Sebelum Nagari Silungkang bernama Silungkang yang ada baru Taratak Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo. Sejak kapan Nenek moyang orang Silungkang mendiami Talang Tuluih Batu Badaguah, Paku Aciek Batu Nan Tigo, hingga kini belum pernah orang awak melakukan penelitian.

Menurut curaian Syamsuddin Datuk Simarajo1) bahwa Nagari Silungkang telah didiami semenjak abad ke VI sebelum Masehi. Dari mana sumber Syamsuddin Datuk Simarajo menyimpulkan demikian, tidak jelas. Penelusuran masih diperlukan untuk membuktikan kebenarannya. Sekira benar apa yang dikatakan Syamsuddin tersebut, maka berarti Silungkang telah berusia kurang lebih 2500 tahun.

Menurut keterangan itu juga bahwa tempat pertama yang didiami nenek moyang orang Silungkang ialah Taratak Boncah. Dari Taratak Boncah ini nenek-nenek kita berbagi badan. Sebagian turun ke Silungkang dan yang sebagian pergi ke Padang Aka Bulu, yang kemudian bertukar nama menjadi Padang Bulu Kasok dan di dalam perkembangan seterusnya berganti nama jadi Padang Sibusuk.

Dari situlah nampaknya maka Silungkang dan Padang Sibusuk dikatakan bersaudara. Terdiri dari 11 Niniek. Niniek yang 5 orang turun di Silungkang, sedang yang 6 orang turun di Padang Sibusuk. Ada yang mengatakan bahwa yang turun ke Silungkang yang tua, sedang yang ke Padang Sibusuk yang kecil. Tetapi tidak ada keterangan apakah semua yang turun di Silungkang itu urutan usianya lebih tua daripada yang turun ke Padang Sibusuk, atau ada pula terselip yang kecil dari yang tua itu.

Terhadap curaian di atas ada yang mempertanyakan : apakah yang ke 5 orang Niniek yang turun di Silungkang itu semuanya wanita atau pria ? Jika semuanya wanita atau pria dengan siapa mereka kemudian berumah tangga ? Apakah dengan pria atau wanita yang telah lebih dulu mendiami Silungkang ? Atau datangnya memang telah berpasangan (suami isteri) ? Jika telah berpasangan yang bersaudara wanitanya atau prianya ? Hingga kini pertanyaan itu masih tetap dipertanyakan.

Dalam rangka meyakinkan pembacanya bahwa Silungkang dan Padang Sibusuk bersaudara, maka Chaidir Taher Samposo Mudo dan Rusli Taher Sampono Gagah2) mengemukakan Kepala rombongan yang turun ke Silungkang dan Padang Sibusuk itu ialah Datuk Sangguno. Sebelum Niniek yang berlima turun ke Silungkang beliau bertanya kepada Datuk Sangguno. “Jikok kami nan manaruko Taratak, apo tuahnya dek Nagari?” (Jika kami hendak menggarap Taratak, apa tuahnya oleh Nagari).

Menanggapi pertanyaan tersebut, maka Datuk Sangguno menjawab : “Jikok kalian nak manaruko Taratak nan jadi tuah dek nagari ada tigo perkaro : 1. Batang aie di tangah koto. 2. Nan balubuak di ikue/kapalo koto. 3. Nan batalago di bawah bukik” (Jika kalian hendak menggarap Taratak yang jadi tuah oleh nagari ada tiga hal : 1. Batang air di tengah kota. 2. Yang berlubuk di ekor/kepala kota. 3. Yang bertelaga di bawah bukit).

Ketiga ciri yang dikemukakan sebagai tuah oleh nagari itu terdapat di Silungkang. Batang air Lasi memang mengalir di tengah nagari. Lubuk di ekor nagari ialah Lubuak Nan Godang, sedang Lubuak di kepala nagari ialah Lubuak Kubang. Sedang telaga di bawah bukit ialah Danau di bawah Ngalau Basurek, di Sawah Darek, Desa Sungai Cocang.

