Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, lain daerah lain pula kebiasaannya. Setiap daerah punya ciri khas, baik bahasa, seni dan budaya. Barangkali tak salah pepatah mengatakan bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa”.

Begitu pula negeri kita, Silungkang. Kita punya Rabona Marapulai, Pidato Adek, kain songket, sapu ijuak, ale-ale dan ulek-ulek, dan lain-lain. Kesenian Silungkang asli yang saat ini tak lagi dapat kita nikmati dan tak mustahil generasi yang saat ini berusia dibawah lima puluh tahun tidak pernah mengenal dan mendengarnya. Kesenian itu adalah “Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo” yang lebih dikenal sebagai “Marungguih”.

Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo adalah kesenian lama Silungkang yang dahulunya dimainkan oleh kaum ibu di rumah, di sawah atau di ladang untuk sekedar menghilangkan kepenatan setelah bekerja seharian. Biasanya kesenian ini dimainkan di dangau sambil berleha-leha. Syairnya sangat didominasi oleh pantun parosaian dan pantun kerinduan pada anak dan suami tercinta nun jauh di rantau orang (diera tersebut perantau Silungkang jarang sekali yang menyertakan istri dan kalau ada – anak lelakinya – sementara si istri ditinggal di kampung dengan segala penderitaannya – lahir batin – karena tak jarang “mungkin karena terpaksa keadaan” sang suami” Taposo bauma lo” di rantau urang.

Kato rang saisuak : “Lautan sakti rantau batuah”

Perlu diketahui di zaman itu merantau di Sawahlunto atau di Solok saja (yang jaraknya tak menjadikan kita musafir, sudah dianggap merantau).

Di era tahun 50 an “Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo”, ini pernah disosialisasikan kepada kerabat muda. Tapi sayang … umurnya pun muda. Sejak tahun 1955, kedua keseninaan itu seperti lenyap ditelan bumi.

Rupanya, nasib masih berpihak pada Silungkang. Saat ini, siapa saja yang ingin menikmati kesenian yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditabuh tersebut sudah dapat menikmatnya kembali. Hal ini dimungkinkan karena Silungkang masih menyisakan seorang seniman yang masih konsisten untuk tetap memelihara dan melestarikannya. Beliau itu adalah Datuak Umar Malin Parmato.

Bersama Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto beliau saat ini telah membina sebuah grup kesenian Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo, di Sungai Cocang. Dan sudah pula dimasukkan ke dalam pelajaran ekstra kurikuler di SD No. 13 Sungai Cocang.

Kiprahnya cukup membanggakan. Selain penampilan perdananya di Sawahlunto pada acara Pekan Seni dan Budaya, juga telah dipergelarkan pada Acara EXPO 2000 dan Pergelaran Seni dan Budaya se Sumatera Barat di Taman Budaya Padang pada tahun 2001.

Ratok berarti Ratap – maratok artinya meratap – meratapi. Karena pada mulanya kesenian ini memang diperuntukan sebagai sarana untuk meratapi atas meninggalnya seseorang. Caranya dengan menyebut-nyebut sambil mendendangkan bersama-sama oleh para karib kerabat, bako dan tetangga, semua perangai/tingkahlaku si mayit semasa hidupnya hingga wafat.

Lahirlah istilah “Ratok Pertolongan” karena apabila dalam keluarga si mayit tidak ada yang dapat melantunkan Ratok maka harus dimintai tolonglah pada orang/kelompok profesional, dengan membayar sejumlah uang – kira-kira – mungkin seperti “seksi ngangis” pada upacara prosesi kematian orang Tionghoa.

Tahun batuka, musim bagonti (Tahun bertukar, musim berganti). Misi kesenian ini yang pada mulanya hanya untuk meratapi kematian akhirnya berubah. Setelah berganti nama dengan nama menjadi “Marungguih” kesenian ini lebih identik untuk “Baibi-ibo” (mengiba-iba), meratapi nasib dan peruntungan nasib dan peruntungan baik yang tidak berpihak padanya. Kaum muda memanfaatkan Marunguih ini untuk bersenandung ria demi sekedar melepaskan beban rindu dendam yang menyesakkan dada pada sang kekasih. Ini juga perlu diketahui oleh pembaca, bahwa pada zaman itu, bagi sepasang kekasih, jangankan untuk bercengkrama – berpapasan dijalan saja sudah diterima sebagai suatu karunia yang amat besar, laksana mukjizat.

Dengan segala kebersahajaannya, kini grup Marungguih dan Talempong Botuang di Sungai Cocang yang minim peralatan, kostum dan pembinaan ini tetap mencoba untuk tampil dalam setiap event yang ada. Uluran tangan siapa saja sangat didambakan oleh grup ini, agar bisa dipoles sehingga punya nilai jual. sy

oleh : Syahruddin – Kades Silungkang Oso

Diambil dari Buletin Koba PKS (Media Komunikasi Interaktif PKS Jakarta)

Edisi Adiak Nan Jolong Tobik – Desember 2001

Catatan :

Ale-ale adalah makanan kecil/jajanan pasar seperti kue serabi tapi tidak menggunakan kuah santan. Bahan utamanya tepung beras, santan dan gula pasir sebagai pemanis. Masaknya di tempat cetakan serabi. Paling enak dengan membakar diatas bara api.