, sembahjang dan kedjoedjoeran jangan diabaikan. Itoelah pesan orang toea bersama mamak.

 

 

Norma dipakai, masjarakat dan kampoeng kelahiran dipertenggangkan.

 

 

Godanglah, tjopeklah godang waang boejoeang, poelanglah ke kampoeng. Kok kan lai ka panggonti niniak mamak nan lah gaek-gaek.

 

 

 

SILUNGKANG DI ZAMAN MODERN DENGAN SERIBU SARJANA

 

 

Semenjak tahun lima puluhan, keadaan silih berganti, apakah diperhatikan wahai orang-orang yang arif ?

 

 

Islam memudar, guru Agama dan panutan langka, pengajian, ceramah agama bak dilanda perang. Tak ada lagi yang disegani dan ditakuti.

 

 

Lomba-berlomba mengumpulkan picisan kertas yang nilainya berangka-rangka. Kadang lupa sanak, lupa kerabat dan bahkan mereka terlanda.

 

 

Undian pernah mewabah tetapi tidak ditakuti. Main kertas bergambar sudah bergenerasi, minuman keras ada, tak ada lagi yang tersembunyi.

 

 

Nah, individu membudaya, kepedulian menghilang, malu pun menyusut, pertanda ke zaliman sedang muncul, akibatnya ?

 

 

Gagah berani membela kebenaran, nasehat-menasehati dengan bijaksana sirna sudah. Kebesaran jiwa dan rasa tanggung jawab terbenam.

 

 

Komunikasi langka, walaupun telepon ada, silahturahmi jauh, mobil, motor pun punya, masing-masing hidup sudah sendiri-sendiri.

 

 

Adat manakah yang engkau anut, wahai orang-orang yang hidupnya bermotto : sempit lalu, longgar dipalu ???.

 

 

Ninik mamak yang engkau berada, apakah engkau sebagai saksi dizaman modern ini ? Seharusnya engkau kan menjadi suluh penerang dalam keadaan seperti ini ? Ilmuwan dan hartawan, kelompok inilah yang mulai berbilang, lupa atau belum sempat berkumpul memadu pendapat ?

 

 

Gerangan apakah obatnya wahai orang-orang yang arif ? Anda-anda sedang ditunggu-tunggu masyarakat Silungkang. Hati-hati, kampung kita, warga kita hampir berada dipinggir jurang …. mesjid besar tetapi belum berfungsi. Semoga.

 

 

 

 

 

By Rimfan – Jakarta Selatan

Diambil dari Bulletin Silungkang, Edisi Ketiga, 003/BSM/MARET/1999