Pertanyaan yang senada kepada Datuk Sangguno juga diajukan oleh Niniek yang berenam. Menjawab pertanyaan Niniek yang berenam Datuk Sangguno mengatakan : “Kok kalian nak manaruko taratak pai la arah ka hilie, nan ka jadi tuahnya dek negari ada limo : 1. Ula lidi malingka koto. 2. Buayo mandukuang anak. 3. Aie tiri ma adok mudiek. 4. Aie manobuak batu. 5. Talago ma adok mudiek” (Jika kalian hendak menggarap Taratak pergilah ke arah hilir, yang akan menjadi tuahnya oleh nagari ada 5 : 1. Ular lidi melingkar kota. 2. Buaya mendukung anak. 3. Air tiris menghadap mudik. 4. Air menembus batu. 5. Telaga menghadap mudik).

Kelima ciri tersebut memang terdapat di Padang Sibusuk. Yang dimaksud Ular lidi melingkar kota ialah Batang Piruko melingkar nagari Padang Sibusuk; Buaya mendukung anak ialah Tanjung Barisi dalam nagari Padang Sibusuk; Air tiris menghadap mudik ialah di daerah Simancuang; Air menembus batu tempatnya di pintu angin Lobang Kolam Kupitan; telaga menghadap mudik tempatnya di daerah pabrik genteng Batu Putih.

Kemudian oleh penulis di atas ditambahkan pula bahwa kepada Niniek yang berlima diberi tuah oleh Datuk Sangguno berupa benang dengan balero, lengkap dengan alat peraganya. Bertenunlah yang akan menjadi mata pencahariannya. Sedang kepada Niniek yang berenam oleh Datuk Sangguno diberi kapak dengan beliung, alat pertanian. Itu yang akan menjadi mata pencahariannya.

Tetapi siapakah yang sesungguhnya Datuk Sangguno itu, tidak ada keterangan ! Apakah beliau termasuk salah seorang dari yang 11 Niniek, ataukah diluar ? Jika termasuk yang 5 Niniek atau yang 6 Niniek ? Jika diluar, kemana beliau pergi sesudah 11 Niniek telah turun semuanya ke Silungkang dan Padang Sibusuk ? Dengan tidak jelasnya siapa sesungguhnya Datuk Sangguno maka rangkaian cerita dalam hubungan dengan Datuk Sangguno menjadi tidak jelas pula.

Pertanyaan yang belum terjawab di atas masih ada tambahan lagi. Bila benar bahwa asal orang Silungkang yang sekarang dari yang 5 Niniek, mengapa di Silungkang sekarang yang terkenal 13 Niniek (10 Niniek : Patopang dan Melayu – 3 Niniek Supanjang, Dalimo dan Payabadar)? Apakah 13 Niniek itu keturunan dari 5 Niniek ? Jika yang 13 Niniek itu keturunan dari yang 5 Niniek bagaimana pula perinciannya ?

Pertanyaan di atas hingga kini belum ada jawaban yang meyakinkan. Sejalan dengan itu ada keterangan bahwa Nenek moyang orang Silungkang datang di Silungkang beberapa gelombang. Ada yang datangnya langsung dari Batusangkar, ada yang melalui Sulit Air dan ada pula yang datang kemudian dari Tikalak dan sebagainya. Tentu saja pendapat yang mengatakan Nenek-Moyang orang Silungkang datang bergelombang tidak sejalan dengan keterangan bahwa orang Silungkang dan Padang Sibusuk terdiri dari 11 Niniek. Bila 11 Niniek, itu berarti Niniek orang Silungkang datangnya satu gelombang.

Memang sementara orang Silungkang hingga kini masih ada belahannya di Padang Sibusuk. Bila sementara yang ada belahan, itu tidak berarti seluruhnya punya belahan.

Perbedaan pendapat ini nampaknya masih akan berlanjut sampai diketemukannya data-data yang mendekati kebenaran tentang bagaimana yang sesungguhnya.

Catatan Kaki :

  1. Curaian Syamsuddin Datuk Simarajo, eks Wali Negari Pagaruyung, yang disampaikan kepada rombongan H. Kamaruzzaman antara 6 November – 24 Desember 1984 di Pagaruyung.
  2. Chaidir Taher Sampono Mudo, Rusli Taher Sampono Gagah : “Mambangkik Tareh Tarandam” (belum diterbitkan).

Buku “Silungkang dan Adat Istiadat” oleh Hasan St. Maharajo
Edisi 1, Jakarta, Mei 1988